BAB 60
Sudut Pandang Elva/Vinnie
Air mata gue tumpah, gue ambruk ke lantai di samping mobilnya Dianne pas gue lihat Fleur dan Mig pergi.
"Sialan!! Vinnie, kenapa sih lo bersikap kayak gitu ke orang-orang yang peduli sama lo, padahal lo bahkan gak tahu siapa diri lo," Dianne nyemprot.
"Gue gak bermaksud buat gitu…pas gue inget lagi ingatan gue semalam. Gue gak bisa nahan kegembiraan gue, tapi pas gue lihat ekspresi mereka, gue juga ngerasa gak enak, tapi gue harus nutupin kesedihan gue dengan bersikap aneh."
Gue bersikap gitu gara-gara Mig, gue sumpah cinta banget sama dia, tapi setelah gue inget Ryan, gue tahu gue harus jauhin Mig, yang mana itu hal paling susah buat gue lakuin..satu-satunya yang bisa gue lakuin cuma bersikap kayak gue gak peduli lagi, lo gak tahu gimana gue nangis semalaman.
Gue gak bermaksud buat gitu tapi gue harus, demi kebaikan Mig. Gue gak mau dia sedih setelah gue pergi, gue mau dia benci gue, gue gak mau dia inget gue pernah ada di hidup dia! Bakal bikin dia hancur.
Ryan tetap tunangan gue meskipun gue gak punya setengah perasaan yang gue punya buat Mig buat Ryan. Gue harus hormati keputusan Ayah tapi lihat Mig pergi sambil nangis sekarang. Gue gak tahu harus gimana. Gue…gue bingung," gue nangis kejer.
"Ayo Vinnie, bersikap kayak Vinnie yang gue kenal. Ambil keputusan lo sendiri, gue yakin Ayah gak bakal nanya lo lagi setelah lihat lo sekian lama.
Lo mau nikah tanpa cinta?" Dianne nanya dan gue geleng.
"Kita berdua tahu lo gak cinta Ryan, pilih cowok yang lo cinta..gila cowok itu ganteng banget. Dia juga cinta sama lo…ambil keputusan sendiri Vinnie," kata Dianne.
Tapi Ryan.. gimana perasaan dia nanti.
Dia gak mau nyakitin dia dan dia juga gak mau nyakitin Mig.
Meskipun kejadian ini gak terjadi, apa dia bakal nikah sama Ryan?
Gak, Vinnie Winters gak akan pernah nikah sama orang yang gak dia cintai.
"Ingat lo bahkan bilang ke gue lo berencana bilang ke Ayah kalau lo mau akhiri hubungan lo sama Ryan tapi lo diculik sebelum lo bisa," kata Dianne.
"Iya gue inget."
"Dan lo gak suka gaya hidup Ryan, dia ngerokok dan pake narkoba! Dia Casanova! Gue gak bakal biarin lo nikah sama orang kayak dia pokoknya tapi coba deh lihat cowok ini, siapa pun juga bakal lihat di matanya kalau dia cinta mati sama lo."
"Gue juga cinta mati sama dia!" gue bilang.
"Terus apa yang bikin lo gak ngejar dia?" Dianne nanya, sambil mengayun-ayun Dan dalam gendongannya.
Vinnie ngendus… ngambil keputusan buat ngejar Mig bakal nyakitin Ryan. Dan milih Ryan juga bakal nyakitin Mig tapi Ryan udah ada di hidupnya duluan. Gak gampang buat dia nyakitin orang lain demi kebahagiaannya sendiri.
Dia bakal ngerasa bersalah selamanya.
"Sepanjang hidup lo, lo selalu utamain orang lain, utamain diri lo sendiri sekali aja Vin! Tolong! Jangan tolak diri lo sendiri dari cinta yang abadi cuma karena lo pikir itu bakal nyakitin orang lain, lakuin apa yang bikin lo bahagia, bodo amat sama perasaan orang lain, ayo!" kata Dianne.
"Gue udah ambil keputusan," gue bilang dengan tegas.
