Bab 77 EPILOG
"Mami, Jay ngambil Barbie!"
Nyingkirin tepungnya, gue noleh dan menghela napas pas ngeliat Cobie, anak cewek gue yang umur 8 tahun, nangis kejer.
"Enggak bener!" Jay, anak cowok gue yang umur 8 tahun dan kembaran Cobie, lari ke sampingnya. Sambil nge-wave sebuah figure plastik kecil yang familiar banget di tangannya, "Mami, dia bohong!"
"Enggak! Aku enggak!" Dia cemberut, sebelum dengan marah nunjuk bonekanya, "LIAT?! MAMI, TOLONG AKU!"
Gue sayang banget sama si kembar, beneran, gue sayang. Gue berterima kasih sama Dia tiap pagi karena udah ngasih mereka, tapi kadang-kadang, cuma kadang-kadang, gue pengen banget bisa nyewa wasit buat mereka.
Menghela napas keras-keras, gue membungkuk dan nge-wave mereka buat maju. Jalan di depan gue, mereka nyilangin tangan dan cemberut.
Mereka ngambil sifat keras kepala gue tapi ngambil sifat nyenengin dari ayah mereka.
"Apa masalahnya di sini?" gue nanya mereka dengan lembut.
"Dia ngambil Barbie aku." Cobie melotot ke kembarannya.
"Kenapa kamu ngambil Barbie-nya dia, Jay?" gue nanya dia dengan lembut.
"Karena dia ngambil Bumblebee aku!" Jay balik melotot ke kembarannya.
Nahan diri buat enggak menghela napas frustasi, gue nanya dia dengan lembut. "Kenapa kamu ngambil Bumblebee-nya dia, Cobie?"
"Karena dia bilang aku suka Elliot!" Dia nginjek kakinya dengan marah.
Elliot Langston itu anak cowok Chloe dan Reed yang umur 9 tahun.
Menghela napas lewat hidung, gue hadapin Jay dan nanya dengan lembut, "Kenapa kamu bilang dia suka Elliot?"
"Karena dia bilang aku suka Riley!"
Riley Langston itu anak cewek Chloe dan Reed yang umur 8 tahun.
Mengerutkan bibir, gue hadapin Cobie dan nanya dengan lembut, "Kenapa kamu bilang dia suka Riley?"
"KARENA ITU KENYATAAN!" Dia teriak dengan marah.
Kenapa sih dia teriak?!
"Cobie." Suara cowok manggil dari tangga.
Akhirnya!
"Ayah!" Dia nangis.
Adam nahan muka 'serius'-nya dan nanya dia dengan tenang. "Kenapa kamu teriak ke mami?"
Mata dia melebar, "Jay ngambil Barbie aku dan-"
"Jadi itu kenapa kamu teriak ke ibumu?"
Air mata ngumpul di matanya. Ya, dia anak Ayah banget.
"Enggak, tapi-"
"Enggak ada tapi-tapian." Adam cemberut, jalan ke arah kita sekarang. "Dia ibumu dan kamu enggak punya hak buat ngelakuin itu ke dia."
Cobie sesegukan sebelum ngeliat gue, "Maaf mami!"
Ah, gitu dong.
Gue senyum sebelum buka tangan gue. "Enggak apa-apa sayang, cuma jangan lakuin itu lagi ya." Dia meluk gue erat-erat, "Oke?"
"Iya mami." Dia ngangguk.
"Jadi... Apa masalahnya?" Adam nanya.
"Dia ngambil Bumblebee!" Jay nangis, lari ke arah Adam.
Biar gue ulang apa yang gue bilang tadi, mereka berdua anak Ayah dan anak Mami.
Lihat, bahkan kalo Adam udah mulai numbuhin janggut di mukanya dan keliatan lebih dewasa sekarang, dia tetep cowok yang menyenangkan dan menggemaskan yang gue kenal.
Adam buka kedua tangannya, "Siniin mainannya. Sekarang."
Si kembar ngasih dia bonekanya dan Adam ngasih ke pemilik yang bener - kantong celananya.
"Daaaad!" Mereka berdua merengek.
