Bab 1 Si Nakal di Dalam Kostum Ayam
"Reed Langston?"
Reed Langston - alias JerkAss, alias si Anak Nakal di SMA-ku, beneran membeku. Dia berhenti bagi-bagi ayam goreng gratis. Kalau dia gak pake kostum ayam kuning besar yang mengembang itu, dia mungkin udah gemeteran. - karena malu, tentu saja.
"Aku bilang aku mau ayam gratisku!" teriak Anak kecil yang cempreng di depannya. "Kasih aku sekarang juga!" Aku cekikikan melihat adegan di depanku.
Langston tersenyum sinis ke Anak kecil, "Kamu mau ayammu? Ini!" Dia mendorong ayam itu ke mulut Anak kecil itu, bikin anak kecil itu batuk... atau mungkin tersentak... atau tersedak? Dia keliatan puas sambil bilang, "Nikmati ayam sialanmu."
Langston!
Bocah menyedihkan tapi ngeselin itu ada remah-remah ayam di bajunya dan air mata berlinang di pipi gembulnya. Akhirnya dia lari balik ke restoran cepat saji sambil ngunyah ayamnya.
Orang normal, ya, siapapun yang ada di posisi Langston mungkin bakal ngerasa bersalah dan minta maaf atas apa yang dia lakuin. Tapi Langston kan Langston; dia cuma nyengir jahat.
Anak kecil itu beneran menyedihkan. Menyedihkan, aku bilang!
"REED!" Sebuah suara keras dan berat menggelegar. Saking kerasnya, ada orang-orang yang ngeliatin kita dan beberapa orang yang lagi jalan di sekitar kita beneran berhenti. Mereka mungkin mikir itu polisi atau semacamnya. Pas mereka sadar kalau suara itu berasal dari pria tua yang marah dan keriput, mereka lanjut jalan lagi. Seolah gak terjadi apa-apa.
Senyuman di wajah JerkAss hilang dan diganti dengan cemberut. "Apaan, Patrick?"
"Mr. Sanders buatmu anak muda." Pria tua itu, yang aku yakini adalah manajer restoran cepat saji itu dan bernama 'Patrick', memelototi Langston. "Kalau ayahmu denger tentang ini, kamu bakal-"
"Bakal apa?" JerkAss mengangkat alisnya, "Kehilangan warisanku? Jangan kesana, Patrick." Dia meludah nama itu dengan kebencian. "Mungkin kamu yang bakal kehilangan sesuatu kalau kamu buka mulut lebar-lebarmu itu. Kayak, aku gak tau," Dia memutar matanya dengan sinis sebelum menyeringai, "Pekerjaanmu?"
Kalau Patrick itu karakter kartun atau karakter anime, dia bakal ngebul abu-abu dari telinganya. - Atau itu uap?
Patrick cemberut. "Kalau gitu, kerjain dengan benar."
Aku diem-diem ngeliatin Patrick balik ke restoran dengan kesal. Menghentak-hentakkan kakinya sepanjang jalan. Aku balik ngeliat JerkAss dan ngeliat dia nyengir sambil ngeliatin Patrick pergi.
Demi mengenang Patrick tua yang baik dan anak kecil itu, biarkan aku yang melakukan kehormatan untuk menghilangkan senyuman dari wajahnya yang cakep itu.
"Kasihan." Aku berdecak. "Kamu nakal banget ya, main-main sama bosmu, ya Langston?"
JerkAss tiba-tiba kaku, membeku sesaat, sebelum berbalik menghadapku. "Kamu gak liat apa-apa." Dia ngasih tatapan khasnya; yang selalu dia pake kalau dia mau nakutin seseorang atau sesuatu.
Pfft. Kayak gitu bakal mempan.
"Tapi aku liat." Aku mengedipkan bulu mataku untuk mengejeknya. Akting kayak aku anak 'polos'. "Aku punya mata, Langston. Ini jelas berarti aku ngeliat si anak nakal terkenal dari Denovan High bagi-bagi ayam gratis." Aku nyengir sambil ngasih garam ke harga dirinya yang terluka, "Itu juga berarti aku bisa ngeliat kamu pake kostum ayam."
Pemandangan di wajahnya tak ternilai, percayalah padaku. Matanya lebar banget sampe aku yakin biji matanya mau copot. Tatapan horor di wajahnya juga nambah poin bonus. Dia keliatan begitu terintimidasi, begitu rentan, begitu... lemah.
Aku cekikikan dengan cara yang jahat. "Kenapa, Langston? Apa daddy tersayang udah berhenti ngasih kamu uang?"
Seolah tatapan horornya gak pernah terjadi, dia mendapatkan kembali ketenangannya dan cemberut padaku. "Sekali lagi, kamu gak liat apa-apa." Dia membentak dengan marah, "Atau kalau gak-"
Aku memotongnya dengan tawa, "Atau kalau gak apa, JerkAss?"
Dia nyengir, "Aku bakal hancurin reputasimu."
"Reputasiku?" Mataku melebar dengan ejekan murni. Aku cemberut dan berhasil bikin dia kesal setengah mati. "Sebagai informasi, kamulah yang rentan saat ini. Jadi," Aku langsung ngasih dia tatapan "Aku-berani-kamu". "Kalau kamu mau hancurin milikku, aku bakal hancurin milikmu."
Matanya melebar. Aku beneran bisa ngeliat rasa takut dan hiburan terpancar di matanya.
"Cukup adil, kan?" Aku mengedipkan mata padanya dengan seringai sebelum meninggalkannya sendirian.
Oh, apa yang bakal orang lain bilang kalau mereka tau kalau si anak nakal yang terkenal, kaya, ganteng (ih) dan gak punya reputasi ini pake kostum ayam?
Sial, blogku bakal hits!