Bab 2 Prolog
Waktu kita masih anak-anak, Disney ngajarin kita kalau suami masa depan kita itu bakal punya rambut yang keren banget – gak peduli warnanya apa, ganteng, tinggi, pake zirah berkilau – atau punya aura cowok idaman, punya kuda putih, menawan, seorang pangeran, dan bakal jemput kamu dari hidup yang menyedihkan dan hidup bahagia selamanya.
Disney juga ngajarin kita kalau udah nemuin yang pas, kamu harus yakin buat 'pindah' sama mereka meskipun kamu gak tau siapa orangnya; orang asing – yang sangat buruk. Fakta sederhana ini bikin beberapa orang tua pusing tujuh keliling karena di umur 16 atau kurang, anak mereka pengen pindah dan tinggal sama bajingan acak yang punya fitur-fitur ganteng.
Sekarang, kenapa gue ngoceh tentang kebodohan Disney?
Ini alasannya ->
"Gue nemuin dia!!!!!!" Seorang Gadis acak menjerit dari sisi lain aula, "Gue nemuin dia! Gue nemuin yang pas!!"
-seminggu kemudian-
"Gue pikir dia cinta sama gue!!" Gadis acak yang sama menangis keras. Seminggu lalu, dia pake senyum yang bisa bikin cerah seluruh ruangan dan sekarang, dia Gadis bermata berlinang air mata dengan riasan yang luntur dari matanya.
Yang gue mau bilang, ITU DISEBUT 'DONGENG' KARENA SUATU ALASAN.
-Dari orang paling cengeng, CrazyHater.
Sambil senyum ke laptop gue, gue baca ulang apa yang gue tulis dan kirim, ngebiarin kekuatan teknologi ngirimnya kemana-mana.
Jangan salah paham, gue suka Disney, terutama Cinderella, tapi itu cuma gak realistis aja.
Ting.
Gue liat ke bawah ke laptop gue dan nyengir ke komentar yang ditulis sama @DivaBeauty – nama yang jelek, gue tau. Tapi, gue beneran gak bisa ngomong gitu karena itu bakal bikin gue munafik. Komentar itu berbunyi: @CrazyHater Gue gak setuju sama lo, putri-putri itu gak bodoh! Apa lo nyebut putri-putri masa lalu kayak Diana dan Gadis Kate yang lain itu bodoh?!
Wah. Gadis ini bodoh.
Gue gak mau ngomong atau bales orang-orang bodoh dan tolol kayak dia, jadi gue cuma nutup laptop gue dan masukin lagi ke tas gue.
"Chloe!" Gue senyum waktu denger suara sahabat gue.
"Archie!"
Archel Viminion, cewek berambut cokelat yang agak... Yah, idiot – Kadang-kadang! Dia kayak Cat di acara Nickelodeon jaman dulu Sam and Cat – Kadang-kadang! Oke, mungkin gak kadang-kadang, mungkin agak sedikit kadang-kadang.
"Lo denger gak? Crazyhater baru aja update blognya!"
Ada orang, kayak manusia manapun, yang baca blog gue?! Tentu aja iya, gue kayak musuh cewek-cewek bodoh dan sahabat terbaik klub debat!
Gue gak ada masalah sama cewek pirang – karena gue salah satunya – tapi kalau udah urusan cewek pirang bodoh... ya udah, gue gak gitu suka mereka.
Oh, dan gue jadi @Crazyhater itu rahasia; karena kalau gak, mungkin gue udah mati sekarang dan dikubur 10 kaki di bawah tanah.
"Bagus." Gue ngangkat bahu, akting kayak gak peduli, tapi di dalem, ego gue meledak kayak kembang api! Kita jalan ke loker kita. Punya gue cuma ada di atas punya dia.
"Ugh! Chlo! Gue gak tau kenapa lo gitu... asing soal dia!"
Asing?
Gue berhenti dari langkah gue bikin dia juga berhenti, "Asing?"
"Iya, Asing." Dia ngangguk, "Lo akting seakan-akan lo punya di Mars! Maksud gue, kayak, dia itu C R A Z Y H A T E R, meski namanya gitu, dia beneran bisa dicintai dan kayak, terhormat karena ngomong pendapatnya!"
Dia barusan pake 3 'suka' dalam satu tarikan napas?
Ditambah lagi! Dia ngira Crazyhater itu dia, kalau gue itu dia.
"Lo manggil gue Asing cuma karena gue bukan penggemar Crazy Hater?"
"IYA!"
