Bab 11 Bawah Tanah
Gelap gulita.
Kegelapan menutupi pandanganku, dengan lampu neon biru dan kuning berkedip di sekitar stadion, ya, stadion.
Gimana bisa stadion muncul di bawah taman? Jangan tanya aku.
"...Kita ada di mana, sih?" tanyaku takjub.
Kurasa aku tahu di mana alien menempatkan manusia yang mereka tangkap. Atau sebaliknya.
Beberapa orang bergesekan satu sama lain, beberapa berciuman, beberapa berteriak dan beberapa menunjukkan tagihan mereka, dan acara utama, 2 raksasa besar acak ada di dalam ring tertutup atau semacamnya.
Kayak, ring tinju,
Dan orang-orang itu berdarah. Kayak, berdarah banget. - penampilan mereka melebih-lebihkan frasa neraka berdarah karena mereka berdarah, dan ringnya terlihat seperti neraka.
Sekarang aku tahu kenapa ada darah di lift,
Kami berhenti berjalan, jadi aku melihatnya ketika dia menjawab, "Selamat datang di The Underground."
Original banget.
"Beneran? Gak ada Stadion Kematian atau nama seram apa pun yang bikin merinding setiap kali lo denger?"
"Kenapa? Bukannya The underground udah cukup serem?"
"Iya sih..." tambaku, "Agak sedikit."
Dia tersenyum, "Yah, mereka gak mau nakut-nakutin orang. Maksudnya, begitu orang melihat ini, bukannya orang itu bakal bener-bener kaget?"
Oh.
Yah, dia bener.
"EH LANGSTON!"
Aku kenal suara itu dari suatu tempat... Kami berbalik dan aku benar-benar meringis melihat wajahnya, Red. Tunggu, kayaknya Reed. Ya, kurasa itu Reed. Mereka punya nama yang sama, keren.
Wajahnya benar-benar berlumuran darah, DARAH.
Hidungnya berdarah.
Mata berdarah.
Pipi berdarah.
Dan percaya atau tidak, telinga berdarah.
APA YANG TERJADI DENGAN DIA!?
Dan dia masih tersenyum.
Aku bergegas ke arahnya, "Lo baik-baik aja?"
Dia tertawa keras, sebelum melihat ke arah JerkAss, "Lo punya cewek yang hebat nih, Bro!"
Aku mengangkat alis.
Reed menyeringai pada JerkAss sebelum melakukan jabat tangan ala bro. "Senang ngeliat lo pake pakaian normal!"
"Siapa yang ngelakuin ini sama lo??" tanya JerkAss, mengabaikan komentar pedas yang dibuat temannya.
Reed tertawa, "Ah, beberapa bajingan, kan?"
JerkAss mengerutkan kening sebelum melihat ke ring, dia menunjuk ke raksasa dan bertanya, "Bajingan itu?"
Red mengikuti pandangannya sebelum mengangguk, "Ya, denger-denger dia ngurusin hal-hal ilegal, kayak narkoba, plus, dia kalah di salah satu pertarungan kita, jadi dia dan teman-temannya memukuli gue. Pelajaran buat gue, jangan pernah masuk ke ruangan gelap."
Aku tersentak sementara JerkAss menggeram dan berlari ke arah ring.
"Hei, hei, hei! JerkAss!" Akhirnya aku menangkapnya, menghentikannya dengan sengaja, "Lo mau ngapain, sih?"
Dia memelototi ring sebelum melihat ke arahku, "Ini aturan nomor satu di underground, gak boleh berantem di luar ring," Dia berhenti sebentar sebelum memelototi raksasa itu, "Bajingan itu pecundang."
Setuju.
"Gue bakal ngalahin dia, bales dendam buat temen gue. Gak ada yang bisa ganggu temen gue dan lolos begitu aja."
Aku gak percaya aku ngomong gini, tapi, aku panggil dia Langston, ternyata dia gak sepenuhnya JerkAss, yah, gak sepenuhnya.
"Sana hajar dia."