BAB 20
POV Elva
'Kamu suka Dokter Ben?'
Apaan nih!
'Nggak…Dokter Ben cuma teman, dan kalian semua masih bocah banget buat mikir gitu…Berhenti mikir kayak gitu, oke?' kataku dan mereka mengangguk.
'Aku khawatir, pas kamu gebukin meja langsung Dokter Ben pergi,' kata Mitch.
Aku senyum 'Sebenernya aku lagi mikirin hal lain'
'Apaan tuh? Ada yang bisa kita bantu?' tanyanya dan yang lain mengangguk.
Aku jadi terharu.
'Nggak usah, sayang-sayangku, makasih. Nanti aku cari solusinya kok,' kataku dan mereka semua mengangguk.
'Gimana kalau aku ceritain cerita sebelum makan siang?' kataku buat cairin suasana.
'Iya Elva!' teriak mereka senang sambil lari balik ke kasur masing-masing.
Aku senyum dan mulai;
Suatu ketika, ada seorang wanita yang tinggal sendirian di gubuk kecil dengan kucingnya…Dia nggak punya keluarga.
Dia merasa kesepian tapi kucingnya selalu nemenin dan nenangin dia.
Suatu sore yang cerah dia pergi ke danau sama kucingnya.
Dia mau nyiduk air pake mangkuknya pas peri cantik muncul.
Dia kaget, kucingnya juga kaget.
'Wanita, apa kamu mau tetap kesepian selamanya?' tanya peri itu.
'Nggak mau,' kata wanita itu masih kaget.
'Gimana kalau aku kabulkan keinginanmu?' kata peri itu.
'Keinginan aku?' tanya wanita itu kaget.
'Iya…kamu kan selalu pengen punya keluarga bahagia, iya kan?' tanya peri itu.
'Iya,' wanita itu mengangguk kaget.
'Harus aku kabulkan nggak keinginanmu?' tanya peri itu.
'Iya tolong kabulkan keinginanku, aku kesepian banget,' mohon wanita itu.
'Aku bakal kabulkan keinginanmu tapi ada syaratnya,' kata peri itu.
'Syaratnya apa?' tanya wanita itu penasaran..
'Elva, Dokter Steph nyariin kamu,' kata Perawat Claire motong ceritaku dan aku bisa lihat anak-anak cemberut karena gangguan itu.
'Anak-anak, nanti kita lanjut lagi kalau aku balik, oke?' kataku dan mereka mengangguk dengan sedikit cemberut.
Aku jalan ke kantor Dokter Steph dan ngetuk.
'Masuk, Nona Wilson,' kudengar dan hampir cekikikan.
Miss Wilson beneran.
'Selamat siang Dokter Steph,' sapaku masuk ke kantornya.
'Siang Nona Wilson, saya panggil kamu,'
'Iya pak.'
'Saya mau diskusi soal gaji kamu akhir bulan nanti. Rp1000. Apa kamu nyaman dengan itu atau mau kita negosiasi.'
'Hmm… Nggak papa pak, saya nyaman kok,' kataku sambil nyengir.
Rp1000 itu jumlah yang lumayan di pedesaan ini.
'Oke deh, itu yang mau saya omongin, jadi nggak ada perdebatan akhir bulan nanti,' katanya.
'Oke pak'
'Kamu boleh pergi, saya harap anak-anak nggak mulai bikin ribut,' katanya dan aku tertawa.
'Nggak kok, mereka baik-baik aja,' kataku dan dia mengangguk sambil tersenyum.
Aku keluar dari kantornya.
Aku lagi jalan ke bangsal pas kudengar namaku.
Aku noleh dan lihat Ben jalan ke arahku sambil senyum.
'Hei, habis ngambil sesuatu ya?' tanyanya pas udah di dekatku.
'Nggak, aku ketemu Dokter Steph,' jawabku.
'Oke…jadi, mau nggak makan siang bareng aku di kantin pas istirahat makan siang?' tanyanya dan aku geleng.
'Nggak…aku nggak mau makan siang di tempat kerja lagi, aku bakal makan di rumah aja,' kataku.
'Kenapa?..Makanannya di kantin enak tau,' katanya.
