BAB DUA BELAS
BAB DUA BELAS: SEKILAS TENTANG KITA
ROSE POV
Apa dia baru saja bilang kalau dia mau menyempurnakan pernikahan kita? Ya, sepertinya begitu. Komentarnya bikin gue jadi gak bisa ngomong buat beberapa saat, badan gue kaku dan pegangan gue ke bajunya jadi gak kencang lagi. Entah kenapa, gak ada hubungannya sama adrenalin yang naik tadi, dada gue naik turun dengan berat.
Gue natap dia waktu dia gendong gue, merhatiin garis rahangnya yang tegas dan hidungnya yang lurus tapi agak bengkok, ciri khas cowok yang, berkat persetujuan gue, sekarang jadi suami gue.
Masa lalu ngehantam gue tepat di saat pendeta minta gue buat jadi istrinya sampai maut memisahkan kita, dan yang gue pengen cuma kabur dan gak pernah balik lagi. Hati gue masih berdarah dari kejadian itu, dan gue ragu bisa ngendaliinnya kali ini. Soalnya kenapa? Gue takut semuanya akan selamanya kalau gue biarin dia nyakitin gue.
Dia udah sampai di mobilnya dan buka pintu buat penumpang pas gue paksa diri buat sadar dari lamunan.
Gue berontak dari gendongannya, berusaha menjauh sejauh mungkin dari dia. Gue bilang, "Lepasin gue."
"Nggak."
'Gue harus balik buat liat keadaan Paman Raven dan Bella."
'Mereka semua baik-baik aja, Hades dan yang lain ngurusin para tamu."
"Tetep aja—"
Dia nahan gue dari meronta dengan naruh telapak tangannya yang kasar dan kuat di leher gue. Matanya yang tajam natap mata gue dari jarak sedekat hembusan napasnya.
"Di hari pernikahan lo, berenti khawatir sama orang lain."
Gue niatnya mau bersuara tegas, tapi cuma jadi bisikan, "Ini bukan pernikahan beneran."
"Iya, ini beneran. Lo bilang 'iya' di depan Tuhan dan semua pengikut-Nya yang suci."
"Lo gak percaya hal-hal suci," kata gue.
Dia nyengir. "Lo inget; lo sesuka itu ya sama gue?"
Gue mendesah dan ngejauh dari dia, tapi dia masih megangin gue dengan tangannya di leher gue. "Jangan ngira macem-macem, gue cuma inget informasi yang berguna aja."
"Lo masih inget apa yang gue ajarin?"
Gue tiba-tiba bilang, "Gak sama sekali," pas dada gue mulai naik turun lagi dengan cepat. Itu bukan intinya.
Nada suaranya merendah, "Terus apa? Oh, apa karena gue gak percaya sama hal-hal suci itu masalahnya?"
"Iya."
'Lo iya, dan itulah yang penting."
"Siapa bilang gue iya?"
'Seorang putri sejati, lo percaya apapun yang dipercayai persaudaraan."
Gue mengepal tangan dan mukul dadanya. Dia ngebiarin gue sebelum keliatan gak nyaman.
'Gue bakal sibuk ngurusin lo malam ini, kan, sore ini?
'Gak kalau lo mau simpen titit lo di tempatnya."
Garis tawa di sekitar matanya jadi lebih terang dan berkilau pas dia cekikikan. Dia ngusap jari-jarinya di kulit gue, ngirim sensasi kayak kejut listrik ke perut gue.
"Oh, dia bakal tetep di tempatnya, dan mungkin gue bakal pake itu buat nutup mulut keras kepala lo sekali aja. Pas bibir lo melingkari titit gue, lo gak bakal banyak omong, kan?
Pas dia ngomong persis kayak gitu, gue ngerasa menggigil di seluruh badan gue, jadi gue nyeletuk sesuatu buat nutupin reaksi gue. "Mungkin pas lo di peti mati."
Dia menyamakan mulutnya dengan telinga gue sampai hembusan napasnya yang panas jadi satu-satunya sensasi yang gue rasain di kulit gue, bilang, "Ini pertanda buruk buat ngebayangin jadi janda pas lo masih jadi pengantin, Princess. Itu bisa terjadi lebih cepat dari yang lo duga."
Kata-katanya ngehantam gue kayak kejutan listrik pas gue mundur. Nanya, "A-apa maksud lo?"
Dia nurunin gue buat berdiri cuma buat mendorong gue ke kursi penumpang. Gue gak protes karena kata-katanya cuma itu yang ada di pikiran gue. Apa maksudnya dia kalau dia bilang gue bakal dicerai lebih cepet dari yang gue kira?
Gue alihin perhatian gue ke Ethan pas dia masuk ke kursi pengemudi.
'Apa yang baru aja lo bilang, sebenarnya?"
Pas dia masang sabuk pengaman di sekitar gue, seluruh badannya membungkuk ke arah gue, dan aroma khasnya yang segar menyerang indera gue. Dia berhenti dan nyebar telapak tangannya di perut gue, di mana ada noda darah, pas mulutnya cuma beberapa sentimeter dari gue.
"Hidup kita dimulai dengan darah," katanya dengan tegas. 'Hasil apa yang lo harapkan?"
Tanpa diduga, sumbatan di tenggorokan gue bikin gue nelen ludah. "Bukankah lo bilang kita bikin takdir kita sendiri?"
