BAB 7
Sudut Pandang Elva
'OMG Elara lagi gebukin Nicky!' kataku, mengacu pada novel yang sedang kubaca. Aku tertawa terbahak-bahak di sofa.
'Iya, Nicky itu pecundang,' kata Mig.
Aku pengen banget pipis, tapi nggak tahu gimana bilangnya ke Mig, aku nggak bisa jalan sendiri dengan baik dan nggak mau ganggu dia, nggak ada pilihan lain sekarang.
Aku berdehem.
'Hmm..Mig, bisa tolong bantu aku ke kamar mandi, aku bener-bener pengen pipis,' gumamku.
'Ohh..Oke,' katanya.
'Maaf banget udah ganggu kamu,' kataku.
'Kamu nggak ganggu aku, oke?..' Dia berdiri dari sofa dan mau menggendongku.
'Aku bisa kok cuma nyender di kamu buat pegangan,' kataku, meskipun sebenarnya pengen banget dia gendong.
'Ohh..Beneran? Yakin bisa ngesot ke kamar mandi, kamu udah kebelet banget pipis dan ngesotnya pasti lama banget, jadi kamu nggak bakal pipis di celana pendek cantiknya kamu,' katanya bercanda dan kami berdua tertawa..
Akhirnya dia menggendongku di lengannya sebelum membawaku ke kamar mandi..
Ah…Aku bisa ada di pelukannya selamanya.
'Kalau udah selesai, panggil aja aku. Aku di depan pintu,' katanya setelah menurunkanku di kamar mandi.
'Makasih Mig,' kataku sebelum dia keluar, dia menutup pintu di belakangnya.
Aku menurunkan celana pendekku dan menurunkan bokongku ke dudukan toilet yang bersih.
Aku selesai pipis, aku memutar keran untuk menyiram pipisnya, setelah itu, aku ngesot ke wastafel.
Sambil cuci tangan, aku lihat ke luar jendela dan hampir gelap.
Aku panggil Mig setelah selesai, dia masuk dan menggendongku lagi..
Uhm..
Dia menurunkanku di sofa dan duduk di sampingku.
'Makasih Mig,' kataku dan dia mengangguk.
'Nggak nyangka udah hampir gelap,' kataku.
'Iya, kalau udah keasyikan sama sesuatu, kamu jadi lupa waktu,' katanya.
'Ohh, dan kita keasyikan sama apa?' tanyaku sarkas.
'Novel,' kami bilang barengan dan tertawa.
'Tapi Mig, novel ini lebih seru dari yang aku kira,' kataku.
'Iya, itu yang bikin jadi novel terbaikku dan kamu belum nikmatin, tunggu aja sampai kamu dapat bagian balas dendamnya, baru deh semua kekacauan dimulai,' katanya.
'Beneran?' tanyaku penasaran.
'Tentu saja.'
'Nggak sabar!' kataku, mengambilnya dan melanjutkan dari tempatku berhenti.
***
'Aku pulang!' Kami dengar dan mengangkat kepala.
Aku senyum melihat Perawat Fleur berjalan ke arah kami dengan dua tas belanja yang hampir penuh.
Semoga bukan buat aku dia beli barang-barang itu… Maksudku, dia udah banyak ngeluarin uang buat aku.
'Selamat datang, Fleur,' kataku.
'Selamat datang, sis,' kata Mig.
'Makasih semuanya, Elva gimana kabarnya sekarang?' tanyanya.
'Jauh lebih baik, makasih,' kataku.
'Gimana kerjaan hari ini?'
'Stres kayak biasanya,' katanya, duduk di sofa terdekat…'Aku capek banget dan lapar,' tambahnya.
'Maaf,' gumamku.
'Makasih Elva,' katanya, menarik rambutnya dari wajahnya.
'Aku siapin meat loaf buat kamu, tinggal kamu panasin di microwave dan makan,' kata Mig.
'Ohh..Mig, aku capek banget, bisa tolong lakuin itu buat aku?' Perawat Fleur merengek, menyatukan telapak tangannya, lalu mengusapnya perlahan sebagai permohonan kepada Mig yang cemberut.
Aku terkekeh dalam hati..
'Tolong, bro,' kata Perawat Fleur.
'Oke..oke, kamu emang jago banget bikin muka memelas kayak gitu,' dia mencibir main-main, berdiri dan berjalan ke dapur.