'Iya sih tapi aku udah mutusin nggak mau makan siang di mana pun selain di rumah,' kataku.
'Oke, kalaupun nggak mau makan siang, mau nemenin aku nggak?' tanyanya dan aku mau nolak.
'Please, temenin aku aja deh atau aku nggak bakal makan siang dan itu bakal ganggu aku banget,' mohonnya.
'Oke…jadi aku harus ninggalin anak-anak lagi hari ini buat makan siang?' tanyaku.
'Nggak usah khawatir, Perawat Claire bakal nemenin mereka,' katanya.
'Lagi?' tanyaku.
'Tentu aja'
Aku menghela napas.
'Please Elva…temenin aku aja,'
'Oke deh…aku bakal ikut,' kataku dan dia nyengir.
'Aku nggak mau kamu nggak makan apa-apa, aku bakal beliin kamu kopi atau es krim deh,' katanya dan aku senyum.
'Kamu makin cantik kalau senyum,' katanya dan aku langsung berhenti senyum.
Dia tertawa…'Ayo Elva, kamu nggak usah berhenti senyum. Aku cuma jujur kok,' katanya.
Aku senyum lagi…'Tuh kan, kamu makin cantik,' katanya dan aku nyengir.
'Wah…kamu nyengir,' katanya kaget sambil melebarkan matanya dengan lucu dan aku nggak bisa nahan tawa.
'Wah…Kamu ketawa,' katanya lagi dengan ekspresi kaget dan lucu yang sama dan aku tertawa lebih keras.
'Aku harus pergi,' kataku berusaha berhenti tertawa.
'Kamu emang jago banget ketawa…Oke, sampai jumpa pas istirahat makan siang,' dia mengedipkan mata dan pergi.
'Cowok keren,' pikirku jalan balik ke bangsal.
Aku masuk dan ketemu anak-anak yang sabar nunggu aku buat lanjutin cerita.
Mereka senyum pas lihat aku, aku senyum balik ke mereka, jalan ke kursi aku.
Aku duduk dan lanjutin cerita;
'Aku bakal kabulkan keinginanmu tapi ada syaratnya,' kata peri itu.
'Syaratnya apa?' tanya wanita itu penasaran.
'Kucingmu nggak bakal sama kamu lagi, kamu harus lepasin dia buat pergi,' kata peri itu dan wajah wanita itu muram…dia kelihatan sedih.
'Maaf peri tapi kamu nggak usah kabulkan lagi keinginanku. Aku nggak bisa ninggalin kucing yang udah sama aku selama bertahun-tahun, dia udah nemenin aku, dia selalu ada buat aku dan bahkan nggak bikin aku ngerasain sepinya nggak punya siapa-siapa. Aku mau keluarga tapi aku nggak bisa ninggalin kucingku, aku nggak bisa ninggalin dia.
Itu jahat banget, aku lebih milih sama kucingku daripada punya keluarga tanpa dia,' kata wanita itu.
'Beneran?' tanya peri itu.
'Iya aku nggak butuh kamu buat kabulkan keinginanku lagi kalau kucingku harus pergi,' kata wanita itu tegas dan peri itu senyum.
'Kamu orang baik dan kamu tahu gimana menghargai banyak hal…siapa yang bakal milih kucing daripada keluarga tapi kamu milih itu karena kamu menghargai kucingmu yang udah lama sama kamu…Untuk itu, aku bakal kabulkan keinginanmu tanpa syarat,' kata peri itu dan wanita itu senyum bahagia.
'Beneran?' tanyanya kaget.
'Iya, karena kamu menghargai kucing yang udah nemenin kamu selama ini berarti kamu bakal selalu menghargai peri yang udah mengabulkan keinginanmu,' kata peri itu dan wanita itu lompat senang dengan kucingnya juga melompat kegirangan di sampingnya.
'Makasih Peri,' katanya.
'Sekarang masuklah, kamu bakal lihat pangeran impianmu dan bersama kalian berdua bakal punya anak,' kata peri itu.
'Makasih banyak peri, aku bakal selalu menghargai kamu…makasih,' kata wanita itu bahagia.
'Dada, nanti aku mampir pas kalian udah punya anak,' kata peri itu dan mulai terbang pergi.