"Dan apa keputusan lo?" Dia nanya.
~
Beberapa menit kemudian, kita udah di dalam mobil, mau mulai jalan ke rumahnya Mig.
Keputusan gue adalah buat ngejar orang yang gue cinta.
Gue gak bisa bayangin hidup gue tanpa dia.
Gak lihat dia di samping gue bakal bikin gue hancur.
Bayangin dia nikah sama cewek lain hampir bikin gue gila.
Gak, dia gak bakal kehilangan dia buat cewek lain.
Ryan itu playboy, gue yakin dia gak bakal setia sama gue sejak gue pergi.
"Vin Vin Vin ambil keputusan yang benar," Dianne nyanyi dan gue ketawa.
Sialan..gue kangen banget sama saudara gue yang satu ini.
Kita pelukan lagi dan gue ngerasa bahagia banget dengan keputusan gue.
Dianne ikut sama gue buat minta maaf ke Mig dan Fleur.
"Gak sabar pengen ketemu cowok ganteng itu lagi," kata Dianne dengan senyum nakalnya.
Gue tatap dia tajam ‘ Gue harap lo gak naksir dia duluan, ya?"
"Tentu aja, siapa yang gak?" Dia bilang dan gue ngamuk.
Dia ketawa.
"Tapi tentu aja gue tahu dia cowok lo, jadi tangan kosong," kata Dianne, ngangkat kedua tangannya ke udara.
"Bagus," gue ngangguk.
Dianne noleh sambil senyum buat lihat Dan, yang lagi tidur di gendongannya Selena.
"Dia koki yang jago…dia tahu gimana caranya bikin casserole, masakan favorit lo," gue bilang.
"Ya Tuhan, beneran?" Dia nanya.
"Iya," gue jawab.
"Sialan…gue bakal nikah sama dia sekarang juga," Dianne goda dan gue tatap dia sinis.
Dia ketawa “Ayo, dia udah jadi milik lo."
"Gue tahu banget," gue nyengir.
"Sialan … Vin lo cinta banget sama dia."
"Tentu aja gue cinta. Gue kangen banget sama Selena?" gue nanya sambil noleh ke arahnya.
Dia senyum.
"Gue juga kangen banget sama lo Bos Vin," kata dia.
"Gimana kabar lo?" gue nanya.
"Gue baik, Bos Dianne baik banget sama gue," jawab dia sambil senyum bahagia.
"Lo kelihatan makin dewasa dan cantik," gue bilang dan dia salting.
"Makasih Bos Vin," kata dia.
"Lo tahu gue selalu ngerasa tertarik sama Dan waktu gue amnesia, gue gak pernah tahu dia itu keponakan gue yang imut," gue bilang.
"Beneran?"
"Iya dan dia pernah bilang ke gue kalau gue mirip tantenya," gue bilang, sambil narik pipinya yang tembem kayak yang biasa gue lakuin.
Dia masih tidur.
"Wah, dia inget lo, dia cuma gak yakin aja," kata Dianne.
"Iya," gue ngangguk.
"Gue seneng banget, gue gak nyangka bisa nemuin saudara dan anak gue di hari yang sama. Ya Tuhan, kalau ini mimpi…gue gak mau bangun," kata Dianne dan gue ketawa.
"Mungkin gue nyetir?" gue nanya.
"Gak, udah lama lo gak nyetir..gue aja deh," kata Dianne, nyalain mesin.
Dianne mulai jalan ke rumah sesuai arah gue.
Jantung gue berdebar kencang.
‡‡‡‡‡‡
Dianne parkir di depan rumah dan kita semua turun.
"Apa lo pikir gue bakal dimaafin?" gue nanya ke Dianne dengan gugup pas kita jalan ke pintu.
"Tentu aja…coba aja dulu," kata dia dan gue ngangguk.
Gue tarik napas panjang sebelum ngetuk.
Gue ngerasa perut gue tegang pas gue denger suara Mig.
"Siapa di sana?" dia nanya.
"I…it..s…it’s…" gue gagap.
