BAB 9
Sudut Pandang Mig
Kami berdua jalan ke sofa… Atau lebih tepatnya, gue jalan sementara dia pincang. Kami duduk dan senyum merekah di wajah gue.
Pikiran tentang Elva yang nggak ngehindar dari gue bahkan setelah ngeliat itu… Gue ngerasa seneng ada seseorang selain Fleur dan orang tua gue yang nerima gue apa adanya.
Dia beneran bikin gue kaget, gue kira dia bakal ambil tasnya dan pergi, tapi gue salah…
"Sekarang kamu keliatan lebih imut kalau senyum," kata Elva dan gue malah makin nyengir lebar.
"Eh, kamu blushing," katanya sambil ketawa.
"Nggak," gue bohong.
"Bohong, gue liat kok," dia ngejek dan gue cekikikan.
"Fleur mana?" gue tanya.
"Oh… Dia lagi ada urusan darurat," kata Elva.
"Ohh… Gimana kalau kamu ikut gue ke dapur, kita bikin sarapan, meskipun udah telat banget buat dibilang sarapan," kata gue dan dia senyum.
"Oke," Dia berdiri, pincang di depan gue menuju dapur.
……………
"Elva, duduk aja, gue yang masak," kata gue.
Geser bangku dapur ke arahnya.
"Nggak, aku mau bantu," katanya dan gue geleng-geleng kepala.
"Harusnya sih gue izinin kamu bantu, tapi pergelangan kaki kamu masih sakit dan kamu nggak bisa pincang ke sana kemari di dapur… Duduk aja dan liatin gue, oke?" gue bilang dan dia ngangguk sambil duduk.
"Sekarang mau bikin apa ya?.. Sup, kaserol, salad bayam… Gue lumayan jago masak semua masakan," gue pamer.
"Beneran?" dia tanya.
"Iya, Ibu ngajarin gue semua yang perlu gue tau," kata gue dengan bangga.
"Oke, aku mau kamu bikin…" kata Elva.
"Apa?" gue tanya.
"Chicken Casserole," katanya.
"Ohh.. Itu paling gampang di antara semua," kata gue dan mulai ngambil bahan-bahan buat chicken casserole.
Gue taruh di meja dapur dan pake celemek.
Elva terus merhatiin setiap gerakan gue dan senyumnya ngasih gue semangat.
"Wah.. Aromanya menggoda, Mig, kamu koki yang jago banget," kata Elva dan gue senyum.
"Makasih."
Makanan udah siap dan sekarang gue bagiin ke dua piring, gue sisain buat Fleur.
Gue taruh dua piring kaserol di baki.
"Biar aku bantu bawain," kata Elva udah turun dari bangku, dia ambil dari gue sebelum gue bisa protes terus jalan pincang ke ruang makan…
Gue ambil dua botol air dan gelas setelahnya.
Kami duduk berhadapan di ruang makan…
"Nah, sekarang, mari nikmatin makanan yang disiapin chef Mig," kata Elva sarkas dan kami cekikikan.
Kami mulai makan dan gue bisa liat dia ngangguk-ngangguk kepala sesekali… Dia jelas-jelas nikmatin Chicken Casserole gue.
"Yummy.. Rasanya enak banget," kata Elva.
"Tentu aja… Jangan lupa gue seorang chef dan bukan sembarang chef, salah satu chef terbaik," gue pamer dan kami terkekeh.
Kami selesai makan dalam hitungan menit.
"Elva, gue mau tunjukkin kamu keliling rumah, tempat-tempat yang nggak sempet ditunjukin Fleur ke kamu," kata gue.
"Ohh… Beneran? Kalau gitu, ayo. Aku mau liat sekarang," katanya.
"Nggak bisa," kata gue dan wajahnya cemberut.. "Nggak enak kalau kamu masih pincang, tunggu beberapa hari lagi baru kita jalan," kata gue dan dia ngangguk.
Gue berdiri dan mulai ngeberesin piring-piring kosong ke baki buat dicuci.
"Aku aja yang cuci," kata Elva udah mau bangun buat ngambil dari gue.
"Nggak Elva, duduk aja. Gue yang cuci," kata gue.
"Berhenti anggap aku kayak orang yang diamputasi, aku mau pake tangan buat nyuci piring bukan kaki… Kamu yang masak, aku yang bantu cuci piring.. Tolong," dia mohon.
Gue nyerah setelah dibujuk-bujuk, gue biarin dia nyuci piring sementara gue balik ke ruang tamu, gue duduk di sofa, ambil novel gue dan lanjut baca dari halaman terakhir.
Elva nyusul gue beberapa menit kemudian, dia juga ambil novelnya dan lanjut baca.
"Gue pulang… Dua kutu buku novel," Kami denger dan ngeliat ke atas.
Bersambung..