Bab 52 Pengaturan Tidur dan Bebek
Gue gak pernah mikir kalau rumah gede yang keliatan angker bisa ditinggalin sama 2 orang yang bodoh dan tolol... tapi ngeliat rumah gede yang keliatan BERSIH padahal angker, gue rasa itu mungkin aja.
Gue ngantuk banget sekarang. Gue menghela nafas capek dan tiduran di tanah.
"Lo ngapain di situ, Em?!" Adam teriak. Kadang, Adam yang 'peduli' itu nyebelin. "Nanti lantai jadi kotor!"
Tapi, Adam yang 'peduli' itu emang GAK ADA.
Duduk dengan cemberut, gue bentak dia. "Gue mau tidur."
Dia memutar bola matanya, "Gue juga."
"Ya udah..." gue tiduran lagi dan merem, "Selamat malam."
"Seriusan lo mau tidur di lantai sekarang?"
"Emang itu rencananya." gue bergumam sebelum naruh lengan di belakang kepala sebagai bantal.
"Em." Dia terkekeh, "Berdiri."
"Lo punya kasur?"
"...nggak..?
"Ya udah nggak."
Dia mengeluh. "Nanti lantai jadi kotor!"
"Gue bikin kotor pake darah lo kalo lo nggak diem." kata gue dengan gigi gemeretak.
Gue denger suara ngesot, "Lo nggak nakutin gue."
Buka mata kanan gue, gue bergumam ngantuk, "Nggak ya?"
Dia nelen ludah.
Puas, gue merem lagi.
Plis plis plis, raja ngantuk, jemput gue sekarang!
"Ayo lah, kita nginep di hotel atau apa gitu." Suara nyebelinnya nyaring.
Gue geleng dan biarin kegelapan ngejemput gue.
"Em."
Demi TUHAN!
Gue dengan marah duduk dan natap dia, "Apa?"
Dia jalan ke arah gue dan gendong gue. Gaya putri.
"Apaan sih, Adam!" gue teriak, "Turunin gue!" gue tampar dada kerasnya.
Gue benci fakta kalau dia punya abs.
Dan gue juga benci fakta kalau tamparan gue nggak ngeganggu dia... sama sekali.
Begitu kita di luar rumah gede, dia nurunin gue.
"Apaan sih? Adam!"
Dia bersikap seolah nggak bisa denger gue dan jalan ke arah mobil. Dia buka mobil dan mulai ngapa-ngapain.
"Demi TUHAN, gue cuma mau-" Gue berhenti waktu dia narik gue ke bagasi mobil.
Ini dia. Dia mau bunuh gue.
Dia gendong gue dan nggak peduli teriakan gue. Dia selimutin gue dan gue diem.
Ternyata dia tutup beberapa kursi biar jok belakang rata dan bagasi punya lebih banyak ruang. Dia pake beberapa kain random dan nutupinnya.
Sekarang, gue tiduran di dalem mobil.
"Adam-"
"Ssst." Dia bergumam pelan, "Tidur aja."
Gue mengerutkan dahi dan mau ngomong balik waktu dia tiduran di samping gue juga.
"Uh Adam-"
Dia ngasih gue tatapan yang bilang, "Diem.". Jadi gue diem.
Gue liatin jari kaki gue dan liat dia nggak nutup pintu bagasi atau gimana.
Biar oksigen masuk. Bagus, dia pake otaknya.
Jujur, ini sebenernya nggak gitu buruk.
Cuma semoga ini nggak jadi tempat tidur permanen kita sih.
Nggak diduga