Bab 7 Fisika dan geometri… hal-hal
Tau gak sih apa yang paling aku benci?
Orang-orang palsu.
Dengan *boobs* palsu mereka.
Dengan kulit palsu mereka.
Dengan rambut palsu mereka.
Dengan gigi palsu mereka.
Terutama kepribadian palsu mereka. Kenapa sih mereka gak bisa jadi diri sendiri?
Oh iya, karena mereka palsu. Kata 'b' yang nyebelin itu artinya anjing betina.
Dari *hater* paling gila, CrazyHater.
Aku tutup laptop setelah mem-publish-nya. Setelah menyimpan, aku rebahan di kasurku.
"CHLOE!" Ya ampun! Biarin.aku.istirahat!
Aku langsung duduk tegak dan menatap Ibu Chloe dengan mata lebar saat dia bergegas masuk ke kamarku dengan seringai lebar di wajahnya.
"Coba tebak!" Dia bertanya.
Kenal dia, kalau aku gak ikutan kuis 'Coba Tebak' dia, dia gak akan berhenti gangguin aku.
"........" Capek nunggu, aku nanya, "Jadi..?
"COBA TEBAK!"
Oh. Dia beneran pengen aku nebak.
"Kamu menang lotere?"
Dia mendengus, sambil mengibaskan tangan, "Nggak."
"Kamu belajar masak?"
Dengus lagi, "Kaga mungkin."
"Kamu mau ke Austria..?"
Dengus. "Semoga aja."
"Terus apa dong!" Aku membentak.
"Aku nemu sepatu yang sempurna!"
"Terus?" Sadar sama yang aku omongin, aku benerin, "Maksudnya, buat apa?"
"Coba tebak!"
"AKU UDAH CAPEK NEBAK!" Aku membentak.
Ups.
"Jangan meninggikan suara sama aku, anak muda." Katanya dengan suara tegas.
Aku tersenyum malu-malu, "Maaf..."
Balik ke topik, akhirnya dia jawab, "Kita mau makan malam di rumah Paman Tan!"
Oh.
"Bagus sih - kayaknya, selamat bersenang-senang!" Aku berseru. Yey! Akhirnya dia bisa keluar dari kamarku!
Terus aku bisa punya rumah sendirian! Ooh, mungkin *date night* sama Archie! Atau marathon film sama sahabatku yang lain!
Mr. Piggy; alias boneka kesayanganku.
"Tentu aja kita bakal seneng-seneng sayang." Dia melambaikan tangan, pas mau keluar kamar.
Tunggu, apa?
"Maksudnya kita itu apa?"
Dia berhenti, berbalik dan menghadapku, "Kita. Kami." Dia tertawa, "Apapun kata ganti yang kamu tahu yang mendeskripsikan aku, ayahmu, dan KAMU SENDIRI."
Apa...? Dia, dia, dan aku?
NGGAAAK!!!!
"Aku sibuk." Aku mengangkat bahu. Bohong sambil mengertakkan gigi.
"Oh ya?" Dia memutar matanya, "Sama apa?"
Tidur. Istirahat. Mungkin juga makan.
"Proyek. Proyek yang sederhana tapi susah."
"Mata pelajaran apa?" Dia mengangkat alisnya yang sudah dipangkas.
"Fisika. Iya, FISIKA," aku mengangkat bahu.
"Dan kamu mau ngerjainnya di mana?"
"Di kamar."
"Dan proyek ini tentang apa?"
"Gaun."
Dia menyeringai, "Tapi kukira tentang fisika?"
Sial. Dia kena aku.
Jangan pernah menyerah!
"Ini gaun yang terbuat dari fisika dan geometris dan... lain-lain," aku ngomong semuanya dalam satu tarikan napas terus ngedip.
Dia mengangkat alis, "Fisika dan geometris dan lain-lain?"
Ngedip cepet, aku cekikikan gugup. "Apa aku bilang 'Fisika dan geometris dan lain-lain'? Maksudku adalah-"
"Kamu ikut dan itu final." Katanya dengan suara tegas. Gak ngasih kesempatan buat aku gak setuju.
"TAPI AKU SIBUK!"
"Iya deh." Dia memutar matanya sebelum keluar kamar.
Sialan.
~-~
Ngepak-ngepak rok yang berenda, aku memelototi diriku di cermin. Aku benci pake sesuatu yang gak aku suka banget demi itu. Aku benci gak bisa bilang nggak sama orang tua. Aku benci Paman Tan karena beneran ngelakuinnya sama istrinya dan menghasilkan bocah nyebelin yang mereka sebut anak mereka!
Bukannya aku gak suka Paman Tan, aku cuma benci anaknya.
JerkAss Reed Langston.
Paman Tan atau Tan -dia mau semua orang manggil gitu- gak ada hubungannya sama aku, setidaknya bukan sedarah. Katanya sih sahabat terbaik ayahku, dan ibuku.
Sebenci-bencinya aku, JerkAss dan aku tumbuh bareng.
Iya, bunuh aku!
"Chloe!!!"
"AKU DATANG! Ya ampun," aku ngambil tas sebelum lari keluar kamar.
Ini bakal jadi malam yang panjang.