46
BAB EMPAT PULUH ENAM: HARI-HARI YANG TELAH BERLALU
SUDUT PANDANG ETHAN
Kita nginep di rumah sakit hampir lima hari, penuh dengan tes, CT scan, dan semua yang bisa dipikirkan dokter. Dan nggak ada satupun yang kasih cara biar dia inget.
Eya sama Zeth natap gue kayak mau motong-motong gue jadi potongan-potongan kecil setiap kali gue kekeuh mau nemenin dia padahal dia ngejauhin gue.
Sialan para dokter dan sialan mereka berdua. Nggak ada yang bisa ngalangin gue buat ketemu istri gue.
Sebagai pengawal keduanya, dia mulai akrab sama Eya. Dia bangun dan nanya tentang kakeknya. Pas mereka bilang kakeknya udah meninggal, dia nangis semalaman.
Walaupun gue duduk di deket pintu, gue bisa denger dia sesegukan dan napas panjang yang dia ambil setelah nangis. Gue dengerin dia sepanjang malam dalam diam, dan pas dia akhirnya tidur, gue diem-diem masuk kamar buat ngeliatin tubuhnya yang lagi tidur. Dia udah mulai tidur nggak nyenyak, dan gue pengen meluk dia dan ngapus air matanya, tapi kalo dia ngeliat gue nyentuh dia, dia bakal kena serangan panik yang bisa nyakitin dia.
Jadi gue diem aja sepanjang malam, kayak monster.
Dia inget dan suka sama hampir semua orang kecuali gue, dan itu nguras gue kayak asam perlahan tapi pasti. Waktu Firaun dateng buat nemuin dia, dia ramah sama Firaun. Geng elit tau kalo Rose ada di rumah sakit meskipun dia diem aja, dan mereka langsung tau kalo dia amnesia.
Tentu aja, Paman Raven, River, dan Hades juga dateng. Dia cuma bilang mereka udah tua.
Waktu Raven nanya tentang bayi kita, gue yakinin dia semuanya baik-baik aja. Tentu aja, dia nggak mau bahas itu sama dia karena dia tau itu bakal bikin dia nggak nyaman. Karena dokter nggak nyebutin apa-apa tentang itu karena dia nggak hamil, dia masih nggak tau. Lebih baik semuanya kayak gini sampe dia, mudah-mudahan, inget lagi.
Kartu-kartu Amber diacak sama musibah yang menimpa Rose, dan gue bisa liat keraguan di kaki gagaknya. Kalo Rose bisa inget sepuluh tahun terakhir hidupnya, dengan pendidikan dan pengalaman yang dia dapetin, dia bakal bisa ngumpulin uang yang dibutuhkan buat mendukung perjuangan melawan semua orang. Rose yang bikin perusahaan tetap berjalan.
Walaupun itu masalah, gue nggak peduli sama sekali.
Aleksander, pengawal terdekat Firaun, dan dia lagi ada di dalem. Meskipun gue udah ngasih peringatan buat dia berhenti muncul, dia balik lagi. Dia cuma masuk dan ngasih gue jari tengah.
Musuh terburuknya sebenernya udah nggak sadar dan nggak bakal nyakitin dia dalam jangka panjang, seperti yang Thorn bisa buktikan. Firaun, di sisi lain, bersikap kayak lintah dan mungkin sedikit terlalu seneng karena dia nggak inget gue. Gue berdiri di pintu dan dengerin obrolan mereka.
Eya, Zeth, Firaun, Thorn, dan Aleksander berjaga di dinding, sementara dua pemimpin itu duduk santai di sisi dia.
Rose pake pisau kecil buat ngilangin kulit apelnya dengan hati-hati sambil nanya Thorn
"Kamu ngapain di sini?"
Dia duduk di depan dia di meja rumah sakit. Untungnya, meskipun pake penyangga leher, dia keliatan lebih sehat. Gue nggak tau kita udah sedeket itu sampe kamu mampir.
Dia pake jari tengahnya buat ngerapiin kacamatanya. Firaun nunjuk dia dan bilang,
"Hei, brengsek."
"Persetan pergi dan diem."
