Bab 31 Bab Tambahan (8)
“Oh, jadi itu sebabnya dia seorang pemandu sorak.” Aku menghadap ke Reed Langston lalu menyumpal mulutku dengan segenggam berondong jagung. “Maksudnya-” krek. “-dia itu-” krek. “-keren, goshiic banget.” Aku mengangkat bahu dan melanjutkan menonton film pemandu sorak.
“Apa?” Dia bertanya dengan cemberut.
Menelan, aku mengulangi apa yang kukatakan. “Maksudku, dia sangat gotik.”
“Oh.”
Aku melanjutkan menonton film dan berpelukan dengannya. Akhirnya, pikiran karena tidak tahu film apa itu, menggangguku.
“Judul film ini apa lagi?” tanyaku.
Cemberutnya semakin dalam. “Bukankah kamu yang memaksaku menonton omong kosong ini?”
“Aku bertanya padamu,” kataku dengan nada tumpul. “Kamu tidak bisa begitu saja menjawabku dengan pertanyaan.”
“Aku tidak tahu,”
“Kamu kan yang memutarnya.” Aku menunjuk ke pemutar DVD.
“Kamu kan yang milihnya.”
“Koreksi.” Aku duduk tegak, “Kamu yang memilih ini di kotak ‘Film Favorit’ ku.”
“Aku tidak punya pilihan!”
“Semua orang punya pilihan.” Aku mencibir.
Dia berseru, “Pilihannya itu, atau film barbie yang klise itu!”
Aku memandangnya dengan tatapan kaget.
Dia tidak baru saja mengatakan itu.
“THE 12 DANCING PRINCESSES BUKANLAH FILM KLISE!”
Dia mendengus, “Iya.”
“Kok kamu tahu!?”
“Aku sudah menontonnya.”
Aku berdecak dan mengejeknya, “Apakah anak nakal di dalam kostum ayam itu mengakui bahwa dia menonton film Barbie?”
“KAMU.MEMAKSAKU!”
“Gimana sih caranya aku bisa memaksamu!?”
“KAMU MENGANCAMKU UNTUK PERGI DARI RUMAH JIKA AKU TIDAK MENONTONNYA BERSAMAMU!” Dia berdiri dengan marah, “SIAPA YANG MELAKUKAN ITU!?”
Mengerutkan kening, aku melempar remote ke arahnya. “DIAM!”
Dia menghindarinya dan menatap remote yang rusak dengan mata terbelalak. Dia menghadapku dengan rahang menganga. “Kamu baru saja melempar–” Dia terpotong dengan bantal mencium wajahnya. –atau sebaliknya…
Pada akhirnya, aku menyadari bahwa aku sedang menonton Bring It On: In It To Win It.
Maaf Reed Langston… Kurasa.