BAB 56
Minggu depannya
Sudut Pandang Elva
Aku masuk ke bangsal, kelihatan sedih.
Aku pergi hari ini.
Aku nggak akan ketemu anak-anak lagi.
Anak-anak lari nyamperin aku dengan gembira.
'Selamat pagi Elva' Mereka menyapa dan aku balas dengan anggukan kecil.
Mereka nggak tahu aku bakal pergi hari ini.
Aku jalan ke mejaku dan naruh tas, terus duduk.
Kenapa sakit banget sih.
Mereka ngikutin aku ke tempat dudukku dan mereka semua berdiri di depanku kelihatan khawatir.
'Elva kenapa?'
Kamu nggak enak badan ya?
Kamu udah makan?
Ada yang bikin kamu kesel?
Kita ya?' Mereka nanya dan aku nggak tahu air mata darimana datangnya.
Aku ngesot dan cepet-cepet ambil sapu tangan, berusaha keras nyembunyiin air mata tapi mereka lihat.
Aku ngelihat ke atas dan kaget ngelihat mereka juga nangis, wajah mereka kelihatan sedih.
'Aku nggak apa-apa, Cuties, berhenti nangis ya?' Aku bilang berusaha nahan tangisan lain yang mau keluar dari pipiku.
'Kamu masih nangis' Mitch ngesot.
'Elva kenapa?' Dan nanya.
'Aku..a..aku..aku pergi hari ini' Aku bilang terus pecah nangis keras.
'Pergi?
Kemana?
Jangan pergi dong' Mereka nyanyi bareng.
'Aku juga nggak mau pergi tapi Nyonya Morgan bakal masuk besok' Aku bilang.
'Kita nggak mau Nyonya Morgan lagi, kita mau kamu tolong jangan pergi' Mitch bilang dan yang lain ngangguk dengan air mata yang keluar dari mata imut mereka.
'Aku harus pergi..aku dipekerjakan di sini sementara, dan aku harus pergi kalau waktunya udah tiba. Aku bakal sering jengukin kalian ya?' Aku bilang.
'Nggak, nggak, kita mau kamu. Tolong jangan pergi..Nyonya Morgan bisa jadi guru siang kita, Elva tolong jangan tinggalin kita' Dan bilang nangis keras.
'Aku denger Nyonya Morgan ngajar kalian seharian, dia nggak pulang tapi tinggal sama kalian kecuali pas weekend' Aku bilang.
'Kita nggak mau Nyonya Morgan lagi, bakal susah banget kalau nggak ada kamu' Anak lain bilang juga nangis.
'Nggak apa-apa, Cuties' Aku bilang berusaha keras nggak pecah nangis lagi
'Kalian harus biarin Nyonya Morgan balik ya dan aku janji bakal terus jengukin kalian' Aku bilang.
'Nggak, kamu nggak boleh pergi…Dan ikut aku, kita pergi ke kantor Dokter Steph' Mitch bilang udah narik Dan tapi aku lari buat berentiin mereka sebelum mereka bisa sampai pintu.
'Ayo, anak-anak, jangan pergi ke kantor Dokter Steph, dia nggak bisa ubah apapun..Nyonya Morgan cuti hamil dan dia harus balik. Kalau aku tetap tinggal, berarti dia harus kehilangan kerjaan dan itu nggak adil dan nggak profesional. Makasih udah nggak mau aku pergi tapi aku harus..aku minta maaf banget, Cuties, aku janji bakal selalu jengukin kalian' Aku bilang dan mereka nangis lebih keras pas mereka jalan ke kasur mereka.
Aku bersihin air mataku dan buru-buru ngejar mereka.
'Sekarang kalian mau nggak peluk aku?' Aku bilang dengan senyum sedih.
Mereka berdiri satu per satu, narik aku ke pelukan erat.
'Kamu bisa nggak lakuin sesuatu buat kita?' Mitch nanya.
'Bisa, sayang'
'Tolong luangin waktu lebih lama sama kita sampai jam makan siang' Dia bilang dan yang lain ngangguk.
'Oke sayang, aku bakal seneng banget lakuin itu. Jangan nangis lagi ya?' Aku bilang dan mereka ngangguk.
Aku bersihin air mata mereka satu per satu sebelum balik ke tempat dudukku.
'Cuties' Aku panggil.
'Ya, Elva' Mereka jawab dengan suara lesu.
