BAB 60
Sudut Pandang Gianna
Reporter itu ngomong banyak banget tentang gue sama Xander.
Gimana kita kuliah di kampus yang sama, hubungan kita dulu.
'Ya ampun, mereka bahkan ngomongin tentang sepupunya Xander yang nge-rape lo, mereka tahu semuanya'
'Gue yakin itu jalang yang kasih tau mereka'
'Kita harus gimana, Gigi?'
'Gue gak tau, gue gak tau'
Ashley mau ngomong sesuatu, tapi hape gue bunyi.
Gue liat, ternyata dari Anna.
'Halo'
'Gianna, apa kabar?'
'Gak baik, Anna, gue yakin lo liat beritanya kan?'
'Iya, Gianna, tapi lo harus dateng ke rumah sakit'
'Kenapa? Gue gak ada jadwal hari ini'
'Gue tau, tapi direktur medis mau ketemu lo'
'Hari ini?'
'Iya'
'Oke, gue kesana,' kata gue, terus matiin telepon.
'Gigi, Ibu sama Jamal bakal kesini, gue yakin'
'Kalo gitu, gue harus kasih tau mereka yang sebenarnya'
*
*
*
*
*
Sudut Pandang Alexander
'MAMA, DI MANA SIH HAPE GUE?' tanya gue marah.
'Xander, kamu harus…'
'MAMA, KASIH GUE HAPE GUE CEPETAN!' bentak gue, motong omongannya.
Gue bangun, dunia lagi ngomongin sampah tentang Gianna.
Gue coba nelpon Gianna, terus gue sadar hape gue diambil.
'Xander, kamu harus tenang'
'Mama, gue gak mau…'
Gue langsung berhenti ngomong pas Skylar masuk.
Gue langsung nyamperin dia, terus cekek lehernya, gue mencekiknya.
Dia ngos-ngosan, tapi gue gak peduli.
'Xander, lepasin dia!' Mama gue mohon.
Gue ngerasa ada yang dorong gue keras, gue jatoh ke lantai.
Skylar megangin lehernya sambil batuk-batuk.
'Lo mau bunuh dia?'
Saat itulah gue sadar, Ayah masuk.
'Iya, gue mau bunuh dia karena dia jalang dan gue benci dia'
'Satu-satunya jalang yang gue tau itu Gianna,' kata Ayah.
Gue marah, langsung nyamperin dia, tapi Mama nahan gue.
'Jadi kamu mau mukul Ayah sendiri?'
'Iya, gue mau, jangan berani-beraninya lo panggil Gianna jalang'
'Lupain aja Gianna, kamu mau nikah sama Skylar'
'Kalo gitu, lo harus bunuh gue, Ayah, bunuh gue karena gue gak mau ngabisin sisa hidup gue sama jalang murahan itu'
'Hidup Gianna udah hancur,' kata Ayah sambil nyengir.
'Maksudnya?'
'Kamu bakal tau sebentar lagi, Alexander McQueen'
*
*
*
*
*
Sudut Pandang Gianna
Gue sampe di rumah sakit, semua orang mandangin gue.
Semua mata tertuju ke gue, rasanya pengen masuk ke tanah aja.
Gue masuk ke ruangan direktur dengan berat hati.
*
*
*
*
*
Gue keluar dengan lesu dan hampir nangis.
'Dia bilang apa?' tanya Anna sambil nyamperin gue.
'Dia..dia..dia mecatin gue, Anna, gue kehilangan kerjaan gue'
'Hah? Tapi kan lo dokter terbaik disini'
'Kayaknya gue salah besar'
'Lo cinta sama dia..maksudnya Alexander?'
'Banget, Anna, dia cinta dalam hidup gue,' kata gue, terus dia ngangguk.
'Giann, lo hamil?'
'Iya, Anna, gue lagi hamil anaknya dia'
'Gue doain yang terbaik buat lo, Gigi, berjuanglah buat apa yang jadi milik lo'
Kita pelukan erat.
Gue nyetir pulang, mikirin kenapa hape Xander gak bisa dihubungin.
Gue sampe rumah, pas gue masuk, Mama sama Jamal udah nungguin gue.
'Mama? Jamal?' tanya gue kaget.
'Kesini!!' kata Jamal marah, terus narik tangan gue, nge-drag gue ke Mama.
'Ada apa sih?' tanya dia.
'Gue cinta sama dia, gue…'
Gue dipotong sama tamparan keras dari Mama.
'Kamu cinta sama dia?!! Kamu bego atau gimana sih?' tanya Mama marah.
'Kamu cinta sama dia? Dia ninggalin kamu, dia ngebuang kamu demi jalang itu, gimana bisa kamu biarin dia bohongin kamu?' tanya Jamal sambil ngeguncang-guncang tangan gue.
'Dia udah jelasin ke gue, dia gak bermaksud ninggalin'
'Dia bohong, dia hancurin hati kamu, dia janjiin kamu dunia, terus ninggalin kamu, sekarang nama kamu ada di semua berita, orang-orang manggil kamu jalang'
'Kamu baru balik dari rumah sakit?' tanya Jamal, gue ngangguk.
'Ada apa?'
'Gue dipecat,' kata gue sambil nangis.
Jamal ngusap rambutnya frustasi.
'Kamu kehilangan kerjaan kamu, kerjaan yang selalu kamu impikan, semua karena bajingan itu'
'Gianna, kamu harus jauhin dia'
'Udah telat, Ma'
'Kenapa emangnya?'
'Karena gue hamil, gue lagi hamil anaknya Xander'
Semuanya hening.
'Hah?' tanya Jamal dengan marah banget.
'Gue..gue hamil anak dia'
'Gianna, gue gak pernah sesedih ini sama kamu,' kata Mama marah.
'Kita harus gimana?'
'Gue tau harus gimana'
'Gianna harus gugurin anak itu,' kata Mama, mata gue langsung membelalak kaget.
Bersambung
Beberapa BAB lagi.