45
BAB EMPAT PULUH – LIMA: AMNESIA?
SUDUT PANDANG ETHAN
Apa gue udah gila atau bini gue baru aja nanya gue siapa? Padahal gue baru aja nyentuh dia buat narik dia deket dan bikin kita berdua lupa kejadian pagi ini, gue nyentuh bahunya pelan sambil berusaha buat gak neken banget.
Dia tersentak, dan untuk pertama kalinya gue bisa liat keraguan di matanya. Matanya nunjukkin emosi yang belum pernah gue liat sebelumnya.
"Lo ngapain gue? Lo siapa?"
"Nama gue Ethan. Suami lo,"
Dia ngegelengin kepalanya pelan. Kayaknya dia pengen lebih, tapi penyangga lehernya bikin dia gak bisa.
"Gue gak kenal lo, dan lo bukan suami gue, itu pasti."
Gue genggam bahunya lebih erat biar bisa ngerasain kehangatan dia sambil ngomong lebih jelas.
"Rose, ini gue."
Gue tetep natap matanya karena gue butuh momen ini buat ngerasa nyambung sama Rai. Dia bisa aja ngerubah dirinya dan ngumpulin rambutnya biar jadi cewek yang diharapkan dunia luar, tapi waktu gue natap dalem-dalem matanya, gue bisa liat bara yang nyala karena rindu akan gairah.
Dia bersikap seolah gak tau apa-apa tentang gue. Dia ngerasa kayak orang asing nyentuh dia.
"Lepasin gue."
"Gue suami lo, Rose."
"Lepasin gue," dia teriak. "Dokter atau perawat! Tolong gue di sini."
"Gue gak bakal nyakitin lo."
Perawat dan dokter masuk, tapi mundur deket pintu waktu gue natep mereka berdua. Zeth dan Eya ngikutin, mata mereka nempel ke Rose.
"Tolong gue," tapi gue gak biarin dia bebas gerak.
Gue mulai kehilangan kesabaran karena terus mohon biar dia nyadar.
Dokter negur, "Anda gak boleh ngomong gitu sama pasien."
"Bodo amat. Lo gak punya hak buat ngatur gue ngomong dan berinteraksi sama istri gue kayak gimana."
Rose bilang, "T-tolong gue," air mata ngalir di pipinya. "Tolong, tolong...."
Mawar yang gue kenal bukan kayak gini. Dia gak bakal pernah mohon bantuan atau bahkan biarin orang lain liat dia nangis.
"Nona, butuh sesuatu?" Tatapan ragu Zeth beralih dari dia ke gue terus balik lagi ke dia.
Dia liat ke kita berdua terus balik ke pengawalnya seolah dia satu-satunya harapan dia buat nanya.
"Siapa semua orang ini, Zeth?" Dia narik napas panjang, kayak mau ngamuk, terus ngeluarin lagi. Suaranya pecah jadi histeris.
"Tinggalin mereka! Usir semua!"
Dokter pelan-pelan nyamperin dia dan bilang, "Nona, tenang, Anda harus...."
Dia ngulurin tangan buat nyentuh dia, tapi gue pegang pergelangan tangannya dan puter ke belakang, bikin dia kesakitan.
Rose teriak lebih keras karena itu.
"Pergi sekarang! Pergi sana!"
Dokter gagap tapi dia cukup pinter buat gak ngelawan gue, jadi gue biarin dia pergi. Gue bakal remukin pergelangan tangannya kalo dia macem-macem.
"Lebih baik lo pergi."
"Gak."
"Dia bisa kena serangan panik kalo lo gak pergi."
"Dia istri gue, dan gue gak bakal ninggalin dia, jadi bodo amat."
"Tuan, tetap di sini gak baik buat dia."
Bibirnya pucet banget, dan gemetarnya makin parah. Dia biasanya gak ngalamin reaksi yang hebat kayak gini, tapi meskipun gitu, dia kayaknya mau meledak. Gue gak boleh jadi penyebabnya.
Walaupun gue mau banget meluk dia, gue harus ngelepas dia buat sementara. Butuh semua kekuatan gue buat ngelepas dia, bangun, dan menjauh dari dia. Bahkan waktu gue jauh dari ranjangnya, dia tetep ngeliatin gue, jadi gue ngasih kode ke Eya dan Zeth buat ikut gue.
Dia teriak, "Zeth! J-jangan pergi."
"Iya, Nona."
Kenapa dia manggil dia tapi gak manggil gue? Bahkan Eya kayaknya kaget, tapi dia ngikutin gue keluar. Rose tetep sama dokter dan perawat, yang nenangin dia. Itu nenangin dia, keliatan dari naik turunnya dada dia.
