Bab 60
Mr. Duke ngeluarin amplop yang udah agak pudar dari laci nakasnya. Suaranya gemetar tapi penuh tekad pas dia ngomong, "Sebelum... semuanya terjadi, gue udah bikin beberapa penyesuaian di surat wasiat gue. Bobby kelakuannya udah kayak orang lain, dan gue tahu itu. Sekarang, gue mau lo sama Derrick, dan tentu aja, dua bocah kesayangan ini, biar diurus."
Dia nyerahin amplop itu ke Sarah, tangannya sedikit gemetaran. Sarah bukanya hati-hati dan ngeliat isinya, matanya langsung membesar. Surat wasiatnya udah diubah buat ngasih Sarah, Derrick, dan si kembar bagian terbesar dari harta warisan Mr. Duke.
Matanya langsung berair. Suaranya bergetar karena emosi, "Mr. Duke, Bapak gak perlu ngelakuin ini,"
Mr. Duke ngegas, "Omong kosong," suaranya tetap tenang meskipun lagi lemah. "Anggap aja ini permintaan maaf telat karena salah nilai Bobby. Lagian," tambahnya sambil ngedip, "siapa lagi yang mau manjain dua berandalan ini?"
Rasa terima kasih langsung nyebar di hati Sarah. Selain cuma ngasih duit, tindakan Mr. Duke ini nunjukkin penerimaan, kepercayaan, dan kemungkinan buat awal yang baru buat mereka semua.
Mr. Duke terpesona sama cerita Sarah dan Derrick tentang tingkah laku si kembar, tingkah konyol mereka, dan kepribadian mereka yang makin dewasa selama sore itu.
Tawa memenuhi ruangan, perubahan yang menyenangkan dari suasana hening yang menyelimuti mereka beberapa hari sebelumnya.
Sarah nunduk buat ngasih Mr. Duke kecupan cepat di pipi pas mereka pamitan. "Makasih," gumamnya, suaranya penuh emosi.
Mr. Duke ngasih dia jabatan tangan. "Enggak, Sarah," jawabnya, suaranya lemah tapi tegas. "Makasih, buat kuat, buat jagain Derrick, dan karena udah ngasih gue dua cucu yang luar biasa ini."
Dengan sedikit ragu, Sarah bilang, "Ada hal lain yang perlu kita kasih tau Bapak, Mr. Duke," suaranya hampir gak kedengeran, berhenti, gak bisa lanjut lagi.
Derrick ngulurin tangannya dan megang tangan Sarah buat nenangin. "Soal si kembar," lanjutnya, natap wajah mereka yang lagi tidur.
Sorot penasaran muncul di wajah pucat Mr. Duke. "Soal si kembar? Apaan emangnya?"
Sarah narik napas dalam-dalam. "Mr. Duke," katanya lembut, "si kembar… mereka bukan anak kandung Bobby."
Alis Mr. Duke berkerut kaget. "Bukan anak Bobby? Tapi gue kira…"
"Kita gak yakin gimana reaksi Bapak, jadi kita gak kasih tau," jawab Derrick cepat. "Tapi, si kembar emang anak gue."
Mata Mr. Duke berpindah dari Sarah ke Derrick, dan untuk sesaat, ekspresinya gak bisa dibaca. Terus, dengan rasa senang yang berkilauan di matanya, senyum perlahan merekah di wajahnya.
"Wah, Derrick," katanya sambil tertawa lemah tapi lucu, "lo emang jago banget nyimpen rahasia ini."
Derrick dengan malu-malu ngusap tengkuknya. "Bukan sesuatu yang langsung kita umumin, Pak. Tapi Sarah dan gue… kita jatuh cinta sebelum dia ketemu Bobby."
Sarah ngeratin jari-jarinya pas pipinya mulai memerah. "Itu hubungan yang romantis banget," katanya, nyengir.
Mr. Duke nyengir lebih lebar lagi. "Kisah cinta yang kacau yang menghasilkan dua cucu yang keren," komentarnya, nada bicaranya sedikit bangga. "Gue gak bisa lebih bahagia lagi buat kalian berdua, gak peduli gen siapa yang mereka bawa."
Rasa lega langsung menyelimuti Sarah dan Derrick. Hati mereka menghangat karena penerimaan Mr. Duke dan rasa senangnya yang tulus atas berita itu, mereka udah siap buat kemungkinan reaksi negatif.
Sarah ngejawab, "Makasih, Mr. Duke," suaranya penuh emosi. "Itu berarti banget buat kita."
Dengan kerlingan nakal di matanya, dia berkomentar, "Lo tau, mungkin semua masalah ini gak terlalu buruk juga, ya". Itu bikin kalian berdua balik lagi, dan itu ngasih gue dua cucu yang luar biasa."
Sarah dan Derrick bertukar pandang, hati mereka meluap dengan rasa syukur. Mereka udah bertahan dari mimpi buruk, tapi dari abu, awal yang baru udah mekar.
Kemudian, pas mereka mau pergi, Mr. Duke meraih dan megang tangan Sarah. "Sarah," katanya, suaranya penuh dengan rasa hormat yang baru, "lo dan Derrick itu dua orang yang luar biasa. Kalian ngadepin tantangan luar biasa dengan anggun dan kuat. Dan kalian ngasih anak-anak ini cinta dan stabilitas yang pantas mereka dapatkan."
Air mata menggenang di mata Sarah. "Makasih, Mr. Duke," bisiknya. "Dukungan Bapak berarti segalanya buat kita."
