BAB 11
Sudut Pandang Gianna
Setelah Ashley pergi, gue sendirian di kamar. Gue bisa denger musik dari pesta.
Xander sama Jamal udah berusaha ngomong sama gue dan nemuin gue, tapi gue nolak. Gue cuma pengen sendiri.
Sekarang gue mikir, gue beneran gak tau kenapa gue ngerasa kayak gini. Terpengaruh sama omongan Skylar.
Apa bener ini waktunya buat lepasin masa lalu dan jadi diri gue yang sebenarnya?
Xander selalu bilang gue cantik, tapi gimana kalo suatu hari dia bosen sama gue?
Gue gak bisa kayak gini terus seumur hidup. Gue gak bisa ngumpet lagi. Mungkin ini waktunya.
Gue siap, gak ada lagi ngumpet-ngumpet.
Gue lari ke kamar mandi buat mandi. Selesai mandi, gue keluarin salah satu dress yang Ashley siapin buat gue, kayak dia tau gue butuh.
Gue pake dress itu, agak pendek sih, tapi menurut gue gak masalah.
Gue ngeringin rambut pake hair dryer, terus mutusin buat ngeritingin.
Beberapa menit kemudian, gue selesai. Gue ngaca, gak pake make up, tapi menurut gue oke.
Gue copot lensa mata perlahan, terus ngaca lagi dan menghela napas.
"Ayo, Gigi, hidup lo bakal berubah," kata gue sambil keluar dari kamar hotel dan ngunci pintunya.
Mata-mata tertuju ke gue pas gue jalan. Gue udah lupa gimana rasanya dikagumi pas jalan di jalan.
Gue akhirnya nyampe di pintu masuk, gue menghela napas berat, terus gue buka pintunya.
Kayak dunia berhenti. Semua orang ngeliatin gue.
️ Itu Gianna Flores, kan?
️ Dia seksi banget.
️ Lihat bodinya.
️ Matanya indah banget.
Gue bisa denger orang-orang bergumam. Gue juga bisa liat Skylar kaget banget, terus mata gue ketemu sama Xander, dia juga kaget.
"YA AMPUN, SAYANG!!" kata Ashley sambil nyamperin gue.
"Lo...lo keliatan cantik dan seksi banget, setiap cowok pada ngiler liat lo sekarang."
"Makasih, Ash, gue ikut saran lo, tapi menurut gue dress-nya terlalu pendek dan ketat."
"Sempurna, Gigi, selamat datang kembali," kata Ashley dan gue cekikikan.
"Sis, akhirnya lo lakuin juga," kata Jamal sambil nyamperin gue.
"Iya, makasih buat lo dan Ashley."
"Kayaknya gue harus lebih protektif sama lo, soalnya semua cowok mungkin lagi merhatiin lo," katanya bikin gue ketawa.
Semua orang udah balik lagi ke dansa.
Sudut Pandang Alexander
"Alex, lo ngiler," kata Skylar, saat itulah gue akhirnya sadar.
Gianna keliatan cantik banget. Gue udah pernah liat dia dengan rambutnya yang digerai dan mata aslinya, tapi gak pake dress kayak gini.
Sial, dia keliatan seksi. Gimana bisa manusia punya kecantikan kayak gitu.
"Gue yakin semua yang ada di badannya palsu, gue gak percaya dia pake lensa kontak," kata Skylar.
"Itu warna mata aslinya, yang hitam palsu."
Tiba-tiba gue ngerasa gugup mau ngomong sama dia. Gue belum pernah segugup ini gara-gara cewek.
Tapi Gianna Flores bukan cewek biasa, dia dewi.
Gue akhirnya ngumpulin keberanian dan nyoba nyamperin dia, tapi Blake, temen basket gue udah nyampe duluan.
Dia bisikin sesuatu di telinga dia bikin dia cekikikan.
Sebelum gue sadar, mereka udah ada di lantai dansa.
Sudut Pandang Gianna
Lucu banget gimana orang-orang yang gak pernah merhatiin sekarang yang kasih perhatian banyak.
Blake itu salah satu temen basketnya Xander, dia pemain besar, jadi gue gak suka dia.
Gue nunggu Xander nyamperin dan ngomong sama gue, tapi dia gak dateng. Blake dateng jadi gue dapet ide buat bikin Xander agak cemburu.
Blake ngajak gue ke lantai dansa. Gue bisa liat dari sudut mata gue kalo Xander kebakar cemburu.
Dia merhatiin kita terus, gue bikin dia makin cemburu dengan narik Blake lebih deket ke gue.
"Ya ampun, Gigi, lo seksi banget," kata Blake dengan nafsu. Gue nahan diri buat gak muter mata, karena Xander masih ngeliatin kita.
"Makasih," kata gue sambil maksa senyum.
"Lo mau kayaknya hang out sama gue abis pesta ini?"
"Gue gak mau sama pemain, Blake. Lo dan gue tau kalo lo cuma ngomong sama gue karena gue udah berubah dan gue gak kayak Madison atau cewek lain di tempat ini, gue gak bakal jatuh buat omongan lo," kata gue dan dia ketawa.
"Sekarang, gue ngerti kenapa Xander selalu sama lo. Lo beda."
Sudut Pandang Alexander
Mata gue gak bisa lepas dari mereka sedetik pun. Gue mendidih amarah di dalem karena dia bahkan gak dateng buat ngomong sama gue, dia malah nyamperin Blake, playboy sekolah.
"Urrgh, Gianna selalu menghalangi gue," kata Madison sambil nyamperin gue.
