50
TOB 50
SUDUT PANDANG ROSE AMARA
Pergelangan tangan gue ditahan di atas kepala sama Ethan, dia ngambang di atas gue dengan pahanya di kedua sisi gue. Dia ngejebak gue kuat banget, sampe sekeras apapun gue berusaha, gue bahkan nggak bisa mulai buat lepas dari cengkeramannya yang kejam.
Gue coba angkat lutut dan nendang dia di selangkangan, tapi dia malah nyengir seolah ngerasain niat gue dan malah neken kakinya ke paha gue. Gampang, macan.
Gue noleh sambil ngedumel. Gue perlu ngalihin pandangan dari dia sebentar. Ditambah lagi, gue cuma keinget perlakuan gilanya ke tubuh gue dalam posisi ini dan di kasur gue yang nyaman.
"Lo inget pertemuan pertama kita?" tanya Ethan dengan suara pelan, hampir serak.
"Nggak."
Dia ngebalik gue buat ngadep dia dan lembut megang dagu gue, bilang, "Bener. Lo hilang ingatan."
Dia mastiin gue ngeliat dia sebelum nyelipin ibu jarinya di bawah bibir bawah gue. Lo sama Nikolai, yang ngeselinnya Rusia banget dan suka nunjukinnya bahkan di pertunjukan balet, pergi nonton pertunjukan Swan Lake ini dari balet Eropa pertama kali gue ngeliat lo, sekitar sembilan tahun lalu.
Adrian juga nonton karena dia penasaran soal itu. Lo lagi gandengan tangan sama Nikolai dan pake sarung tangan putih yang sama kayak baju lo. Itu mengingatkan gue sama pemandangan jauh yang udah lama gue lupain, karena itu panjang dan berkilauan di cahaya.
Malaikat.
"Itu dari lukisan kesukaan bokap gue, bukan yang asli. Lo lagi ngobrol semangat soal pertunjukan itu sama Nikolai dan Adrian. Waktu dia dengerin lo, mata kakek lo keriput karena ketawa. Lo tau apa yang gue pikirin waktu itu?"
Ingatannya yang tenang tentang pertemuan pertama kita bikin bibir gue manyun selama dia ngomong.
Gue inget hari itu karena, meskipun gue mikir dia cuma satu lagi dari "pembunuh" Paman Raven, entah gimana gue tertarik sama sorot matanya dan gimana mata itu mulai menggelap seolah dia lagi berusaha narik semua orang ke dalam kehampaan itu.
Suara gue nggak pecah, tenang kayak dia, "Nggak." Gue lebih milih nggak tau.
Dia lanjut seolah gue nggak bilang apa-apa, "Gue mikir lo kayak putri mafia pada umumnya." Tapi gue langsung salah, setelah denger lo ngomong sama Nikolai.
Lo nggak sok berhak atau bertingkah kayak anak manja yang punya keuntungan; malah, lo jujur, tau apa yang lo mau, dan ngejar itu.
Nggak bakal ngerubah apa pun kalau cerita soal masa lalu, katanya.
"Bakalan, iya. Gimana lagi kita bisa kenalan lagi?"
"Kenapa kita harus?"
Gue nggak bakal biarin lo tidur pisah dari gue karena lo istri gue, dan gue bukan orang asing; kalau lo mau keakraban, gue bakal kasih itu ke lo.
"Gimana kalau gue butuh lebih banyak ruang?"
"Gue nggak mikirin luar angkasa. Kata itu dibuat sama pecundang yang nggak bisa ngerti diri mereka sendiri."
"Dan lo bisa?"
Dia bilang dengan percaya diri, "Gue bisa," sampe gue sendiri kaget.
"Terus gimana?"
"Lo bakal tetep nahan gue kayak gini?"
"Gue juga berbagi beberapa sejarah sama lo."
"Yang nggak mau lo dengerin, kata gue."
Pertama kali gue ketemu lo itu setelah balet. Lo udah nggak pernah nonton kayak gitu lagi karena itu mengingatkan lo sama Nikolai. Satu-satunya kali lo nonton setelah dia meninggal, lo ngumpet di pojokan dan keluar lagi dengan mata merah. Karena itu ngebuat lo lemah, dan lo nggak boleh lemah, lo berhenti nonton sama sekali. Sampe mana tadi? Oh iya, pertama kali gue ketemu lo itu setelah balet.
Dia seharusnya nggak tau itu. Gue mastiin Zeth maupun Eya nggak mikir gue kayak gitu.