'Aku bakal ceritain satu cerita terakhir dan aku juga bakal nyanyiin satu lagu terakhir buat kalian' Aku bilang dan mereka pecah nangis lagi.
Aku naruh kepala di meja dan juga nangis.
Sudut Pandang Mig
'Lalalalalala' Aku nyanyi gembira sambil muter pantatku dengan langkah nari.
Aku lagi nyiapin sarapanku beberapa menit setelah Elva dan Fleur pergi.
Aku seneng banget soalnya Elva bakal tinggal sama aku di rumah sekarang..dia pergi dari rumah sakit sialan itu hari ini dan aku harap dia nggak bakal ketemu cowok itu.. Bee atau Ben…apa pun itu.
Setelah sarapan aku cuma mau mindahin piano dan alat musik lain ke kebun.
Aku udah rencanain itu lama dan aku bakal lakuin rencana itu hari ini.
Aku ngeluarin omelet di piring datar, naruh panci balik di kompor gas, ambil gelas dan botol air minum sebelum jalan dengan gembira ke ruang makan.
Aku duduk dan mulai makan sarapanku bersenandung gembira.
Udah seminggu berlalu dan semuanya berjalan baik.
Kita udah makin deket…maksudnya Elva dan aku tapi aku belum minta dia jadi pacar aku.
Aku bakal nunggu sampai dia ingat lagi, pacaran sekarang cuma kayak manfaatin dia, gimana kalau dia punya tunangan atau pacar?
Ya ampun…Itu bakal bikin aku sakit hati tapi aku harap dia nggak punya dan kalau dia punya, bakal ada perang soalnya aku nggak mau kehilangan dia ke siapapun.
Aku menggerutu..Elva terlalu cantik buat nggak punya seseorang dalam hidupnya.
Aku celupin sendokku ke piringku, bawa ke bibirku cuma buat kosong.
Aku lihat ke makanan ku dan sadar nggak ada yang tersisa di piring lagi.
'Sial Mig.. gimana bisa kamu nggak tahu udah habisin sarapanmu' Aku menghela napas.
Aku minum air minumku dan berdiri dengan piring kosong di tangan ke dapur.
Aku buru-buru nyuci, bilas, dan taruh di pengering piring.
Aku keluar dari dapur masuk ke loteng.
Aku bakal mindahin piano ke kebun sekarang.
Aku menghela napas lega pas akhirnya naruh piano di bawah tempat teduh di kebun.
Sial..berat banget..
Aku balik ke loteng dan bawa bangku piano dan hal-hal lain yang diperlukan ke kebun.
~
Aku keringetan pas aku selesai ngerapiin piano di kebun..aku udah atur semuanya rapi di kebun yang indah.
Aku bakal mulai ngajarin Elva cara main piano soalnya dia suka musik.
Aku yakin laguku bakal mengalir lancar di lingkungan yang sejuk ini dan juga kayaknya tempat yang bagus buat bikin lagu.
Pohon, bunga, kupu-kupu dan semuanya di sini menginspirasi.
Aku cepet-cepet ambil buku lagu dengan pulpen dan mulai nyoret-nyoret lagu yang baru aja datang ke aku sekarang.
Sendirian di kebun
Dengan angin sejuk yang dibawa alam…
Sesejuk kamu meniup, seasyik kamu bikin orang merasa, segembira kamu bikin orang, kamu nggak bisa dibandingin sama cinta dalam hidupku.
Bahkan hal yang paling indah di dunia,
Nggak bisa dibandingin sama cinta dalam hidupku.
Soalnya mereka kayak harta karun yang susah ditemuin tapi kalau udah ditemuin harus dihargai selamanya.
…..
Sial..aku nggak jago banget ya?
Sudut Pandang Elva
'Wow
Ceritanya menarik.
Aku suka.
Tolong ceritain lagi' Anak-anak nyanyi bareng setelah aku selesai nyeritain cerita terakhirku.
Kita udah sarapan dan waktu terus berjalan, sebentar lagi waktunya makan siang dan aku bakal pergi setelah makan siang.
Kita semua sedih tapi kita berusaha buat pasang wajah senang.
Salah satu dari banyak alasan aku suka anak-anak ini…mereka bertindak dewasa.
'Sekarang kita siap buat lagu terakhirmu' Mitch bilang dan aku nyadar kelelahan di suaranya.
