Bab 47 Peraturan Dasar
Melihat pemandangan di depanku, aku menghela napas dengan pengecut dan mundur selangkah. "Aku gak mau masuk lagi."
Adam tertawa terbahak-bahak yang membuatku memelototinya.
"Apa?" Dia terkekeh.
"Gimana kalau kita panggil profesional aja? Atau, Replacements gitu?"
Dia tertawa lebih keras.
Aku menggigit bibir dan menatap rumah mewah yang tampak berhantu itu. Yang paling menakutkan bagiku bukanlah mayat hidup yang akan kulihat, tapi makhluk-makhluk kecil tapi ganas itu.
Aku beneran gak mau masuk, serius deh, siapa sih yang mau masuk ke tempat yang teriak "kamu bakal mati!" Tapi, ya, ini kan rumah lama keluarganya...
Menutup mata, aku menarik napas dan berkata, "Oke." Mengeluarkan napas, aku menghadapnya. "Tapi kita butuh barang-barang buat makhluk-makhluk itu."
Dia mengangkat alis tapi masih menyeringai. "Aku tau tempatnya."
Aku mengangguk dan mengikutinya kembali ke mobilnya. Membuka kursi penumpang, aku sekilas melihat ke rumah dan berbisik, "Kita bakal bikin kamu layak huni."
Aku masuk ke mobil, membanting pintu, dan mengenakan sabuk pengaman -karena aku warga negara yang baik- sementara Adam melakukan hal yang sama.
"Jadi kita mau ke mall mana?" tanyaku, menyilangkan tangan.
"Mall?" Dia bertanya dengan nada meremehkan, "Siapa bilang kita mau ke mall?"
"Emang kita gak mau beli perlengkapan kebersihan buat rumah mewah itu?"
"Gak tau," Dia menoleh ke arahku sebentar, "Emang iya ya?" Lalu dia memalingkan kepala menghadap jalan lagi.
"Gak tau! Emang iya, kan?!" tanyaku dengan mata lebar.
"Kita liat aja."
Wha-?!
"Bro," aku mulai, "Lo gak bisa cuma bilang 'kita liat aja' dalam situasi kayak gini. Aku gak mau nginep di hotel terus!"
"Eh Em-" Katanya, jelas banget, dia mau ganti topik.
"Nggak, kita harus ngomongin ini sekarang!"
"Emily..." Dia bergumam.
"Kita beli barang atau nggak sih?!"
"Tergantung-"
"Nggak! Lo gak bisa bilang gitu! Gak ada 'tergantung' atau 'mungkin' atau apapun!"
"Emily Sanders-!"
"Jangan panggil nama lengkapku!"
"DIAM SIALAN, NYONYA!" Dia berteriak sambil membanting rem mobilnya.
Aku merentangkan tanganku di depanku untuk bersiap menghadapi benturan dan diam-diam berterima kasih pada sabuk pengaman karena telah menyelamatkan jidat sialanku.
Aku berkedip dengan cepat.
Dia baru aja ngelakuin itu?!
Aku menghadapnya dan melongo padanya.
"Dengar," Dia memulai, "Kalau kamu mau bertahan hidup berhari-hari, berminggu-minggu, atau mungkin berbulan-bulan sama aku, lebih baik kita mulai dengan aturan dasar."
Aturan dasar? Dia siapa? Ayahku?
Menggigit bibirku, aku mengangguk tanda setuju.
Dia menghela napas, "Bagus. Mari mulai dengan #1."
Aku membuka mulutku tapi dia memotongku, "Berhenti nyebelin."
Aku menutup mulutku dan memelototinya.
Dia melanjutkan, "#2, Gak ada komentar pedas atau balasan sarkasme."
Aku mencibir, "Kita berdua tau itu gak mungkin."
Dia akhirnya mengangguk setuju. "Oke, aturan #2, dengerin pendapat masing-masing."
"Oke deh."
"#3-"
"Gak adil! Aku belum bikin aturan apapun!"
"Aturan #1 Emily."
"Tapi aku gak nyebelin-!"
"Kalo gitu 'Jangan memotong orang saat berbicara' jadi aturan #3."
Aku menutup mulutku.
"Bagus." Dia menepuk kepalaku. Hah, maksudnya apa? Aku anjing!?
"Sekarang, aku kasih kamu satu kesempatan dan kesempatan itu jadi tiket buat satu aturan di buku aturan ini."
Aku mengepalkan tangan.
Satu kesempatan?! Satu aturan?! Gak adil banget!
"Tapi itu gak adil!"
"Hidup itu gak adil, sayang." Dia mengedipkan mata.
Aku cemberut, menghentakkan kaki.
Dia terkekeh, "Oke, jadi satu aturan ini adalah aturan yang gak bisa aku ganggu."
Otakku menghitung atau mengerti apa yang dia katakan sebagai -> "Aku harus meningkatkan permainan."
"Aturan #4." Aku menatap matanya, "Aku bisa nambah aturan yang gak bisa kamu ganggu kapanpun aku mau." Aku menyeringai.
Dia menampar wajahnya. Beneran.