Bab 26
Derrick nyender di kursinya, ngerasain beban pengungkapan yang Sarah omongin bikin dia kepikiran. Dia susah banget nyerna fakta kalau Bobby Briggs itu bukan orang yang selama ini dia kira. Dia bukan cuma anaknya Newton Duke, tapi juga anaknya Marshall Briggs, sosok yang terkenal di kota.
Nyadarin kalau dia sama Ayahnya udah dibodohin lumayan lama, itu berat banget buat dicerna.
"Gue gak ngerti," gumam Derrick, suaranya hampir gak kedengeran. "Kita gak tau apa-apa selama ini... Dia manfaatin kita."
Sarah ngulurin tangannya, pelan-pelan naruh di lengan Derrick. Dia bilang pelan-pelan kalau dia ngerti ini berat buat dicerna. Tapi, penting banget buat kita tetep fokus. Kita harus bikin Bobby kena batunya.
Derrick ngangguk, tekadnya keliatan banget di rahangnya yang mengeras. "Bener," jawabnya dengan nada tegas. "Kita gak boleh biarin dia lolos gitu aja."
Sambil diem, Derrick mikirin banyak banget pertanyaan, beratnya percakapan mereka masih kerasa banget di udara. Gimana bisa mereka gak tau identitas asli Bobby? Apa dampaknya buat konflik keluarga mereka sama Briggs?
"Gue harus kasih tau Ayah," kata Derrick tiba-tiba, suaranya pecah. "Dia berhak tau yang sebenernya."
Sarah setuju sambil ngangguk. "Gue janji bakal tetep di samping lo," dia nenangin, suaranya gak goyah. "Kita bakal cari solusinya bareng-bareng."
Dengan perasaan yang penuh tekad, Derrick ngambil hapenya dan nelpon nomor Ayahnya. Pas hapenya mulai bunyi, dia ngerasain rasa cemas yang tiba-tiba ngalir di dalem dirinya. Dia tau percakapan ini bakal ngasih dampak yang besar.
"Halo?" suara Newton Duke terdengar dari seberang, nadanya penasaran.
"Ayah," Derrick mulai, suaranya agak gemetar. "Kita perlu ngobrol. Soal Bobby."
Ada jeda di seberang telepon, terus Newton ngomong, suaranya penuh khawatir. "Bobby kenapa, Derrick? Ada apa sih?"
Derrick narik napas dalem-dalem, nyiapin diri buat ngomong. "Ayah, dia bukan anak Ayah," bisiknya pelan banget. "Dia anaknya Marshall Briggs."
Keheningan kaget nyebar lewat telepon, terus Newton Duke ngeluarin umpatan yang bikin mata Sarah membelalak kaget.
"Apaan? Gimana bisa sih?" Newton nuntut, suaranya naik emosi.
Derrick buru-buru nyeritain semua informasi yang dia dapet dari Sarah, termasuk pesan-pesan misterius dan pengungkapan Mr. Black yang bikin kaget soal siapa orang tua asli Bobby. Waktu dia ngomong, dia bisa ngerasain suara Ayahnya yang penuh keraguan dan kemarahan yang gak bisa dia tahan.
"Ayah, kita udah ditipu," Derrick ngegas, suaranya penuh emosi. "Kita gak tau kalau Bobby udah bohongin kita selama ini."
Newton Duke keliatan banget frustasinya, marahnya keliatan banget meskipun cuma lewat telepon. "Kita urus ini, Derrick," katanya, nadanya dingin dan tegas. "Bobby Briggs bakal tanggung jawab atas perbuatannya."
Abis Derrick matiin telepon, perasaan lega nyebar di dirinya. Dia ngerti kalau Ayahnya udah bertekad buat bikin Bobby tanggung jawab, dan dia bersyukur punya dukungan itu.
"Sekarang gimana?" tanya Sarah, suaranya memecah keheningan.