Pintunya kebuka dan gue mundur pas gue lihat Fleur.
"Ohh…lo mau ambil sesuatu dari kamar lo, kan?... masuk," kata dia, minggir. Gue geleng.
Dia buka lebar pintunya buat kita masuk dan kita masuk.
Gue lihat Mig berdiri di belakang Fleur dan gue buru-buru nyamperin dia dan meluk dia sambil nangis.
"Ke…kenapa lo nangis?" dia nanya khawatir sambil ngusap wajah gue di telapak tangannya.
"Gue minta maaf, tolong maafin gue. Gue bersikap gitu karena ada alasannya dan sekarang gue udah ambil keputusan. Tolong maafin gue, gue minta maaf," gue nangis.
Gue lihat Fleur mendekat ke gue.
"Mungkin gue tahu lo bakal balik lagi tapi lo beneran nyakitin kita dengan kata-kata dan tingkah laku lo," kata Fleur.
"Gue minta maaf, gue punya alasan bersikap gitu. Setelah sadar gue punya tunangan, gue tahu gue harus lepasin Mig, gue mau dia benci gue, gue mau dia lupa kalau gue pernah ada di hidupnya karena gue tahu itu bakal bikin dia hancur. Tapi sekarang gue udah ambil keputusan. Tolong maafin gue, gue minta maaf," gue mohon.
"Wah," Fleur menghela napas.
"Lo beneran punya tunangan?" Mig nanya dan gue noleh ke arah dia.
"Iya, tapi sekarang gue udah selesai sama dia," gue bilang dengan berani.
"Beneran?" Mereka berdua nanya dan gue senyum.
"Gue gak cinta dia setengah dari cinta gue ke lo, gue gak bakal nikah sama dia pokoknya, gue putusin buat pilih orang yang gue cinta. Gue bahkan gak bisa bayangin hidup gue tanpa lo Mig," gue bilang dan senyum pas Mig meluk gue, nyium kening gue berulang kali.
Fleur ikut meluk.
"Lo dimaafin Elva," kata mereka dan gue lihat Dianne ngedip ke gue dari tempat dia duduk.
Gue nyengir bahagia.
"Senang banget lo balik lagi," Mig berbisik di telinga gue dan gue senyum.
"Senang juga lo balik lagi," gue bilang nyium bibirnya.
"Udah deh yang mesra-mesraan," kata Dianne dan kita ketawa.
"Sialan..drama queen lain ada di sini," Mig berbisik ke gue dan kita berdua ketawa.
"Hai Mig, gue denger lo bisa masak makanan favorit gue dengan enak banget.. Casserole," kata Dianne.
"Tentu aja gue jago dalam hal itu," Mig sombong.
"Wah..bisakah lo bikinin Casserole buat gue?" Dianne nanya.
"Kalian gak jadi pergi hari ini?" Fleur nanya.
"Gak, kita pergi besok…kita bakal di sini sampai besok," gue bilang dan Fleur menjerit.
"Yaaay…kita bakal punya kalian semua selama sehari lagi, bakal seru nih," kata dia dan kita senyum.
"Iya…gue bakal bikin casserole terbaik buat kita semua…kasih gue beberapa menit," kata Mig, buru-buru masuk ke dapur dengan senang.
Kita semua duduk, ngobrol dan ketawa dengan Dan jalan-jalan di ruang tamu.
Sudut Pandang Mig
Gue seneng banget…
Elva balik lagi ke gue!
Gue pikir gue udah kehilangan dia tapi gue berharap dia bakal balik lagi ke gue dan dia melakukannya. Apa gue spesial banget buat dia sampai dia milih gue daripada tunangannya.
Baru beberapa saat yang lalu, gue sedih dan sekarang gue seneng banget.
Gue menari dan nyanyi dengan senang pas gue ambil bahan-bahan buat Casserole..
Gue bakal bikin casserole ini paling enak yang pernah mereka rasakan.
Gue pake celemek dan buru-buru cuci tangan gue, gue keringkan dan mulai masak.
