Bab 17 Pembohong, pembohong, celana… air?
"Tolong kasih tau aku, kamu bawa topeng... Atau apapun yang bisa nutupin muka aku." Aku ngasih muka memelas ke Reed, "Ini hal paling memalukan yang pernah aku lakuin!"
Reed mendesis ke aku, "Bukan kamu yang pake kostum ayam di sini. Lagipula," Dia batuk, "Patrick bilang aku bakal dapet promosi setelah lakuin ini."
"Beneran? Nampilin diri di luar Big Apple pake kostum ayam itu sebanding sama promosi? Kamu becanda, kan?" Maksudku, kita terbang jauh-jauh dari rumah kita, Denovan, ke kota yang rame dan berisik ini. New York.
Dia cuma ngangkat bahu.
Aku natap dia tajam. "Emangnya promosi apa sih?" tanyaku sambil ngembangin sayapnya pelan-pelan.
Dia natap aku malu-malu, "Yah..."
----3 hari kemudian---
"Jadi, gimana rasanya jadi kurir?" tanyaku ke Reed dengan senyum ngejek, yang bikin dia kesel banget.
Iya, perjalanan ke New York beberapa hari lalu itu buat promosi jadi kurir. Aku pribadi nggak tau apa hubungannya sayap ayam sama surat, tapi ya sudahlah.
Lagipula, ini promosi yang bagus karena dia udah nggak pake kostum ayam lagi. Cuma pake kaos polo warna pink yang nyebelin dengan logo ayam di sebelah kanan, dan celana kuning terang. Terserah deh.
"Aku bukan kurir siapa-siapa, aku tukang antar." Dia ngegas ke aku, ngutip Shrek, sambil ngelempar tas penuh amplop di tangannya.
"Kamu tau, kan," kataku, "Kalo kamu jatohin benda itu, kertasnya bakal terbang kemana-mana -dan aku maksud kemana-mana."
Dia memutar matanya, "Ah, sudahlah, lakuin ini gampang kok."
Aku cuma ngangkat alis dan jalan diem-diem.
Aku mungkin diem sekarang, tapi jauh di lubuk hati, aku cuma nunggu tas itu kepeleset.
Percaya atau nggak, Reed dan aku udah jadi sahabat terbaik selama beberapa minggu ini. Setelah obrolan 'dari hati ke hati' dengannya di puncak gunung, yang bikin kaget, aku ngertiin dia.
Tapi berita yang paling bikin kaget adalah, dia nggak seburuk itu, sama sekali.
Dia malah... imut! Apalagi kejutan yang dia kasih ke aku pas valentine, maksudku, gimana bisa cowok nakal ngelakuin sesuatu yang manis ke cewek? Atau lebih tepatnya, ke siapapun!?
"Hei Reed," aku manggil. "Kita sebenernya mau kemana sih?"
Dia ngangkat bahu, "Di suatu tempat di jalan."
Aku cemberut, "Reed..."
Dia ngangguk ke arah rumah yang letaknya di suatu tempat di jalan, "Nggak bohong, ini cuma di suatu tempat di jalan - Sialan!"
Aku hadap dia dan mulai batuk buat nutupin tawaku. Reed kepeleset di tumpukan yang baru aja dia ucapin: Sialan.
Tai.
Crap.
Benda yang keluar dari pantat seseorang.
Benda yang bau item kecoklatan.
Secara teknis, pas dia kepeleset, amplop di sekelilingnya terbang di udara, kayak di film-film pas seseorang lulus. Tapi bukan topi, melainkan amplop coklat dan putih.
Ah, "Udah kubilang."
Dia menggerutu. "Bisa tolongin aku bangun nggak?"
Aku nyengir, "Cowok nakal barusan bilang tolong?"
"CHLOE!"
Aku cekikikan, "Oke, oke!" Aku jongkok dan bantuin dia bangun, mastiin aku nggak deket-deket sama tai yang bau itu.
"Oh sial," Dia merintih, natap amplop itu tanpa daya. Jalan tepat di sampingnya, aku nyubit perutnya dan ngasih dia tatapan.
Dia natap aku tajam, tapi pas dia nyadar dia emang butuh bantuan aku, dia menghela napas kesakitan sebelum ngasih muka memelas ke aku, "Tolongin aku."
Aku nyengir sebelum bantuin dia buat ngambil amplopnya.
"Sayang! Oh sayang!"
Kepala kita noleh ke kanan dan ngeliat wanita tua. Apa dia ngomong sama kita?
"Anak laki-laki yang gayanya aneh dan pacarnya!"
Iya, itu kita.
