BAB 4
Sudut pandang Gianna
Pertandingannya mulai dan jujur aja, gue deg-degan banget.
Gue gak mau cium cowok asing dan gue gak mau cium Xander, tapi harus ada yang menang.
Cowok pirang itu hampir aja bikin gol tapi Xander cepet banget nge-blok.
"Duh, andai aja gue cewek yang dapet ciuman itu, gue gak peduli siapa yang menang," kata cewek di samping gue.
Andai dia tau betapa gue pengen tukeran posisi.
Pertandingannya makin panas pas Xander punya kesempatan buat nge-gol, jantung gue berdebar kencang banget.
"BERHENTI!!" Seseorang berteriak dan ternyata itu petugas keamanan jalanan.
"Sekarang jam enam sore, artinya semua orang harus keluar dari lapangan basket," katanya dan gue menghela napas lega.
Gue gak bakal cium siapapun, untunglah.
Semua orang mulai ngedumel sambil keluar dari lapangan basket.
"Sayang banget, padahal gue lagi menikmati permainannya," kata cowok pirang itu.
"Iya, gue juga," kata Xander sambil memakai bajunya.
"Kita masih bisa jalan-jalan, cantik," kata cowok pirang itu sambil ngedipin mata ke gue.
"Denger ya, gue cuma make adek gue sebagai hadiah karena gue tau lo gak bakal menang tapi kalo lo berani nyentuh adek gue, gue potong burung lo," kata Jamal dengan marah.
Cowok pirang itu menyeringai lalu pergi dengan teman-temannya.
"Ya udah, gue pulang dulu, bye," gue bilang dan pergi.
Gue sampe rumah dan duduk di sofa.
"Kalian lama banget, gimana tadi?" tanya Ibu.
"Ya, lumayan,"
"Terus gimana sama Xander?"
"Ibu, dia di sebelah, tanya sendiri aja,"
"Jangan gitu dong," katanya dan gue memutar mata.
"Kenapa jalannya cepet banget, Sis?" tanya Jamal sambil masuk.
"Gue gak mau Xander gangguin gue,"
"Ya, dia nyuruh gue bilang ke lo, dia seneng nemenin lo,"
"Urrgh, gak usah deh, gue mau ke kamar," gue bilang dan naik ke atas.
Gue sampe di kamar buat segeran pas gue liat sesuatu.
Itu segelas es krim dengan catatan yang bertuliskan ‘Untuk pemenang'.
Gue yakin itu Xander, bahkan rasa kesukaan gue, cokelat, pasti Jamal yang kasih tau.
Gue senyum dan mulai makan.
*
*
*
*
*
Hari Minggu sore dan gue sendirian di rumah, Jamal pergi buat ketemu salah satu gebetannya, Ibu pergi sama teman-temannya.
Gue bosen banget jadi gue mutusin buat tidur siang.
Gue mulai denger seseorang nyanyi, itu suara cowok, itu Xander.
Gue buka jendela sedikit dan merhatiin dia pas dia nyanyi dan main gitar.
Gue mau tanya apakah semua ini cuma ada di pikiran gue.
Jantung gue berdebar malam ini, gue penasaran
Apakah lo terlalu sempurna untuk jadi kenyataan
Dan apakah gak papa kalo gue narik lo lebih dekat.
Gimana gue bisa tau
Kalo gue bakal bangun dengan merasa lebih…
Gue terus dengerin suaranya sampe gue gak tau kapan dia selesai.
"Jadi, lo suka?" Dia tanya, ngebuat gue kaget dan balik ke dunia nyata.
"Suka apa?"
"Lagunya,"
"Iya, bagus, suara lo bagus banget,"
"Wah, Gianna Flores bilang sesuatu yang baik ke gue, keajaiban," katanya dan gue memutar mata.
"Hari ini Minggu jadi gue lagi berusaha baik," gue bilang dan dia tertawa kecil.
"Lo mau jadi penyanyi?" gue tanya
"Iya, gue suka musik, itu sesuatu yang gak bisa diambil dari gue,"
"Orang tua lo pasti seneng banget," gue bilang dan ekspresinya berubah.
"Maaf.. ada yang salah ya gue ngomong?"
"Gak ada, cuma.. lo tau kan, lupakan deh… ayo ngomongin yang lain, beneran lo pengen gue menang di pertandingan basket itu?"
"Gue gak bisa cium orang asing,"
"Jadi lo bisa cium gue?" Dia tanya sambil menyeringai ke gue.
"Gak, kalo lo menang, gue tau gue gak bakal cium lo karena gue gak bakal biarin lo cium gue,"
"Bener juga, jadi lo lagi ngapain?"
