BAB 53
POV Elva
Kita tiduran di rumput sambil ngadep langit, cekikikan senang setelah piknik.
Mig di tengah, Fleur dan aku di kedua sisi.
'Serius, aku nggak percaya kita bisa ada di taman yang indah ini,' kata Fleur.
'Siapa yang percaya ada taman di sini, mengingat lorong bawah tanahnya kelihatan kotor banget,' kata Mig dan kita ngangguk.
'Aku kedinginan banget,' kataku.
'Iya lagi salju…kita balik aja nggak?' Dia nanya dan aku ngangguk.
'Nggak, aku mau di sini selamanya,' Fleur cekikikan.
'Ayo deh, mau membeku ya?' Mig bilang sambil berdiri, aku ikut berdiri juga sementara Fleur masih di rumput.
'Fleur, ayo masuk,' kataku.
'Nggak. Aku nggak mau masuk,' Katanya cemberut.
'Ayo masuk, aku nggak mau kamu kedinginan di salju,' Mig maksa.
'Ahhh' Dia mengeluh, 'Aku lagi males nih berdiri'
'Maksudnya?'' Mig nanya.
'Gendong aku,' Dia cemberut.
'Kamu pikir kamu masih bayi ya, pegang tanganku dan berdiri,' Mig bilang.
'Tunggu dulu, bro, aku mau digendong…tolong dong,' Dia memohon dengan mata puppy.
Aku lihat Mig mengangkat bahu sebelum ngasih tatapan sinis ke dia.
'Kalo lengan gue patah, gue bakal patahin salah satu lengan lo,' Dia ngancam dengan bercanda.
'Lo lebih kuat dari itu,' Fleur ngedipin mata dan Mig tersenyum sebelum mengangkatnya ke dalam pelukannya.
Kita semua mulai jalan masuk.
Fleur cekikikan kayak anak kecil dan Mig ngecup keningnya, mereka berdua cekikikan senang dan aku tersenyum sambil jalan di belakang mereka.
*
Kita sampai di ruang tamu dan Mig menurunkan Fleur di sofa sebelum pergi ke perapian untuk menyalakannya.
Aku duduk di samping Fleur, memeluk lututku ke dada.
Sial…aku kedinginan banget.
Mig menyalakan perapian dan ada kehangatan di ruang tamu.
'Tunggu, aku mau bikin kopi panas,' Katanya berjalan ke dapur dan aku tersenyum.
'Pake krim atau hitam?' Dia nanya keras dari dapur.
'Krim!' Fleur dan aku berteriak barengan.
'Oke'
'Aku nggak sabar mau mulai kerja besok,' kata Fleur.
'Aku juga'
'Aku kangen kerjaan aku,' Katanya.
'Aku kangen anak-anak banget'
'Haha,' Fleur tertawa pendek.
'Kenapa?' aku nanya.
'Aku denger kamu berantem sama Miranda,' Katanya.
'Ohh..iya, kamu nggak bakal percaya dia nggak ngasih makan anak-anak cuma karena dia belum siap buat ngasih makan siang..'
'Wah!' seru Fleur..'Kejam banget'
'Iya'
~
'Nih..' Kita denger dan lihat Mig menyodorkan nampan kecil berisi dua cangkir kopi krim ke kita.
'Makasih,' kataku dan mengambilnya.
Aku kasih Fleur punya dan mulai minum punyaku, dengan mata tertutup.
Sial..aku suka banget sensasi cairan panas di tenggorokanku yang kering.
Aku jilat krim dari bibirku perlahan, trus buka mata buat nangkap Mig lagi merhatiin aku.
Dia buru-buru buang muka, kelihatan malu ketahuan.
Aku hampir ketawa.
'Kopi ini enak banget,' Fleur bergumam dan aku ngangguk.
'Tapi astaga..aku ngantuk banget,' Katanya sambil ngusap wajahnya dengan telapak tangannya.
Dia menguap dan ngejatuhin cangkir kosong ke sofa.
'Aku harus tidur..bangunin aku kalo kamu udah nyiapin makan malam,' Katanya sebelum pergi ke kamarnya.
Aku lumayan kaget waktu Mig tiba-tiba loncat di sampingku sambil nyengir.
'Kenapa?' Aku nanya geli.
'Hmm..ayo..ayo kita main game,' Katanya.
'Game apa?' Aku nanya.
'Game kartu,' Katanya dan geser lebih deket ke laci, dia buka dan ngeluarin set kartu.
Aku senyum….aku lumayan jago di sini.