Maksa buat nyengir, kita jalan ke rumahnya, ninggalin tumpukan kekacauan di belakang kita.
"Kamu tukang pos, ya, sayang?" Dia nanya dengan suara lemahnya, "Yah, tukang pos pake kostum ayam?"
Reed manyunin bibirnya sebelum ngasih wanita tua itu anggukan.
"Kamu butuh bantuan buat ngambil benda-benda itu?"
Reed ngangguk sekali lagi, tapi aku langsung bilang, "Tapi nenek nggak bisa bantu kita." Dia keliatan ringkih.
Dia nyengir, "Oh, jangan yakin gitu sayangku." Dia ketawa, "Aku ada cucu yang mau dateng, tapi mereka masih SD."
"Itu bagus banget!" Reed bilang dengan nada suaranya yang semangat banget.
"Oh, tapi aku ada permintaan sih."
Senyumnya jadi nggak enak, "Seharusnya aku udah liat itu dateng." Dia bergumam pelan, sementara aku nutupin gumamannya dengan, "Permintaan apa?"
Nenek tua itu senyum hangat ke aku, "Yah, aku punya pesan khusus yang mau dikirim ke temanku."
Reed ngangkat alis, "Nenek udah tua, masih punya temen aja?"
Mata aku membelalak dan langsung nginjek kakinya, "Jangan kurang ajar." Aku mendesis pelan sebelum natap nenek dan senyum hangat ke dia, "Kenapa cucunya nggak lakuin aja buat nenek?"
Dia cemberut, "Aku kan udah bilang mereka masih SD, kan?"
Wow, emosi!!
Aku tetep senyum, "Tentu aja, tapi... Ini tempatnya di mana?"
Dia langsung senyum malu-malu, "Villa Merlamich."
Villa Merlamich?
"Emangnya di mana itu?" Reed nanya blak-blakan.
Tentu aja, aku mau tau jawabannya, jadi aku nggak usah repot-repot ngurusin tata kramanya.
"Dekat kok sebenernya. Cuma di bagian timur luar kota."
Mata aku hampir melotot, "Nenek bilang itu dekat!?"
Dia senyum, "Dekat Walmart luar dan bagian timur kota!"
Tentu saja.
Aku ngasih dia anggukan buat ngakuin kesepakatan kita.
Reed bilang, "Tolong mastiin semuanya dari sana," Dia nunjuk pake jempol ke jalan, "Bakal diambil dan dimasukin ke sini." Dia ngangkat tasnya.
"Oke!" Dia nyengir, sebelum ngambil sesuatu di balik pintu dan ngasih dia kotak. Terus, dia ngasihin ke Reed.
"Wah," Suaranya sedikit tegang pas dia ngambilnya, "Ini berat juga. Isinya apa sih? Batu?"
Wanita tua itu cuma ketawa dan nggak ngubris pertanyaannya, "Mastiin kotak itu ada di tangan temenku sebelum besok." Terus, dia nutup pintunya rapat, ninggalin aku dan Reed sendirian sama kotak.
"Ayo. Mending kita mulai jalan. Sebenarnya motorku rusak, dan mobilku jelas ada di rumah." Reed bilang sebelum pergi.
Tunggu...
Jalan kaki?
"Jalan kaki? Apa? Balik aja ke rumah dan -"
"Nggak bisa, kita nggak punya banyak waktu," Dia bilang, "Udah jam 5, lagipula, jalan ke halte busnya cuma beberapa menit lagi."
Baiklah.
~
"Reed! Kita di mana sih!? Kita udah jalan berjam-jam!"
Dia natap aku malu-malu, "Yah, ternyata nggak ada halte bus."
"Apa?"
Dia ngegigit bibirnya, "Tapi aku tau jalan pintas."
"Tapi kamu bohong!"
"Aku nggak bohong soal apapun!"
"Beneran? Kamu harusnya bilang nggak ada halte bus dari awal!"
Dia natap aku dan menghela napas, "Kamu bener... Aku minta maaf. Aku tau apa yang aku lakuin salah, tapi kita jangan berantem, ya?"
Aku ngangkat alis sebelum menghela napas, "Jalan pintasnya di mana?"
Dia nyengir, "Di sini."
Aku kaget pas nginjek sesuatu basah, yang berarti itu nutupin kakiku. Aku natap Reed dan kaget pas ngeliat dia udah basah kuyup.
Gimana ini bisa terjadi?
"Uh, Reed... Kamu punya baju ganti atau sesuatu, kan?"
Dia natap panik di sekeliling kita sebelum naruh kotak di tanah dengan aman dan ngambil tasnya.
"Aku punya ini,"
Dan tebak apa itu.
Itu... kostum AYAM-nya