BAB 2
POV-nya
'Ya Tuhan' kataku, malu banget. Aku buru-buru ngambil selimut, ngebungkus badan, meskipun udah gak ada gunanya lagi. Dia udah lihat semuanya.
Aku malu banget..
'Maaf banget, kukira kamu luka dan butuh bantuan. Itu sebabnya aku balik badan. Aku gak tau kalau selimutnya melorot dari badan kamu' Katanya, dan aku lihat ketulusan di mata sipitnya.
'Gak apa-apa' kataku, trus balik ke kasur dan duduk di sana. Kencing sialan yang bikin semua ini terjadi udah ilang… Astaga! Cowok ini lihat semuanya.
'Maaf banget' Dia minta maaf lagi, dan aku ngangguk.
Kita denger pintu kebuka, dan seorang cewek cantik masuk bawa dua tas belanja penuh.
Rambutnya hitam dan berkilau, ditata model bob, matanya besar dan coklat, hidungnya sempurna kayak cowok ini, bibirnya kecil dan merah muda.. Dia cantik, plus dia punya bentuk tubuh yang keren.
Pasti dia adiknya.
'Ya Tuhan, kamu udah bangun' Katanya, jalan ke arahku.. 'Gimana perasaan kamu sekarang?' Tanyanya.
'Lebih baik' jawabku pelan.
'Aku udah buatin kopi buat dia, dan menurutku itu ngebantu sedikit' Kata cowok itu, dan cewek itu ngangguk sambil ngedipin mata ke dia.
'Oke, siapa nama kamu?' Tanyanya.
'Nama aku' kataku.
'Iya, nama kamu' Katanya.
'Nama aku? Aku gak tau nama aku' kataku.
'Maksudnya kamu gak tau nama kamu?' Tanyanya.
'Iya, aku gak inget nama aku' kataku, berusaha keras buat inget, tapi gak bisa. Malah sakit kepala makin parah.
'Wow!' Serunya. 'Kamu dari mana?' Tanyanya.
'Aku gak tau, aku juga gak inget itu' kataku.
'Beneran?' Tanyanya.
'Iya, aku gak inget apa pun sebelum sekarang. Apa yang terjadi sama aku?' Tanyaku khawatir.
Mereka berdua saling pandang.
Semakin aku berusaha inget, semakin sakit kepala ini.
'Mig, dia kena Amnesia' Katanya ke abangnya dengan ekspresi sedih.
'Amnesia!' seru Mig.
'Amnesia?' Pikirku dalam hati.
'Iya, ingatan kamu hilang. Kamu gak akan bisa inget apa pun dari masa lalu selama beberapa waktu' Katanya, dan hati aku langsung mencelos.
'Lumayan parah juga' Mig menghela napas.
'Iya, dan kita juga gak nemuin identitas apa pun di kamu' Kata cewek itu.
Aku berusaha nahan air mata yang mau keluar, tapi gak bisa. Air mata itu terus-terusan ngalir ke pipi.
Kenapa aku gak bisa inget apa pun?
Gimana kalau keluarga aku di luar sana, khawatir sama aku.
Apa aku punya keluarga?
'Hei, gak apa-apa. Kamu gak perlu nangis' Kata cewek itu, ngelap air mata aku pake jempolnya.
'Aku gak inget apa pun, bahkan nama aku sendiri. Berapa lama ini akan berlangsung, di mana aku akan tinggal sampai saat itu. Gimana aku akan bertahan?' kataku sambil nangis.
Mereka berdua natap aku dengan kasihan, dan aku makin nangis, kepala aku sakit banget.
'Gak, kamu gak perlu kasihan sama aku. Aku akan cari jalan keluar' kataku, meskipun gak ada cara aku bisa menemukannya.
'Gak…kamu akan tinggal di sini sama kita sementara, sampai kamu bisa inget lagi' Katanya, dan aku natap dengan kaget..
'Iya, kamu bisa tinggal di sini sama kita, oke?' kata Mig.
'Maksudnya, kalian berdua akan nerima aku tanpa tau aku dari mana?' Tanyaku kaget.
'Tentu aja, kita gak bisa biarin kamu keluar ke jalanan' Katanya.
'Makasih banyak' kataku dengan semangat…'Makasih, makasih' kataku sambil senyum..
'Sama-sama' kata mereka berdua, senyum balik ke aku.
'Jangan paksa diri kamu buat inget apa pun, soalnya itu cuma akan bikin kepala kamu sakit. Santai aja, dan ingatan itu akan datang pelan-pelan, oke?' kata Fleur, dan aku ngangguk.
'Jadi…Mari kita mulai perkenalan; Aku Fleur, dan ini Miguel, kakak laki-laki aku. Kita tinggal di rumah ini sendirian. Aku perawat dan kerja di rumah sakit, gak jauh dari sini. Miguel ngurusin kuda di kandang, dan juga kerja sesekali… Dia males, tau gak?' Dia ngeledek, dan aku cekikikan.. Mig ngasih tatapan main-main ke dia, dan dia tertawa.