Gue senyum pas gue denger tawa mereka di ruang tamu.
★★★
Gue selesai bikin Casserole dan mulai ngeluarinnya.
"Wah! Aromanya membunuh," gue denger Dianne bilang dari ruang tamu dan gue nyengir.
"Iya…Mig itu koki terbaik yang pernah gue kenal," Elva sombong dan gue nyengir lebih lebar, blushing.
"Gue harus bantu dia," kata dia dan gue denger langkah kakinya ke arah dapur.
Well..gue udah rencanain buat nembak dia jadi pacar gue setelah dia inget lagi ingatannya.
Gue pengen tahu status hubungan dia dan sekarang gue udah tahu..Dia masuk ke dapur dan gue senyum pas lihat seringai di wajahnya.
"Wah Mig…aroma cassrolenya memenuhi seluruh ruang tamu dan itu udah bikin perut gue terbang," kata dia dan gue ketawa.
"Tunggu sampai lo nyicipin," gue bilang.
"Beneran?"
"Tentu saja.."
"Well..gue tahu lo koki yang jago sih, jadi gue bantu yang mana?" Dia nanya.
"Lo bisa bawa makanannya ke ruang makan, terus balik lagi buat sisanya," gue bilang.
"Oke," kata dia dan ambil baki, dia letakin empat piring casserole di atasnya dan bawa ke ruang makan.
Sialan…kenapa gue gugup banget buat nembak dia.
Gue tahu dia bakal bilang iya pokoknya.
Dia balik lagi ke dapur dan gue berdeham.
Gue meluk dia erat-erat ke dada gue, sentuhan payudaranya ke dada gue hampir bikin gue hilang fokus.
"Makasih banyak udah balik lagi ke gue…gue cinta sama lo," gue bilang.
"Gue yang harusnya berterima kasih karena udah nerima gue lagi ke hidup lo," kata dia.
"Gue pengen… nanya sesuatu sama lo," gue bilang.
"Silakan," kata dia nyenderin kepalanya di dada gue.
Jantung gue berdebar kencang.
"Mau…mau gak lo jadi pacar gue?" akhirnya gue nanya.
Dia angkat kepalanya dari dada gue, natap langsung mata gue.
"Iya iya iya iya…gue dengan senang hati jadi pacar lo," kata dia bahagia dan gue meluk dia, nyium dia penuh di bibirnya.
Gue ngerasa seneng banget dan lega.. Dia milik gue sekarang, dia udah bener-bener lepasin tunangannya.
Gue cium dia lebih dalam dan dia balas dengan energi yang sama.
"Wah," kita denger orang berdeham.
Kita lepas ciuman dan noleh buat lihat mereka berdiri di pintu masuk dapur.
Oh…wow.
Gue lihat pipinya Elva memerah dan senyum.
"Akhirnya," Fleur menjerit.
"Akhirnya apa?...kalian semua lihat semuanya?" gue nanya.
"Tentu aja kita lihat," kata mereka, ketawa.
"Jadi, kalian resmi pacaran," kata Dianne.
"Ya Tuhan, lihat Elva blushing parah," Fleur goda dan Elva buru-buru nyembunyiin wajahnya di dada gue.
Mereka semua ketawa.
"Sekarang…gue laper, ayo makan Casserole," kata Dianne.
"Iya iya," kata Fleur dan mereka cekikikan pergi ke ruang makan.
Elva angkat kepalanya dan dengan malu-malu ngasih gue ciuman cepat sebelum bawa sisa makanan ke ruang makan.
Gue lepas celemek gue dan juga pergi buat gabung sama mereka di ruang makan.
★★★
Sudut Pandang Elva
"Ya Tuhan, itu Casserole terenak yang pernah gue rasain," kata Dianne setelah kita selesai makan.
"Iya," gue bilang.
Selena dan Fleur udah masuk ke dapur buat cuci piring sementara Mig, Dianne dan gue tetap di ruang makan.
Kita berencana buat pergi ke taman tapi kita nunggu Selena dan Fleur selesai cuci piring.
