BAB 28
POV Elva
Si Daisy tiba-tiba nyosor dan nyium pipi Mig, gue ngerasa emosi gue naik dan gak tau kapan gue mulai ngamuk ke arah mereka.
Gue tiba-tiba berhenti, kayak akal sehat gue balik lagi karena sekarang gue lagi mikir ulang.
Apa sih yang pengen gue lakuin?
Gue tau si Daisy emang dramatis, dia jelas banget lagi bikin sandiwara biar orang lain jelas kalo Mig itu cowoknya, jadi kenapa sih gue mau berantem sama dia?
Gue lebih kesel sama Mig karena ngikutin dia kesini. Tapi pasti dia maksa, soalnya Mig emang gak gitu suka keluar.
Dia malah keliatan makin ganteng.
Sebenernya ngapain sih mereka disini?
Pelayan-pelayan udah pada ngerubutin dia, genit-genit depan dia.
"Dia ganteng banget" Orang-orang pada nyaut.
Si bos terpaksa nyuruh para cewek itu pergi karena mereka bikin berisik dan jadi pusat perhatian di kantin.
Mig keliatan gak nyaman, meskipun dia lagi berusaha masang senyum palsu itu.
Oh.. Kasian Mig.
"Elva, gue tau dia cakep tapi lo bikin gue nunggu," Ben nyela pikiran gue.
"Oh.. astaga gue minta maaf Ben. Itu adeknya Fleur," kata gue.
"Beneran?" Dia nanya.
"Iya, ayo kita sapa," kata gue sambil jalan ke meja mereka, Ben di belakang gue.
"Hai Mig," kata gue pas udah sampe di meja mereka, dia ngangkat muka dan liat gue, senyum langsung merekah di wajahnya, tapi langsung ilang pas Ben muncul di samping gue, dengan tangan melingkar di leher gue. Gue kaget karena Ben gak pernah gitu.
Gue pengen narik tangannya dari leher gue tapi gak enak kalo bikin dia malu.
"Hai Elva, gue tau restoran atau lebih tepatnya kantin ini deket sama rumah sakit lo jadi gue gak kaget ngeliat lo disini," kata Mig.
"Iya.. ini Ben, dokter yang diceritain Fleur ke lo," kata gue.
"Ben ini Miguel, adeknya Fleur," kata gue sambil senyum terpaksa.
"oh… hai Ben," kata Mig.
"Hai Miguel," kata Ben dan mereka salaman.
"Gak profesional banget sih keluar makan siang pas jam kerja, lagian kan rumah sakit lo nyediain makan siang buat staf," kata Daisy ke gue dengan senyum sinis.
Gue natap dia.
"Harusnya lo ngomong gitu ke gue karena gue yang nyuruh dia nemenin gue dan lagian ini bukan pertama kalinya kita makan siang disini," kata Ben dan kayaknya gue ngeliat mata Mig membesar tapi langsung ilang.
"Oh ya, maksudnya ini bukan pertama kalinya kalian makan siang disini?" tanya Daisy.
"Iya," kata Ben.
"Wah, pasangan yang bagus nih," kata Daisy sambil senyum.
"Gak…" gue lagi ngomong.
"Senang bisa kenalan," Ben nyela dan nuntun gue ke meja kita sebelum gue sempet bales.
Arrrrgh!
Gue mikir Mig bakal mikir apa ya sekarang.. pikir gue sambil duduk.
Pelayan dateng ke meja kita buat pesen makanan dan Ben pesen yang biasa.. dia pergi, gue perhatiin dia gak ngedipin mata ke Ben atau goyangin pantatnya pas pergi.. ya gak sih pas ada Mig disini.
"Cewek itu siapa? Kayaknya dia gak suka sama lo," kata Ben.
"Hmm… dia bakal tinggal sama kita untuk sementara waktu," kata gue.
"Ohh… beneran?"