Dia ngasih Firaun jempol dan terus ngadep Thorn.
"Dia lumayan. Kamu nggak."
'Bijak...Bijak banget, emang." Thorn ngeluarin rokok dan nyalain.
Dia ngomel, terus cemberut, "Nggak boleh ngerokok di rumah sakit.. Kapan terakhir kali kamu potong rambut?"
"Seminggu yang lalu. Kamu suka." Dia tetep nyalain rokoknya.
"Itu bikin kamu keliatan kayak orang udik."
"Kalo gue orang tua, kamu orang tua juga, Rose."
Sebelum ngadep Firaun, dia cekikikan. "Kamu mau kasih tau kenapa kamu di sini?"
"Gue cuma mau ngecek gimana keadaan kamu. Nggak bisa gitu?"
"Emang kamu pikir gue bakal percaya gitu aja?"
"Iya, Amber, gue bisa jadi orang yang baik."
"Mungkin, dan bahkan gitu, gue nggak bakal percaya, di alam paralel."
Firaun ketawa, "Aduh... Kasih dia lagi, Rose. Gue mau ngetes batas dari wajah poker dia."
Thorn nggak peduli sama dia dan muterin tubuhnya ngadep Rose.
"Gue denger kamu nggak inget."
Dia ngunyah sedikit apel dan diem.
"Nggak. Nggak sepuluh tahun terakhir, setidaknya."
"Apa itu berarti kamu nggak inget masuk klub gue, minum sampe hampir nggak sadar, terus joget gila-gilaan sendiri?"
"Gue nggak bakal pernah ngelakuin itu!" Dia ngeliatin Zeth yang nunduk.
Apa bener dia ngelakuin itu?
Gagasan kalo Rose mabuk di depan orang selain gue bikin tangan gue mengepal. Kalo dia minum, dia konyol dan imut banget. Rose miringin kepalanya ke samping.
"Iya, kamu ngelakuin...Kamu juga maksa buat nginep dan nggak pergi. Di salah satu kamar di atas, kamu pingsan."
'Iya? Terus apa?"
Dia menyipitkan matanya sebentar tapi cepet balik ke ekspresi kosongnya yang biasa, yang lebih baik daripada bermusuhan kayak dia.
"Kamu inget naksir gue waktu itu?"
Apa dia ngelakuin itu? Waktu Thorn ketawa, gue siap nonjok dia di hidung.
"Kamu bukan tipe gue, bahkan dalam mimpi."
"Kalo kamu ngerasa baru delapan belas tahun, gimana kamu bisa tau?"
"Gue bakal potong burung kamu sebelum ngebiarin kamu deketin gue. Kamu tau gue benci kamu, wajah kamu, kepribadian licik kamu, dan semua yang kamu lakuin buat dapetin kekuasaan."
Waktu Firaun mulai ketawa, gue nggak bisa nggak senyum sedikit.
Itu wanita gue.
"Jadi kamu nggak inget apa yang terjadi malam itu?" Thorn nanya.
"Nggak, tapi itu bukan berarti gue bakal naksir orang gila kayak kamu," katanya.
"Suami kamu dan suami gue sama, kan?" Thorn cekikikan.
Dia mengerucutkan bibirnya. "Gue nggak punya suami."
"Tapi kita semua ada di pernikahan kamu.'
Dia mendengus, "Gue nggak inget, jadi itu nggak terjadi."
"Itu semangatnya, Rai. Sejujurnya, kamu dan gue ditakdirkan buat bersama."
Gue udah mau meledak masuk dan ngelempar dia ke tanah karena darah gue mendidih.
'Beneran?"
'Beneran. Cinta dalam hidup kamu adalah gue. Kamu pertama kali ngeliat gue ngebunuh, dan itu waktu semuanya dimulai." Dia senyum, "Kamu bilang itu panas. Terus, banyak seks mesum terjadi."
Gue udah selesai sekarang.
Gue masuk, tangan mengepal di kedua sisi gue, "Kamu bakal mati mesum kalo kamu nggak keluar dari sini."
Rose tegang dan megang pisau lebih erat. Thorn berdiri dan ngasih dia senyum palsu.