"Balik lagi main sana." Adam nyengir, narik gue dan ngusir mereka.
"Tapi daad!"
"Enggak ada tapi-tapian! Sekarang hus hus!"
Mereka bergumam kata-kata yang enggak jelas sambil ninggalin dapur.
"Gimana sih caranya?" gue cekikikan, naruh tangan gue di pinggang.
"Itu bakat." Dia nyengir, naruh tangan di sekitar gue dan nyium pipi gue. "Hmm, kamu masak apa, Nyonya Emerson?"
"Sebenernya sih nge-bake," gue senyum, "Dan aku bikin kue ulang tahun buat pesta ulang tahun Charlie nanti."
"Dia ulang tahun yang ke-16 hari ini, ya?" Dia narik napas, "Waktu cepet banget berlalu."
"Iya." Gue cekikikan sambil nyentuh keningnya, "Yah, mari kita bersyukur kerutan ini belum keliatan."
Mata dia melebar, "Aku enggak punya kerutan, Em."
"Oh iya, cuma rambut putihnya." Gue ngedip.
"Em..." Dia melotot ke gue yang bikin gue ketawa. "Aku enggak punya rambut putih."
"Belum." Gue nambahin yang bikin dia ngangguk.
"Mami!" Cobie manggil, "Tante Fey datang."
"Hai!" gue nge-wave ke mereka pas dia masuk dapur.
"Hai. Hai!" Fey nyengir, nyilangin tangan dan nyandar di tembok sampingnya. "Lagi bikin apa?"
"Kue ulang tahun Charlie. Kamu bawa hadiahnya?"
"Yup. Di mobil." Dia nyengir.
"Bagus, bagus." Gue ngangguk sebelum nanya. "Weston, Easton, dan Northon mana?"
Weston, Easton, dan Northon Delgado itu kembar tiga Fey dan Felipe. Mereka semua umur 9 tahun.
"Di mobil, lagi bungkus hadiah."
"Felipe mana?"
"Di mobil sama anak-anak." Dia cuci tangan, "Kamu enggak boleh ninggalin 3 anak cowok sama gunting."
Fey dan Felipe nikah lebih dulu dari kita. Setelah Adam berhenti kerja beberapa tahun lalu, mereka nikah setelah 3 bulan dan mereka langsung sibuk. - Fey hamil setelah sebulan.
Ngeringin tangannya, dia hadapin gue. "Udah mau selesai?"
"Yup." Gue balik badan dan ngambil kue dari oven. "Kasih aku 30 menit lagi dan kuenya bakal anget dan ada tulisannya juga nanti."
"Mantap. Bagus." Dia nyengir. "Boleh aku yang nulisnya?"
"Mmm-hmm." Gue ngangguk dan hadapin Adam, "Kamu bisa tolongin dandanin si kembar sekarang?"
Adam cemberut, "Tapi aku enggak tau mereka mau pake apa dan-"
"Udah siap di kasur kita!" gue bilang pas naruh kuenya di meja.
"Fiiiiine." Dia menghela napas. Dia ngecup pipi gue sebelum lari ke kamar lain dan teriak, "WAKTUNYA DANDAN ATAU DIAM!!!" Terus disusul pekikan.
Oh Adam.
"Kamu tau, kayaknya dia makin enggak dewasa bukannya makin dewasa." Fey cekikikan.
"Oh, aku tau." Gue ketawa.
------------------------------>>>>>>>>>>>>>
"-SELAMAT ULANG TAHUN UNTUKMU!!!" Kita semua tepuk tangan. Gue nyengir lebar pas Charlie senyum canggung dan niup lilinnya.
Gue enggak bisa nyalahin dia. Jelas banget di matanya kalo dia enggak mau ada pesta ini. Ya sudahlah.
Setelah beberapa saat, semua orang mulai makan. Pestanya kebanyakan temen-temen Charlie yang lain, orang tuanya, saudara dekat, Archel dan Ivan.
"Arch, Chlo!" gue manggil pas gue nemuin mereka duduk di sofa.
"Emily! Hai!" Mereka nyapa.
"Kuenya enak banget, loh. Makasih." Chloe nyengir pas dia geser biar gue bisa duduk di sampingnya.