"Gak ada, Jamal dan Ibu gak ada di rumah,"
"Lo bisa nonton gue nyanyi, gimana?"
"Xander, ini bukan film romantis di mana cowok nyanyi buat cewek, terus mereka jatuh cinta," gue bilang dan dia tertawa kecil.
"Gue tau itu, kayaknya bakal susah buat lo jatuh cinta sama gue,"
"Lo bener,"
"Jadi lo mau nonton?"
"Iya, boleh deh,"
Kita ngehabisin seluruh malam dengan saling ngeganggu dan ngejek satu sama lain.
*
*
*
*
*
Hari berikutnya, gue siap-siap buat kuliah, gue turun buat sarapan.
"Ibu, Jamal mana?" gue tanya sambil makan makanan gue.
"Dia udah berangkat sekolah," kata Ibu dan gue hampir keselek makanan.
"Iya, dia bilang mereka ada latihan basket pagi-pagi,"
"Jadi dia ninggalin gue gitu aja, siapa yang mau nganter gue ke sekolah, lo tau kan betapa jauhnya?"
"Makanya ada yang jemput,"
"Siapa?"
Bel pintu bunyi dan Ibu buka pintu, Xander masuk.
"Serius, Ibu?" gue tanya.
"Kamu dan Xander kan satu kuliah, jadi dia bisa nganterin,"
"Ayo, Gigi, kita gak punya banyak waktu," Xander bilang dan gue memutar mata.
Gue jalan di belakang dia, kita keluar dan ada motor gede nunggu kita.
"Gue kira lo punya mobil?"
"Gue juga punya motor gede, jadi naik dan pake helm ini,"
"Sebagai informasi, gue gak nikmatin ini sama sekali,"
"Ayo, muka cantik, ayo, gue ada latihan basket,"
Gue pake helm dan naik motor.
"Pegangan biar gak jatoh," katanya
"Pegangan biar gak jatoh," gue niruin dia.
Dia nyalain motornya, gue harus pegang pinggangnya karena gue beneran gak mau jatoh.
Gue harus ngabaikan fakta bahwa gue lagi nyentuh otot perutnya yang keras.
Kita akhirnya sampe di sekolah, dan tentu aja, orang-orang mulai ngeliatin kita.
"Makasih buat tumpangannya, bye," gue bilang berusaha pergi pas dia megang pergelangan tangan gue.
"Tunggu, gue mau tanya lo bisa gak dateng buat nonton gue main sore ini, kita ada pertandingan sama tim lain dan gue mau banget lo ada di sana, jadi mau gak?" Dia tanya dan manyunin bibirnya.
Dia natap gue pake mata hazel itu, matahari bersinar ke dia, ngebuat matanya bersinar lebih terang.
"Gianna, lo masih di sana?" Dia tanya sambil ngibas-ngibasin tangannya ke muka gue.
"Iya, gue dateng," gue bilang dan dia berseri-seri dengan bahagia.
"Makasih," dia bilang sambil senyum sementara gue berbalik dan pergi.
Gue jalan ke loker gue, Ashley lari ke gue.
"Sayang, foto lo sama Xander ada di website sekolah," dia bilang dengan semangat.
"Foto apa, gue gak inget foto sama Xander,"
Dia nunjukin hpnya dan itu foto dari tadi pagi pas dia nganter gue ke sekolah.
"Siapa yang foto?"
"Gak tau tapi kalian berdua keliatan bagus di foto ini, kalian kayak pasangan,"
"Jangan mulai deh, Ashley, gak ada apa-apa antara gue dan Xander,"
"Moga aja bener," Seseorang bilang, gue berbalik dan itu Madison.
"Lo mau apa, pelacur masa depan?" Ashley tanya ngebuat gue tertawa kecil.
"Denger ya, Gianna, lo dan Xander beda level banget, dia orang populer, lo cuma adek yang membosankan dari salah satu cowok paling keren di kampus, jadi tau diri,"
"Dan kalo gue gak tau diri? Lo mau ngapain? Gue ancaman buat lo, kan?"
"Lo gak sebanding sama gue, liat gue, secara teknis cewek paling cantik di kampus dan lo.. yaudah, liat aja lo, tomboi,"
"Semua orang tau kalo semua yang ada di lo itu palsu, lo operasi buat dapet tubuh itu gak kayak beberapa orang yang lahir dengan bentuk alami," Ashley bilang.
"Gak penting, Gianna, jauhin Xander,"
"Lo gak bisa nyuruh gue, pelacur kecil, lakuin apa yang lo tau paling baik dan itu f*cking setiap cowok di kampus, B*tch Gak Tau Malu," gue bilang dan pergi sama Ashley.
T.B.C