"Dia gak pernah menghalangi lo, dia cuma jadi dirinya sendiri."
"Orang yang lo bela lagi dansa sama orang lain, gue gak kaget kalo dia ngehajar dia malem ini, lo tau Blake selalu dapet apa yang dia mau."
"Udah diem, Madison, diem aja."
"Ohh, kenapa marah banget? Lo cemburu?"
"Gue cabut dari sini," kata gue dan pergi.
*
*
*
Udah satu jam dan Blake sama Gigi masih barengan, ngobrol dan ketawa.
Tiba-tiba, musik ganti dan lagu ‘Thinking out loud' dari Ed Sheeran muncul.
Semua orang cari pasangan dan mulai dansa.
"Gue cabut dari sini," kata gue ke diri sendiri dan berdiri.
"Mau kemana lo?" Seseorang berkata, gue udah tau siapa orangnya.
"Ke kamar gue, gue gak mikir lo peduli, lo kayaknya lagi seneng-seneng sama Blake," kata gue dan gue denger cekikikan.
Dia ngebalikkin gue biar gue hadap dia.
"Kayaknya rencana gue berhasil," katanya sambil nyengir.
"Rencana apa?"
"Bikin lo cemburu."
"Kenapa lo selalu gitu?"
"Karena gue mikir wajah cemburu lo lucu," katanya sambil cekikikan.
"Jadi kenapa lo gak slow dance sama Blake?"
"Gue simpen yang terbaik buat terakhir."
"Maksudnya?" kata gue sambil ngangkat alis.
"Maksudnya lo harus berhenti cemberut kayak bayi dan dansa sama gue."
Gue senyum ke dia dan megang tangannya ke lantai dansa.
Dia meluk leher gue dan mata gue melihat pinggangnya yang terbuka karena bagian belakang dressnya.
Gue natap mata satu sama lain dengan intens.
"Mata lo indah banget," kita bilang barengan bikin kita ketawa.
"Gianna, lo keliatan luar biasa, lo beneran ngebuat semua orang kaget."
"Gue gak mau omongan Skylar ngaruh ke gue dan ini udah waktunya gue balik ke diri gue yang dulu."
"Jadi ini cuma buat malem ini atau ini permanen?"
"Ini permanen, Xander," katanya dan gue senyum.
"Oke, ada satu hal buruk tentang itu."
"Yang mana?"
"Gue gak bakal bisa milikin lo sendirian lagi, semua cowok sekarang merhatiin lo," kata gue dan dia cekikikan.
"Oke, mereka boleh merhatiin gue, tapi gue cuma mau sama lo," katanya dan gue gak tau kapan gue mulai salting.
"OMG, Alexander McQueen salting, itu baru," katanya bikin kita ketawa.
"Ayo minum, kayak tequila," katanya sambil narik gue ke meja minuman.
"Oke, tapi jangan kebanyakan."
"Ah, santai aja, mata Hazel."
Kita akhirnya dansa dan minum di waktu yang sama.
Udah malem banget dan hampir semua orang pingsan di lantai.
Gue masih agak teler, tapi gue sadar sama keadaan sekitar.
"Xander," Gianna manggil.
"Gianna, gue pikir kita harus ke kamar kita."
Gue berdiri dari lantai dan ngebantu dia berdiri.
"Kenapa semuanya dobel?"
"Lo mabuk, gue bilang jangan minum kebanyakan," kata gue, dia nyender ke gue pas kita jalan ke kamar kita.
Gue makin pusing, satu-satunya yang gue inget adalah masuk kamar.
Sudut Pandang Gianna
Gue bangun dengan sakit kepala berat, sakit banget.
"Aduh, kepala gue," kata gue ke diri sendiri sambil ngucek mata.
Gue sadar kalo gue ada di atas seseorang, gue liat dan itu Xander.
Gue tidur di atas dia, dia masih tidur.
Kita mabuk banget semalem, gue bahkan gak tau gimana kita bisa sampe sini.
Gue pengen ngebangunin dia, tapi dia nguap pas tidur bikin dia keliatan lebih imut.
Rambutnya nutupin salah satu matanya dan dia manyun pas tidur.
"Lucu banget," gumam gue pelan-pelan biar gak ngebangunin dia, tapi gue gagal karena dia mulai ngebuka mata.
Gue buru-buru bangun dari badannya, dia ngucek mata.
"Selamat pagi," kata gue sambil dia ngeliat ke gue.
"Kepala gue sakit banget."
"Gue juga, mungkin kita gak seharusnya minum kebanyakan," kata gue.
"Kita tidur di kasur yang sama?" dia nanya dan gue ngangguk.
"Iya, tapi jangan khawatir, gak ada apa-apa," kata gue dan dia terkekeh.
"Gue tau itu, kita masih pake baju."
"Gue penasaran apa yang terjadi sama Skylar."
"Mungkin dia balik, tapi gue gak peduli, dia bukan tipe gue."
"Terus tipe lo apa?" gue nanya.
"Yah, tipe gue cantik alami, baik, kadang-kadang keras kepala dan agresif, tapi lucu banget," katanya.
Sebagian dari gue percaya itu gue yang dia omongin, bagian lainnya cuma gak peduli.
"Ayo, kita harus mandi," katanya dan gue ngeliat dia sinis.
"Maksud lo mandi bareng?" gue nanya dan dia terkekeh.
"Mungkin," katanya dan gue ngelempar bantal ke dia.
"Lo mesum banget," kata gue dan ngelempar bantal ke dia lagi.
Kita akhirnya berantem pake bantal.
B.T.C