'Makasih peri,' teriak wanita itu dan lari senang ke dalam buat ketemu pangeran impiannya dengan kucingnya ngikutin dari belakang.
Dia masuk dan lihat pangeran impiannya nungguin dia…Mereka langsung jatuh cinta dan beberapa tahun kemudian. Mereka punya anak, peri datang lagi berkunjung dan ngubah gubuk kecilnya jadi penthouse cantik dan bersama mereka semua hidup bahagia selamanya…'
'Wah,' seru mereka setelah aku selesai.
'Seru banget'
'Aku pengen banget perinya mampir ke sini'
'Aku bakal meluk perinya'
'Aku bakal bilang ke peri buat kabulkan keinginanku'
'Aku suka banget ceritanya'
'Ceritain lagi Elva'…
Mereka semua bilang barengan bikin kedengeran lucu.
Aku tertawa.
Mereka terus nanya-nanya dan aku senang pas makan siang mereka datang…mereka bakal diem buat kali ini.
Aku ngasih mereka makanan, nyajiin buat mereka dan nunggu Ben.
Perawat Claire datang dan bilang Ben nunggu di luar.
Aku keluar buat ketemu dia dan bareng kita jalan ke kantin, aku ketawa ngakak dengerin lawakannya.
Fleur dan aku jalan pulang setelah kita tanda tangan dan bilang ‘bye’ ke staf.
Kita ngobrol sambil jalan pulang dan aku nikmatin semua obrolan Fleur.
Kita sampai rumah dan aku senyum, senang dalam hati karena bakal ketemu Mig lagi setelah beberapa jam.
Kita masuk rumah dan aku berdiri nggak bergerak.
Aku denger suara itu lagi… Makin bikin takjub setiap hari.
Tapi tiba-tiba berhenti.
'Fleur, aku denger suara itu nyanyi lagi'
'Beneran?' tanyanya.
'Iya,' Pas banget Mig masuk ruang tamu.
Dia pake celana pendek biru sama kaos hitam. Rambutnya diikat kuncir kuda dengan beberapa helai rambut di dahinya, panjangnya sampai ke pipi.
Aku kangen banget…pikirku lupa sama suara yang baru aja kudengar… Mig bisa bikin aku lupa apa aja dengan penampilannya dan perasaan yang selalu dia kasih.
'Selamat datang ladies,' katanya.
'Makasih'
'Aku harus mandi dulu, tadi nanganin pasien yang kotor,' kata Fleur dan pergi.
Aku cekikikan dan Mig geleng-geleng kepala.
'Gimana kerjaannya Elva?' tanyanya.
'Bagus kok…semoga kamu nyiapin makan siang buat kita, Elva kelaperan nih,' aku merengek dan kita berdua tertawa.
'Tentu aja aku siapin makan siang dan makasih udah nepatin janji kamu,' katanya dan narik aku ke pelukannya.
Hah.
Aku kaget tapi aku meluk dia balik, aku nggak bisa nolak pelukan hangat itu.
Aku nyengir pas ngerasa tangannya di rambutku.
.
Stapsy ❣️
.
.
.
.
.. ###BAB 21
.
.
.
POV Elva
Tiga minggu berlalu dengan cepat.
Udah empat minggu sejak aku mulai tinggal sama Fleur dan Mig dan udah tiga minggu sejak aku mulai kerja.
Aku udah kenal hampir semua staf di rumah sakit, aku juga udah makin deket sama Ben… dia orangnya lucu dan aku suka ada di deketnya.
Kita udah jadi kebiasaan buat pergi makan siang bareng, Fleur kadang ikut.
Aku nggak makan kalau kita pergi makan siang, entah aku makan es krim atau minuman kaleng cuma buat nepatin janji aku ke Mig.
Ngomongin Mig…
Kita udah makin deket dan apa yang aku rasain ke dia nggak berhenti, malah makin kuat.
Dan kita berdua pergi ke danau buat berenang hampir tiap malam.
Dan ya, kita udah ciuman beberapa kali.
Rasanya bibirnya di bibirku biasanya bikin aku gemetar. Aku gampang nanggepin sentuhannya dan selalu pengen dia cium aku selamanya.