Derrick ngeliatin dia dengan tatapan yang penuh tekad. "Kita bakal ngejar Bobby," dia bilang dengan percaya diri. "Kita pastiin dia tanggung jawab atas perbuatannya."
Derrick narik napas dalem-dalem, nyiapin diri buat diskusi yang bakal sulit. Dia ngerti kalau ngasih tau Sarah soal identitas asli Betty bakal bikin sakit hati, tapi itu penting banget buat tujuan mereka buat bikin Bobby Briggs kena batunya.
"Lo inget Betty, temen kerja lo dulu?" tanya Derrick, suaranya ragu-ragu.
Sarah mengerutkan keningnya "Betty... Betty..." gumamnya, pikirannya muter-muter nyari-nyari ingatan waktu dia kerja. Terus dia inget. "Tunggu, Betty? Yang di kerjaan lama gue?"
Derrick ngangguk dengan serius. Iya, Betty itu. "Ada sesuatu yang penting yang harus lo tau soal Betty," katanya. "Dia bukan orang yang keliatan."
Sarah kaget, ngerasa gak enak, matanya membelalak. Dia nanya, ngomong dengan bisikan yang hampir gak kedengeran, "Maksudnya apa?"
Derrick berhenti, narik napas dalem-dalem sambil nyari kata-kata yang pas buat ngejelasin. "Mantan pacarnya Bobby itu Betty," dia bilang, merhatiin banget reaksi Sarah.
Sarah ngerasa kayak tanah kebuka nelen dia. Betty, temen kerja yang ramah yang dia percaya, ternyata bersekongkol sama Bobby Briggs? Hampir gak bisa dicerna.
"Gak... itu gak mungkin bener," Sarah berbisik, suaranya gemetar karena dia gak percaya. "Betty gak bakal..."
Tapi meskipun dia ngomong gitu, keraguan udah mulai ngerusak dirinya. Apa dia udah buta selama ini sama niat asli Betty? Dan kalau iya, apa artinya itu buat rencana mereka buat ngejatohin Bobby Briggs?
Derrick ngulurin tangan, naruh tangannya di bahu Sarah buat nenangin. "Gue tau susah buat dipercaya, Sarah," katanya pelan. "Tapi kita punya bukti buat ngebuktiinnya. Betty ikut campur dalam urusan curang Bobby, termasuk rencana buat nyelakain Olivia."
Derrick berhenti, sadar kalau ngomong lebih banyak cuma bakal bikin Sarah makin sedih. Dia juga sadar kalau dia harus ngasih tau semuanya soal pengkhianatan Betty.
Derrick mulai ngomong dengan nada serius, "Sarah, ada satu detail penting lagi yang harus lo tau soal Betty."
Sarah ngeliatin dia, matanya campuran antara bingung dan khawatir. "Derrick, apa itu?" Apa lagi ya?"
Narik napas dalem-dalem, Derrick lanjut, suaranya berat karena beban kata-katanya. "Betty lebih dari sekadar ibunya anak Bobby. Dia juga ditugasin buat ngawasin lo."
Mata Sarah membelalak kaget, gak percaya nyebar di dirinya. "Ngawasin gue? Maksudnya apa sih?" tanyanya, ngomong hampir gak kedengeran.
Derrick menghela napas, nahan diri buat gak liat reaksi Sarah. "Bobby tau soal kecurigaan lo soal urusan curangnya," jelasnya. "Dia nyuruh Betty buat mantau lo, buat mastiin lo gak nemuin apa-apa yang bisa bikin dia ketahuan atau kabur."
Tangan Sarah mengepal jadi tinju, amarah mulai ngumpul di dalem dirinya. "Jadi, dia cuma manfaatin gue? Sok-sok jadi temen gue padahal diam-diam ngelaporin ke Bobby?" semburnya, suaranya kecampur pahit.