"Sama-sama." Gue nyengir.
Orang yang ngerancang pernikahan gue itu mami, Andy, Chloe, Fey dan Archel. Archel atau Archie itu sahabat Chloe dan selama bertahun-tahun jadi sahabat gue juga.
Andy lagi di Dubai sama pacarnya, jadi itu alesan kenapa dia enggak di sini.
Fey jalan ke arah kita dengan piring penuh kue. "Anak-anak mana?"
Archie nunjukin jempolnya ke kamar lain. Ngikutin itu, gue ngeliat putrinya, Vanchel, lagi main sama si kembar gue, kembar tiganya, Riley dan Elliot.
"Putri kamu luar biasa. Dia main sama mereka kayak dia enggak lebih tua dari mereka." Gue ketawa pas gue muji Archie.
Enggak tiap hari ngeliat cewek umur 16 tahun yang cantik main sama balita, maksudnya, anak-anak.
"Hmm.." Dia senyum, "Kayaknya dia ngelakuin pekerjaannya dengan baik. Maksudnya, kerja sampingannya atau semacamnya. Dia babysitter."
"Dia cari uang sendiri?" Chloe nanya, ngambil krim kue pake jarinya dan ngejilatnya.
"Yup." Archie ngangguk, "Dia beli sesuatu buat ulang tahun seseorang." Dia ngedip.
"Hmm? Penasaran, siapa yang dia kasih." Chloe bergumam dengan kebingungan yang jelas di mukanya.
Percaya sama gue, cewek ini beneran enggak peka. Penasaran gimana suaminya menyatakan cintanya ke dia.
"Mami, hai."
Balik badan gue ngeliat Charlie senyum canggung, ngusap tangannya di belakang lehernya.
"Ah Charlie!" Chloe nyengir ke anaknya, "Selamat ulang tahun jagoan!"
Chloe...
"Mami..." Mata Charlie melebar canggung sebelum berdeham. "Hannah enggak di sini, boleh aku pergi ke rumahnya?"
Chloe cemberut, "Jalannya 20 menit, Charlie."
"Oke, aku jalan kaki aja." Dia bergumam.
"Itu bakal makan waktu sejam atau semacamnya. Ditambah, ini ulang tahunmu!"
"Enggak kayak ulang tahun tanpa dia." Dia cemberut.
"Kenapa sih dia enggak di sini?"
"Dia lagi ngecat kukunya dan enggak bakal kering sampe sejam."
Hah-? Siapa sih "Hannah" ini yang dia bodohi? Jelas Charlie.
"Enggak." Sebuah suara datang dari belakangnya. Reed Langston ngegeleng, "Kamu enggak boleh pergi."
"Tapi Ayah-"
"Teman baikmu di sini, Charlie." Dia ngomongin tentang Vanchel.
"Iya, dan aku bersyukur soal itu. Tapi-"
"Enggak." Reed ngegeleng.
"Oke." Charlie menggerutu sebelum lari ke kamar lain tempat anak-anak.
"Anakku sebodoh kelelawar." Reed cemberut sebelum menghela napas. "Hei sayang, bisa bantu aku sesuatu?"
"Bantu apa?" Chloe naikin alisnya.
"Elliot ngompol." Dia cemberut.
"Apa?" Matanya melebar sebelum berdiri dan lari ke kamar lain bareng suaminya.
"Uhm permisi..."
Gue ngeliat ke atas dan ngeliat Vanchel berdiri di depan kita.
"Iya Vanch?" Archie nanya putrinya.
"Kalian bisa tolong yakinin tante Chloe buat ngebiarin Charlie pergi? Dia beneran sedih."
Oh Vanchel...
Gue pengen banget nolongin dia, tapi...
"Enggak." Kita semua ngegeleng.
Gue enggak bakal pernah nolongin cewek random yang bohong kalo mani-pedi-nya belum kering jadi dia enggak bisa pergi kemana-mana.
"Tapi... Charlie sedih dan ini ulang tahunnya." Dia bergumam pelan. "Apa kita enggak mau ngeliat dia senyum dan bahagia?"