Aku sebenernya udah lupa kalau aku masih amnesia, aku masih harus dapetin lagi ingatanku.
Tapi tiba-tiba aku nggak mau dapetin lagi ingatanku karena rasanya mereka keluarga beneran aku, mereka ngasih aku kenyamanan yang nggak aku minta…mereka ngasih aku segalanya dengan sukarela dan ngerawat aku sampai sekarang…siapa yang nggak mau punya orang-orang hebat kayak gitu?
Aku selalu mikir apa aku sebahagia ini sama keluarga asli aku…Kalau nggak ya aku nggak mau dapetin lagi ingatanku… Ya aku nggak papa dengan itu…Tapi kadang, aku nggak bisa nggak kangen sama keluarga aku…
Selain dari itu; Seminggu nggak bakal berlalu tanpa aku nyanyi buat mereka di rumah sakit, mereka semua suka denger aku nyanyi termasuk pasien…Aku iseng dibilangin suaraku nyembuhin pasien.
Balik lagi ke anak-anak.
Mereka udah makin akrab sama aku sekarang dan aku udah makin sayang sama mereka. Kita juga udah makin deket selama seminggu, kita sekarang kayak keluarga.
Mitch nggak berhenti nakal…
Aku terus denger suara yang bikin takjub itu setiap kali aku pulang kerja tapi berhentinya pas kita masuk rumah.
Fleur terus bilang itu dari rumah sebelah tapi aku mulai mikir yang lain…Maksudnya kenapa harus berhenti pas kita masuk rumah.
Yah…Selain dari itu, semuanya baik-baik aja.
Aku bakal dapet gaji dalam seminggu lagi dan aku berencana buat beliin sesuatu buat Mig dan Fleur, mereka emang udah banyak banget bantu aku.
Udah deh mikirnya.
*
Aku lagi duduk di kursi di bangsal dengan novel di tangan, anak-anak lagi tidur siang. Aku bakal bangunin mereka begitu makan siang mereka datang.
Iya… udah jam setengah satu.
Ngomongin setan, koki masuk bawa makan siang mereka.
'Selamat siang bu,' sapaku.
'Siang Elva,' katanya, naruh keranjang makanan di meja aku dan pergi.
Aku mulai bagiin buat mereka…Aku selesai ngelakuin itu dan naruh sepiring makanan di kasur mereka masing-masing sebelum bangunin mereka.
Mereka mulai makan dan aku duduk nunggu Ben..dia selalu datang manggil aku buat makan siang.
Dia datang sama Perawat Claire yang biasanya nemenin anak-anak pas kita pergi makan siang.
'Hei,' aku berdiri dan senyum, dia senyum balik.
Kita berdua keluar dari rumah sakit menuju kantin biasa kita.
Kita sampai sana dan duduk.
Kita ngobrol sambil nunggu pesanan kita, aku mesen es krim dan keripik kentang sementara Ben mesen semangkuk pizza roll yang masih ngepul.
'Aku dulu mikir kamu model, kamu tahu seberapa cantiknya kamu?' tanyanya dan aku sedikit salting.
'Kamu punya badan yang bagus, wajah cantik, senyum yang bisa melelehkan es plus karakter yang terlalu bagus buat jadi kenyataan,' katanya.
'Makasih Ben,' kataku, ini bukan pertama kalinya dia bilang gitu, tapi emang enak sih denger lagi.
Ben itu cowok imut yang gampang banget narik perhatian cewek-cewek, kebanyakan perawat di rumah sakit udah nggak ngomong sama aku dan aku tahu itu karena dia…Mereka semua pengen dia.
Mereka ngelirik dia setiap kali ada kesempatan.
Walaupun dia belum bilang apa yang dia rasain ke aku tapi udah kelihatan banget dia punya perasaan ke aku, meskipun aku pengen itu nggak bener dan aku punya firasat dia bakal bilang ke aku soal itu sebentar lagi. Aku nggak punya sedikit pun perasaan ke dia, aku cuma suka dia sebagai teman yang sangat baik.
