BAB 16
Sudut Pandang Skylar
Aku masih di Miami ketika Xander ngirim aku pesan singkat, bilang dia pengen banget ketemu aku dan nyuruh aku dandan yang bagus.
Akhirnya aku nyampe di tempat yang dia suruh, itu hotel.
Aku masuk ke kamar hotel.
'Xander, sayang, aku datang,' kataku dengan semangat.
'Wah, wah, wah, ternyata ini jalang tahunan,' kata seseorang.
Aku noleh dan ternyata Gianna, nih jalang masih hidup aja.
Sudut Pandang Gianna
Aku bisa lihat dia jelas kaget aku masih hidup.
'Kaget, ya?' tanyaku.
'Xanderku mana dan apa yang kamu lakuin di sini?'
'Kamu baru aja bilang ‘Xanderku’, aku gak tahu Xander itu punya kamu.'
'Dia selalu jadi milikku, dasar jalang, sekarang dia di mana?'
'Aku gak tahu dia di mana.'
'Dia ngirim aku pesan singkat dari hapenya.'
'Maksudmu yang ini?' tanyaku sambil ngangkat Hape Xander.
'Kamu dapet itu dari mana?'
'Aku pake trik yang sama kayak yang kamu pake.'
'Trik apa yang kamu omongin?'
'Jangan lebih bodoh dari biasanya, Skylar, aku tahu kamu nyoba bunuh aku,' kataku dan dia cekikikan.
'Gianna, aku benci banget sama kamu, tapi bunuh kamu? Gak, itu bukan gayaku.'
'Aku tahu kamu yang rencanain semuanya, tapi aku gak mati, kamu malah sukses, kecelakaan aku bikin aku dan Xander makin deket.
Kamu harusnya lihat gimana dia ngegenggam aku erat di rumah sakit, kayak aku bakal ilang.'
'Kamu harusnya udah kelelep di kolam renang setelah kena tabrak,' katanya dengan penuh amarah.
'Tunggu, aku gak pernah bilang ke kamu kalau aku didorong ke kolam, jadi, kok kamu tahu?'
'Um..um..Kamu sendiri yang bilang.'
'Kamu kira aku sebodoh kamu? Aku gak bilang apa-apa ke kamu.'
'Oke, deh.. Iya, aku yang nabrak kamu dan dorong kamu ke kolam, oh, andai kamu udah mati biar aku bisa milikin Xander seutuhnya, dasar pelacur,' katanya dan aku pake punggung tangan buat nampar dia keras-keras.
'Kamu yang pelacur di sini, kamu gak punya malu sama sekali, kamu putus asa pengen sama orang yang gak cinta sama kamu.'
Dia nyoba nampar aku tapi aku tahan tangannya, puter ke belakang dan banting mukanya ke tembok.
'Kamu udah mati, sampah gak berguna,' kataku dan dia cekikikan.
'Kamu mau ngapain? Laporin aku ke polisi tanpa bukti, aku gak mikir kamu sebodoh itu.'
'Kamu bener, aku gak bodoh, aku lebih pintar dari kamu. Aku gak perlu ke polisi, mereka udah di sini.'
'Apa?'
Dia nyoba lepas dari cengkeramanku.
Tiba-tiba Ashley muncul dari tempat persembunyiannya, narik rambut Skylar dan ngehantem kepalanya ke tembok.
'Ashley, berhenti, kamu bisa bunuh dia,' kataku.
Aku narik dia dari Skylar, polisi, Ibu, Jamal, dan Xander juga keluar dari tempat persembunyian mereka.
'Kamu tuh jalang gak berguna,' kata Jamal ke Skylar yang lagi diborgol polisi.
'Skylar Jones, kamu ditangkap atas percobaan pembunuhan Gianna Flores.'
'Xander sayang, kamu mau biarin mereka bawa aku ke penjara?'
'Iya, Sky, karena aku udah peringatin kamu jangan macem-macem sama Gianna.'
'Bawa pelacur ini pergi,' kata Ibuku.