'I love you bro!' Perawat Fleur berteriak dan tersenyum.
' I Love you more sis!' Mig berteriak dari dapur.
'Elva, aku beliin kamu perlengkapan mandi, handuk badan, losion badan, losion rambut, piyama dan beberapa baju sama yang lainnya,' kata Perawat Fleur.
'Makasih banyak Perawat Fleur, tapi itu kebanyakan, pasti mahal banget,' kataku.
'Nggak apa-apa kok,' katanya sambil tersenyum.
'Makasih banyak Perawat Fleur,' kataku.
'Nanti aku bantu kamu masukin ke kamar kamu,' katanya dan berdiri, menarik tas belanja bersamanya.
'Makasih,' kataku, merasa bersyukur banget punya orang-orang yang peduli di sekitarku.
Perawat Fleur balik ke ruang tamu, sekarang udah pakai celana pendek yang nyaman dengan polo shirt besar dan sepatu kelinci.
Dia duduk di sampingku di sofa.
'Mig udah panasin meat loaf?' tanyanya keras-keras.
'Udah siap, lagi mau aku siapin,' kata Mig.
'Oke.'
'Elva, ada yang sakit selain kepala dan pergelangan kaki?' tanya Perawat Fleur.
'Nggak ada, Perawat Fleur,' kataku.
'Ini dia,' kata Mig menyerahkan sepiring meat loaf dengan segelas air ke Perawat Fleur.
'Makasih, bro,' Perawat Fleur menerimanya dan mulai makan dengan lahap.
Ohh..Dia pasti laper banget.
'Aku balik ke dapur mau bikin makan malam,' kata Mig.
'Oke, kamu yang terbaik,' kata Perawat Fleur dengan mulut penuh.
'Aku tahu kamu denger ini terus, tapi kamu emang kakak terbaik di dunia ini,' kata Mig.
Dia tersenyum kecil ke arahnya sebelum balik ke dapur, Perawat Fleur menyeringai.
Aku jadi iri…Apakah keluargaku semanis ini?
Apa aku punya saudara? Aku berpikir keras mencoba mengingat, tapi aku merasakan sakit yang tajam menusuk kepalaku.
'Aduh!' aku berteriak kesakitan.
'Kamu nggak apa-apa?' tanya Perawat Fleur khawatir dan aku mengangguk.
'Iya, cuma ngerasain sakit yang tajam menusuk kepala,' kataku.
'Waktu kamu lagi maksain diri buat ingat sesuatu kan?' Perawat Fleur bertanya dan aku menatapnya kaget.
Aku mengangguk perlahan.
'Tapi aku udah bilang jangan kayak gitu, itu bisa bikin beberapa masalah kesehatan dan juga bikin amnesia kamu makin lama,' katanya.
'Maaf, aku nggak bisa nahan diri,' kataku.
'Kamu nggak perlu minta maaf, aku ngerti banget kok,' katanya dan aku mengangguk..
Dia terus bikin aku sibuk dengan obrolan kerja sampai makan malam siap!
**
Kita selesai makan malam pedas yang dibuat Mig.
Mig juga jago masak banget.
Kita mengucapkan selamat malam dan Mig menggendongku ke kamarku, dia menurunkanku di tempat tidurku dan berbalik untuk pergi.
'Makasih banyak Mig,' kataku…
Dia tersenyum sebelum keluar, menutup pintu di belakangnya.
Aku melihat barang-barang yang dibeli Perawat Fleur buat aku di sofa dan aku menyeringai makin lebar.
‘Kenapa nggak coba pake piyamanya ya’ pikirku dan berdiri dari tempat tidur ngesot perlahan ke arah sofa..
Aku mengeluarkan isi tas belanja di sofa dan tersenyum..Semuanya kelihatan cantik dan berwarna-warni banget.
Perawat Fleur emang jago milih yang terbaik.
Aku berhasil merapikannya di lemari tapi meninggalkan piyama pinknya.
Aku melepaskan pakaianku dan buru-buru memakai piyama.
Wow, rasanya kayak di surga.
Aku ngesot balik ke tempat tidur sambil tersenyum terus…Piyamanya terasa lembut dan bebas di kulitku..
Aku merangkak di bawah selimut, berbaring nyaman sebelum menyalakan lampu samping tempat tidur.
Aku menguap keras sebelum tertidur.