'Ya sebentar lagi makan siang dan kita tahu kamu bakal pergi setelah makan siang' Dan bilang sedih dan aku maksa keluar senyum.
'Aku bakal nyanyi buat kalian setelah makan siang' Aku bilang dan mereka ngangguk.
Kita semua diam memandang satu sama lain.
Mata mereka, memohon aku jangan pergi, itu menyentuh banget sampai aku nggak bisa nggak mengalihkan pandanganku ke mejaku.
Aku merem dan tertidur yang nggak disangka-sangka.
'Elva makan siang kita udah datang' Aku denger dan ngerasa ada yang nepuk rambutku sebelum buka mata.
Aku angkat kepala dari meja dan ngelihat Dan berdiri di depanku nunjuk keranjang makan siang mereka.
Aku bergumam ‘oh’.
Dia bantu aku ngerapiin rambutku rapi di belakang telingaku dan aku senyum.
'Makasih Dan' Aku bilang tapi dia mengangkat bahu.
'Aku sering lakuin itu ke Vinnie, kakak perempuan ibuku. Aku udah nggak bisa ingat wajahnya lagi tapi kamu terus ngingetin aku tentang dia, kamu mirip banget sama dia' Dia bilang dan mataku melebar.
'Beneran?' Aku nanya.
'Ya Elva.. tolong siapin makan siang kita. Kita kelaperan' Dia bilang sebelum lari ke kasurnya.
Kenapa nama ‘Vinnie' kayak ada yang ngebel.
Aku mengangkat bahu dan berdiri buat nyiapin makan siang mereka.
Aku selesai lakuin itu dan nyiapin buat mereka.
Aku duduk buat makan milikku tapi aku nggak bisa makan setengahnya soalnya aku tahu aku bakal ninggalin anak-anak sebentar lagi.
Aku nyadar mereka juga cuma makan sedikit.
'Makan, Cuties…enak kok' Aku bilang, pura-pura senyum.
Mereka ngangguk dan mulai makan sementara aku menatap mereka dengan kagum.
Fleur masuk setelah kita selesai makan siang, dia ngerasa ketegangan di bangsal dan menggelengkan kepalanya sedih.
'Aku tahu kamu bakal mau pamitan sama mereka, jadi aku bakal nunggu kamu di resepsionis' Dia bilang sebelum keluar.
Aku berdiri dan jalan ke kasur mereka, aku nyadar mata mereka udah mulai berair dengan air mata.
'Sekarang kalian semua harus datang ke aku' Aku bilang dan mereka lari ke aku sambil nangis.
Aku berdiri di tengah mereka ngelihat wajah imut mereka.
Aku bakal kangen banget sama mereka.
'Aku khusus nyiptain lagu ini buat hari ini dan aku harap kalian suka..' Aku bilang.
Aku berdehem dan mulai;
*
Aku sayang kalian semua dan kalian bakal selamanya ada di hatiku'
Aku selesai nyanyi dan nyadar kita semua nangis keras.
Mereka meluk aku erat di tengah mereka, air mata mereka membasahi rokku.
Kita tetap seperti itu beberapa menit pas aku nyadar Fleur nunggu aku.
Aku berdiri tegak dan jalan ke meja.
Aku bawa tas tanganku dan balik ke mereka.
Aku meluk mereka lagi satu per satu.
'Bye..aku bakal kangen kalian semua' Aku bilang ke mereka udah jalan ke pintu.
Aku nggak mau hancur lagi.
'Kita juga bakal kangen kamu Elva dan kita sayang kamu' Mereka nyanyi bareng dan aku balik dengan senyum.
'Aku juga sayang kalian, Cuties … Bye' Aku bilang dengan senyum sedih dan cepet-cepet keluar dari pintu, aku tutup di belakangku sebelum hancur.
Aku denger tangisan keras mereka lewat pintu dan nangis lebih keras.
Aku bersihin air mataku dan menghela napas sebelum jalan ke resepsionis dengan kepala tertunduk.
Aku angkat kepala pas aku sampai di resepsionis dan ‘wow' lolos dari bibirku, mataku melebar kaget.
Aku ngelihat staf semua berdiri dengan kartu perpisahan di tangan mereka.
Pesan perpisahan berbeda tertulis di setiap kartu.
Aku berdiri di sana, nggak bisa ngomong, ngelihat wajah mereka satu per satu; Dokter Steph,Ben, Claire,terus Fleur yang ngedip ke aku dengan senyuman..Jadi dia tahu tentang ini..
