Bab 18 Di Tengah KETIADAAN.
Apakah setelan itu benar-benar berat banget?
Kelihatan berat sih.
Secara ilmiah dan logis, emang berat.
Bayangin pake setelan kuning yang gede, gede banget, dan besar, terus jalan di rawa.
Pake lumpur dan macem-macem lainnya.
Aku inget, belum lama kita lari dari wanita tua pas dia pake setelan ayam. Aku juga inget lari dari sekelompok gangster mematikan sama Langston pas pake setelan ayam. Jadi, anggap aja aku udah lari-larian akhir-akhir ini sama Langston pake setelan ayam, dan dari semua waktu, dia akhirnya keliatan capek sekarang. Kecapekan.
Gak bisa nyalahin dia. Ini yang terjadi pas seseorang jalan di rawa kota pake setelan ayam yang lembap, berat, berbulu, emang ribet banget.
Aku juga gak percaya bakal ngelakuin ini, tapi aku bener-bener kasian sama dia. "Biar aku yang bawa," kataku ke dia sebelum ngambil kotak itu dan langsung megang lebih erat dari biasanya. Langston bener, ada batu di dalem sini!?
Dia ketawa kecil, "Seriusan? Berat badan aku lebih berat dari kamu, aku petarung terlatih, dan aku punya abs yang bikin mati," aku muter mata, "Kamu beneran mikir bisa bawa sesuatu yang aku salah pegang?"
"A-aku gak-g-gak yang p-p-pake set-setelan a-ayam yang lembap di sini," jawabku sambil berusaha ngatur napas.
Dia muter mata kali ini.
"Gimana pun juga, kamu harus kasih itu ke aku,"
Aku naikin alis dan lanjut jalan, "G-gimana k-k-kok?"
Dia senyum licik, "Kamu keliatan kayak lagi susah buang air besar."
Susah buang air besar?
Aku ngatupin gigi dan diem karena aku tau itu bener.
"Whaaa-" aku ngehela napas keras pas tangan kuat melingkar, ya, di bawah pantatku dan di atas punggungku. Aku langsung meluk dia erat-erat.
"LANGSTON!"
Dia cuma ketawa kecil dan terus jalan.
Sebenci-bencinya aku ngomong, aku emang nyadar kita jalan lebih cepet.
"Kamu kenapa sih!?" aku nelan ludah, "Berat aku lebih berat dari kotak ini!" Aku cemberut ke dia. "Aku bisa jalan, tau."
Dia senyum licik, "Tapi kamu beratnya lebih dari 8 ton," Sekarang dia melebih-lebihkan... "Kita bakal nyampe di rumah temennya wanita tua itu jauh, jauh lebih cepet."
Lagi, sebenci-bencinya aku ngomong, dia bener.
Emang Hari Langston Selalu Benar!?
Setelah beberapa saat hening, pas kita ngelewatin rawa yang sepi, aku nanya dia, "Danau apa yang baru aja kita lewatin?"
"Vilswerth atau apalah,"
Huh, setidaknya dia tau kita ngelewatin mana, di satu titik.
"Kita bisa berhenti sebentar gak?" aku nanya Langston, ngelepasin tangan dari lehernya, "Kamu keliatan kayak mau pingsan. Aku lebih milih bawa kotak ini sendiri daripada gendong kamu - dan kotaknya."
Dia geleng kepala dan terus jalan.
Dengan tekad, aku beneran loncat dari tangannya dan jatoh ke lantai, guling-guling terus, aku mastiin kotak berat itu aman dari tetesan air rawa.
"Apa-apaan sih!? Chloe!"
Aku ngos-ngosan. Huh! Aku kayak James di sana! Jadi, kalo ada yang nanya aku siapa, aku bakal bilang, nama gue Bond, James Bond.
Mulai buat aku niup ujung pistol.
Aku berdiri dengan kotak berat di tangan. Aku ngeliatin Langston dengan cengiran, "Sekarang, ayo jalan."
Dia cemberut sementara aku ketawa dan jalan, lebih tepatnya, loncat di depannya.
Beberapa menit kemudian, aku nyadar napasnya udah balik normal - emang aku seberat itu!?- dan matahari mau tenggelam, oh sial...
"Kita di mana sih?" aku nanya Langston sebelum benerin pegangan di benda di tangan aku.
"Kasih ke aku," Dia bilang, ngambil kotak yang aku pegang, "Dan, aku gak tau."
"Kamu gak tau?" aku nanya konyol.
"Oh aku minta maaf, aku gak tau cara baca rambu-rambu. Oh tunggu, aku bisa, tapi kamu bisa liat rambu jalan gak?" Dia nyolot sarkas.
Aku geleng kepala dan di saat yang sama, gigit bibir bawah. Berantem sama dia gak bakal nolong kita.
Siapa yang nyangka hal kayak gini bakal terjadi?
Ini kita, jalan sendiri di rawa gak dikenal ini dengan angin dingin di sekitar kita. Kayak yang aku bilang; matahari tenggelam, dan karena kita di rawa yang keliatan aneh ini, lebih gelap dari biasanya.
Itu ngingetin aku...
"Hei Langston, hp kamu ada senternya gak atau apa gitu?"
Dia ngangguk sebelum naruh kotak di satu tangan dan ngeluarin hpnya terus ngasih ke aku, "Makasih,"
Aku liat hpnya, ngeliat dan nyadar sesuatu yang rasanya kayak truk bata ngegilas aku...
Dia ada sinyal.
Aku langsung nonjok dia di bahu kirinya.
"Apaan sih...?" Dia meringis kesakitan sebelum ngeliatin aku dengan mata lebar, "Apa-apaan sih!"
Aku cubit dia.
"Aah!"
Aku injek kakinya.
"ITU BUAT APA, CEWEK!?"
Aku manyun, "Pertama, kamu ada sinyal, dan kedua, kamu ngomong kasar."
"Gimana yang ketiga?"
"Aku pengen ngelakuinnya."
Matanya melebar, "Kamu gak bisa gitu aja nginjek kaki orang cuma karena kamu pengen ngelakuinnya!"
"Udah terjadi," aku ngutip kata aktor dari The Call.
"Ngomong-ngomong," aku ganti topik, "Kamu ada sinyal!"
Dia naikin alis, "Sinyal?"
Aku ngangguk, "Iya, sinyal. Sinyal yang kamu butuhin biar bisa nelpon orang."
Dia nyolot, "Dalam situasi ini, siapa yang mau aku telpon? Ghostbusters?"
Idiot Sarkas.
"Enggak, tapi mulainya dari 'm' dan akhirnya juga 'm'."
Dia ngernyitkan hidungnya - Yang mana adalah kebiasaannya yang berarti bendera putih berkibar buat menyerah.
"MAMA!" aku teriak.
Dia 'aah' sebelum cemberut, "Tapi itu hp baru. Aku gak punya nomor siapa pun."
Aku facepalm.
Dia nyolot, "Telpon mama kamu aja."
"Aku... juga gak tau nomornya." Dan hp aku mati jadi aku gak bisa ngecek nomor siapa pun.
Kalo dia gak megang kotak itu, aku yakin dia juga bakal facepalm.