"Mig…lo koki terbaik yang pernah gue temui, pacar lo bener," kata Dianne dan gue blushing.
"Makasih Dianne," kata Mig.
Gue senyum.
"Gue gak sabar pengen lihat taman," kata Dianne..kalau ada sesuatu yang dia cintai; itu bunga dan gue tahu dia bakal kaget banget lihat taman danau kita yang indah.
Dan udah tidur di kamar gue jadi kita bebas buat have fun.
"Vin kita harus telpon Ayah," kata Dianne dan gue geleng.
"Gak gue mau kasih kejutan buat dia..lo tahu dia suka kejutan," gue bilang dan dia ngangguk.
"Gimana sama si penyihir?" gue nanya, merujuk ke ibu tiri gue.
"Dia ada di sana, buang-buang uang, beli barang gak penting kayak biasanya..dia sita ATM gue," kata Dianne.
"Well…dia bakal dapat balasan panas begitu gue nyampe rumah," gue bilang.
"Gue percaya sama lo Vinnie," Dianne terkekeh.
"Mig," Dia manggil.
"Hah?" Dia noleh ke arah dia.
"Apa lo punya mimpi buat gabung ke perusahaan model?" Dianne nanya dan kita menatap dia dengan terkejut.
Kok dia tahu mimpi Mig..gue berencana bantu dia pas gue nyampe Meksiko.
Gue musisi dan model terkenal dan Mig dan gue bakal kerja bareng, meskipun gue belum bilang ke dia.
"Iya itu mimpi gue dan juga jadi musisi," Mig jawab.
"Wah..keren, dengan fisik lo, gue tahu lo bakal bikin para wanita klepek-klepek dengan jadi model dan musisi," kata Dianne.
"Mau gak lo ikut kita ke Meksiko besok, biar ayah gue bisa mensponsori lo dan juga lo juga bisa kerja bareng Vinnie karena dia juga musisi dan model," Dianne bilang dan gue lihat keterkejutan terpampang jelas di wajah Mig dan Fleur.
"Beneran?" Mereka nanya.
"Iya," gue jawab dengan senyum.
"Gue juga kepikiran… postur tubuh lo, suara lo dan wajah lo yang cantik gak bisa dibandingkan dengan siapa pun," kata Fleur dan gue senyum.
"Wah…gue mau banget kerja bareng Elva," Mig bilang bahagia meluk gue erat-erat.
Gue celupkan tangan gue ke rambutnya yang basah dan narik bibirnya lebih dekat ke bibir gue.
"Jadi tolong ikut kita ke Meksiko besok..ayah gue dan yang lain harus lihat lo," Dianne bilang dan gue lihat Fleur dan Mig bertukar pandang.
"Iya tolong ikut kita ke Meksiko dan Fleur juga..tolong," gue mohon.
"Iya kita bakal ikut kalian besok," kata Fleur dan Mig mengangguk setuju.
Gue tarik Mig ke pelukan bahagia lainnya.
"Gue harus telpon Dokter Steph sekarang dan minta cuti satu minggu mendesak. Gue bakal balik lagi ke sini dalam waktu seminggu tapi Mig bisa tetap di sana buat ngejar mimpinya," kata Fleur.
"Wah.. Vinnie, bakal ada keributan di Meksiko besok," kata Dianne
"Kenapa?" Mereka nanya tapi gue udah tahu apa yang dia maksud.
"Kalau Mig masuk Meksiko, banyak perusahaan Model yang hampir membunuh buat punya dia buat kerja sama mereka," kata Dianne dan gue lihat wajah Mig berubah jadi seringai lebar.
"Tentu saja saudara gue harus dihitung di antara cowok-cowok paling ganteng di dunia," kata Fleur.
"Iya, pacar gue harus dihitung di antara cowok-cowok paling imut dengan fisik hebat di dunia," gue bilang dan kita ketawa.
Gue bakal balik ke Meksiko besok dan kembalinya gue bakal panas.
Sasha Lee mendingan hati-hati.
Stapsy ❣️
To be continued