Pandanganku mendarat di meja yang ditaruh di depan mereka.
Ada kue dan banyak anggur di atasnya.
'Ya ampun' Aku berbisik, tersentuh.
Mereka semua berbaris ke aku dan air mata lolos dari mataku.
Elva kita bakal kangen kamu.
Kamu udah hebat banget buat kerja.
Terus jengukin ya.
Kamu seru buat diajak ngobrol.
Ya ampun! Kita nggak bakal bisa denger kamu nyanyi lagi.
Kita doain yang terbaik buat kamu.
Hati-hati.
Bye
Kita semua sayang kamu' Mereka semua nyanyi bareng dan aku senyum, tersentuh dengan komen mereka.
'Makasih banget guys..aku tersentuh banget' Aku bilang meluk mereka satu per satu.
Salah satu dari mereka nyelipin papan perpisahan kecil di rambutku dan aku senyum biarin aja di sana.
'Sekarang ayo makan kuenya dan minum anggur' Kita denger dan berbalik.
Aku udah tahu itu Fleur, dia suka apa aja yang bisa dimakan..haha.
Dia senyum lebar ke mereka udah lari ke kuenya, kita lari nyusul dia ketawa keras.
Aku makan sepotong kue tapi nggak berani deketin anggurnya.
Fleur jalan dengan gembira sambil makan kue dan minum anggurnya di waktu yang sama.
Mereka nyuruh aku nyanyi buat mereka dan aku nyanyi.
Kita semua nari dengan gembira ke laguku tanpa irama, beberapa pasien juga ikut dan itu seru.
Tarian beberapa orang lucu banget sampai aku hampir keselek kuenya.
Kita semua ketawa gembira dan jujur aku bakal kangen banget tempat ini.
Fleur dan aku pergi dari rumah sakit setelah keramaiannya selesai, semua orang udah balik ke kerjaan mereka.
Kita jalan pulang ngobrol gembira.
Kita pergi dari rumah sakit lumayan telat hari ini soalnya ada pesta kecil yang mereka rencanain buat aku dan semuanya.
Aku udah meluk mereka sekali lagi dan pamitan dengan senyum meskipun aku berusaha keras buat nahan air mataku.
'Elva' Aku denger seseorang manggil dan berbalik buat ngelihat Ben jalan ke arah kita.
Fleur dan aku saling pandang sebelum menghadap dia.
Dia sampai ke kita menghela napas berat, wajahnya dipenuhi keringat karena lari.
'Elva aku bakal kangen kamu' Dia bilang.
'Ya' Aku jawab.
'Oke..aku bakal langsung ke intinya, aku manggil kamu balik buat minta maaf, aku udah salah sama kamu dalam banyak hal. Aku harap kamu mau maafin aku, itu nggak sengaja, dan aku udah jadi baik' Dia bilang dan aku lihat dia kaget.
'Fleur aku minta maaf buat semuanya, aku tahu aku udah nyakitin kamu banget. Aku harap kalian berdua maafin aku' Dia bilang dan Fleur balik ke aku udah senyum.
'Aku udah maafin kamu' Fleur bilang dan wajahnya melebar kaget pas dia meluk dia.
Aku nyadar pipinya jadi merah.
Sial…apa Fleur salting..
'Yah..aku belum maafin kamu' Aku bilang dengan bibir cemberut dan mereka berdua berbalik buat ngelihat aku.
'Kenapa?' Dia nanya.
'Aku cuma bercanda, kamu dimaafin tapi kamu harus lakuin sesuatu buat aku' Aku bilang.
'Apa?' Dia nanya.
'Kamu juga harus minta maaf ke Mig' Aku bilang dan Fleur ngangguk.
'Tentu aja aku rencananya mau lakuin itu tapi nggak hari ini'"
'Oke..kapan aja nggak apa-apa buat kita'"
'Makasih udah maafin aku guys' Dia bilang ngegenggam kita dalam pelukan sebelum dia berbalik dan lari.
Aku pengen nangis lagi..aku bakal kangen mereka semua…
Yah…ada sesuatu buat nenangin aku dan itu ngehabisin waktu sama Mig.
Aku nggak sabar buat akhirnya pulang bareng dia lagi.
Mig aku datang.."
Stapsy ❣️
.
.
.
.
bersambung.