BAB 16
POV Elva
'Kamu kelihatan cantik,' Dia bilang dan aku maksa senyum.
'Makasih, aku harus masuk sekarang,' kataku.
'Oke, selamat datang di rumah sakit CARE dan HEAL,' Dia bilang.
'Makasih'
'Aku tinggalin kamu ya, sampai jumpa lagi,' Dia bilang, senyum, dan pergi.
Aku narik napas dalam-dalam sebelum buka pintu, aku masuk dengan perasaan agak gugup.
Wow.
Anak-anak imut.
'Anak-anak ini imut, gimana orang tua bisa ninggalin anak-anak imut ini?' pikirku.
Ada tujuh ranjang, masing-masing buat anak dan ada meja bersih dengan kursi yang diposisikan agar bisa melihat anak-anak dengan jelas.
Mereka semua noleh ke arahku, ngasih tatapan 'kamu siapa', ada empat cewek, tiga cowok.
'Hai anak-anak,' kataku sambil senyum.
'Kamu siapa?' Seorang cewek pintar yang imut nanya, kayaknya dia yang paling tua, mungkin umur tujuh tahun.
'Aku Elva, aku bakal gantiin Nyonya Morgan sampai dia balik dari cuti hamil,' kataku.
'Semoga kamu sebaik Nyonya Morgan, dia nggak pernah marah atau kesel sama kita,' kata cewek lain, kayaknya lebih muda dari cewek pertama.
'Tentu saja aku bakal sebaik Nyonya Morgan, aku nggak bakal marah atau kesel sama kalian semua, oke?' kataku dan mereka ngangguk.
'Sekarang duduk di ranjang kalian dan kenalan satu-satu ya,' kataku dan mereka semua lari ke ranjang mereka.
Turut.
Aku juga jalan ke meja, naruh tas di atasnya dan noleh lagi ke mereka.
'Sekarang mulai dari kamu,' kataku sambil nunjuk cowok kecil yang imut.
'Aku Jack,' Katanya.
'Aku Mitchell,' kata cewek pintar itu.
'Aku Karen,' kata cewek imut.
'Aku Martin,' kata seorang cowok.
'Aku Daniel,' kata cowok imut dan aku langsung suka sama dia.
'Aku Miya,' kata cewek imut lain.
'Aku Sasha'….
'Nama-nama kalian semua imut,' kataku sambil jalan ke kursi, aku duduk sambil nyenderin tangan di meja dengan nyaman.
'Aku udah kenalan tadi tapi lebih baik kalau sekarang kenalan yang bener. Aku Elva Wilson, pengganti Nyonya Morgan, aku janji bakal sebaik mungkin dan aku harap kita semua jadi teman baik,' kataku dan anak-anak tersenyum.
'Selamat datang Nona Elva,' mereka bilang serempak.
'Sarapan kalian bakal datang sebentar lagi, dan aku bakal nyajiin buat kalian semua, oke?' kataku dan mereka ngangguk.
Ruangannya kelihatan cukup besar dan aku suka.
Mereka diem, semua natap aku..
Kayaknya mereka belum nyaman sama aku.
Pov Mig
Aku masuk dapur beberapa menit setelah mereka pergi, penampilan Elva bikin terpukau dengan baju itu dan bahkan kecantikannya..sial.
Aku selalu mikir dia itu model.
Aku banting lemari dapur dengan keras pas sadar dokter-dokter bodoh itu pasti bakal nge-gebet dia.
Aku nggak seharusnya ngebolehin Perawat Fleur nyariin dia kerjaan itu.
Ya Tuhan.
Dan gimana kalau mereka nge-gebet dia?
Apa aku cemburu atau gimana?
Dia bukan milikku! Aku nggak mikir aku punya hak atas dia tapi…
Aku ngabaikan itu, ngasih keluar ayam yang baru aja aku rebus. Aku ambil piring lain dan nyendokin nasi lembut ke dalamnya.
Aku nyisain buat Elva dan Perawat Fleur, masukin ke kulkas sebelum aku bawa punya aku ke ruang makan.
Aku duduk dan mulai makan, bersenandung.
Aku cuci piring setelah makan dan pergi ke kamarku buat tidur siang.
️️️
Aku bangun dengan perasaan bosen banget.
Arrrgh!