'Jadi kamu milih apa yang mau kamu lakuin ke aku kalo kamu menang dan sebaliknya,' Katanya dan aku nyengir.
Dia nyusun kartunya dan bagiin punyaku ke aku.
'Sekarang mulai,'
**
Aku ketawa waktu aku nampar Mig untuk yang kesepuluh kalinya.
Aku udah bilang aku bakal nampar dia kapanpun aku menang dan dia bilang dia bakal nyium aku kapanpun dia menang.
Tapi selama ini aku menang dan seru banget namparin pipinya yang keras itu.
Aku ketawa keras lagi.
'Cih…kamu ngeledek ya?..Aku nggak bakal biarin kamu menang lagi,' Katanya..
Dia udah bilang gitu berkali-kali, tapi dia tetep aja kalah.
Atau dia sengaja kalah?...Kayaknya aku harus bikin dia menang kali ini.
Aku nggak bisa nahan bibir merah itu lagi.
'Oke ayo mulai ronde lain,' kataku.
*
Aku bales ciumannya dan makin panas.
Aku perhatiin tangannya mulai nyelinap di bawah gaunku.
Aku nikmatin rasanya tapi aku tau aku harus berentiin dia.
'M-ig stop,' Aku berbisik..Aku nggak mau dia berenti tapi aku nggak bisa apa-apa.
'Berenti,' kataku.
Dia ngasih satu ciuman terakhir di bibirku sebelum duduk tegak.
Aku bahkan nggak bisa duduk tegak..Aku tau pipiku pasti udah berubah jadi ungu sekarang.
Aku ngadep ke sisi lain sambil berharap bisa menghilang ke kamarku.
'Elva,' Aku denger dia manggil dan aku rasanya pengen ngambil bibirnya lagi.
'Elva, ayo deh,' Katanya dan aku pelan-pelan balik badan ngadep dia.
Dia ketawa waktu lihat wajahku.
'Sial…kamu kelihatan lebih cantik kalo lagi blushing,' Katanya dan aku perhatiin pipiku makin panas.
'A-aku harus p-pergi ke k-kamarku,' Aku gagap sambil berdiri tapi dia narik aku balik.
Lebih parahnya lagi..di pangkuannya..!
Aku bersiap buat berdiri tapi dia narik aku balik lagi.
Aku geser nggak nyaman di pangkuannya, ngelapin keringet yang mulai muncul di dahiku.
'Wow…kamu blushing queen,' Dia muterin tubuhku biar aku bisa ngadep dia.
Aku duduk di pangkuannya sekarang ngadep dia, aku coba nggak natap matanya karena aku tau pipiku bisa berubah jadi warna yang nggak dikenali.
'Elva..Santai, kita berdua udah dewasa dan aku juga nggak mau ambil keuntungan dari kamu sampe kamu inget lagi ingatan kamu,' Katanya dan akhirnya aku ngeliat dia.
Dia senyum dan nangkup pipiku di telapak tangannya.
'Kamu tau aku sayang kamu kan?' Dia nanya dan aku blushing sambil ngangguk pelan.
'Jadi aku nggak bisa nyakitin kamu…kalo kamu nggak nyaman aku nyium kamu, bilang aja oke?' Dia nanya.
'Nggak aku nyaman kok,' Akhirnya aku bersuara..'Aku cuma..lagi..malu,' Kataku.
'Oh..beneran?' Dia nanya.
'Iya'
'Wow..' Katanya sambil nyium aku lagi dan lagi dan aku bales lagi tapi kita nggak kebablasan kali ini.
Aku hampir loncat dari pangkuannya waktu aku denger deheman.
Fleur tiba-tiba muncul dan mulai ketawa.
'Sial,' Aku bergumam sambil naruh kepala di bahu Mig malu.
'Aku tau kok,' Dia menjerit senang.
Mig mengangkat bahu seolah nggak peduli tapi sialan aku peduli.
'Aku juga tau kamu nggak tidur,' Katanya dan dia nyengir.
'Jadi ada sesuatu nih di antara kalian berdua,' Katanya.
'Belum,' kataku.
'Sebentar lagi,' Mig bilang dan aku mengalihkan pandanganku ke dia.
Dia senyum, megang tanganku.
Aku pegang tangannya sambil ngeliatin Fleur.
'Aduh…Mig akhirnya jatuh cinta,' Fleur menjerit sambil loncat ke sana kemari kayak katak.
'Drama queen,' Aku berbisik ke Mig dan kita berdua ketawa.
Dia noleh ngeliat kita dengan tatapan bertanya.
'Kalian berdua baru aja ngomongin aku?' Dia nanya, cemberut.