Sama halnya dengan beberapa staf cowok di rumah sakit yang udah ngajak aku jalan beberapa waktu lalu tapi aku nggak ngerasain apa-apa ke mereka.
Hati aku cuma berdebar buat satu orang.
Pelayan datang bawa pesanan kita, dan ngedipin mata ke Ben sebelum pergi goyangin pantatnya yang rata dengan semangat.
Aku ketawa dan Ben senyum…Ini bukan pertama kalinya mereka genit sama dia tapi aku terus mikir gimana mereka bakal bersikap kalau lihat Mig.
Karena Mig jauh lebih imut dari Ben…
Bibir merah mudanya yang kecil bakal bikin mereka ngiler sebelum mereka lihat seluruh wajahnya, terus ke badannya… Aku yakin mereka bakal pingsan,' pikirku sambil cekikikan dan makan es krimku.
Tapi masalahnya, Mig jarang keluar rumah.
Aku nyendok es krim ke mulutku dan ngehembusin rasa dingin di mulutku.
Ben bikin aku ketawa sepanjang makan siang seperti biasa…
Kita selesai makan dan istirahat sebentar sebelum balik lagi ke rumah sakit.
Ben nganterin aku ke bangsal dan pergi.
Aku berterima kasih ke Perawat Claire sebelum dia pergi.
Anak-anak udah selesai makan, aku masukin piring kosong mereka balik ke keranjang dan sisihkan buat koki.
Aku duduk mau mulai baca novelku lagi pas anak-anak ngerayu aku buat ceritain cerita.
Aku ragu-ragu awalnya tapi aku nggak punya pilihan…Kayaknya mereka suka banget cerita dan lagu aku.
Aku selesai ceritain dongeng dan mereka mulai nanya-nanya seperti biasa.
Aku jawab pertanyaan mereka dan nggak bisa nggak kagum sama kepintaran mereka.
Aku selalu mikir kenapa orang tua mereka bakal ninggalin anak-anak imut dan pintar kayak gitu di rumah sakit bahkan setelah mereka sehat.
Aku lihat jam dinding; 3:45.
Beberapa menit lagi aku harus beres-beres dan pergi pulang… Aku kangen Mig sih.
Aku selesai beres-beres dan ngobrol sama anak-anak sambil nunggu Fleur.
'Hei anak-anak,' kata Fleur masuk.
'Hei Dokter Fleur,' jawab anak-anak sambil senyum.
Siapa yang nggak suka Fleur?
'Bye,' aku lambaikan tangan.
'Bye Elva,' jawab mereka dengan cemberut dan aku tahu mereka nggak mau aku pergi.
Aku senyum.
Kita keluar dari rumah sakit setelah tanda tangan dan pamitan ke perawat.
'Elva, kita harus ke toko kebutuhan pokok, aku harus beli beberapa barang,' katanya dan aku ngangguk.
Kita ngobrol sampai di sana, kita masuk dan Fleur ngeluarin daftar belanja dan mulai naruh barang-barang di keranjang belanjaan yang aku tawarkan buat bawa.
Kita selesai belanja dan keluar dari toko kebutuhan pokok dengan tas belanja di tangan kita.
Kita menuju rumah.
Kita sampai rumah dan aku pengen banget kita bisa jalan lebih jauh. Fleur lagi cerita tentang apa yang terjadi di rapat staf.
Kita melangkah ke beranda depan dan buka pintu, kita masuk dan aku berharap denger suara yang bikin takjub seperti biasa tapi yang kulihat jauh lebih dari itu.
Seorang cewek cantik lagi duduk nyaman di sofa pake blus turtle-neck crop sama rok mini hijau. Matanya biru muda dan rambut pirangnya dikepang Prancis. Hidungnya mancung dan bibirnya ditekan sedikit senyum yang kayaknya palsu. iPod pink di paha mulusnya.
Dia kelihatan cantik atau malah seksi.
'Daisy,' Fleur teriak marah dan aku tersentak.
Fleur bukan orang yang gampang marah kayak gini.
Siapa sih ini?
'Keluar,' Fleur teriak.
Ya Tuhan, ada apa nih?
.
Stapsy ❣️
Siapa Daisy sih dia nggak boleh macam-macam deh
.
.
.
.
Bersambung