"Iya," kata gue nahan diri buat gak noleh dan ngeliat Mig… Gue sebenernya lagi ngebelakangin meja mereka, pelayan balik lagi bawa pesanan kita dan Ben mulai makan sementara gue minum minuman gue sama biskuit.
"Masakan si koki udah makin enak, sarapan yang dia hidangin enak banget," kata gue.
"Beneran?" tanya Ben.
"Iya, dia ikut kelas masak dan itu ngebantu banget," kata gue.
"Yah.. gue gak ngerasain sih… soalnya gue gak makan masakannya dia," kata Ben.
"Ohh," gue ngangguk, gak begitu mood buat ngobrol sekarang… Kehadiran Mig di restoran bikin jantung gue berdebar lebih cepet.
Dan gue yakin jantung gue bukan satu-satunya yang berdebar kencang disini.. cewek-cewek lain juga yang gak bisa lepas pandang dari dia.
"Adeknya Fleur emang cakep," kata Ben.
"Tentu aja," kata gue dan nyengir sebelum gue bisa nahan diri.
"Iya emang," kata gue lagi dan noleh buat ngeliat Mig. Pandangan kita bertatapan dan gue senyum tapi dia langsung buang muka dan gue bisa liat sedikit kemarahan di matanya.. Gue balik lagi ke minuman gue, tenggelam dalam pikiran..
Apa Daisy bikin dia kesel? atau gue ya? Dia cuma gitu kalo lagi kesel.
Gimana Daisy bisa bikin dia ngikutin dia kesini.
"Elva," gue denger Ben manggil.
"Hah?" kata gue sambil ngelirik ke dia, dia hampir selesai sama makanannya.
"Sepertinya lo suka sama Mig," kata Ben.
"Iya.. gue suka sama Mig, dia orangnya baik," kata gue, meskipun gue tau arah pembicaraannya mau kemana.
"Cuacanya bagus," kata gue berusaha gak memulai diskusi yang mau dimulai Ben.
"Iya sih, tapi gue tetep gak sabar nunggu cuacanya jadi lembab, semuanya jadi dingin dan enak," Ben senyum.
"Lembab?" gue nanya sambil inget penyakit Mig yang cuma muncul pas cuaca lembab.
"Iya gue suka cuaca lembab," kata Ben.
Gak ironis ya.. Cuaca yang paling ditakutin Mig malah jadi kesukaan Ben…
"Cuaca lembab emang gak begitu sering muncul," kata gue.
"Prediksi cuaca, lembab jam 3 siang ini.. gue gak sabar," kata Ben sambil senyum dan mata gue membelalak.
"Apa?" gue kaget sambil ngecek jam dinding.
"Jam 2:55," Ben menjawab.
OMG.. gak mungkin.
Penyakit Mig!!
5 menit lagi!!!
Gue harus bawa dia keluar dari sini SECEPATNYA.
Gue berdiri dan lari ke meja dia.
"Mig," gue panggil sambil ngos-ngosan.
"Apa?" dia nanya… Gue masih bisa liat kemarahan di matanya tapi gue gak peduli sekarang.
"Mig lo harus keluar dari sini," kata gue buru-buru.
"Buat apa sih?" Daisy nanya sambil melotot.
Astaga.. 2:56
"Mig ayo pergi," kata gue dan narik dia berdiri.
"Dia gak kemana-mana," kata Daisy narik dia dari gue.
Gue narik dia tapi Daisy narik dia balik dari gue.
"Mig tolong lo harus pergi sekarang," kata gue.
"Kenapa?" dia nanya dengan muka bingung.
"Udah ayo kita pulang aja, gue bakal ceritain semuanya," kata gue.
Dia lepasin tangannya dari Daisy dan mau ngikutin gue.
Daisy narik dia balik, mendorong dia buat duduk.
OMG.. gak mungkin.
2:58
2 menit lagi!
Menurut lo apa yang bakal terjadi?? Tolong kasih tau pendapat lo.
Jangan lupa juga like DAN komen biar grupnya makin seru
Stapsy ❣️
Bersambung.