Mr. Duke ngeratin tangannya sebelum mengalihkan pandangannya ke Derrick. "Dan Derrick," katanya, sedikit nada bangga di suaranya, "lo udah tumbuh jadi pria yang baik. Bertanggung jawab atas tindakan lo nunjukkin banget karakter lo. Jadi ayah yang baik buat anak-anak itu, dan jangan pernah biarin mereka meragukan cinta lo."
Derrick ngangguk serius, ada benjolan di tenggorokannya. "Gue gak bakal, Ayah. Gue janji."
Meninggalkan rumah sakit hari itu, Sarah dan Derrick bertukar pandang yang udah jelas banget. Jalan di depan gak bakal gampang. Bakal susah buat bangun lagi bisnis dan hidup mereka.
Tapi, rasa percaya diri mulai tumbuh dalam diri mereka pas mereka ngamatin si kembar, tertawa di kursi belakang dan meraih satu sama lain dengan tangan kecil mereka.
Mereka punya cinta dan dukungan Mr. Duke dalam ingatan mereka, keluarga baru mereka, dan satu sama lain. Mereka tau kalau mereka bisa menghadapi apa pun yang ada di depan mereka.
Pas babak gelap ini berakhir, cerita baru udah nunggu, yang penuh cinta, kebahagiaan, dan janji hari esok yang lebih baik.
Pas si kembar ketiduran di kursi mobil mereka dalam perjalanan pulang, capek karena aktivitas main mereka, suasana hening yang nyaman turun di ruangan.
Ada rasa stabilitas dan harapan baru yang bercampur dengan beratnya informasi surat wasiat Mr. Duke.
Kesusahan masa lalu udah memudar, buat diganti dengan cinta keluarga yang teguh, keberanian buat menghadapi kenyataan, dan harapan akan masa depan di luar mimpi terliar mereka.
Pas mereka sampe di depan pintu rumah mereka, kelelahan akhirnya datang. Rollercoaster emosi hari itu – kebahagiaan bersatu kembali dengan Mr. Duke, kelegaan berbagi rahasia mereka, dan harapan untuk masa depan – nyerang mereka semua sekaligus.
Sarah dengan lembut naruh si kembar yang lagi tidur di boks mereka, napas tenang mereka melodi yang menenangkan. Derrick, lengannya melingkar di bahu Sarah, narik dia lebih dekat.
"Itu… gak nyangka," akuinya, suaranya pelan.
"Gak nyangka bagus, maksud lo?" goda Sarah, sedikit senyum menghiasi bibirnya.
Derrick cekikikan. "Jelas bagus. Gue khawatir gimana Mr. Duke bakal nerima berita soal si kembar."
"Gue juga," aku Sarah, suaranya diisi dengan kejujuran. "Tapi ngeliat reaksinya… itu lega banget."
Mereka berdiri di sana dalam keheningan yang nyaman sejenak, mata mereka tertuju pada si kembar yang lagi tidur. Karena Ethan terus bergerak, Ethan bergerak sedikit dan meraih buat menyentuh mainan gantung yang ada di atas boksnya.
Dia bilang, "Mereka udah ngalamin banyak banget," dengan nada khawatir.
"Mereka anak-anak kecil yang kuat," Derrick berkomentar menghibur. "Mereka bakal baik-baik aja. Kita bakal pastiin itu."
Sarah berbisik, "Dia mirip banget sama lo," dengan campuran keheranan dan kasih sayang dalam suaranya.
Dengan lembut, Derrick membungkuk buat nyingkirin rambut yang nyasar dari dahi Ethan. "Iya, ya?" Dia mikir. "Dan Leo… mungkin ada sedikit lo di dagu, tapi selain itu…"
"Dia persis kayak lo," Sarah nyelesaiin kalimatnya buat dia, senyum bangga menghiasi bibirnya. Dia meraih dan menjalin jarinya dengan jarinya. "Kita keluarga, Derrick. Keluarga yang sesungguhnya."
Derrick ngeratin tangannya. "Dan gak ada yang bakal bisa mecahin itu," janjinya.
"Kopi?" Derrick nanya, sedikit senyum menghiasi bibirnya.
Sarah cekikikan. "Kopi kedengerannya sempurna."
Mereka pindah ke dapur, suara gelas yang berdentang dan aroma kopi yang harum memenuhi udara. Pas mereka duduk di meja, keheningan yang nyaman turun.
"Dia nerima beritanya dengan sangat baik," Sarah akhirnya bilang, memecah keheningan.
Derrick ngangguk, muter-muter cairan gelap di cangkirnya. "Iya," dia setuju. "Gue udah siapin diri buat sesuatu… yang beda."
"Gue juga," aku Sarah. "Tapi mungkin emang gitu dia, Mr. Duke. Selalu nyari sisi baik orang."
Rasa lega menyelimuti Sarah dan Derrick pas mereka masuk ke kamar tidur mereka. Sekarang karena mereka udah ngalahin rintangan mereka dan keluar sebagai pemenang, mereka siap buat nulis akhir bahagia mereka sendiri.
Mereka punya masa depan cerah di depan mereka, penuh dengan petualangan yang berantakan, hari-hari yang penuh tawa, dan jenis cinta yang tak tergoyahkan yang cuma datang dari keluarga.
Anak kembar mereka, satu sama lain, dan kenangan abadi akan cinta dan dukungan Mr. Duke adalah segalanya yang mereka punya.
Dengan pengetahuan itu, mereka siap buat memulai seumur hidup membuat kenangan dengan keluarga kecil mereka, siap buat menghadapi apa pun yang ada di depan.