BAB 28
"Jadi gimana sama lo dan Ronan?" Harley tiba-tiba nanya, bikin alisnya berkerut pas dia ngelihat ke arahnya. Ingat lagi soal situasi sama Ronan. Dia nggak punya waktu buat beresin itu, soalnya dia harus ngurusin tugas-tugas sebagai alpha. Ditambah lagi, dia belum bilang ke orang tuanya, kebanyakan karena itu topik yang sensitif banget dan dia nggak mau jelasin banyak-banyak ke siapa pun.
"Lo nanya karena gue nge-pressure lo?" Dia nanya dengan kerutan dalam di dahi, pas dia natap dia dengan bibirnya yang tipis membentuk garis lurus. Dia bisa lihat jelas di matanya kalau dia nggak bakal berubah pikiran soal pertanyaan itu.
"Lo nggak cerita ke siapa-siapa. Beneran mau cerai?" Dia nanya pas dia menjauh dari dia dan jalan ke arah jendela, nggak mau nunjukkin wajahnya yang sakit di depannya. Dia cuma nggak suka kelihatan lemah di depan siapa pun, apalagi Harley, soalnya dia tahu Harley selalu menganggap dia sebagai lawan yang kuat.
Kalau dia nangis, dia cuma bakal kelihatan lemah di mata Harley, sama kayak tadi malam. Jadi dia pengen nunjukkin kekuatannya lagi pas sparing ini biar Harley masih tahu siapa yang lebih kuat.
"Gue belum berubah pikiran soal itu." Dia bilang sambil mulai bikin lingkaran di kaca jendela, nahan air mata pengkhianatan. "Gue bakal cerai sama dia besok, soalnya gue sibuk dan capek banget hari ini. Lagian dia nggak ada juga, jadi gue nggak bisa cerai sebelum dia balik dari berburu sama pemburu lainnya." Dia menghela napas gemetar, meraih untuk menghapus air matanya. "Ya ampun... Kenapa gue takut banget soal ini...?" Dia nanya, lebih ke dirinya sendiri dan Harley mengerutkan alisnya ke arahnya, tahu dia kena banget efeknya dari Ronan. Tentu aja dia nggak bakal sesakit itu, soalnya dia yang jadi penyebabnya. "Gue nggak tahu kenapa, tapi gue punya firasat bakal sendirian seumur hidup. Satu-satunya cowok yang gue ajak ngobrol cuma Ayah, Saudara laki-laki Hope, lo, dan Ronan. Jarang banget cowok lain dan punya orang asing baru buat jadi pasangan gue lagi bikin gue ngerasa dia bakal sama persis kayak Ronan." Dia berdeham, sementara Harley tetap di tempatnya, cuma dengerin apa yang mau dia katakan, tahu dia nggak seharusnya banyak ngomong soal itu soalnya dia bakal marah pada akhirnya kalau dia nyoba nyerang Ronan.
Hope tetep seorang wanita di balik semua keberanian dan harga dirinya. Sama kayak semua wanita, dia pengen ngerasa dicintai dan dilindungi, meskipun dia diharapkan melindungi semua orang sebagai alpha. Dia harus ngurusin seluruh desa. Cowok-cowok dan cewek-cewek dan anak-anak di desa semua di bawah perlindungan dan perhatiannya. Tapi Harley bisa tahu dia juga butuh seseorang buat ngurusin dia di saat yang sama.
Seseorang yang bakal melindunginya dan merawatnya kayak dia ngelakuin itu buat desa.
Seseorang yang dia bakal ngerasa aman dipeluk di lengannya di malam hari. Seseorang yang bakal bantuin dia lepas dari semua stres seharian dan ngerasa kayak anak kecil yang diperhatiin. Seseorang yang nggak bakal nganggap dia sebagai alpha, tapi sebagai istri.
"Lo takut ketemu orang baru?" Harley nanya sambil natap punggungnya saat dia bergerak sedikit di tempatnya dan ngangguk.
"Gue nggak mau ngalamin proses kenalan sama orang baru lagi." Dia bilang agak pelan, tapi cukup buat Harley denger. "Tapi gue pengen keluarga besar kayak orang lain. Gue pengen jadi istri dan ibu di saat yang sama. Gue pengen latih anak cowok gue dan anak cewek gue juga. Ronan orang yang gue kira bakal ngasih semua yang gue mau. Dia baik banget sama gue, mungkin agak pendiam, tapi dia nggak pernah mukul gue, nggak sekali pun. Dia nggak pernah bentak gue dan selalu memperlakukan gue kayak anak kecil kadang-kadang kalau dia mau ngeyakinin gue soal sesuatu. Tapi gue cuma nggak tahu siapa dia sebenarnya, makanya gue ada di sini mikirin ini sekarang. Gue nggak bener-bener kenal Ronan yang gue kira gue kenal."
"Kalau lo... Mau milih seseorang buat dinikahi sekarang. Siapa?" Harley nanya sambil ngerasa tenggorokannya tercekat, nunggu jawabannya sambil dia diam aja beberapa saat sebelum mengangkat bahunya.
"Siapa pun yang mau nikah sama gue sekarang bakal maksa gue buat mundur dari posisi alpha, atau, mereka nggak mau nikah sama gue sama sekali karena takut dipanggil lebih lemah dari istrinya." Dia terkekeh pelan sambil berbalik buat natap dia. "Maksud gue... Gue kan bukan Luna kan? Gue alpha. Jadi dia bakal dipanggil apa?"
"Ada benernya juga." Harley terkekeh sambil mikirin penggantinya. "Gue tebak cuma suami."
"Tepat." Dia tersenyum sedikit sambil ngangguk. "Itu bakal memalukan, bahkan buat gue kalau gue cowok."
"Gue nggak mikir gue bakal malu soal itu." Harley mengangkat bahunya sambil ngelihat ke lantai. "Gue nggak malu jadi beta dengan lo jadi alpha, lebih kuat dari gue. Malah, itu bikin gue kagum banget sama lo dan bikin gue pengen terus bantuin lo tetap jadi yang terkuat selama gue bisa. Ngelihat lo menang setiap kali berantem di pemilihan itu bikin gue semangat dan bangga di saat yang sama. Cara lo ngadepin mereka bener-bener... Ya ampun gue bahkan nggak bisa jelasin semangat yang gue rasain ngelihat lo menang." Dia tersenyum sambil ngelihat dia, cuma buat nyadar dia lagi natap dia dengan mata lebar. Kayak kaget dia ngomong apa yang dia omongin. "Gue kagum sama lo, Hope. Bukan dalam cara yang cemburu, cuma dalam cara yang bikin gue pengen lo terus jadi lebih kuat dari cowok mana pun di sekitar dengan gue jadi tangan kanan lo."
"Gue cinta sama lo, Harley." Hope bilang terengah-engah, bikin wajahnya memerah. "Maksud gue sebagai sahabat terbaik lo, tentunya. Kalau lo cuma cowok yang gue lagi dalam hubungan romantis, gue rasa gue udah jatuh cinta sama lo."" Dia terkekeh sambil bergegas ke arahnya dan melingkarkan tangannya di lehernya. "Lo tahu, kadang-kadang gue pengen lo punya duplikat yang bakal gue cintai." Dia berbisik sambil memejamkan mata, akhirnya ngerasa lebih baik dengan perceraiannya.
Dia natap ke depan sambil napasnya tersangkut di tenggorokannya.
Tepat seperti yang dia katakan. Seandainya dia punya duplikat yang akan dia cintai. Bukan Harley.
Cuma karena dia nggak ngelihat dia sebagai seorang pria.
Itu sebabnya."