Bab 75-76 Canggung
"Gimana kabarnya?" tanyaku, sambil duduk di sebelah Adam.
Kita lagi di kuburan tempat Carlo dikubur 15 menit lalu. Di sebelah makam Carlo ada makam Linda.
Nah, ini nih, teman-teman, tujuan hubungan yang sesungguhnya. Meninggal dengan cara yang sama dengan orang yang lo cinta, meninggal di tempat yang sama dengan orang yang lo cinta -> Dan bergumam nama orang yang lo cinta dengan napas terakhir lo.
Adegan itu bikin gue nangis kayak bayi... Ooh, ini beneran ngingetin gue sama Cry Baby-nya Melanie Martinez soalnya gue terus-terusan nangis dan nangis dan nangis.
Gue ketuk-ketuk jari di pangkuan gue dan nunggu dengan canggung.
Dia mungkin mikir itu pertanyaan retoris...
Atau dia mungkin nggak denger gue...
Atau dia mungkin nggak mau ngomong sama gue...
Maksud gue, apa yang bakal lo lakuin kalau orang yang lo kira udah meninggal bertahun-tahun lalu ternyata masih hidup dan meninggal di hari yang sama?
Jadi pas dia ngangkat kepala dan ngadep gue, gue langsung kaget setengah mati.
"Gue baik-baik aja." Gumamnya, memecah keheningan. Dia ngangguk pelan dan ngedipin mata beberapa kali. "Semuanya agak... rumit..."
Ceritain dong.
Dia senyum sambil ngeliat ke tanah lagi, "... Gue mulai benci warna hitam, tau nggak?"
Sambil cekikikan, gue pegang tangannya dan mainin jarinya. "Jangan benci warnanya, benci..." gue jeda, "...alasan kenapa lo mulai benci warna itu...?"
Dia ketawa keras, "Sialan, daaaamn."
"Gue udah berusaha semaksimal mungkin." Gue sedikit cemberut, "Gue benci lo."
Dia nyengir, "Gue nggak setuju, tapi lo sebenernya cinta sama gue."
"Bener banget."
Jawaban gue kayaknya ngebuat dia kaget sampe tahun depan soalnya tangannya beneran membeku. Dia ngeliat gue kayak rusa kena lampu mobil.
Nyengir, gue lanjut mainin jarinya dan ngedipin mata ke dia. "Tapi gue mulai benci lo, Mr. Emerson."
"Lo udah benci kok." Dia cekikikan sambil mainin jari-jari gue juga.
Keheningan...
Dia ngusap telapak tangan gue dan bergumam, "Kalau gue berlutut dan minta 'ya' dari lo sekarang, lo bakal bilang 'ya'?"
"Nggak." Gue geleng kepala, "Nggak sama sekali."
"Tapi lo akhirnya bakal gitu, kan?" Dia nyentuh jari manis gue dan ngusapnya.
"Gimana menurut lo?"
".........Nggak?"
"Tentu aja iya." Gue cekikikan sebelum ngangguk, "Kakek lo berhasil bikin gue setuju kok."
Dan mulailah keheningan canggung itu. Sialan.
Sial. Lo idiot, Em!
Dia senyum, narik tangannya dari genggaman gue dan naruh tangannya di bahu gue. "Dia berhasil. Makasih, kakek tua."
Mendesah lega, gue sandarin kepala gue di bahu dia dan berbisik. "Mereka mungkin orang baik, Adam."
"Mereka iya." Dia ngangguk, nyenderin dagunya di kepala gue.
---------------------->>>>>
"Jadi lo mau tinggal di Denovan?" Franco nanya Adam, "Lo mau resign?"
Adam ngangguk, "Gue ada urusan yang harus diurus dan gue mau menetap di sana."
Franco ngadep gue, "Dan lo mau ikut dia?"
Apaan? "Nggak." Gue geleng kepala.
"Tapi, gue kira kalian berdua barengan."
"Iya." Gue ngangguk, "Tapi, gue mau tinggal di sini."
"Tapi, butuh waktu berjam-jam dari sini ke sana."
"Gue tau." Gue ngangguk.
"Tapi," Dia jeda sebelum ngadep Adam, "Lo nggak papa dengan ini?"
Adam geleng kepala. Tentu aja nggak.
"Kita lagi usahain." Kami bergumam bersamaan.
"Oke." Franco ngangguk, "Gue terima pengunduran diri lo, Mr. Emerson. Makasih atas kesetiaan lo. Lo dipersilakan pergi."
Mereka salaman dengan mantap, terus Franco nepuk bahu Adam. "Hati-hati, tetap berhubungan."
"Siap, Pak." Adam ngangguk, sebelum berbalik, ngangguk ke kita buat pergi, dan akhirnya keluar dari ruangan.
"Dada Franco!" panggilku.
Begitu pintu ditutup, gue ngadep Adam dan nanya, "Gitu doang? Semudah itu resign? Nggak perlu surat dan omong kosong lainnya?"
Mata dia membelalak, "Lo ngomong kasar."
Gue memutar mata, "Gue emang ngomong kasar, Adam, gue bukan orang suci."
"Lo cuma ngomong kasar kalau lo kesel, bukan marah, kesel."
"Ya udah sekarang iya." Gue cekikikan dan jalan ke arah pintu keluar.
"Jangan." Dia berhenti yang bikin gue berhenti juga, "Gue mau jadi orang yang mulutnya nggak bener dan lo yang bersihin semuanya." Dia ngedip, "Kalau lo ngerti maksud gue."
Mengerucutkan bibir, gue memutar mata, "Terserah."
Kami terus jalan sambil gue bergumam di bawah napas gue, "Mesum."
"Cuma buat lo, babe." Dia cium pipi gue sebelum ketawa ngakak.
"Pastikan." Gue memutar mata lagi, "Dan berhenti manggil gue babi."
"Siap. Siap." Dia nyengir malu-malu.
"Jadi..." Kami keluar dari bawah tanah dan menghadap dia, "Kenapa kalian nggak pake kontrak aja?"
Dia mencibir, "Mau nulis apa? 'Ini untuk secara resmi mengakhiri tugas gue buat ngebunuh orang.'" Dia nyengir, "Nggak deh."
"Gue tau itu, duh." Gue nunggu dia ngebuka mobilnya, "Tapi... gue nggak tau. Gue rasa kontrak itu perlu buat kerjaan normal."
"Tapi kan, kerjaan gue bukan kerjaan normal."
Kami masuk ke mobil dan dia nyalain mesinnya.
"Itu maksud gue."
"Apa? Di mana?"
Gue cemberut, "Gue lagi sarkas."
"Lo sama gue."
Mendesah keras, gue nyender lagi ke kursi gue.
"Jadi... Kenapa lo nggak mau tinggal sama gue?" Dia nanya seolah-olah dia cuma nanya mau sarapan apa.
"Oh, gue nggak tau." Jawab gue, memutar mata.
Untuk pertama kalinya, gue denger dia bilang, "...Bisa jawab pertanyaan ini dengan serius? Tolong?"
Merasakan rasa bersalah menghampiri gue, gue gigit bibir bawah gue. "Gue... nggak tau." Gue geleng kepala pelan, "Beneran, gue nggak tau."
Gue nunduk dan mainin jari-jari gue. "Maksud gue, gue udah merasa kayak kenal lo selamanya, tapi..." Gue menghela napas, "Kalau dipikir secara praktis, kita baru ketemu beberapa bulan."
"Gue cinta sama lo." Dia pegang tangan gue dan naruh di samping persneling mobilnya. "Jadi gue bakal nunggu."