Gue gak bisa gak terus merhatiin dari ambang pintu. Dia keliatan lembut dan sensitif banget, dan yang gue mau cuma gandeng tangannya dan lindungin dia. Waktu dokter keluar dari gedung, perawat nerusin obrolan mereka. Gue banting dia ke tembok setelah narik kerahnya.
"Apa yang salah sama istri gue?"
Gue gak bisa ngomong kalo lo gak ngelepas gue, Tuan. Gue dorong dia biar dia menjauh. 'Ngomong.'
Dia benerin kerahnya sambil mijit tengkuknya. 'Mr. Pendleton. Kelihatannya Amber amnesia selektif.'
"Karena dia jatuh?"
"Iya, kami pikir jatuhnya bikin ada pembengkakan di otaknya, makanya dia amnesia," jawab dokter.
"Apa fakta bahwa lo nyebut selektif berarti dia bakal segera inget lagi?"
"Gak, selektif berarti sebagian memorinya hilang."
"Bagian mana?"
"Dia kelihatannya lupa semua yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir, berdasarkan pertanyaan awal kami."
"Apa?"
"Nyonya Amber memperkirakan umurnya delapan belas tahun. Jadi dia gak bisa inget apa yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir. Itu juga berlaku buat semua orang yang dia temui waktu itu."
Sepuluh tahun lalu, gue belum ketemu dia. Masuk akal kenapa dia ngira gue orang asing.
"Gimana dia bakal inget lagi?"
"Sayangnya, amnesia gak bisa disembuhin. Untungnya, gak sepenuhnya permanen." Gue gak kelewatan cara dia nekenin soal dukungan.
"Kalo dia dikelilingi keluarga dan teman yang pengertian, dia mungkin bisa inget lagi."
"Berapa lama dia butuh waktu buat inget?"
"Untuk itu, gak ada jawaban pasti. Beberapa hari atau beberapa dekade juga mungkin. Dia kemungkinan besar gak akan pernah bisa dapetin lagi ingatan yang hilang itu."
Dia nambahin, "Satu lagi."
"Apa?"
"Semuanya udah berubah buat dia, dan 10 tahun itu jeda yang besar buat cewek seusianya, jadi dia butuh waktu dan perhatian buat masuk lagi ke dunia luar."
Gue ngangguk cepet. "Tapi, apa dia luka fisik?"
"Dia gak ada luka serius selain cedera leher, yang harusnya sembuh dalam beberapa hari."
Gue gak peduliin dokter dan langsung ke kamar Rose.
'Tuan?'
'Apa?'
Gue berhenti tapi gak masuk.
"Lebih baik kalo Anda gak masuk. Dia bereaksi keras sama Anda, dan kalo dia kena serangan panik waktu dia bener-bener bingung, itu bisa berdampak buruk pada kesehatannya. Tolong minimalisir interaksi Anda dengannya untuk sementara."
Gue genggam tangan gue di sisi gue tapi gak masuk. Gue ambruk di kursi di depan kamar dokter waktu dia keluar. Tapi, gue gak akan pernah bisa membahayakan kesehatannya karena gak mungkin gue bisa ngelawan dia.
Gue terus merhatiin dari jendela. Berdiri di samping ranjangnya dengan kedua tangannya terangkat. Dia udah ada di sisinya lebih dari 10 tahun, makanya dia gak nolak dia kayak dia nolak gue Eya.
Dia dan Hades terus-terusan ada, ngumpet di bayangan.
Gue bilang, "Eya," tanpa ngalihin pandangan dari Rose, "Ambilin apa aja yang dia butuhin buat di rumah sakit, termasuk baju."
Dia gak berusaha buat pergi.
"Mau pulang buat istirahat? Pasti sakit kalo lo cedera," dia bilang. "Gue jagain di sini."
Gue angkat tangan dan bilang, "Gue gak papa. Jangan kasih tau siapa pun anggota keluarga tentang keadaannya, tapi minta Om Raven buat ngirim lebih banyak pengawal ke sini sampe dia keluar. Rose gak mau mereka liat dia dalam posisi yang rentan kayak gini."
Waktu dia keluar dari rumah sakit, dia ngangguk. Kalo Rose gak liat gue sekarang, gue gak peduli. Gue tetep di sini sampe dia pergi.
Hal yang nusuk di dada gue udah kayak mau meledak sejak gue liat dia tergeletak di bawah tangga. Cuma dia satu-satunya yang bisa bikin gue kayak gini.
Rose.