BAB 35
POV-nya Mig
Kita semua duduk di meja makan, makan dalam diam, pikiran gue kembali ke saat Ben dan gue berantem. Gue beneran ngasih dia pelajaran yang nggak bakal dia lupain. Gue sengaja nggak terlalu keras sama dia karena gue nggak mau nyakitin dia parah, tapi gue tau dia pasti bakal kesakitan di mana pun dia sekarang.
Pas Fleur dan Elva udah dateng, pandangan gue langsung ke bibir Elva dan gue jadi makin kesel. Pengen banget nonjok Ben lagi, tapi gue harus nahan diri.
Gue rasa gue nggak bakal akur lagi sama Elva. Dia beneran nyakitin gue dengan nyium dia.
Dia bahkan tau nggak sih kalau gue kesel gara-gara itu? Gue gila… Kok gue bisa kesel sama orang yang ciuman sama orang yang bahkan bukan pacar gue? Tapi gue nggak bisa nahan diri.
"Mig!" Dia manggil, ngeganggu pikiran gue. Gue lirik dia dengan dingin dan jantung gue berdebar cuma karena ngeliat mukanya. Rambutnya disisir ke belakang, keliatan basah, dan baru gue sadar kalau rambutnya ada warna emasnya.
"Nggak papa," kata dia, dan gue ngerasa bersalah karena bersikap dingin sama dia, tapi gue nggak peduli.
"Daisy!" Fleur manggil.
"Bisa kasih tau kita gimana lo tau soal lorong bawah tanah dan apa yang lo lakuin di sana?" Fleur nanya dan kita semua berhenti makan, ngadep ke Daisy…
Iya.
Persis pertanyaan yang mau gue tanyain sebelum bocah tengil itu dateng.
"Hmm… pas Mig pergi pagi-pagi, gue agak bosen jadi gue jalan-jalan keliling rumah, terus kaki gue nyenggol papan, terus tiba-tiba ada pintu kebuka dan ternyata itu pintu ke lorong. Gue kaget banget dan penasaran, jadi gue nggak bisa nggak masuk ke lorong itu… Gue pingsan karena ngeliat tikus raksasa," Fleur cerita dan gue sama Fleur saling pandang.
"Beneran?" Fleur nanya.
"Iya, jelas, atau emang gue ngapain di sana?" Daisy nanya.
"Gue nggak percaya lo," kata Fleur.
"Ya udah, itu urusan lo," kata Daisy.
"Lo tau nggak?" Fleur nanya.
"Apa?"
"Gue nggak sabar lo keluar dari rumah ini, gerak-gerik lo mencurigakan," kata Fleur.
"Lo gila," kata Daisy.
"Sama," kata Fleur dan mereka saling tatap tajam.
Dua orang ini.
Gue pengen nyebutin soal 'kode-kodean' itu, tapi nggak jadi karena nanti Fleur bakal nanya-nanya lagi dan bisa jadi malah berantem.
"Fleur, lo harus cek lorongnya setelah makan," kata gue dan gue liat mata Daisy membesar, tapi cepet balik normal lagi.
"Iya, gue sama Elva deh," kata Fleur dan gue lirik Elva yang lagi ngadep makanannya.
"Dan itu berdebu banget, kita berdua aja yang pergi biar bisa bersihin. Elva nggak usah bantu," kata gue dan Fleur ngasih gue tatapan penuh tanya.
"Aku mau bantu," kata Elva.
"Gue nggak ikut," kata Daisy dan Fleur ngumpat ke dia.
"Elva, lo nggak usah bantu, gue sama Fleur aja yang ngerjain," kata gue tegas.
"Ayolah Mig, dia kan mau bantu," kata Fleur.
"Oke," gue angkat bahu.
"Makasih Mig," kata Elva.
"Makasih buat apa?" gue nanya.
"Udah ngebolehin aku bantu," kata dia.
"Nggak ada gunanya makasih sama gue?!… Denger! Gue nggak mau ada percakapan apapun sama lo, cukup diem di tempat lo aja," gue nyeplos dan gue liat mukanya pucat.
POV-nya Fleur
"Mig," gue marahin, ngasih dia tatapan tajam… Gue bisa tebak ada sesuatu yang nggak bener sama mereka berdua, Mig terus bersikap dingin sama Elva.
Biasanya, mereka ngobrol di meja makan, bikin gue ngakak, tapi sekarang, mereka berdua keliatan nggak seneng.
Apa yang salah sih?
Gue perhatiin ada ketertarikan di antara mereka meskipun nggak ada yang ngakuin.
