Bab 19 Penyelamat Orang Asing
Gelap.
Akhirnya gelap.
Tapi, kita bahkan belum dekat ke mana pun!
"Langston, yakin kita gak cuma lewat sini? Soalnya aku yakin kita udah lewat sini," kataku padanya, sambil menggenggam ponselnya lebih erat, yang juga kita pakai buat sumber cahaya.
"Yakin banget emang kita udah lewat jalan ini?"
"Ada pohon!" Aku mengarahkan cahaya ke pohon yang tampak familiar.
"Chloe, kita di rawa... Ya jelas ada pohon di mana-mana!"
Aku menutup mulutku.
"Lagipula, gak mungkin kita lewat rute kita tadi karena, tau sendiri, kita jalan lurus terus."
"ONE DIRECTION!" Aku berteriak.
"Uhh Chloe?"
"Itu aturannya, di fandom kelas aku. Setiap kamu denger kata direction kamu harus teriak One Direction. Aku Directioner," Aku menjelaskan padanya. Kamu tau kan, aku Directioner bersertifikat. Cintaku pada One Direction lebih besar dari cintaku pada Es Krim, dan percayalah, itu banyak banget artinya.
Dia memutar bola matanya, "Cewek dan boyband. Gak bakal ngerti deh."
Aku mengangkat alis, "Cowok dan karet gelang. Gak bakal ngerti deh."
"Touché kawan," Dia menyeringai, "Touché."
Dari tadi, kita gak pernah belok kiri atau kanan terlalu banyak, kita cuma jalan lurus terus -ONE DIRECTION!- dan kalau ada pohon di depan kita, kita cuma jalan muter dan balik lagi ke jalan setapak.
"Gak ada tanda-tanda orang tinggal di sini, atau setidaknya dekat sini," kataku padanya.
Dia mengangguk setuju, "Gak ada lampu, gak ada suara, bahkan gak ada hewan peliharaan. Kota hantu banget- ya, rawa."
Aku merasa ingin tertawa, "Lagian, ini kan rawa."
Dia mengangkat bahu.
Aku bener-bener bosen.
Dan, aku merasa pengen nangis,
Jadi aku nangis.
"Salah banget ya bantuin orang!? Aku laper, gak, salah, aku kelaperan! Kita nyasar, dan aku pengen pipis!" Aku bener-bener ngomong sama siapa aja, tapi aku kaget pas Langston nyaut.
"... Maaf," Dia berbisik, "Maaf udah narik kamu ke masalah ini. Aku temen yang buruk banget."
.
.
.
Aww!
Aku berhenti jalan yang bikin dia berhenti jalan yang bikin kita berhenti jalan.
"Bukan salah kamu," Aku menghiburnya, "Ya, secara teknis sih salah kamu. Maksudnya, kalo kamu gak main-main sama tasnya dan lain-lain, yang mana, aku udah bilang jangan..." Aku menggantung kalimat.
Dia keliatan buruk.
"-Tapi! Ada tapinya," Aku menyelamatkan, "Gak sepenuhnya salah kamu." Aku mengangguk.
Dia mengangkat alis, "Seriusan nih atau gimana?"
Aku menyeringai, "Aku udah berusaha yang terbaik." Anson Seabra.
Dia tertawa lagi.
Terus, kita memutuskan buat lanjut jalan.
Aku berhenti jalan pas ngeliat sedikit cahaya dari jauh, aku menyipitkan mata supaya bisa fokus lebih dan kaget, "Langston! Seseorang beneran ada di sana!"
Dia ngeliat aku sebelum mengikuti arah pandang mataku dan mengangguk dengan semangat, "Seseorang ada di sana."
Aku tertawa keras sebelum mendorong dia buat lari ke arah cahaya, "Tanda pertama ada orang yang beneran bantuin kita!"
Kita lari ke arah cahaya dan langsung menghela napas lega pas denger tawa dari orang lain dan lampu warna-warni.
Tunggu... Itu... ???
"PERMISI, TAPI INI PROPERTI PRIBADI!" Kita berbalik dan ngeliat seorang pria tua pake jaket, dengan topi koboi khasnya, mengarahkan senternya ke kita. Jadi ternyata, orang lain dan lampu warna-warni itu cuma bagian dari delusi ku. Tapi pertanyaan yang harus dijawab banget adalah...
Kenapa dia pake topi malem-malem?
"Properti pribadi?" Aku bertanya.
"Iya. Sekarang, kalian yang menerobos ini dalam penangkapan."
"Kamu bukan dari pihak hukum." Langston bilang, "Kita gak tunduk pada siapa pun."
Ah, sial, Langston dan mulut pintarnya.
Aku ngasih Langston tatapan 'Berisik sih!' sebelum ngeliat ke orang asing itu, "Kita nyasar. Maaf banget. Kita dari Denovan, dan kita berencana ngirim sesuatu ke deket Villa Milamich. Kamu tau itu di mana?"
Mata pria tua itu membesar, terus dia matiin senternya, "Dari Denovan katanya?"
Aku mengangguk, "Iya! Ke..." Aku menggantung kalimat pas nyadar sesuatu, "Maaf, kita gak tau harus kasih ke siapa dan siapa yang punya."
Sial, kita kurir terburuk di dunia.
"Walau, kita tau seorang wanita tua yang ngirimnya," Langston bilang.
"Dia cranky gak sih?" Pria tua itu bertanya.
"Dia temperamental," Aku mengangguk, "Tapi dia baik."
Pria itu tersenyum, "Berarti itu buat aku."