"Jadi, Putri, itulah masalahnya. Gue nggak cuma ngeliat kekuatan lo, tapi gue juga ngeliat kelemahan lo. Nikolai minta gue buat jagain dia waktu gue nggak lagi dapet tugas sebagai sniper, jadi nggak bisa dihindari itu bakalan kejadian.
Meski lo bangga dan nggak mau ngakuinnya waktu lo butuh bantuan, lo cepet belajar. Karena lo nggak mau ninggalin gue sendirian, jelas lo nikmatin kebersamaan gue, dan saat itulah lo mulai punya perasaan ke gue."
Yang paling nyebelin adalah gue nggak bisa nentang dia, karena itu berarti gue inget, dan gue nggak jatuh cinta sama dia.
"Tapi, Putri, gue tipe yang disukai banget."
"Lo cuma bercanda, kan?"
"Kita bangun pagi-pagi setiap hari dan lari pagi; setelah itu, gue ngajarin lo cara nembak jarak jauh karena, seperti yang lo bilang, Hades guru yang jelek."
"Itu dia yang bilang, bukan gue."
Ya Tuhan.
Dia nyampur kebohongan dan kebenaran dalam bercerita dengan ahli banget. Kalau gue nggak tau ingatan gue sendiri, gue nggak akan mikir itu mungkin.
"Nggak perlu dikatakan lagi, lo makin lama makin cinta sama gue setiap hari. Apalagi setelah gue pada dasarnya nyelamatin adek lo. Gue nggak setuju sama semua itu."
Dia ngusap bibirnya ke bibir gue, dan gue ngerasain sesuatu yang beda dari semua kali dia nyium gue, tapi gue nggak bisa nemuin apa itu.
"Gue kan yang punya ingatan, inget?" katanya.
Meski Ethan selalu punya rasa dan bau yang unik, sekarang kayak gabungan dari kerinduan, keputusasaan, dan sesuatu yang lain.
Itu nggak berarti apa yang lo bilang beneran terjadi.
"Emang iya."
"Mungkin di mimpi lo."
"Di mimpi buruk gue, gue nusuk ke dalam *c* lo yang basah dan ngerasain efek cekikannnya, saat lo manggil nama gue. Mau gue tunjukin?"
Pipi gue tiba-tiba merah. Gimana dia bisa ngomong omong kosong kayak gitu dan tetep tenang? Gue berasa mau meledak.
"Biarin gue pergi."
"Lo suka kalimat itu, tapi lo harusnya udah tau kalau itu nggak berlaku buat gue. Gue harus terus nyentuh lo dan jadi bergairah."
"Itu bohong!"
Mata dia berbinar dengan tantangan. "Mau gue tunjukin buat lo?"
"Nggak!"
Dia lanjut, "Gue lagi pengen ngecek," saat jarinya lepas dari wajah gue dan ngeraih kain gaun gue.
S-t
Dia nggak bisa sedeket itu. Dia nggak bisa. Karena gue masih mutusin gimana gue bakal bales dia kalau dia lanjut.
"Lo mau maksa gue?"
"Apaan sih yang lo bilang?" tanyanya, berhenti, matanya yang biru gelap fokus ke gue.
"Kalau lo terusin, lo bakalan ngambil gue nggak dengan kemauan gue, karena gue nggak mau ini."
Dia ngulang, "Nggak dengan kemauan lo," seolah ngerasain kata-kata itu.
"Ya, lo nggak?"
Suaranya jahat banget sampe gue bisa ngerasainnya di tulang gue saat dia bilang, "Kalau gue mau *f-ck* lo, gue bakalan."
"Lo istri gue, Rose. Lo bikin sumpah, bilang 'Saya bersedia,' dan tebak apa? Gue percaya sampai mati kita *f-cking* pisah. Gue bisa dan bakal pake tubuh lo buat ngelawan lo sampe lo mohon sama gue buat lebih."
Detak jantung gue jedag-jedug kayak seribu bom dijatuhin bersamaan. Gue berusaha buat ngendaliinnya dan fokus sama situasi sekarang, tapi gue nggak bisa karena cara matanya nahan gue.
Dia bakal lakuin ancamannya, dan gue kurang kemauan dan stamina buat kabur. Gue nutup mata rapat-rapat buat nggak ngeliatin dia saat mulutnya ngambang satu inci di atas bibir gue.
Kalau gue nggak, mungkin semua akan berakhir dan—
Setelah nyentuh dahi gue dengan ciumannya, Ethan ngelepas gue. Gue ngedip, tapi sebelum gue bisa bales dengan bener, dia narik gue naik ke punggungnya supaya kepala gue bersandar di dadanya.
"Tidur dulu, Putri; lo capek. Kalau lo udah dapet kekuatan lagi, gue bakal urus lo."