"Mig, ada apa sih?.. Kamu kok dingin dan jahat banget sama Elva?" gue nanya dan tiba-tiba gue denger Daisy ketawa.
Gue noleh dengan marah ke dia.
"Lo seneng soal itu, kan?" gue nanya.
"Kenapa nggak?" dia nanya dan gue pengen banget ngelempar piring gue ke kepalanya yang sialan itu.
"Elva, kamu nggak usah peduliin Mig, dia lagi badmood aja… Kayaknya udah gue kasih tau pas kita pulang," gue bilang buat nenangin dia.
Dia ngangguk dan gue paksa dia buat senyum, dan dia beneran senyum.
"Mig, kita perlu ngobrol," gue bilang.
"Iya, kita beneran perlu," kata dia.
"Nanti gue ke kamar lo," gue bilang.
"Oke," dia bilang.
"Sama Elva," gue nambahin.
"Kenapa dia harus ikut sama lo?" Mig nanya dengan dingin dan gue liat muka Elva muram.
"Mig! Elva kan bagian dari keluarga sekarang, inget lo sendiri yang bilang gitu," gue bilang.
"Dulu sih iya," kata dia.
"Dulu atau sekarang.. Dia tetap keluarga kita, nggak kayak orang asing di sini," gue bilang, nggak langsung nyebutin Daisy…
Dia ngasih gue tatapan tajam.
"Fleur, kalau dia nggak mau aku ikut, ya udah nggak papa," kata Elva.
"Nggak Elva, kamu harus ikut sama gue," gue ngeyel.
"Kan kamarnya dia, aku nggak bisa masuk kalau dia nggak mau aku di sana," kata Elva.
"Kalau gitu, rapatnya di kamar gue aja deh," gue bilang.
"Oke… oke, dia boleh ikut sama lo," Mig setuju dan gue senyum.. Gue udah tau harus ngapain.
Daisy ngegeser kursinya dan berdiri mau pergi.
"Lo nggak pernah bilang 'makasih' sejak lo dateng ke sini, kita yang masak dan juga cuci piring, lo nggak ngapa-ngapain buat bantu di rumah, cuma makan nggak ada 'makasih' sedikitpun buat usaha kita… Lo pikir kita pembantu apa?" gue bilang ke Daisy.
"Pertama, gue nggak dateng ke rumah ini buat kerja kayak pembantu, kalian semua harus perlakuin gue kayak putri karena gue sama kehidupan(penyembuh) nya Mig."
"Kedua, orang bodoh yang duduk di sini seharusnya yang ngerjain semua kerjaan rumah karena kalian nerima dia tanpa minta uang," kata Daisy dan gue pengen ngejawab, tapi Elva bikin gue kaget dengan ngalahin gue.
"Ini seharusnya terakhir kali kamu ngomongin aku yang jelek, aku diem selama ini bukan berarti aku bodoh.. Aku cuma berusaha buat hindarin masalah, jadi tolong atur diri kamu. Aku nggak mau kehilangan kesabaran atau semua bakal kacau balau!" kata Elva dan gue kaget, begitu juga Daisy dan Mig.
Elva nggak pernah ngejawab Daisy, jadi gue kaget dia bisa ngomong gitu, tapi gue suka nyali dia.
Gue ketawa ngeliat ekspresi kaget di muka Daisy.
"Ohh… sekarang lo punya nyali buat ngomong balik ke gue?" Daisy bilang sambil jalan ke arah Elva, yang juga berdiri dari kursinya.
"Ya… lo udah nantang nyali gue," Elva ngejawab di depan muka Daisy dan gue senyum..
Mig berdiri buat ngehentiin mereka, tapi gue tahan dia.
Gue mau Daisy ngerasain apa yang biasa dia lakuin ke orang lain.
Tiba-tiba Daisy nampar Elva yang megangin pipinya dengan mata merah.
"Jangan berani-berani main sama gue lagi!" Daisy teriak dan noleh mau pergi, gue makin kaget pas Elva narik dia balik dengan rambutnya dan ngasih dia dua tamparan keras di kedua pipinya sebelum mendorongnya ke lantai, dia menerjangnya dan mulai mukulin dia dengan marah.
Apa…
Gue ketawa keras ngeliat teriakan Daisy yang nggak bisa dipercaya.
Mig berdiri lagi buat pergi ngehentiin mereka, tapi gue dorong dia balik, nikmatin pertunjukannya.
Wow… siapa yang nyangka Elva jagoan berantemnya kayak gini.
Stapsy ❣️
.
.
.
Bersambung.