Derrick ngangguk muram. "Gak cuma itu, Sarah," lanjutnya, suaranya pelan. "Betty juga terlibat dalam ngerencanain kecelakaan Olivia."
Jantung Sarah berasa kayak berhenti pas nama adiknya disebut. "Olivia... Betty ngerencanain kecelakaan Olivia?" ulangnya, suaranya gemetar karena gak percaya.
Derrick ngangguk, ekspresinya muram. "Dia pengen banget liat lo menderita, Sarah," jelasnya. "Buat nyenengin Bobby dan ngebuktiin kesetiaannya, dia rela ngelakuin apa aja."
Air mata netes di mata Sarah pas dia nyerna kata-kata Derrick. Betty, cewek yang dia percaya dan curhatin, ternyata udah kerja sama ngelawan dia selama ini. Itu pengkhianatan yang lebih dalem dari yang pernah dia bayangin.
"Gue gak percaya," Sarah berbisik, suaranya tercekat karena emosi. "Gimana dia bisa ngelakuin ini ke gue? Gimana bisa ada orang sekejam ini?"
Derrick ngulurin tangannya dan pelan-pelan ngeremas tangan Sarah buat nenangin. "Maafin gue, Sarah," bisiknya pelan. Gue ngerti ini susah buat lo denger. Tapi, penting banget buat kita tetep fokus. Kita harus bikin Betty tanggung jawab, sama kayak kita bakal ngejatohin Bobby.
Sarah setuju dengan nganggukin kepalanya dan pake tangannya yang gemeteran buat ngapus air matanya. Dia bilang, "Lo bener, Derrick," dengan keyakinan di nadanya. Kita gak boleh biarin mereka lolos dari ini. Kita harus bikin mereka tanggung jawab atas perbuatan mereka.
Duduk bersebelahan, Sarah dan Derrick mikirin sejauh mana pengkhianatan Betty, ngerti kalau perjuangan mereka jauh dari selesai. Tapi, dengan saling dukung, mereka siap buat hadapin tantangan apa pun yang dateng.
Bareng-bareng, mereka mulai buat ngebongkar kebenaran di balik penipuan Betty dan mastiin dia kena batunya, ngerti kalau mereka harus saling percaya buat sukses. Di saat pengkhianatan dan rintangan, ikatan mereka bakal jadi sumber kekuatan mereka yang paling kuat.
Kata-kata Derrick bikin pikiran Sarah muter-muter mikirin akibatnya. Betty, temen dan temen kerjanya, udah terus-terusan ngelawan usaha dia sampe sekarang. Itu pengkhianatan yang lebih dari yang dia harapkan.
"Rencana kita apa?" Sarah nanya, suaranya gemetar karena marah dan bingung.
Wajah Derrick jadi lebih tegas. "Kita bakal mastiin Betty kena hukum, sama kayak kita bakal bikin Bobby tanggung jawab," tegasnya dengan percaya diri. "Sarah, gak ada yang lolos dari akibatnya karena nyakitin lo. Gak Bobby, gak Betty, gak siapa pun.."
Sarah ngangguk, matanya penuh tekad yang kuat. "Iya," jawabnya, suaranya gak goyah. "Kita gak boleh biarin mereka lolos tanpa akibatnya. Kita harus bikin mereka tanggung jawab atas perbuatan mereka."
Sambil duduk bareng, nyusun strategi buat langkah selanjutnya, Sarah dan Derrick sadar kalau pertarungan mereka masih terus berlanjut. Tapi, dengan dukungan satu sama lain, mereka siap buat hadapin rintangan apa pun yang mungkin dateng.
Pas mereka mulai misi buat ngebongkar alasan di balik kebohongan Betty dan ngebongkar aktivitas ilegal Bobby yang sebenarnya, mereka ngerti kalau mereka harus saling percaya lebih banyak lagi buat menang. Ikatan mereka bakal jadi sumber kekuatan mereka yang paling besar pas ngadepin tantangan.