BAB 50
POV-nya Elva
Kita nangis sesenggukan di bangsalnya Mig, berduka atas kepergian Daisy.
Mig keliatan murung, begitu juga Fleur dan gue.
Gue lagi di bangsal anak-anak, lagi cerita-cerita, pas Fleur sama Mig masuk sambil bilang Daisy pengen ketemu kita.
Gue langsung nyusul mereka, terus kita ngebut ke bangsalnya Daisy.
Kita masuk, dan kondisi pas ketemu dia tuh... mengerikan.
Gue bersyukur kita udah maafin dia.
Dia kayaknya mau ngomong sesuatu sebelum meninggal, tapi gue gak bisa denger jelas dia ngomong apa.
Jenazahnya udah dibawa ke orang tuanya.
Dia meninggal dengan sangat menyakitkan.
Gue ngesot, pake sapu tangan buat ngusap muka gue yang makin banjir air mata.
"Ayo pulang," kata Mig pelan.
"Kamu kan belum boleh pulang," kata gue.
"Gue pengen pulang, gue gak mau di sini lagi," kata Mig.
"Oke deh, kamu udah cukup fit kok buat pulang, gue bakal nemuin Dokter Steph, bilang kalau gue bakal lanjutin perawatan kamu di rumah," kata Fleur sebelum keluar.
Gue ngerasa tangan Mig ngegenggam tangan gue, terus gue nyenderin kepala ke bahunya, sambil nangis.
Fleur masuk beberapa menit kemudian.
"Ayo kita siap-siap pulang," katanya, terus mulai beresin barang-barang kita. Gue bantuin dia, sementara Mig ganti baju rumah sakit, terus ganti baju santai.
Kita selesai beres-beres, terus keluar dari bangsal.
Ketemu Dokter Steph di koridor.
"Mig, katanya kamu mau pulang... untung banget punya kakak perawat," dia senyum, dan Mig cuma ngangguk.
"Turut berduka ya atas meninggalnya temen kamu... polisi lagi nyelidikin kok, kita udah kasih semua yang mereka butuhin, dan gue jamin pembunuhnya bakal segera ditangkap," kata Dokter Steph, nenangin kita, dan kita akhirnya bisa senyum.
"Makasih, Dokter, kita mau pulang sekarang," kata Fleur.
"Kamu sama Nona Wilson boleh libur besok," katanya.
"Beneran?" tanya kita.
"Tentu aja... kalian berdua pantas kok," katanya, terus gue senyum tipis.
"Makasih, Dokter," kata kita.
"Sama-sama. Dah," katanya.
"Dah, Dokter," kata kita sebelum pergi.
Gue sama Fleur pamit sama para perawat di resepsionis, meskipun pandangan mereka tertuju ke Mig, yang bahkan gak ngelirik mereka.
Kita keluar dari rumah sakit, terus pulang ke rumah dalam diam.
~•~•~
"Wah, saljunya turun," kata gue begitu kita nyampe rumah.
"Iya... lagi musim dingin," kata Fleur sambil senyum, sementara Mig buka pintu.
Kita masuk, Fleur ngunci pintu rapat-rapat.
Kita duduk di sofa yang beda, bengong gak jelas.
Kematian Daisy emang ngaruh banget ke semua orang, apalagi Mig, gue belum pernah liat dia sesedih ini.
Gue mulai ngantuk, terus akhirnya tiduran nyaman di sofa, nurutin panggilan alam.
Gue ketiduran...
•••
Gue bangun beberapa jam kemudian, perut gue keroncongan.
Gue langsung duduk tegak, ngeliat Mig sama Fleur udah pada tidur.
Gue nguap lebar, nyenderin punggung ke sofa.
Wow!!... Gue kedinginan.
Gue bengong sebentar sebelum berdiri.
Gue harus masak makan siang... gue laper banget, dan gue tau Mig sama Fleur juga bakal kelaperan pas mereka bangun.
Gue berdiri, terus jalan ke dapur.
Masuk dapur, mikirin mau masak apa, akhirnya gue mutusin buat masak Pasta sama ayam goreng.
Gue jalan ke wastafel, cuci tangan, terus ngambil celemek sama jaring rambut.
Gue naro semua bahan di lemari dapur, nyalain kompor gas, terus mulai masak.
Gue ngambil makanannya, naro di nampan, sebelum jalan ke ruang makan.
Balik lagi ke dapur buat tiga gelas air putih.
Balik lagi ke ruang makan, terus mulai nata makanan.
Gue berencana bangunin Mig sama Fleur begitu gue selesai.
"Wah! Aroma ini... wow..." gue denger Mig bilang di belakang gue, terus disusul langkah kaki.
Mig sama Fleur masuk ruang makan, terus senyum ngeliat makanannya.
"Elva, kok kamu tau gue laper?" tanya Mig dengan nada cerianya, gue seneng dia udah baikan.
"Ya iyalah, kamu lupa hati gue nyambung sama hati kamu," kata gue sambil bercanda, terus kita ketawa.
"Gosh, gue laper banget," kata Fleur, udah duduk, senyum ngeliat sepiring pasta dan ayam di depannya.