'Makasih Fleur, makasih Mig' kataku, dan mereka berdua ngangguk..
'Kamu akan tau lebih banyak tentang kita seiring waktu' Kata Mig.
'Sekarang kamu perlu mandi air hangat, dan juga makan makanan panas. Aku beli beberapa bahan sup barengan baju buat kamu, jadi waktu kamu mandi, aku akan di dapur nyiapin sup' Kata Fleur sambil senyum.
'Makasih Fleur' kataku.
'Oke, tapi pertama aku perlu ganti perban kamu, udah basah' Katanya.
'Perban?' Tanyaku, dan ngeliatin badan aku, tapi gak nemuin perban apa pun.
'Iya, kamu punya luka dalam di kepala kamu, dan aku khawatir bakal lama sembuhnya' Katanya, dan aku kaget.
Aku pegang kepala aku, dan bener aja, ada perban. Aku sekarang sadar kenapa kepala aku sakit banget.. Aku buang napas.
'Salah aku' kata Fleur..'Kita harus kasih kamu nama'
'Kamu suka Elva?' Tanyanya.
'Gak, Diana lebih bagus' Kata Mig.
'Gak, Elva kedengeran lebih keren' kata Fleur.
'Gak, Diana'
'Gak, Elva lebih bagus'
'Dia akan dipanggil Diana'
'Dia akan dipanggil Elva'…
Mereka terus berdebat, dan aku gak bisa nahan buat gak senyum.
'Oke, biar dia milih sendiri' kata Fleur, dan mereka berdua natap aku. Jantungku berdebar.
Aku gak mau nyinggung Mig maupun Fleur, tapi aku pikir aku lebih suka Elva.
'Hmm..aku lebih suka Elva' aku bilang sendiri, ngasih tatapan minta maaf ke Mig.. Fleur menjerit dan menjulurkan lidahnya ke Mig.. Mig mengangkat bahu.
'Aku gak kaget dia suka nama yang kamu tawarin, soalnya kalian sama-sama cewek' kata Mig, dan aku bersyukur dia gak tersinggung.
'Oke, Elva, kamu akan dipanggil begitu' kata Fleur, dan kita berdua senyum.. Dia jalan ke laci, buka, dan ngambil kotak putih persegi, aku lihat KOTAK P3K tertulis di atasnya. Dia balik ke kasur, naruh kotak itu di meja samping tempat tidur.
'Aku tinggalin kalian berdua, aku ada cucian yang harus dikerjain' kata Mig.
'Oke, bro' kata Fleur, membuka kotak P3K.. Mig keluar.
Dia pake sarung tangan sebelum melonggarkan perban di kepala aku, dia lipat dengan rapi, dan naruh di atas papan transparan. Udah kena darah.
Dia ngambil antiseptik, trus kapas.
Dia ngambil beberapa kapas, dan make buat bersihin sisi luka, dia buang kapas yang udah kena noda, dan ngambil yang baru, dia olesin beberapa antiseptik di atasnya, trus naruh di luka.
Aku meringis kesakitan…'Maaf Elva' kata Fleur, dan aku ngangguk.
Dia ngeluarin perban bersih, dan naruh di sekitar kepala aku beberapa kali sebelum ngeklip.
Aku menghela napas lega setelah selesai. 'Makasih Fleur' kataku, dan dia ngangguk.
Dia kemas alatnya balik ke kotak P3K sebelum ngunci rapat, dia bawa balik ke laci, dan jalan balik ke aku.
Dia jatohin perban dan kapas bekas ke dalam kantong plastik sekali pakai.
'Sekarang ini' katanya, ngulurin dua tas belanja penuh baju ke aku…'Mandi, dandan, trus kamu ke ruang makan' Katanya.
'Makasih banyak Fleur' kataku, ngambil tas dari dia.
'Gak apa-apa, aku akan kasih obat kamu setelah makan siang' katanya, dan aku ngangguk.
'Oke kalau gitu, aku akan di dapur, dan ada dua topi mandi di lemari kamar mandi, kamu bisa pake yang pink, soalnya baru. Pastiin kamu pake buat nutupin rambut kamu sepenuhnya, jadi perban gak kena air' kata Fleur.
'Oke Fleur, makasih' kataku, dan dia ngangguk keluar dari kamar.
Aku tuang isi tas di kasur, dan 'wow' keluar dari bibirku.. Ada lusinan baju, termasuk celana dalam, dan semuanya kelihatan cantik.
Aku lihat-lihat, dan milih kaos hitam dengan celana jeans biru, celana dalam ungu dan hitam.
Aku lepas selimut dari badan aku, dan buru-buru ke kamar mandi dengan baju di tangan.
Aku selesai mandi, dan badan aku terasa lebih kuat dan lebih baik. Aku keringin badan aku pake handuk yang aku temuin di lemari kamar mandi, pake celana dalam sebelum make kaos dan jeans. Jeans-nya pas banget sama aku, tapi kaosnya agak longgar, aku suka kayak gitu.