'Setiap tindakan cuma bawa kita balik ke jalur yang emang udah ditakdirkan buat kita, gue bohong. Itu selalu udah ditentuin."
Gue butuh waktu sebentar, tapi akhirnya gue sadar sama ketegasan di matanya. Itu bukan jenis yang biasa, kayak yang gue punya pas ngaca di pagi hari. Itu lebih gelap, lebih ganas, dan bertekad buat berhasil, bahkan kalau itu berarti ngabisin semua orang, bahkan dirinya sendiri.
Apa yang terjadi sama lo selama beberapa tahun terakhir ini, Ethan?
Gue benci diri gue sendiri karena mikir dan bahkan ngomongin pertanyaan itu pas gue janji gak akan pernah lagi kejebak di labirinnya.
"Kenapa lo nikahin gue?" gue menggumamkan pertanyaan yang udah gue niatin buat ditanyain seminggu terakhir.
"Karena gue mau."
"Itu bukan jawaban."
"Itu satu-satunya jawaban yang lo butuhin. Gue nikahin lo karena gue mau. Lo sekarang jadi istri gue, dan gak ada apapun dan siapapun yang akan mengubah fakta itu. Bahkan lo sendiri."
"Mending lo siap-siap sama neraka yang akan gue datengin ke hidup lo."
Gue benci diri gue sendiri karena mikirin hal-hal itu dan nanya pertanyaan-pertanyaan itu setelah janji ke diri sendiri buat gak lagi nyasar di labirinnya. Gue menggumamkan pertanyaan yang udah gue maksud buat ditanyain selama seminggu terakhir, "Kenapa lo nikahin gue?"
'Gue lakuin itu karena gue mau."
'Itu bukan respon."
'Lo gak butuh respon lain; gue nikahin lo karena gue mau; lo sekarang jadi istri gue, dan gak ada apapun, apalagi lo, yang akan mengubah itu."
'Lo sebaiknya siap-siap sama horor yang bakal gue datengin."
"Oh, gue lebih dari siap." Dia nyium kening gue, dan gue membeku, gak nyangka sama gestur yang lembut dan intim itu. Bibirnya diem buat sedetik seolah dia menikmati momen itu dan kebaruannya. Ethan gak pernah nyium kening gue sebelumnya, bukan karena gue bakal ngebiarin dia, tapi sekarang, dia keliatannya nekat buat ngelakuin apapun yang dia mau.
Dia mundur sebelum gue bisa protes, tapi bekas bibirnya masih ada di kulit gue, kebakar kayak api liar.
"Buat neraka yang akan lo datengin, Princess," kata Ethan pas dia ngambil botol Jack Daniels yang setengah penuh dari jok belakang dan minum sedikit sebelum nawarin ke gue.
Gue ambil botol itu dari tangannya dan minum banyak-banyak, bilang, "Gue bakal minum buat itu." Pas dia keluar dari tempat parkir, Ethan senyum dan nunjukin profil sampingnya ke gue.
Gue gak bisa liat pengawal atau Hades karena kita gak lewat orang lain. Tapi, suara tembakan udah berhenti, nunjukin serangannya udah selesai.
Gue pasti udah mimpin Paman Raven dan Bella balik ke rumah dengan aman kalau bukan karena si brengsek yang duduk di samping gue.
Gue sadar gue merhatiin senyum dan mukanya sekali lagi. Keliatannya tulus, bahkan senang, tapi itu semua cuma bagian dari aktingnya yang bagus. Berapa kali dia bener-bener nyengir dari hati, gue bisa hitung pake jari. Seolah mereka bukan satu muka, bibirnya bergerak tapi matanya enggak.
'Gue tau lo tertarik sama gue, jadi tolong tahan diri sampai kita gak keliatan sama orang lain, Princess."
Gue minum lagi dari botol itu, biarin cairan panas itu ngalir ke leher gue, "Gue gak tau apa yang lo omongin."
'Itu anehnya cocok buat lo, tapi gue suka pas lo main polos."
Gue minum lagi banyak-banyak, meringis karena rasa setelahnya, dan bilang, "Diem."
Dia ngedip, "Nyali cair." "Keren."
'Mungkin gue mau abisin botolnya buat nyemprotinnya ke pantat lo, tapi siapa bilang itu nyali cair?"
Lagi-lagi, dia bilang, "Gue gak tau lo mikir tentang gue begitu banyak dalam arti seksual, tapi santai aja sama minumnya—gue tau lo ringan."
'Gue udah gak ringan lagi. Dulu. Lampau."
Dia mengerutkan keningnya dan nanya, "Serius nih?" sebentar ngalihin perhatiannya dari jalan ke gue.
Gue minum paling banyak yang pernah gue minum, berusaha gak keselek dari rasa yang membakar dan rasa setelahnya yang kuat, dan bilang, "Gue bisa abisin botolnya."
'Kalo lo mau."
Gue lanjutin tujuan gue dan ngeluarin dagu ke arah dia. Gue anggap botol Jack Daniels ini adalah perang gue saat ini dan minum terus-terusan pas dia nyetir melewati lingkungan sekitar.
Ethan kadang-kadang liatin gue dengan aneh sebelum balik lagi ke jalannya.
Gue udah selesai pas mobilnya berhenti. Botol kosongnya dijulurin di depan mukanya. Gue senyum, "Udah selesai," terus ketawa sama kesimpulannya.
Buat berentiin suaranya, gue tepuk tangan ke mulut gue.
'Oh, sayang. Gue mabuk."