Bab 74
POV Elijah:
Aku jalan pelan banget, kepala berat, hati juga sama beratnya. Lewat jalanan ghetto yang dingin, berkabut, dan bahaya, aku jalan. Tengah malam.
Aku denger langkah kaki. Seseorang ngikutin aku. Aku balik badan, dan liat cowok tinggi, semua item, pake topeng nutupin mukanya. Aku liatin tangannya. Dia megang pistol!
Aku balik badan, ketakutan dan langsung lari. Aku denger dia ngikutin aku. Dia ngejar aku. Tiba-tiba, cowok tinggi lain dengan topeng yang sama muncul di depan aku. Aku coba belok arah, tapi dia nampar aku keras banget di muka pake pistolnya sendiri.
Hal selanjutnya yang aku rasain adalah lantai dingin dan basah.
Aku ngeliatin mereka, ngerasain sakit.
Mereka ngeliatin aku.
"Halo, Elijah," kata salah satu.
"Si– siapa yang nyuruh lo?? Christina nyuruh lo!"
Cowok itu jongkok deket aku. Niat banget natap mata aku. Matanya familiar.
"Christina nggak nyuruh gue."
"To– tolong, siapa–" yang satunya mukul gue keras di tulang rusuk dan aku teriak kesakitan, "AAH! Tolong!"
"Kasih tau gue satu hal," kata yang pertama.
"A– apa??"
"Di mana lo ngubur Paul Wesley?"
Aku natap cowok bertopeng itu. Christina nggak nyuruh dia. Aku liatin matanya yang familiar.
"Lo nggak denger gue? Di mana lo ngubur mayat Paul?!" dia nanya dengan nada marah tiba-tiba, sambil nunjukin pistolnya ke jidat aku. Dia mau nembak aku!
"Tolong, aku–"
"Woy, hati-hati," kata cowok bertopeng yang satunya nyoba nenangin dia.
Aku liatin yang pertama, aku liat luka dan amarah di matanya.
"Di mana lo ngubur dia?!" dia ngulang dengan marah. Dan trus aku inget mata itu.
"Lo– lo punya mata Paul," aku gagap kaget. Mata cowok bertopeng itu agak melebar, "Lo siapa? Lo Sheridan?" aku nanya kaget.
"Di mana mayat Paul?" dia nanya untuk terakhir kalinya, dia mau nembak aku.
Langkah kaki kedengeran dari kejauhan. Orang-orang dari bar pada dateng. Cowok bertopeng yang satunya noleh ke yang lagi nunjuk pistol ke kepala aku.
"Orang-orang dateng!" dia narik yang lagi nunjuk pistol ke aku dan mereka berdua lari, ninggalin aku di lantai dingin, bingung, alam bawah sadar gue teriak-teriak ke gue.
POV Ace:
Aku ngamuk masuk apartemen, ngelempar pistol gue ke pojokan ruangan. Keith masuk tepat di belakang gue.
"Tenang, bro," dia naruh tangan di bahu gue dan kita berdua duduk.
"Gue nggak dapet info apa pun dari bajingan itu! Bisa lo bayangin?? Harusnya lo biarin gue nembak dia!" gue teriak marah.
"Nembak dia? Jadi lo bakal masuk penjara karena pembunuhan, ngebiarin Christina ngatur perusahaan lo dan ngebiarin Heather di pelukan cowok lain? Jadi semua yang lo perjuangin selama ini nggak ada artinya? Ya, mungkin harusnya gue biarin lo nembak si idiot itu!" kata Keith dengan sarkasme.
Gue natap lantai, air mata netes di mata gue. Keith natap gue.
"Semuanya bakal baik-baik aja, Ace."
"Dia ngenalin gue."
"Apa?"
"Dia bilang gue punya mata Ayah."
"Iya, tapi dia nggak tau muka lo. Dia bahkan nggak kenal lo. Dia nggak tau lo kerja di perusahaan itu."
Gue natap Keith.
"Iya, tapi dia bakal kasih tau Christina kalau gue masih hidup."
"Mereka udah nganggep dia gila. Mereka nggak bakal percaya dia. Kita tunggu dan liat apa yang terjadi besok."
***
POV Heather:
Besoknya gue balik lagi ke California. Ace nggak tau. Gue mau kasih dia kejutan di tempat kerja. Ya Tuhan, banyak banget yang mau gue kasih tau ke dia dan plus, gue kangen banget sama dia. Awalnya, gue berencana buat nunggu dia di apartemennya sampe dia balik, karena gue punya kunci duplikatnya. Tapi trus gue berubah pikiran. Gue mau kasih dia kejutan di kantor.
*
POV Ace:
Pas gue kerja besoknya, pikiran gue tetep ke Heather. Gue kangen banget sama dia. Gue mau dia balik ke pelukan gue. Gue butuh dia lebih dari sebelumnya.
Pas gue mikir, gambar di laptop gue menarik perhatian gue.
Elijah dan Rob baru aja masuk ke kantor Christina.
"Ngapain kalian di sini? Gue bilang ke kalian berdua buat nelpon kalau mau mampir! Nggak, sih?" Christina nanya dengan marah.
Kedua pria itu duduk.
"Maaf Christina, tapi si idiot ini!" Rob nunjuk Elijah, "Ngemeng yang bohong-bohongan!"
"Gue nggak!"
Christina ngebentak mereka berdua.
"Emang omongan bohong apa, sih?" dia nanya ke Rob.
"Tanya aja sendiri."
Dia noleh ke Elijah.
"Apaan, sih, Elijah? Gue nyuruh Rob buat ngasih lo duit lo. Nggak dia kasih?"
"Dia kasih," kata Rob.
"Terus apalagi, sih, Elijah?"
Elijah naruh amplop penuh duit di meja.
"Nih Christina!" dia nyahut dengan marah, "Ambil lagi duit kotor lo! Gue nggak mau! Duit nggak bisa ngehentiin karma yang bakal kena kita!"
Christina natap Elijah bingung.
"Maksud lo apaan, sih, sekarang?? Karma apaan??"
"Gue bilang dia lagi stres," kata Rob marah.
"Rob, diem!" si penyihir teriak, dan trus noleh ke Elijah, "Apa yang bikin lo gelisah?"
"Sheridan. Sheridan, masih hidup! Dia nyerang gue kemarin!"
Gue senyum sendiri.
"Apa?? Lo denger sendiri?"
"Dia masih hidup! Dia! Dia balik buat balas dendam. Gue kenal dia!"
Keterkejutan keliatan di muka Christina. Bahkan di Rob juga.
"Lo– lo liat mukanya? Dia ngaku kalau dia yang ngebuatnya?" dia nanya ketakutan.
Elijah nyeritain kisah malam sebelumnya ke mereka. Mereka nggak percaya dia, pastinya.
"Lo bego, Elijah. Lo bahkan nggak liat muka penyerangnya dan plus, lo abis minum. Lo ngarang cerita. Keluar dari kantor gue."
"Christina, gue udah peringatin lo!" dia berdiri marah, "Jangan dateng minta bantuan setelahnya. Sheridan masih hidup!"
Dia ngamuk keluar dari kantor.
*
POV Sawyer:
Gue sampe di pintu Ace. Gue mau beresin semuanya sama dia, sekali dan buat selamanya. Mau dia suka atau nggak.
Gue masuk ke kantornya tanpa ngetuk.