Bab 27
Bobby Briggs lagi nyelesaiin rencananya buat ngehancurin T&T dan bikin mereka KO selamanya, sementara Sarah sama Derrick lagi berantem sama pengkhianatan Betty dan ancaman serius Bobby, gak sadar sama rencana gelap dan rahasia mereka.
Bobby lagi duduk di ruangan yang remang-remang, fokus sama kerjaan di mejanya dengan cahaya dari layar komputernya yang nyorot mukanya. Sambil senyum, dia seneng banget nyelesaiin rencananya, nikmatin banget mikirin gimana caranya bales dendam sama perusahaan yang udah nolak dia selama ini.
Waktu lagi siap-siap buat lanjutin bagian selanjutnya dari rencananya, tiba-tiba hapenya bunyi dan dia dapet telepon. Bobby keliatan kesel pas ngangkat telepon dan cemberut. "Apaan sih?" bentaknya.
Suara dingin dan mengancam Marshall Briggs kedengeran dari ujung telepon. "Bobby, kita perlu ngobrol," katanya, nadanya gak ngasih ruang buat debat.
Darah Bobby langsung mendingin denger suara bokapnya. Dia tau, kalo Marshall Briggs nelpon, pasti ada masalah. "Mau apa, Bok?" tanyanya.
Marshall Briggs gak buang waktu buat langsung ke intinya. "Gue denger rumor tentang rencana lo buat nyerang T&T," katanya, suaranya kayak es. "Bener gak?"
Pikiran Bobby ngebut, nyoba buat mikirin reaksi bokapnya yang gak disangka-sangka. Dia ngarepnya marah dan penolakan, bukan dukungan. "Iya, Bok, bener," aku dia. "Gue akhirnya bakal ngehancurin perusahaan yang udah ngerusak keluarga kita."
Suara Marshall Briggs melembut, kayak setuju. "Bagus," katanya, nadanya penuh kebanggaan. "Gue emang udah tau lo punya kemampuan, Bobby. Sekarang sana, bikin kita bangga."
Bobby jadi ketakutan banget denger kata-kata bokapnya. Dia ngerti, kalo macem-macem sama Marshall Briggs itu bahaya, soalnya dia bisa kena akibat serius kalo dia ikut campur sama niatnya.
Bobby ngerasa lega banget setelah denger kata-kata bokapnya. Tau dia dapet dukungan Marshall Briggs, dia percaya dia akhirnya bisa bales dendam yang dia pengen banget ke T&T. Setelah matiin telepon, dia lanjut nyusun rencana dengan yakin gak ada halangan yang bisa ngehentiin dia.
**************************
Di waktu yang sama, Sarah dan Derrick lagi duduk di warung makan yang remang-remang, nyoba buat mikirin berita mengejutkan tentang pengkhianatan Betty dan niat jahat Bobby. Mereka sadar, waktu makin mepet buat ngehentiin dia, jadi mereka harus gerak cepet buat nyelametin apa yang mereka sayang.
"Derrick, kita harus ngehentiin dia," seru Sarah, suaranya nunjukkin tekad yang kuat. "Kita gak boleh biarin Bobby lolos dari akibat perbuatannya."
Derrick ngangguk, nunjukkin tekadnya yang kuat dengan rahang yang mengeras. "Gue ngerti, Sarah," katanya, dengan nada tegas. 'Tapi, rencana tetep perlu. Kita gak bisa cuma asal nyerbu tanpa strategi dan ngarepin semuanya bakal lancar."
Sarah menghela napas, ngusap rambutnya dengan frustrasi. Dia nanya, "Gue ngerti itu, tapi pilihan apa yang kita punya?"
Derrick narik napas dalem-dalem, nyoba buat ngontrol emosi yang lagi berkecamuk di dalem dirinya.. "Kita harus ngumpulin bukti," katanya, dengan nada berpikir. "Kalo kita bisa ngebuktiin Bobby yang di balik semuanya, kita bisa ngejatuhin dia secara hukum."