"Makasih Elva," katanya, terus gue senyum.
Mig sama gue juga duduk, terus kita semua mulai makan.
Kita ngobrol dan ketawa pas makan, tapi tetap aja kerasa banget kesedihan atas kematian Daisy.
"Ini enak banget," Fleur berseru setelah ngehabisin piringnya... "masih ada lagi?" tanyanya.
"Ada... di penghangat makanan," kata gue, terus dia loncat, ngebut ke dapur.
Mig sama gue ketawa...
"Gila! Fleur emang suka banget makanan," katanya, dan gue ngangguk setuju.
Dia balik lagi dengan piringnya penuh, terus mulai makan, cekikikan girang.
"Gue juga mau lagi, tapi udah kenyang banget, lagian gue gak mau jadi tukang makan kayak Fleur," Mig ngejek, Fleur langsung nge-glare dia, terus mukul dia sambil bercanda.
Gue ketawa sebelum minum air putih gue, gue juga udah selesai makan.
Gue duduk sebentar sebelum berdiri.
Gue mulai ngambil piring-piring kotor, tapi Fleur berdiri terus nge-berentiin gue.
Gue kasih tatapan bingung.
"Kamu yang masak, jadi gue yang cuci piring," katanya.
"Oke deh, ayo kita kerjain bareng," kata gue.
"Gak, gue aja, kamu istirahat aja," kata gue.
"Gue maksa," kata gue, dan dia menghela napas sebelum nyerah.
Kita berdua jalan ke dapur, sementara Mig balik lagi ke ruang keluarga.
Kita selesai cuci piring, terus balik lagi buat gabung sama Mig di ruang keluarga.
Kita duduk di sofa.
"Gila... gue kedinginan," kata Mig sambil meluk badannya.
"Gue juga," Fleur dan gue bilang barengan.
"Masih ada kayu bakar buat perapian gak?" tanya Mig ke Fleur.
"Gak ada, kamu lupa, udah abis kemarin," kata Fleur.
"Oh iya... bener juga, coba gue cari deh," katanya, terus mau berdiri.
"Jangan Mig, kamu gak boleh. Kamu masih penyembuhan, terus keluar pas salju bisa bikin keadaan kamu makin parah," kata Fleur.
"Terus... kita mau kedinginan kayak gini?" tanya Mig, Fleur ngegeleng.
"Gue sama Elva aja yang cari kayu, kamu diem aja di rumah, jagain rumah," kata Fleur, gue ngangguk.
"Oke..." kata Mig.
"Elva, ikut gue, ayo pake sweater tebal," katanya, terus gue berdiri, kita berdua jalan ke kamarnya.
Dia milih sweater pink tebal buat gue, sementara dia milih yang merah buat dirinya sendiri.
Kita pake sweaternya di atas baju kita, terus keluar.
"Jadi Mig, jagain rumah ya, kita balik lagi segera," kata Fleur pas kita nyampe ruang keluarga.
"Oke... hati-hati," katanya, terus gue lambaikan tangan ke dia sebelum kita keluar rumah.
Kita menuju hutan...
Udah mulai gelap, tapi kita tetap jalan makin ke dalem hutan.
Akhirnya ketemu juga, kita kumpulin, terus dibagi jadi dua bagian sama rata.
Fleur bawa satu bagian, gue bawa satu bagian lagi.
Kita mulai jalan pulang.
Kita lagi ngobrol, tiba-tiba Fleur teriak.
"Monster salju!" dia nunjuk ke satu arah, gue liat ke sana, terus juga teriak pas ngeliat monster salju mendekat ke kita.
Kita pegangan erat, teriak-teriak sambil nangis.
POV-nya Mig
Udah mulai gelap, dan Fleur sama Elva belum balik juga.
Gue mondar-mandir sebelum masuk kamar buat ngambil sweater tebal.
Gue cepet-cepet pake, keluar rumah, terus ngunci pintunya rapat-rapat.
Gue jalan ke hutan, tempat biasa kita cari kayu.
Gue jalan makin ke dalem, tapi gak nemuin mereka.
Gue mulai khawatir, sampai akhirnya ngeliat mereka datang dari jauh bawa kayu bakar.
Gue nghela napas lega, terus jalan ke arah mereka, tapi tiba-tiba berhenti pas Fleur teriak;
"Monster salju!" sambil nunjuk ke arah gue.
Mereka berdua ngejatuhin kayu di tangan mereka, terus pegangan erat dalam ketakutan, teriak-teriak.
Gue ketawa keras pas jalan ke arah mereka.
Gue bikin suara nggeram yang bikin mereka teriak makin keras pas gue deket.
Gue ketawa ngakak, dada gue sakit.
"Ya Tuhan... itu Mig!" Elva teriak.
"Apa!" Fleur berseru.
Mereka berdua berdiri dengan tatapan sinis, gue tau apa yang bakal terjadi.
Mereka ngambil satu kayu masing-masing, terus gue lari sebelum mereka bisa mukul gue.
Mereka ngejar gue dengan kayu besar di tangan mereka, dan gue ketawa sambil lari.
Stapsy ❣️
.
To be continued