Gue muter mata dengan cemoohan dan gue lanjut jalan. Kita berdua berhenti di depan loker gue waktu gue pencet angka-angka buat bukanya sambil ketawa, "Archie, bukan berarti lo gila-gilaan buat dia kalau gue juga harus begitu."
"Gimana lo tau CrazyHater itu dia?"
Gue membeku waktu gue sadar kalau gue keceplosan. Gue langsung hadap dia, "Uh... Karena.... Yah..." Gue gagap. Ayo Chlo, mikir! Gue mau buka mulut waktu dia lanjut, "Maksud gue, dia bisa aja dia. Dia bisa aja cowok cakep, 6'3, dan pangeran impian gue."
Gue nahan ketawa. Oh Archie, apa reaksi lo nanti kalau lo tau CrazyHater itu gue? Cewek? Bukan cowok cakep dan jelas bukan pangeran impian siapapun?
Mutusin buat alihin pikirannya dari topik itu, gue nanya bercanda, "Jadi lo gak cinta Ivan?"
Ivan punya rambut cokelat, mata hitam, dan rahang kuat – sahabat terbaik Archie sejak pake popok sampe tahun kedua SMA. Sampe tahun kedua SMA karena dia bilang 'iya' waktu Ivan minta dia jadi "punyanya". Archie dan Ivan, mereka satu-satunya pasangan yang gue percaya punya omong kosong 'cinta sejati' yang jelek itu. -Pengecualian buat orang tua dan kakek-nenek gue tentu aja.
Ivan juga alasan kenapa gue harus liat muka JerkAss setiap hari. Dan itu karena JerkAss itu sahabatnya; gue kasian sama Ivan. Beneran deh.
Dia berhenti, terus jawab serius, "Gue cinta Ivan."
Gue ketawa, "Gue tau. Gue tau. Lo udah klepek-klepek!"
"Terus?" Dia naikin alis.
"Gak ada. Gak ada." Gue nelan ludah ngeliat dia serius. Dia mungkin aja orang tolol kadang-kadang, tapi kalau dia udah beneran serius, dia beneran serius... dan nyeremin.
"ARCH!"
Gue menggerutu keras tapi Archie cuma menjerit dan lari ke Ivan, JerkAss di belakangnya.
"Sayang!" Gue gak tau kenapa dia manggil dia babi sih. Lo tau, Babe si babi? Gak? Oke...
"Gue harus pergi sekarang," kata gue, ngambil buku-buku gue dari loker dan ngebanting pintunya. Gue gak mau JerkAss ada di sini buat ngerusak hari gue.
"Tinggal pesta secepat ini, Porter?" JerkAss nyengir.
"Iya, soalnya ada bajingan yang baru aja ngerusaknya, Langston." Gue nyolot. Gue gak pernah manggil dia pake nama depannya, sama kayak dia. Gue percaya cuma orang yang gue hormati atau cintai yang pantas dipanggil pake nama depan mereka.
Gue denger dua erangan, Archie cemberut ke gue. "Apa yang dia lakuin sekarang?"
"Dia nunjukin muka buruknya," gue jawab santai.
"Apa yang pernah dia lakuin ke lo Chlo?" Ivan nanya, ngerangkul ceweknya.
"Dia lahir."
"CHLOE!" Ivan dan Archie teriak barengan.
"Aww." Wajah JerkAss mengejek dengan bibir cemberut.
"Lo nyebelin."
Dia nyengir, "Kalau gitu gue kerja bagus."
"Gue benci lo."
"Gue gak suka lo."
"Diem!"
Dia nyengir, "Gue diem kalau lo diem."
"Gue diem kalau LO diem!"
Rringg...
Bel pagi bunyi yang jadi tanda gue buat pergi. "Gue pergi," gue bilang dengan lambaian kecil waktu gue balik badan.
"Tunggu!" Archie teriak, "Apa kata sandi loker gue-"
"Tanggal ulang tahun lo sama Ivan."
"Itu tanggal ulang tahun gue sama Ivan?" Dia nanya, tiba-tiba, gue denger kekehan terus disusul erangan. Gue yakin JerkAss nyengir ke dia yang bikin Ivan mukul dia.
Gue pelanin langkah buat benerin dia, "Gak, kata sandinya tanggal ulang tahun lo sama Ivan."
"Oh, oke, oke! Makasih lagi. Sampai jumpa!"
Gue geleng sambil senyum kecil dan benerin tali ransel gue waktu gue lari kecil pergi.
Hei, gue bilang kan dia lemot kayak Cat -kadang-kadang!