Itu yang kita mau atau yang kamu mau? Ah, cinta anak muda.
"Selamat tinggal Vanchel." Archie nge-wave dia pergi.
ARCHIE!
Mata Fey melebar sementara gue melongo ke dia.
"Oke." Vanchel cemberut pas dia balik ke kamar.
"Itu enggak sopan!" Gue tersentak kaget.
"Mungkin iya, mungkin enggak - tapi dia terlalu tergila-gila sama Charlie." Dia mengerutkan bibirnya, "Bukan impian seorang ibu ngeliat satu-satunya anaknya menderita karena nolongin orang yang kamu cintai buat dapetin cinta orang lain." Dia akhirnya menghela napas, "Aku cuma mau yang terbaik buat dia."
"Kayaknya itu bener..." Gue bergumam.
------------->>>>>>>>>>>>>>>>
"Mami, Ayah!"
Mengerang pelan, gue ngangkat kepala dari dada Adam dan ngeliat Jay dan Cobie masuk ke kamar tidur kita.
"Iya?"
"Aku ada tugas!" Jay nyengir sambil nge-wave selembar kertas.
"Tentang apa?" Adam bergumam sebelum duduk.
"Tentang kakek nenek orang tuaku!" Dia nyengir.
....................... sialan.
Gue senyum tipis inget memori gue dan Franco.
Franco Sanders meninggal 7 tahun lalu tanggal 26 Juni. Setidaknya dia ngeliat anak-anak gue sebelum dia meninggal.
Dia orang baik. Ternyata dia enggak ninggalin ibuku; ibunya yang ninggalin dia. Pas gue nanya soal itu beberapa tahun lalu, dia bilang itu buat lindungin gue. Dia bilang perusahaan itu kutukan yang dibuat ayahnya.
Dia ninggalin semua tentang masa lalu ayahnya biar gue punya hidup normal. Tapi hei, emang ada yang namanya hidup normal?
Bagian terburuknya dia enggak meninggal cuma karena dia udah tua, enggak, dia dibunuh. Dia dibunuh.
Kita enggak pernah tau siapa pengkhianat di dalam kamar rumah sakit Franco setelah semua tahun ini. Kita enggak pernah tau apa yang nyebabin dia kena kejang hari itu.
Hidup kita mungkin sepi sekarang, tapi jauh di dalam gue tau ini bukan akhir buat gue, buat kita.
Pas mami nikah sama ayah, dia ngurusin perusahaan. Dan sekarang gue nikah sama Adam, 'kutukan' itu berpindah ke kita.
Tapi gue percaya perusahaan itu bukan kutukan, D.A.C dibuat buat lindungin orang-orang yang perlu dilindungin dan buat ngilangin orang-orang yang emang harus pergi selamanya.
Enggak, gue enggak bilang Franco punya hak buat bunuh penjahat itu, tapi dia bersedia ngelakuin hal yang salah buat nyelametin yang lain.
Dia orang baik.
"Mami?" Cobie nanya, ngegenggam tangan gue. Gue terlalu asik sama pikiran gue sendiri sampe enggak nyadar si kembar udah naik ke kasur.
"Iya?" gue nanya.
"Kamu sayang kakekmu?"
"... Iya." Gue senyum sebelum ngegeleng, nyisihin pikiran sedihnya. "Jadi, tugasnya tentang apa?"
"Enggak ada." Jay ngegeleng, "Kita bisa lewatin bagian itu aja."
"Tapi kita perlu yang ini." Cobie ngasih gue kertasnya.
"Gimana orang tuamu ketemu?" gue baca keras-keras.
Senyum, gue hadapin Adam dan ngeliat dia nyengir ke gue. "Yah, mari kita lakukan kehormatan."
Mutar mata, gue cekikikan dan duduk bersila di kasur. "Ayo, duduk yang nyaman. Ini bakal jadi cerita yang panjang banget."
Mereka duduk dengan bener sementara Adam tetep di punggungnya, ngusap punggung gue.
"Siap?"
Mereka ngangguk.
"Oke, semuanya berawal pas aku nunggu pamanmu Andy..."
Dan terus ceritanya berlanjut...
Akhir ♥