Aku beneran kangen kehadiran Elva di rumah, kita pasti udah ngobrol sekarang..
Aku duduk di kasur mikirin apa yang dia lakuin sekarang?
'Ngobrol sama dokter imut?' pikirku cemburu.
Sial.
Mig.
Aku udah baca semua novel di perpustakaan dan aku bukan penggemar baca ulang novel kecuali aku suka banget tapi aku nggak mood buat itu sekarang.
'Apa yang harus aku lakuin?'
'Aku bosen banget'….
Ohh..ya.
Aku tahu apa yang harus dilakuin…aku bakal lakuin apa yang udah lama nggak aku lakuin.
Aku lari keluar kamar langsung ke loteng, aku buka pintu dan masuk sambil pakai tangan buat bersihin sarang laba-laba pas aku mendekat ke tempat piano ku yang tertutup rapi.
Aku selalu pengen jadi model dan musisi, aku punya suara terbaik yang bisa dipikirin orang dan aku jago banget nyiptain lagu.
Aku punya serangkaian lagu ciptaan ku dan bahkan kupu-kupu menari setiap aku nyanyi.
Ini hasratku..bakatku..impianku..hidupku tapi sedihnya aku nggak bisa ngejar itu karena penyakitku.
Aku inget waktu Ibu ngasih aku piano pas ulang tahun ke-15 ku, waktu kita masih di Kota. Dia tahu tentang hasratku sama musik dan mutusin buat bantu aku sebisa dia..
Dan pertama kali aku naruh jari di piano itu adalah momen paling bahagia dalam hidupku dan saat itu aku tahu bahwa 'ini hasratku, keinginanku, bakatku, impianku, hidupku dan segalanya'.
Waktu itu, tetangga-tetangga kita suka dengerin aku nyanyi dan main piano, kita semua bakal duduk di taman pas sore dan mereka bakal ngebujuk aku buat nyanyi dan main piano.
Aku bakal lari masuk dengan senang, ngeluarin piano ku dan mulai ngelakuin apa yang paling aku suka.
Mereka bakal tepuk tangan buat aku saat aku selesai dan aku bakal senyum senang.
Tuan Tony salah satu tetangga kita bakal nepuk punggungku dan janjiin aku, dia bakal bikin aku jadi musisi dan model yang selalu aku inginkan.
Aku bakal senyum, berterima kasih sama dia.
Tapi semua impianku hancur saat penyakitku ditemukan dan kita harus pergi dari Kota ke pedesaan.
Waktu itu, ninggalin kota ke pedesaan bikin aku takut, aku selalu denger kalau pedesaan itu penuh hantu, monster, dan serigala.
Orang tuaku yakinin aku, dan ngeyakinin aku kalau nggak ada semua itu.
Mereka beli rumah ini dan ngerenovasinya sebelum kita pindah dan sejak itu, aku nggak pernah nyentuh piano ku karena itu ngebawa kenangan yang nggak pengen aku inget.
Tapi sekarang.. aku siap buat lanjutin hasratku, keinginanku, satu-satunya hal yang bikin aku bahagia dari hati.
Aku tahu aku mungkin nggak bisa nyanyi buat dunia kayak yang selalu aku mau tapi nyanyi di sini sendiri juga bakal bikin aku bahagia.
Cukup tentang pikiran…
Aku narik napas dalam-dalam dan lepasin kain yang aku pakai buat nutupinya..
Dan di sana piano ku, kelihatan baru banget, nggak ada sedikitpun debu di atasnya.
Aku ngerasa deg-degan di dada cuma dengan ngelihat itu.
Aku nggak tahu kapan aku senyum..aku geser kursi piano, bersihin sebelum duduk di atasnya, nggak sabar buat mulai.
Aku nyalain piano, neken jari ku di satu kunci dan aku ngerasa adrenalin ngalir di nadiku.
Aku mainin beberapa kunci dan perasaan lama itu balik lagi ke aku…
Aku senyum senang dan mulai main piano kayak yang selalu aku lakuin.
Aku biarin diri aku tenggelam dalam momen itu, lagunya keluar dengan indah dari mulutku dan jari-jari berbakatku mainin piano..nggak ada duanya.
Ya ampun.
Momen yang hebat..
Stapsy ❣️
Bersambung