Sarah setuju sambil ngangguk, pikirannya lagi mikirin berbagai kemungkinan. "Tapi, gimana caranya kita bisa ngelakuin itu?" tanyanya, nadanya penuh keraguan.
Derrick ngeliatin warung makan itu, nyari tanda-tanda pengawasan. "Kita harus hati-hati," bisiknya, suaranya hampir gak kedengeran. Kita gak boleh ngasih tau Bobby tentang rencana kita sampe kita ngumpulin bukti yang cukup buat ngejerat dia."
Sarah setuju, ngerasa tekad yang kuat di hatinya. "Kita siap buat ngelakuin apa aja yang perlu," katanya dengan tegas. "Kita gak bakal biarin dia menang. Gak lagi."
'Kita bisa tambahin kakek, bokap lo, semua orang yang kita kenal yang bisa bantu kita." Sarah nyambung lagi.
'Iya. Itu bisa berhasil." Derrick bilang.
Mereka diem beberapa saat. Derrick ngeliatin Sarah. Dia nyadar perubahannya. Sarah lebih cantik dari terakhir kali dia liat. Dia gak bisa lupa malem mereka. Malem di mana cinta mereka nyampe puncaknya.
'Gimana kabarnya lo sekarang?" Derrick nanya.
Sebelum dia jawab, hapenya bunyi. Pas dia cek, dia liat itu kakeknya yang nelpon. Dia jawab.
'Hei, kakek' candanya.
'Wah, cocok banget dari orang yang lagi gue jagain anaknya.' Mr Black bales bercanda.
'Mengingat mereka juga cicit lo, gue rasa itu gak bisa dibilang jagain, tapi lo udah tua. Gue gak nyalahin kurangnya pengetahuan lo." Sarah ngomong lebih banyak, sambil ketawa.
'Gue bakal bales lo nanti. Lo bikin gue patah hati banget." Mr Black bercanda.
'Maaf, tapi hati emang buat patah, kek." Sarah bercanda lagi. "Anak-anak gimana?"
Ketertarikan Derrick muncul pas denger anak-anak. Anak siapa yang Sarah maksud? Apa dia lagi jagain anak orang? Apa itu anaknya?
'Mereka baik-baik aja. Gak kangen lo sedikitpun. Tapi balik cepet ya. Gue gak tau cara bikin susu formula bayi dan udah mau abis." Mr Black bilang.
Sarah ketawa. Oke. Gue bakal kesana cepet. Byeee." Setelah Mr Black bilang bye, dia matiin teleponnya.
Sarah matiin teleponnya, senyum jail masih kebayang di bibirnya. Derrick ngeliatin dia, ada rasa penasaran yang muncul di matanya.
"Anak-anak?" tanyanya, suaranya cuma bisikan.
Senyum Sarah memudar sedikit, diganti sama rasa sedih yang sebentar. "Iya, anak-anak gue," katanya, suaranya pelan.
Derrick ngerasa sakit hati, kayak ada rasa cemburu yang nyengkeram dia. Dia gak nyadar Sarah udah move on, mulai berkeluarga. Tapi sebagian dari dirinya, bagian kecil yang penuh harapan, mikir apa anak-anak ini…
"Siapa…" dia mulai, pertanyaannya menggantung di udara.
Sarah menghela napas, matanya turun ke meja. "Mereka anak lo, Derrick."
Pengungkapan itu nyerang dia kayak sambaran petir. Anak-anaknya? Dia punya anak? Dunia kayak goyang dari porosnya pas sejuta pertanyaan membanjiri pikirannya.
"Apa?" dia gagap, suaranya gemetar. "Gimana… kapan?"
Sarah narik napas dalem-dalem, nguat-nguatin diri buat obrolan yang susah. "Gue hamil, Derrick. Sama anak kembar lo."
Hatinya hancur. Anak kembar. Anak laki-lakinya. Gelombang emosi – bahagia, marah, nyesel – nyapu dirinya.
"Kenapa lo gak bilang?" tanyanya, suaranya penuh luka yang gak bisa dia jelasin.
