BAB 32
Sudut Pandang Mig
Gue duduk di sofa sambil masih menyeruput kopi gue setelah mereka pergi.
"Mig," gue denger Daisy manggil dan langsung noleh.
"Gue lihat ini di depan pintu rumah Fleur, kayaknya dia buru-buru banget ninggalinnya," kata Daisy sambil nyodorin beberapa berkas ke gue.
"Ohhh… iya," kata gue sambil ngambil dari dia… "Dia bakal dapet lagi kok kalau dia balik," kata gue sambil ngelemparnya ke sofa di samping gue.
"Gue denger dia bilang ke Elva kalau dia bakal butuh ini di tempat kerja hari ini," kata Daisy.
"Beneran?" kata gue.
"Iya… lo harusnya coba nyusul mereka dan kasih ini ke dia, dia butuh," kata Daisy dan gue bertanya-tanya kapan dia mulai peduli sama Fleur.
Gue ngejatuhin kopi gue di meja, ngeluarin alas kaki gue, ngambil berkasnya dan buru-buru keluar rumah.
Gue harusnya bisa ketemu mereka, mereka baru aja pergi.
~
Gue ngumpat dalam hati karena perhatian yang gue dapet, itu salah satu alasan gue nggak suka keluar rumah.
Gue jalan terus sampe gue sampe di rumah sakit..
Gue masuk dan ketemu dua Perawat di resepsionis.
"Selamat pagi," gue nyapa.
"Ya Tuhan! Lo manusia?" Salah satu Perawat dengan rambut hijau bertanya kaget dan gue senyum.
"Lo lebih dari sekadar ganteng," kata Perawat kedua..
"Lo harusnya jadi model"
*Iya itu impian gue*
"Gue sangat bersedia buat jadi selingkuhan," Perawat Greenie ngedip dan gue senyum.
"Makasih, nanti gue kabarin," gue bohong.
"Beneran?" Dia bertanya dengan bersemangat.
"Iya… Tolong kasih tau gue jalan ke kantor Fleur," kata gue.
"Ya Tuhan! Lo adiknya Perawat Fleur?" Mereka bertanya dan gue ngangguk.
"Iya"
"Ya ampun… Gue beneran harus lebih deket sama Perawat Fleur," kata Perawat Greenie .
"Mereka baru aja daftar masuk, lewatin koridor itu.. pintu keempat di sebelah kiri lo," kata Perawat kedua dan gue ngangguk.
"Oke makasih," kata gue dan jalan ke koridor.. Gue masuk koridor dan mulai jalan sambil ngitung pintu dalam hati..
Kaki gue berhenti bergerak melihat pemandangan di depan gue… Gue ngerasa.. hati gue hancur..
Elva..
Sama cowok itu.. B..en.. Dalam ciuman.
Gue nahan diri dari keinginan buat maju dan mukul cowok itu sampe pingsan.
Gue bahkan nggak tau dari mana air mata itu datang, gue baru nyadar pas dia jatuh di pipi gue.
Gue ngerasa patah hati.
Marah! Cemburu! Gila! Gila!
Apa mereka udah ngelakuin ini sejak lama?
Wow.
Gue berbalik dan pergi dengan hati yang sakit mencoba mengendalikan diri.
Sudut Pandang Elva
Tentang kema.." gue lagi ngomong tapi gue kaget dijeda dengan ciuman.
Di bibir!
Dari Ben!!
Apa…
Gue berdiri kaku kaget… masih belum bisa mencerna apa yang terjadi.
Ben nyium gue?
Gue tau dia suka sama gue tapi.. nyium gue tanpa izin gue itu.. terlalu ekstrim.
Apa sih..
Gue mendorong dia kasar, pake telapak tangan gue buat ngebersihin bibir gue…. Tapi pas itu gue lihat punggung seseorang.
Gue nggak akan pernah salah mengenali punggung itu, bahkan dalam gelap.
Punggungnya Mig.
Ngapain dia di sini?
Ya Tuhan… dia pasti liat apa yang udah orang tolol ini lakuin.
Kacau banget!!
"Ben lo udah gila, kenapa lo lakuin itu?" Gue bertanya dengan marah.
"Gue minta maaf," katanya.
"Maaf ya? Setelah lo nyium gue tanpa permisi. Apaan sih?" Gue bertanya kesal.
"Gue kira lo bakal suka," katanya.
"Suka apa?" Gue bertanya dengan kesal… bibirnya dingin dan mati rasa, bahkan nggak bisa dibandingkan dengan Mig.
"Jangan pernah coba-coba lagi ya?" kata gue.
"Tapi…" Dia lagi ngomong.
"DIAM" Gue teriak..
"Dan mulai hari ini, gue nggak akan pergi makan siang bareng lo lagi, makanan dari koki mulai enak jadi gue bakal tetep sama dia, dan biarin ini jadi terakhir kalinya lo dateng ke kantor gue kecuali buat urusan profesional.. mari kita hanya bertukar sapaan mulai hari ini" Gue bilang dengan cara paling tenang yang gue bisa sebelum pergi.