Dia celingak-celinguk kayak lagi nyari sesuatu dan Mig dan aku tau kita bakal kena.
Dia ngambil sepotong kayu bakar di samping perapian dan balik badan ngadep kita tapi Mig dan aku udah kabur ke perpustakaan.
Kita ngunci pintu di belakang kita dan ketawa waktu denger dia ngebanting pintu.
Mig dan aku selesai nyiapin kue beras buat makan malam.
Dia nyajiinnya dan aku bawa ke ruang makan.
Dia ngikutin di belakang aku dengan tiga gelas air.
Kita ketemu Fleur duduk di ruang makan sambil nyengir.
Kita janji ke dia kita bakal nyiapin makan malam sebelum dia ngebiarin kita pergi tanpa mukul kayu itu ke kepala kita.
Kita duduk dan mulai makan malam.
~
'Aku mau langsung lari ke danau begitu balik kerja besok,' kata Fleur.
'Beneran?'
'Tentu aja..dan Mig jangan coba-coba yang aneh-aneh sebelum kita balik,' Katanya.
'Aneh-aneh?.. kayak apa?' Dia nanya.
'Hmm..' Dia menghela napas tapi nggak bisa mikir apa-apa.
'Pokoknya jangan coba-coba yang aneh-aneh,' Katanya dan Mig memutar matanya.
Dia ngadep makanannya dan Mig cepet-cepet berbisik 'Drama queen' sambil ngangkat sendoknya kayak lagi nahan diri buat nggak mukul kepalanya persis di tengah.
Aku susah banget nahan tawa tapi akhirnya meledak juga.
'Kenapa kamu ketawa?' Dia nanya.
'Aku inget sesuatu,' Aku bohong.
'Ohh'
Kita selesai makan malam dan bawa piringnya ke dapur.
Kita cuci dan bersihin ruang makan sementara Mig duduk di ruang tamu nungguin kita.
Kita keringin tangan setelah selesai dan balik buat ketemu dia.
'Ayo tidur guys,' Fleur bilang sambil menguap.
'Gimana aku yakin kalau nguap itu nggak boongan?' Mig bilang dan aku terkekeh.
'Tentu aja nggak…kamu tau udah waktunya tidur aku,' Dia memutar matanya.
Kita tukeran selamat malam dan jalan ke kamar kita.
Aku buru-buru segerin diri dan pake piyama sebelum merosot di bawah selimut.
Aku nyalain lampu samping tempat tidur dan senyum sendiri, inget apa yang terjadi antara aku dan Mig hari ini.
Aku nggak beruntung punya hatinya?...Tentu aja aku.
Aku segera tertidur dan anehnya aku mimpi tentang pernikahan.
Dan pasangannya nggak lain adalah Mig dan aku.
Besoknya
Fleur dan aku pergi kerja, tanda tangan dan pergi ke jalan masing-masing.
Aku masuk ke bangsal dan seperti biasa anak-anak nyamperin aku.
Aku peluk mereka satu persatu sebelum jalan ke kursi aku.
Aku baru aja mau duduk waktu aku denger ketukan.
'Masuk,' kataku.
Perawat masuk.
'Selamat pagi Nona Elva,' Katanya.
'Selamat pagi,' aku jawab.
'Dokter Steph manggil kamu,' Katanya.
'Oke makasih..aku mau nemuin dia sekarang,' Kataku dan dia ngangguk sebelum keluar.
'Hai Cuties.. aku balik lagi ya,' Kataku sebelum keluar, terus menuju ke kantor Dokter Steph.
Aku ketemu Ben di jalan tapi aku lewatin dia bahkan setelah dia bilang 'hai'.
Aku belum maafin dia.
Aku ketuk pelan pintu Dokter Steph dan dia nyuruh aku masuk.
Aku masuk dan jalan ke mejanya.
'Selamat pagi Dok,' Aku nyapa.
'Pagi Nyonya Wilson…silakan duduk,' Katanya dan aku duduk di kursi di seberangnya.
Dia menghela napas.
'Aku nggak pengen ngasih tau kamu ini tapi aku harus dan percayalah aku udah coba bikin kamu lebih lama tapi atasannya nggak di tanganku,' Katanya.
'Apa itu Dok?' Aku nanya, mulai ngerasain apa yang terjadi.
'Hmm…Nona Morgan bakal balik dari cuti melahirkan dalam seminggu…kayaknya kamu tau maksudnya,' Katanya dan aku ngerasa hatiku hancur.
Stapsy ❣️
.
.
.
.
Bersambung