"Kamu iblis kecil, gue berdoa semuanya nggak pernah membaik buat kamu."
Rose nyolot ke dia setelah ngasih jari tengah, dan Aleksander ngikutin dia keluar ruangan.
'Kenapa kamu nahan diri?"
Gue nunjuk ke arah Thorn.
"Kesel."
Dia narik napas dalam-dalam dari rokoknya dan ngeluarin asap tebal. "Bukankah itu suami yang nggak dia inget?"
Bajingan.
Dia senyum ke dia, "Hei, Rose...Gue nggak percaya sama birahi perawan, jadi ini kemenangan buat kita berdua. Satu-satunya alasan kamu nikah sama orang bodoh ini karena kamu dipaksa, jadi kamu bisa cerai dan balik lagi ke gue. Gimana menurut kamu?"
Gue berusaha nonjok dia, tapi dia nyela gue dengan suaranya. "Pergi sekarang. Kalian berdua."
Pada nada bicaranya, mata gue perlahan tertutup. Rose dan gue selalu punya perbedaan, tapi itu nyakitin gue karena dia terus nolak gue dengan kasar.
Thorn tersandung dan tersenyum ke gue saat dia dan pengawalnya pergi. Dia jalan di koridor sementara gue terus memelototi punggungnya. Dia inget orang brengsek ini, tapi nggak inget gue. Kenapa?
Dia melambaikan pisaunya ke pintu dan bilang, "Keluar."
"Kamu nggak bakal bisa ngusir gue selamanya. Gue suami kamu."
"Gue bisa cerai aja kalau gitu."
Gue menggertakkan gigi sebelum membukanya buat nggak kedengeran kesel.
"Hal terakhir yang dia butuhin itu. Kamu nggak bisa begitu aja nyerahin gue. Ingat kamu punya kewajiban ke persaudaraan."
"Zeth suruh dia keluar!"
Suaranya makin keras saat tangannya gemetar di sekitar pisau, "Gue bakal balik lagi," terus pergi dari kamar rumah sakit.
Gue duduk di salah satu kursi yang nggak menarik perhatian waktu bayangan besar nutupin gue. Gue ngeliat ke atas buat liat wajah Hades yang nggak menarik dan berdarah.
Hades setelah Firaun dan Thorn.. Sempurna banget.
"Ethan, kamu harus pulang."
"Gue nggak apa-apa."
"Kamu bau dan punya lingkaran hitam."
Jelas, gue iya. Sejak hari gue bawa dia ke sini, gue belum ganti baju dari piyama, dan gue nyuci baju di toilet rumah sakit. Karena gue harus menjaga sifat vigilant gue, gue juga tidur tegak di kursi.
"Kamu mau dia ngeliat kamu kayak gini?" Hades nanya, tapi jelas dia lagi b*llshit.
"Mandi, ganti baju, terus balik lagi. Dia nggak ke mana-mana."
Dia ngomong ke gue dengan cara yang gue rasa ofensif. Mereka semua lahir dengan aksen Rusia yang kotor itu.
"Gue bakal jaga di depan kamarnya sampe kamu balik. Dia udah tidur."
Gue ngintip dia sebentar. Tangannya terentang di bantal di atas kepalanya saat dia berbaring telentang dengan mata tertutup. Itu salah satu perilaku paling imutnya, yang kemudian dia rusakin.
Dia mungkin nggak bakal nerima gue sebagai suaminya lagi kalo dia beneran Rose dari sepuluh tahun yang lalu. Gue berusaha nyembunyiin fakta kalo itu ngiris gue dengan cara yang nggak enak.
Gue kasih isyarat ke Peter buat tetap di depan kamarnya selagi gue pergi.
"Kasih tau gue kalo ada apa-apa," gue bilang sambil mendekat.
Dia jawab dengan gumaman "Siap, Pak."
Dia anak muda yang nggak berguna dalam pertempuran, tapi dia mata-mata yang hebat. Gue bikin komitmen yang sungguh-sungguh saat gue keluar dari rumah sakit.
Kalo harus, gue bakal ngelakuin apa aja buat mastiin Rose inget gue.