'Kalian semua bakal nyesel.'
Polisi pergi sama dia, sekarang semuanya baik-baik aja.
'Syukurlah, jalang itu udah pergi,' kata Ashley.
'Oke, aku mau siapin mobil biar kita bisa pergi dari Miami,' kata Ibuku, Ashley dan Jamal ngikutin dia.
Xander dan aku ditinggal berdua, kita cuma saling natap.
'Gigi, aku…'
Aku langsung meluk dia erat-erat, aroma dia bikin kecanduan.
'Makasih banyak udah ada buat aku,' kataku dan dia cekikikan.
'Gak usah makasih, kita kan temen, inget?'
'Iya, tapi kamu spesial banget buat aku dan aku suka meluk kamu,' kataku dan cekikikan.
Dia meluk aku erat-erat dan nyium pipiku bikin aku salting tapi untungnya, dia gak bisa lihat.
*
*
*
*
*
Beberapa minggu kemudian.
Sudut Pandang Alexander
'Hmmmmm'
Itu suara Gigi mengerang, bukan aku yang bikin dia mengerang, itu es krim yang dia jilatin.
Dia kayaknya nikmat banget sama es krimnya tapi cara dia mengerang itu seksi banget.
'Bisa gak sih berhenti ngelakuin itu?'
'Ngelakuin apa?'
'Bikin suara-suara itu.'
'Kayak gini..Hmmmm'
'Iya, kayak gitu.'
'Kenapa? Bikin kamu horny? Kamu mau bikin aku mengerang?'
'Kalo kamu terus ngomong jorok, aku gak bakal tanggung jawab sama perbuatanku,' kataku dan dia cekikikan.
'Perbuatan apa? Kamu mau nyium aku kayak waktu di rumah sakit?' Katanya dan mata aku membelalak.
Aku kira dokter bilang dia gak bakal inget apa-apa.
'Tapi aku kira…'
'Dokter bilang kamu gak bakal inget, kan?' tanyanya memotong pembicaraan.
'Iya.'
'Xander, kamu lupa kalo aku gak kayak pasien lain, aku Gianna Flores dan aku aneh banget.'
'Kamu bener banget, kamu aneh banget,' kataku dan dia cekikikan.
'Tapi jangan khawatir, kita lupain aja soal ciuman itu, ini bukan pertama kalinya kita ciuman, inget yang di kolam renang?'
'Iya, aku inget.'
'Jadi, lupain aja dan ayo main basket.'
*
*
*
*
Seminggu kemudian.
Sudut Pandang Gianna
'Oh, aku kangen Xander, dia udah pergi seharian buat latihan basket di sekolah.'
'Kakakmu juga di sana,' kata Ashley.
Kita di kamar aku duduk di dekat jendela.
'Aku tahu, tapi kamu kan udah kenal Jamal, sekali dia selesai, dia ngejar cewek,' kataku dan aku lihat ekspresi sedih di wajahnya.
'Kenapa, ada yang salah aku ngomong?'
'Gak, Gigi, gak ada.'
'Kamu tahu aku udah sadar kamu beda kalo ada Jamal, kamu jadi gugup.'
'Gak ada apa-apa, Gigi.'
'Ashley, dengerin, kamu tahu kakak aku playboy banget dan aku gak mau kamu patah hati sama dia, kamu tahu gimana aku peduli sama kamu.'
'Aku tahu dan jangan khawatir, gak ada apa-apa kok.'
'JAMAL!!' Kita denger Ibu aku teriak dari bawah.
Ashley dan aku lari ke bawah, Ibu aku lagi nyoba ngomong sama Jamal.
'Jamal, ada apa sama kamu?' Ibu aku nanya.
'Gak ada apa-apa, Bu, aku baik-baik aja,'
'Gak, kamu gak baik-baik aja, buku-buku jari kamu memar.'
'Bro, kamu berantem ya, Xander gak papa kan?' tanyaku tapi dia cuma natap aku.
