Bab 97
'Keis!" teriak Oli waktu anak laki-laki itu berlari ke arahku dan tersandung ke pelukanku.
'Kangen, ya, Sayang!" Aku menjerit, memeluknya erat dan mengayunkannya. Kakinya bergoyang dan dia cekikikan kegirangan.
Kami udah sama Oli sejak dia umur setahun dan dia anak pertama yang kami asuh. Aku langsung luluh sama anak kecil ini.
Dia mengingatkanku banget sama Pio waktu dia makin gede. Hati aku berdebar ngelihat semua senyum cerah mereka, tahu kalau aku berkontribusi buat kebahagiaan mereka.
Aku menaruh Oli waktu yang lain mulai mengincar camilan itu kayak anak singa kelaparan.
'Oke anak-anak! Kalian tahu peraturannya, semua orang dapat jumlah yang sama jadi jangan ambil permen orang lain!" Ibu Kol berteriak sebelum mengangguk ke Adam, jadi dia bisa mulai membagi mangkuk.
Mereka semua mengerumuni Adam saat dia mencoba mengikuti tangan mereka yang meraih. Ngeliat dia sama anak-anak itu nggak pernah gagal bikin aku meleleh.
Aku duduk di samping Ibu Kol sambil ngelihat pacarku menghibur anak-anak yang masih di situ bahkan setelah dia nggak punya lagi mangkuk berisi permen.
'Gimana kabarmu, Sayang?'
Aku menoleh ke Ibu Kol sambil tersenyum, 'Aku baik, Lionett. Gimana kabar anak-anakmu?'
Di dalam hati aku penasaran banget gimana kabar saudara laki-laki Kol yang cacat. Aku udah tahu kalau namanya Raian.
Beberapa bulan setelah aku ngasih uang ke Kol, dia membagi uang itu buat memenuhi kebutuhan semua saudaranya, termasuk Raian. Dia dapat bantuan profesional buat Raian dan sesekali, Kol bakal cerita ke aku tentang perkembangannya.
Aku berhasil menghindari Raian sebisa mungkin bahkan setelah dia pindah ke rumah ini, takut kalau aku bakal memicu trauma di dirinya.
'Anak-anak baik-baik aja! Aku beneran nggak bisa cukup berterima kasih udah ngasuh mereka, Sayang. Kamu nggak tahu berapa banyak beban yang udah kamu angkat dari pundakku dengan menutupi kebutuhan mereka.' Lionett memuji sambil menggenggam tanganku dan meremasnya ringan.
Aku bisa ngelihat betapa bersyukurnya dia dan aku nggak bisa menahan diri buat nggak meneteskan air mata sedikit.
Setelah tahu kalau Kol membagi uang buat bikin Raian dapat bantuan profesional, aku masukin saudara-saudaranya yang diadopsi ke dalam daftar anak yatim piatu yang tinggal di rumah biar bisa menutupi kebutuhan finansial mereka dan ngasih Kol beberapa bonus sesekali.
Lionett salah, aku tahu seberapa banyak beban yang udah aku angkat dari pundaknya; karena akulah yang menaruhnya di sana.
Sampai hari ini, rasa bersalah atas apa yang aku lakuin ke anaknya belum ninggalin aku dan Kol nggak pernah ngebolehin aku ngaku ke Lionett. Aku nggak pernah mempertanyakan kenapa dan cuma berasumsi kalau itu mungkin buat mencegah dia nanya pertanyaan yang jawabannya lebih baik kita lupakan.
'Gimana kabar Raian?' Aku menyelidik lebih lanjut waktu aku nyadar dia nggak nyebutin dia.
'Dia makin baik setiap hari, Sayang,' Lionett meyakinkan sambil menepuk tanganku ringan.
'Aku senang denger itu,' Aku mencoba menyembunyikan seberapa besar aku terpengaruh sama kabar baik itu dengan menampilkan senyum kecil dan menahan air mata.
Adam dan aku menghabiskan sisa sore itu bersantai dan menghabiskan waktu sama anak-anak. Setelah bantu Lionett masak makan malam, Adam dan aku pamit ke semua orang.
'Yakin nggak mau nginep buat makan malam?' Kol nanya lagi waktu dia nganterin kita ke pintu.
Aku tersenyum padanya saat kita melangkah ke beranda.
'Yakin kok, Kol.' Aku menolak sambil memeluknya singkat. 'Kita ada rencana di tempat lain sebentar lagi jadi harus pergi.' Aku jelasin lebih lanjut sambil Adam ngasih Kol anggukan.
Kita nggak punya rencana spesifik, tapi Adam ngikutin kata-kataku. Aku nggak mau ngabisin makanan yang seharusnya buat makanan anak-anak.
'Oke, main lagi ya! Anak-anak kangen kalian,' Kol melambai saat Adam dan aku mulai berjalan ke mobil.
'Siap!' Adam berteriak di atas bahunya saat dia membuka kunci mobil.
Waktu kita keluar dari halaman, aku menoleh ke Adam dan nanya, 'Kamu mau makan apa?'
Dia menatapku dengan tahu sambil aku tersenyum padanya.
'Gimana kalau kita lakukan sesuatu yang beda malam ini?' Dia nanya waktu dia berhenti di drive-thru McDonald's terdekat.
Aku nggak nanya dia begitu aku ngelihat ekspresi di wajahnya. Dia mungkin punya sesuatu di balik lengan bajunya.
Kita pesan makanan dan ngambilnya dari jendela berikutnya sebelum pergi.
Adam parkir di dekat taman sebelum keluar dan ngebukain pintu buat aku.
Nggak banyak orang di taman malam ini karena udah cukup larut. Satu-satunya orang yang berkeliaran cuma pasangan.
Dia menggenggam tanganku dan ngebimbing kita ke taman tempat kita duduk di bangku. Kita buka kantong kertas cokelat dan mulai makan.
Aku menggigit burgernya dan meletakkan kepalaku di bahu Adam sambil aku mengunyah.
Laki-laki ini tahu aku banget. Aku lebih milih ini daripada makan malam di restoran mewah kapan aja. Makan makanan cepat saji di taman, di mana nggak ada orang yang menilai kamu karena kurangnya etika makan.
Setelah selesai makan, kita buang sampah kita dan mulai jalan-jalan dan berkeliling taman. Cuma ada beberapa tiang lampu tapi langit cerah dan bulan ngasih pencahayaan yang cukup buat kita bisa ngelihat dengan benar.
'Kamu inget waktu pertama kali kita ketemu?' Adam nanya waktu kita jalan bergandengan tangan.
'Iya. Ya Tuhan, ngelihat ke belakang, agak klise sih. Si kutu buku menarik perhatian cowok ganteng, yadda yadda yadda. Kamu juga posesif banget,' Aku ngejek dia dengan senyum nakal.
Adam memutar matanya padaku tapi bibirnya membentuk senyuman.
'Ya, aku ingetnya beda banget,' kata Adam. Aku bersenandung sebelum aku nyadar apa yang dia bilang dan berhenti mendadak.
'Apa?' Aku bersuara, hampir nggak terdengar, berbalik buat ngelihat dia.