42
BAB EMPAT PULUH – DUA: KITA BERDUA
SUDUT PANDANG ROSE
Suamiku sekarang jadi pengawalku. Gue ragu semuanya bakal balik normal. Lagian, kita kan bukan pasangan suami istri yang biasa. Dunia kita bukan dongeng, dan kita juga nggak mulai dengan cara yang biasa. Tapi, pas dia bilang kalau dia ninggalin gue karena dia mikir gue jahat sama dia, sesuatu di dalam diri gue mulai berubah. Ada hubungannya sama itu, janji dia buat nggak nemuin gue lagi, atau fakta kalau dia udah dua kali mempertaruhkan nyawa demi gue.
Dia rela mati buat gue.
Sebagian dari diri gue, yang udah dididik Kakek buat selalu skeptis, bilang gue nggak boleh terlalu percaya sama Ethan. Gue nggak boleh percaya sama dia buat ngasih nyawa gue kayak yang dulu. Tapi, bagian lain yang lebih gila, yang selalu jatuh ke pelukannya tiap malam, pengen selalu sama dia. Pas gue nggak ketemu dia beberapa jam aja, bagian dari diri gue itu kangen. Bagian itu yang bikin dia bisa makan tubuh gue seolah-olah itu udah jadi miliknya dari dulu.
Dia emang makan gue abis-abisan.
Ethan tuh kuat banget, bahkan pas dia lagi luka, dibalut, dan masih belum sepenuhnya sembuh. Mau dia bikin gue seneng pake 'adik'nya atau mainannya, nggak masalah. Keduanya punya kekuatan buat ngeluarin sisi-sisi gue yang sebelumnya terpendam.
Walaupun sebagian orang bilang bagian fisik dan emosional itu beda, gue nggak setuju. Gue nggak pernah mikir kalau tubuh dan hati gue itu terpisah. Makanya, setiap kali Ethan ngerangsang tubuh gue, dia juga nyentuh sesuatu di dalem dada gue. Dia bikin lubang yang lebih dalem lagi buat dirinya sendiri di setiap *beep* yang berani.
Gue naruh keranjang di antara kita pas kita duduk di kursi di bawah dua pohon yang berderet. Awan langka di langit yang cerah sesekali nutupin matahari.
"Isinya racun, nggak?" tanyanya sambil senyum.
"Gue bisa bikinin lo racun kalau lo mau," kata gue.
Dia bilang, nyubit pipi gue dan tetep megangin tangannya di situ. "Jangan tersinggung ya...gue cuma bercanda. Nggak ada yang pernah bilang lo tegang, atau mereka terlalu takut sama lo buat ngomong gitu?"
"Gue nggak tegang. Gue cuma jujur."
Dia masih ngusap pipi gue setelah ngelepasinnya.
"Itu sama aja kayak tegang," tapi, gue agak ngalor ngidul. "Berenti pake bahasa pasif-agresif, deh."
"Gue kan Princess; bersikap agresif secara pasif itu emang ciri khas kita."
Gue narik wadah pancake ke arahnya sambil ngegeleng. Gue deg-degan nungguin jawaban Ethan pas dia makan. Dia nggak kaget, itu pertanda bagus. Tapi, dia berenti ngunyah.
'Kenapa? Nggak suka?"
'Nggak.'
Dia senyum tipis. "Cuma...bikin gue inget rasa dari dulu banget. Ibu dulu sering bikin ini, bahkan punya resep khususnya."
"Ayah yang bikin dulu. Dia bilang sebelum jadi kaya, dia itu mahasiswa miskin yang traktir dirinya sendiri pancake tiap kali dapet bayaran dari kerja sampingan. Jadinya, itu kayak punya arti buat gue juga."
"Lo mikir hidup lo bakal beda kalau lo tetep di sisinya?"
'Mungkin aja. Tapi, gue nggak bakal selamat di sini dan gue nggak bakal ketemu Paman kalau iya. Sama dia, gue ngalamin hari-hari paling gila dalam hidup gue, dan gue nggak bakal nuker itu buat apapun. Gue terus-terusan kangen Ayah dan adik gue di waktu yang sama. Gue sadar itu nggak masuk akal."
"Itu masuk akal banget. Lo cuma pengen keluarga lo lengkap. Makanya, pas mau ngebelain mereka, lo rela kehilangan rasa kasihan."
Gue natap dia nggak percaya beberapa saat. Gue nggak pernah nyangka dia bisa nebak sudut pandang gue semudah itu. Dia kadang-kadang terlalu peka, yang bikin nggak nyaman sekaligus nenangin. Jelas condong ke yang terakhir saat ini.
Gue makan pancake buat ngalihin pikiran dari pengen meluk dia. Kita makan beberapa detik dalam diam. Matahari nyorot ke arah kita pas muncul dari balik awan. Ethan ngangkat kedua tangannya di depan wajah gue buat nahan sinar matahari sampe ketutupan awan yang lain.
Bahkan kalau dia kadang-kadang terlalu jauh buat ngejagain gue, gue nggak bisa nggak senyum pas ngelihat tatapan seriusnya. Kita terus makan dalam diam sambil nikmatin pemandangan, ketenangan, dan suara burung yang jauh. Pas mereka ngelihat kita, beberapa pengawal nunduk, dan kita, atau lebih tepatnya, gue bales sapaan mereka. Ethan terus-terusan ngasih mereka tatapan sinis.
