Bab 62 Mereka Ada di Sana
"Kenapa..." gumamku, "A-apa- kenapa?!" Aku berteriak sambil berlutut di tanah.
"Ada apa?!" **Adam** bergegas ke arahku dan menggenggam tanganku, "Kamu tahu tempat itu?"
"Aku tahu tempat itu?" Aku mencibir, "TENTU SAJA AKU TAHU!"
"Ya ampun..." gumamku, "Aku...?"
"Kamu tahu tempat itu... bagaimana?" tanya **Adam**.
Aku mengerutkan kening, "Itu alamat sialan rumahku!"
Mata mereka membelalak, "Itu rumahmu?"
"Enggak." Aku mengucek mata, "Secara teknis itu rumah mereka. Aku masih tinggal sama orang tuaku. Jadi itu alamat kita."
"Kamu bilang mereka tinggal di rumahmu, di Ohio?"
Mengangguk canggung, aku berdiri dan batuk, "Haruskah aku berkemas... atau gimana?"
"Enggak," **Adam** menggelengkan kepalanya, "Kamu di sini untuk perlindungan; mengetahui lokasi orang tuamu enggak mengubah apa pun."
"Tapi... aku bisa jenguk mereka, kan?"
**Adam** mengangguk, "Tentu saja."
"Kayak sekarang." Aku berdiri.
"Sekarang juga?!" Mereka bertanya.
"Sekarang juga." Aku mengangguk, "Ambil kunci mobilmu, **Adam**. Kita pergi."
----------------------------
"Gak percaya deh tinggal di rumah sendiri dihitung sebagai bersembunyi. Kayak apa sih, man," keluhku sambil merosot di kursi.
"Aku ngerti mereka sih..." **Adam** tertawa kecil, "Ingat, 'Melakukan yang diharapkan itu tak terduga.'"
Aku mengerutkan kening, "Tapi itu kebalikan dari salah satu kutipan paling terkenal, Harapkan yang Tak Terduga."
"Menjadi tak terduga itu terlalu berlebihan." **Adam** mengedipkan mata.
Ya-huh.
Aku melihat kaca spion depan mobilnya dan mengerutkan kening saat gak nemuin mobil **Felipe**. Aku tanya dia, "Mana **Fey** dan **Felipe**?"
"Mereka tepat di belakang kita."
"Enggak," aku periksa lagi, "Mereka gak ada."
Dia melihat kaca spion depan dan matanya membelalak, "Sialan." Dia mengumpat.
"Apa?" Aku melihat ke belakang, "Ada apa-?"
Aku terpotong dengan tembakan.
"MAKRONI ITU JELEK PAKE KREIM Hambar!" Aku jongkok di kursi saat **Adam** ngebut.
"Tenang, gak apa-apa." Dia melakukan beberapa gerakan dengan tangannya di persneling, bikin mobil makin ngebut. "Mobilnya anti peluru."
Aku sih gak menurunkan kewaspadaan. Aku duduk tegak tapi agak merunduk. Tembakan terus berlanjut dan aku melihat mobil-mobil di samping kita.
Tapi gak ada mobil di samping kita karena sekarang kita lagi melewati gurun yang sepi.
Aku berbalik dan kaget pas ngelihat apa yang mereka punya. Aku ragu mobil ini bisa nangani.
"Aku punya pertanyaan..." Aku menelan ludah, "Mobil ini juga anti misil, kan?"
Mata dia membelalak dan dia melihat kaca spion depan, sebelum mengumpat lagi. "Sial."
Sial emang.