Bodo amat sama dia!
Gue masuk ke bangsal dan anak-anak bergegas menyapa gue, gue memaksakan senyum.
"Selamat pagi, anak-anak manis" kata gue.
"Selamat pagi Elva" Mereka bilang serentak.
"Kamu nggak balik kemarin" Mitch bilang.
"Perawat Fleur bilang ke kita kamu pulang"
"Kenapa kamu ninggalin kita setelah janji buat segera balik?"
"Itu nggak adil"
… Mereka semua bilang saat gue jalan ke meja gue, mereka juga jalan ke tempat tidur mereka dan duduk dengan bersemangat menunggu jawaban gue.
Gue duduk dan ngejatuhin tas gue di meja.
"Gue minta maaf banget, sayangku" kata gue dan mereka senyum..
"Gue harus buru-buru pulang karena sesuatu yang pribadi dan penting, semoga gue dimaafin?" Gue bertanya.
"Iya Elva" Mereka paduan suara.
"Makasih sayang… jadi gue harap kalian semua udah ngerjain PR?" Gue bertanya.
"Iya Elva"
"Gampang banget""
"Gue suka"
"Oke deh..Mitch pergi keliling dan kumpulin buku catatannya" kata gue dan dia senyum, berdiri untuk mulai tugas.
"Kita akan mulai kelas setelah sarapan" kata gue.
"Itu mengingatkan gue… makan siang dan malam dari koki rasanya lebih enak dari sarapan" kata Dan.
"Beneran?"
"Iya" Mereka menyahut.
"Wow..Sarapan hari ini bakal enak banget" kata gue.
"Iya nggak sabar" kata Mitch.
Dia ngumpulin semua tugas ke gue dan balik lagi buat main sama yang lain.
Koki dateng dengan sarapan mereka dan gue lihat senyum merekah di wajah mereka.
Luar biasa!
Gue nyajiin buat mereka dan juga nyiapin punya gue sendiri.
"Yummy" gue bilang dan mereka semua ngangguk, jelas menikmati sarapan mereka.
Gue kayaknya nggak bisa ngeluarin apa yang terjadi tadi dari pikiran gue.. gue harus pura-pura semuanya baik-baik aja demi anak-anak.
Ah..Ben.
Sudut Pandang Daisy
"Iya!" Gue menjerit kegirangan.
Rencana gue berhasil.
Gue tau Mig bakal liat Ben nyium Elva, gue sebenernya ngerencanain itu sama Ben tapi gue nggak bilang ke dia tentang bagian Mig, gue cuma bilang ke dia buat nyium dia.
Gue harus make itu buat keuntungan gue, ini waktu yang tepat buat nyari lorong bawah tanah.
Gue buka iPod gue dan klik peta, gue mulai ngikutin arahnya.
•~•
Kayaknya aneh… Gue nggak yakin ada yang bisa nemuin lorong bawah tanah tanpa peta.
Gue senyum saat gue naikin tangga terakhir di lorong bawah tanah.
Gue lihat pintunya dan senyum gue berubah jadi seringai.
Pintunya bener-bener ditutup debu.
Gue jalan ke arahnya dan puter kenopnya tapi pintunya nggak gerak..
Gue coba lagi… beberapa kali tapi nggak bisa kebuka.
Gue menghela nafas dan melihat ke atas, frustasi saat gue lihat beberapa tombol angka nempel di pintu.
Apa..ini butuh kode!
Gue harus nelpon Bos.
Hai Bos.
Halo Daisy… gimana misinya?
Bos gue udah nemuin lorong rahasia dan sekarang gue di pintu, tapi ini butuh kode.
Iya.. memang tapi jangan khawatir, gue bakal bilang ke Mike buat coba nge-hack sekarang.
Oke Bos.
Tunggu aja.. kode bakal dikirim ke iPod lo sekarang" Dia bilang dan memutuskan sambungan telepon.
Gue berdiri di sana, mata gue memindai sekeliling.
Siapa yang nyangka ada lorong bawah tanah rahasia di rumah ini.
Ya Tuhan, tempat ini kotor banget, penuh sarang laba-laba dan debu.
Gue sibuk sama iPod gue berharap dapet kodenya.
Beberapa menit kemudian, gue nerima pesan.
Gue buka dan senyum.
Bos baru aja ngirim kodenya.
2289074
Gue mendekat ke pintu dan mulai masukin kode… gue berhenti saat tiba-tiba denger langkah kaki berat dateng ke arah gue.
Nggak
Siapa itu?
Mig nggak boleh balik lagi sekarang.
Langkah kaki semakin keras dan berat.
Gue membeku dan IPod gue jatuh dari tangan gue saat gue lihat bayangan di dinding yang keliatan gede banget..
Mon..ster?
Gue ngangkat kepala ketakutan dan lihat..seorang.. serigala.
"Nggak" gue teriak keras sebelum semuanya jadi gelap.
Stapsy ❣️
.
…