Gue ngisi gelas dengan jus dan langsung minum. "Kenapa lo kayak lagi nyiapin cara paling efektif buat ngebunuh mereka?"
"Soalnya iya,"
"Kok bisa sih?"
"Mereka masang muka aneh ke lo."
Gue ketawa ngakak, "Gue kan bos mereka. Mereka nggak masang muka aneh ke gue."
"Emang iya."
"Lo cuma terlalu waspada aja."
"Dan lo nggak sadar sama kecantikan lo sendiri."
Sedotan itu udah setengah di mulut gue pas gue berhenti. Walaupun Ethan pernah bilang gue cantik sebelumnya, pujiannya nggak pernah kerasa normal. "Apa hubungannya sama kecantikan gue?"
"Kalau bukan karena kecantikan *beep* lo, gue nggak bakal mau cabut jantung setiap bajingan yang ngelihat ke arah lo."
Gue nunduk bingung gimana mau jawab. Dia ngomong dengan cara yang posesif banget sampe gue nggak tau mau ngomong apa. Makanya, dia lanjut, "jangan bikin keadaan mereka makin parah."
"Gimana caranya?"
"Jangan berinteraksi sama mereka atau senyum ke mereka; itu cuma buat gue doang."
"Lo berlebihan dan lo milik gue."
Gue langsung minum jus gue dalam sekali gerakan karena gue kaget sampe diem, yang bikin Ethan senyum. Terus dia genggam tangan gue dan naruh di pahanya sebelum ngaitin jari-jari kita. Punggung tangan gue diusap sama jempolnya dengan pola yang bikin gue ngos-ngosan.
"Gimana kabarnya?"
"Apa yang terjadi setelah gue pergi?"
"Bagus," Dia natap gue aneh.
'Kenapa?"
Gue ngembangin dada. "Lo ngira gue bakal mulai nangis dan ngasih tau lo kalau keadaannya tragis?"
"Lo lagi ngebela diri."
"Nggak, nggak. Gue cuma ngejawab pertanyaan lo, dan jawaban dari pertanyaan itu adalah gue baik-baik aja."
Gue berusaha nyembunyiin fakta kalau hidup gue kayaknya udah kehilangan artinya. Walaupun gue udah nyelesaiin semua tujuan gue, nggak ada keseruannya. Di titik tertentu, gue jadi sadar ada sesuatu yang kurang, tapi gue nggak sadar apa itu sampe dia balik lagi ke ruang makan, ngaku kalau dia anak Nathan.
Gue ngerasa kayak lagi di tengah lapangan salju di tengah badai dingin pas Ethan nyentuh bibir di pelipis gue. Dia ngaku di deket kulit gue, "Gue nggak baik-baik aja. Gue emang lagi nggak enak banget. Lo bikin kangen."
Tenggorokan gue kayak kesumbat sama berbagai perasaan. Sebelum gue ngomong, gue ngeceknya.
"Kok bisa sih kangen gue?"
Gue kangen bangun tiap pagi nemuin lo di depan pintu minta gue ngajarin sesuatu. Gue lupa gimana lo peduli sama semua orang di sekitar lo, walaupun lo berusaha bikin diri lo nggak kelihatan biar mereka nggak nggak nyaman.
"Ya, gue udah biasa sama keras kepalamu dan sikap lo yang nggak neko-neko dan gimana lo nantangin gue di setiap langkah."
Dia senyum, "Jarang banget, gue kangen senyum lo. Gue kangen gimana lo memperlakukan pengawal lo kayak anggota keluarga dan gimana lo nggak pernah bikin mereka ngerasa rendah diri."
Gue ngerasa kayak bakal hancur di pelukannya kali ini. Gue nggak bisa berentiin rintihan lemah yang keluar dari tenggorokan gue.
"Apa gue bikin lo kangen?" Apa itu sedikit kelemahan yang gue denger di suara rendahnya?
Kalau gue nggak jawab, "Apa lo pernah mau maafin gue?"
Gue bisa senyum. "Coba lagi."
"Gue udah coba tiap malam, tapi karena berbagai alasan, gue rasa."
"Apa yang mau lo capai?"
'Halo? Jelas, gue berusaha buat punya anak di dalem lo. Bayangin semua orang kaget pas tau nggak ada bayi dari awal."
"Itu nggak mungkin."
"Kenapa?"
"Gue pake pil KB. Lo beneran nggak liat itu?"
"Jelas, gue liat."
"Terus, gimana caranya lo ngarep gue bakal hamil?"
"Sesuatu kecil yang namanya keajaiban."
Keajaiban kecil kemungkinannya terjadi dalam waktu dekat.
"Kita bakal cek itu."
Pas gue natap dia, gue menyipitkan mata. Apa maksudnya itu?"
Dia pura-pura nggak peduli, "Nggak ada apa-apa. Tapi gue janji sama lo, suatu hari, pas gue sayang sama lo, lo bakal ngandung anak gue di dalem rahim lo."
"Nggak kalau gue yang mutusin."
'Hmm.'
"Apa maksudnya 'hmm'?"
"Gue bakal bikin lo janji lagi."
"Janji yang kayak gimana?"
Dia nyentuh bibir gue dengan tangan gue pas gue ngangkatnya ke dia.
"Jenis tempat yang nggak bakal gue tinggalkan. Dan lo ikut sama gue kalau gue pergi."