Aku lepas topi mandi, dan rambut aku terurai sampai ke pinggang..
Woah..aku punya rambut panjang banget. Aku sisir pelan-pelan pake jari-jari aku buat hindarin kena perban.
Aku selesai.
Aku keluar dari kamar, dan masuk ke lorong pendek, ada empat pintu, dan aku penasaran pintu mana yang mengarah ke ruang tamu.. Aku berdiri di sana, mikir-mikir..
'Buka pintu sebelah kiri' Aku denger di belakangku, dan tersentak. Aku balik badan buat lihat Mig.
'Maaf, aku bikin kamu kaget' Katanya.
'Gak apa-apa' kataku, natap dia.
'Pintu sebelah kiri ini mengarah ke ruang tamu, ruang makan, dapur, dan banyak lagi. Pintu sebelah kanan ini mengarah ke kamar aku, sementara dua pintu lainnya adalah kamar tamu' Dia jelasin, dan aku ngangguk. Dia masuk ke kamarnya, dan aku buka pintu sebelah kiri, dan di sanalah ruang tamu. Aku masuk.
Gak terlalu besar, tapi cantik, dicat rapi warna krem dan oranye, ada empat sofa cantik, dan lantainya dilapisi papan lantai. Ada perapian besar di seberang sofa tiga dudukan, meja kayu ditaruh di tengah ruang tamu dengan vas bunga cantik di atasnya.
Televisi raksasa ditaruh di seberang kursi malas kulit, dengan rak berukuran sedang berisi film.
Sederhana dan cantik. Aku suka.
'Elva, ke sini' aku denger Fleur manggil, dan aku balik badan buat lihat gorden transparan yang membatasi ruang tamu dari ruang makan. Aku jalan ke arahnya dan buka gorden, aroma lezat memenuhi lubang hidungku.. Aku berdiri di ruang makan, yang punya enam kursi dan meja tengah yang ditutupi taplak meja bermotif bunga.. Aku liat ke seberang, dan di sanalah dapur. Fleur keluar bawa tiga mangkuk sup rumahan yang masih ngepul di baki, dia senyum waktu lihat aku, dan aku senyum balik…
Dia naruh mangkuk sup di meja, aku lihat beberapa hal lain di meja buat dimakan bareng sup.
Perut aku keroncongan, dan tenggorokan aku gatel.
'Duduk Elva, lagian kamu kelihatan bagus' Kata Fleur, dan aku duduk sambil senyum.
'Makasih' kataku.
'Mig, makan siang udah siap' Fleur manggil keras, dan aku denger langkah kaki berat datang ke arah ruang makan. Gorden kebuka, dan Mig masuk, dia duduk di seberang aku, sementara Fleur duduk di sampingku..
Kita mulai makan dalam diam, dan aku terus mikir, apa aku bikin mereka gak nyaman.. Maksudku, kayaknya aneh tiba-tiba ada orang baru di rumah..
Pokoknya, supnya enak, dan aku gak bisa nahan buat gak buru-buru makan..
Kita selesai makan, dan aku bilang 'makasih' ke mereka.. Mig ngangguk, berdiri, dan keluar dari ruang makan.. Fleur berdiri dan mulai ngemas piring kosong dan kotor, dia mau cuci, aku gak bisa biarin dia ngelakuin itu.. Aku harus bantu.
'Aku akan cuci piringnya' kataku, mau ngambil dari dia, tapi dia gak ngasih ke aku..
'Gak Elva, duduk aja di ruang tamu, aku akan nyusul kamu segera' Katanya, dan aku geleng kepala.
'Biarkan aja piringnya ke aku, aku akan cuci' kataku.
'Gak, kamu gak terlalu kuat buat ini' Katanya.
'Gak, aku merasa kuat, tolong biarin aku cuci piringnya' kataku… Tapi kayaknya dia gak akan nyerah…'Cuma buat olahraga tulang-tulang aku yang mati rasa' tambaku, dan dia menghela napas..
'Kamu beneran tau gimana caranya maksa' Katanya, dan aku senyum.
'Oke' katanya, dan senyumku melebar..'Tapi' tambahnya.
'Apa?' Tanyaku.
'Aku gak akan biarin kamu cuci piring sendirian, kita cuci bareng' Katanya.
'Oke Fleur' kataku, dan ngambil piring kotor dari dia, aku menuju ke dapur.
Dia ngemas sisanya, dan datang buat nyusul aku..
Dapur, juga bagian lain rumah, juga luas dan cantik.
Kita selesai cuci piring, dan keringin tangan kita di handuk dapur bersih.
'Ikut aku, biar aku tunjukin kamu keliling rumah' kata Fleur, dan aku ngangguk, ngikutin dia.
Aku merasa senang karena dapat tempat cantik buat disebut rumah, dan juga dengan orang-orang paling baik yang pernah aku temui.
Yah..aku gak tau apa mereka orang paling baik yang pernah aku temui..soalnya aku bahkan gak bisa inget apa pun atau siapa pun.
Yah…Aku berutang banyak sama mereka…
Bersambung…