Mata Sarah berlinang air mata. "Bobby tau," bisiknya, suaranya gemetar. "Dia… dia ngancem gue. Dia bilang kalo gue gak ngebuang mereka, dia bakal…" dia nahan isak, gak bisa nyelesaiin kalimatnya.
Pengungkapan itu bikin Derrick marah. Bobby, adiknya sendiri, ngancem Sarah, cewek yang dia cintai, dan anak-anak mereka yang belum lahir.
"Itu sebabnya lo pergi," bisiknya, suaranya tegang sama kesadaran yang muncul.
Sarah ngangguk, air mata ngalir di mukanya sekarang. "Gue harus lindungin mereka, Derrick. Gue harus lindungin diri gue sendiri."
Derrick meraih tangan Sarah di seberang meja. Kehangatan sentuhannya ngebuat dia kaget, pengingat koneksi yang pernah mereka punya.
"Lo udah ngelakuin hal yang bener, Sarah," katanya, suaranya pelan dan meyakinkan. "Tapi lo gak perlu lindungin mereka sendirian lagi."
Rasa harapan menyala di mata Sarah. Apa dia bisa percaya lagi sama dia? Apa mereka bisa ngadepin ini bareng, sebagai keluarga?
"Gue…" dia mulai, suaranya gemetar. "Kakek lagi ngerawat mereka sekarang. Tapi…"
Derrick ngeratin tangannya dengan lembut. "Tapi lo mau gue ketemu mereka, kan?" dia nyelesaiin pikirannya, senyum yang tau segalanya muncul di bibirnya.
Sarah ngangguk, air mata ngalir di pipinya. "Lebih dari apa pun," akunya.
Naruk napas dalem-dalem, Derrick ngambil keputusan. "Kalo gitu, ayo pergi," katanya, suaranya penuh tekad dan kesedihan karena dia gak ada waktu mereka lahir. "Udah waktunya lo ngenalin gue sama anak laki-laki gue."
Perjalanan ke rumah Mr. Black dipenuhi keheningan yang tegang. Pikiran Sarah kayak badai emosi – semangat, gugup, dan takut.
Derrick lagi nyoba buat ngerti perubahan mendadak dalam hidupnya, beban kebapakan yang udah menetap di dirinya.
Pas mereka nyampe di halaman, Sarah nunjuk ke jendela lantai dua. "Itu kamar mereka."
Ngikutin pandangannya, Derrick ngeliat cahaya yang nyaring lewat gorden, sedikit tanda kehidupan yang gak dia sadari udah dia lewatin.
Sarah narik napas dalem-dalem dan nuntun dia masuk. Mr. Black nyambut mereka di pintu masuk, pake senyum yang nunjukkin dia tau sesuatu. Dua muka kecil yang identik lagi ngintip dari belakangnya, di balik sudut.
"Ini dia, Sarah," kata Mr. Black, suaranya hangat. "Dan ini pasti Derrick."
Derrick ngasih senyum ragu. "Halo, Pak."
Mr. Black tertawa kecil. "Gak perlu formalitas, Nak. Ayo masuk, ayo masuk. Anak-anak udah gak sabar mau ketemu kamu."
Pas Sarah dan Derrick masuk ke ruang tamu, dua anak laki-laki kecil, Ethan dan Leo, mendekat dengan hati-hati. Mata mereka lebar karena penasaran, muka mereka perpaduan sempurna dari fitur Sarah dan Derrick.
Sarah berlutut, tangannya terulur. "Anak-anak, ini ayah kalian, Derrick."
Ethan dan Leo bertukar pandang, terus pelan-pelan maju ke arah Sarah. Mereka ngulurin tangan dan nyentuh tangan Derrick, mata mereka penuh rasa malu.
Hati Derrick meleleh. Dia jongkok setinggi mereka, ngebuat kontak mata sama mereka. "Halo, Sobat," dia nyapa, ngomong dengan kelembutan yang gak pernah dia sadari dia punya.