'Aku baik-baik aja, tinggalin aku sendiri,' katanya dan pergi.
'Aku gak tahu ada apa sama dia, dia balik dengan marah dan buku-buku jarinya memar, kayak dia mukulin orang berulang kali, aku khawatir banget,' kata Ibu aku.
'Cuma Xander yang tahu apa yang terjadi karena dia ngikutin Jamal ke latihan.'
'Kamu ke rumahnya dan tanya dia, aku sama Ashley mau ngomong sama Jamal.'
'Oke.'
Aku lari ke rumah Xander tapi terkunci, aku rasa dia belum balik.
Terus mobilnya dateng, dia parkir dan aku samperin dia.
'Xander,' kataku pas dia keluar tapi dia nutupin mukanya pake hoodie.
'Xander, apa yang terjadi hari ini dan kenapa kamu nutupin muka?'
'Gak ada apa-apa.'
'Gak, kamu bohong dan lepas hoodie itu dari muka kamu.'
Kita berjuang sama hoodie tapi akhirnya aku tarik.
'Ya Tuhan, Xander, apa yang terjadi sama kamu, kenapa..kenapa muka kamu penuh memar?'
'Gak ada apa-apa, cuma luka kecil.'
'Cuma luka kecil? Seluruh muka kamu penuh memar dan bibirmu luka-luka.'
'Apa yang terjadi, Alexander?' tanyaku dan dia menghela nafas.
'Ini..ini gak ada apa-apa.'
'Itu kakakku, kan? Jamal yang lakuin ini ke kamu, aku bakal kasih dia pelajaran,'
Aku nyoba pergi tapi Xander nahan aku.
'Gak, jangan, kita cuma berantem karena hal bodoh, tapi aku bakal baik-baik aja,' katanya dan aku menghela nafas.
'Lihat muka kamu, penuh memar.'
'Aku bakal obatin.'
'Biar aku bantu,' kataku dan nyeret dia masuk ke rumah.
*
*
*
*
Seminggu kemudian.
Ashley dan aku lagi nyusun buku buat pelajaran selanjutnya.
'Gianna Flores yang terkenal,' Itu Madison.
'Madison, kamu mau apa?'
'Kamu kayaknya nikmat banget sama ketenaran baru kamu.'
'Emang kamu gak ada tempat lain?'
'Gak, tapi aku punya info yang seru buat kamu.'
'Apa itu?'
'Ini soal Xander kesayangan kamu.'
'Kenapa dia?'
'Yah, dia gak se-baik yang kamu pikirkan.'
'Gigi, ayo pergi, nih jalang cuma ngomong sampah,' kata Ashley.
Kita pergi.
'Dia bikin taruhan,' Katanya dan aku berhenti.
Aku noleh natap dia nyengir.
'Kamu bilang apa?'
'Kamu denger sendiri, Xander bikin taruhan sama beberapa temennya kalo dia bisa deket sama kamu.'
Dia gak mungkin ngomong bener, gak, dia bohong sama aku.
'Berhenti bohong, jalang,' kataku dan narik lengannya.
'Sis, ada apa?' Kata Jamal pas nyamperin kita.
'Tanya aja sama kembaranmu, dia juga tahu,' kata Madison dan aku lepasin dia.
'Tahu soal apa?'
'Madison bilang Xander bikin taruhan sama temennya soal Gigi,' kata Ashley dan ekspresi Jamal berubah.
'Jamal, apa yang dibilang Madison itu bener?'
'Jawab dia, Jammy, kasih tahu dia itu alasan kenapa kamu mukul Xander.'
'Jawab aku, Jamal.'
'Demi Tuhan, aku cuma tahu seminggu yang lalu,' katanya gugup.
Gak, ini gak mungkin bener.
'Kasih tahu aku yang sebenarnya.'
'Iya, ini bener, alasan kenapa Xander deket sama kamu karena dia bikin taruhan,' kata Jamal dan aku bersumpah aku bisa ngerasain hati aku hancur.
T.B.C