BAB 6
Sudut Pandang Jamal
Sejak Gianna pulang Jumat malam, dia senyum-senyum kayak kena guna-guna.
Kita lagi makan siang bareng Ibu dan Gianna asyik banget ngelamun.
"Bumi ke Gianna," kataku sambil nyenggol dia pake siku.
"Apaan sih? Jangan gangguin gue deh, Jamal," katanya.
"Lo senyum-senyum sendiri udah hampir 20 menit nih."
"Terus? Emang gak boleh senyum lagi?"
"Sejak lo pulang hari Jumat itu, lo senyum kayak orang bego."
"Ibu, demi apa gue bunuh Jamal."
"Kalian berdua berhenti berantem, deh."
"Lo sama Xander pergi kemana sih?"
"Kita ngerayain kemenangan tim, udah gitu doang, emangnya kenapa sih?"
"Enggak, Gigi, jelas banget kok yang lagi terjadi," kata Ibu sambil senyum ke Gianna.
"Apaan?" tanyaku.
"Gianna jatuh cinta sama Xander."
Sudut Pandang Gianna
"Gianna jatuh cinta sama Xander," kata Ibu, dan gue langsung batuk.
"Ibu, gak bener banget deh, gue gak cinta sama Xander."
"Terus jelasin dong ngelamunnya, lo cekikikan mulu kalau dia ada, lo beda banget deh."
"Ibu, dia kan cuma temen gue."
"Oh, jadi sekarang dia temen lo, gue kira lo gak suka lihat dia, jadi apa yang berubah?" tanya Jamal.
"Ya, gue baru tau dia orangnya baik," kataku, dan Jamal memutar bola matanya sementara Ibu cekikikan.
"Gigi, gak papa kok kalau lo suka sama dia, Xander kan cowok banget," kata Ibu sambil senyum.
"Oke, gue ke kamar dulu ya, bye," kataku dan pergi.
Gak nyangka mereka mikir gue naksir Xander, kampret.
'Kenapa lo mikirin dia terus?' tanya alam bawah sadarku.
"Enggak, gue gak mikirin dia, dia kan cuma temen gue, gak lebih."
'Lo senyum-senyum mulu kalau dia ada'
"Berhenti deh," kataku dan menampar diri sendiri.
"Gianna," Seseorang memanggil dan itu Xander, saat itulah gue sadar gue udah ada di kamar menghadap jendela.
"Ada apa? Lo ngomong sendiri terus nampar diri sendiri," kata Xander kelihatan khawatir.
"A..aku gak papa, aku cuma mikirin sesuatu," kataku.
'Atau seseorang' tambah alam bawah sadarku.
"Berhenti deh," kataku.
"Berhenti apa?" tanya Xander bingung.
"Gak ada, aku..aku gak papa," kataku dan dia natap gue aneh.
"Lo emang cewek aneh," katanya dan gue memutar bola mata.
Gue sadar dia lagi pegang gitarnya.
"Lo mau main gitar?" tanyaku.
"Iya tapi gue gak mood lagi, gimana kalau lo main ke rumah gue?"
"Ke rumah lo?"
"Iya, santai aja, gue gak bakal makan lo kok," katanya dan gue tertawa kecil.
"Oke, gue otw."
Sudut Pandang Alexander
Entah kenapa pas dia bilang mau dateng, gue langsung ganti baju.
Gue gak pernah sehati-hati ini milih baju depan cewek, soalnya mereka tetep aja klepek-klepek sama gue, tapi Gianna beda, dia gak kayak cewek-cewek lain, dia gak gampang terpesona sama penampilan.
Setelah ganti baju, bel pintu bunyi, gue semprot parfum ke seluruh badan terus buka pintu.
"Hey," kataku pas buka pintu, gue sadar dia gak pake lensa dan rambutnya digerai, dia cantik banget.
"Alexander," Panggilnya, gue geleng-geleng.
"Um..masuk yuk," kataku gugup.
"Makasih," katanya sambil masuk, dia ngelihat sekeliling ruang tamu.
"Rumah lo bagus banget," katanya senyum.
"Makasih."
Kita duduk dan gue gak bisa lepasin pandangan dari dia.
"Xander, kalau lo terus-terusan natap gue kayak gitu, gue bakal mukul muka lo," katanya dan gue tertawa kecil.
"Siapa aja yang punya mata dan suka hal-hal indah pasti bakal natap lo seharian," kataku dan dia senyum.
Sudut Pandang Gianna
Gue cuma pengen gak pake lensa dan gerai rambut sebelum ke rumah Xander, dan itu sesuatu yang gak pernah gue lakuin.
Gue gak pernah kepikiran buat dateng ke rumah cowok tapi sama Xander, gue ngerasa aman banget.
Gue gak pernah kepikiran buat lepas lensa buat seseorang tapi entah kenapa, gue lakuin itu buat Xander.
Alexander McQueen, lo ngapain sih sama gue?
"Main video game yuk," kataku dan gue denger dia tertawa kecil.
"Kenapa lo ketawa?"
"Yakin mau main video game, bisa gak lo?"
"Jangan lupa, gue punya kembaran di rumah."
"Oke, ayo main."
"Dan jangan kasih kendor ya, kasih semua yang lo punya," kataku dan dia mengedipkan mata ke gue.
*
*
*
*
"Gue menang..lagi," kata Xander untuk kelima kalinya.
"Gue belum siap," kataku dan dia tertawa.
"Itu yang lo bilang empat kali terakhir gue ngalahin lo."
"Terserah," gue ngelihat sekeliling ruangan, terus mata gue tertuju ke piano.
"Lo bisa main piano?" tanyaku sambil mendekat.
"Iya, mau denger gak?" tanyanya sambil ikut mendekat ke Piano.
"Tentu aja."
Kita berdua duduk di depan piano dan dia mulai bermain.
Dia mainnya bagus banget, caranya tangannya bergerak di atas tuts.
Pas dia selesai, gue gak punya pilihan selain tepuk tangan buat dia.
"Bagus banget."
"Makasih, senang banget denger dari lo."
"Lo bisa main alat musik lain?"
"Drum, trompet, dan suling, gitar juga lo udah tau kan?"
"Wow, lo emang berbakat banget, orang tua lo pasti bangga," kataku tapi ekspresinya berubah, dia jadi sedih.
"Ada yang salah ya?" tanyaku.
"Enggak, enggak, lo gak salah ngomong apa-apa, cuma.. cuma gak ada apa-apa."
"Oke."
Suasana hening canggung.
"Mau lihat kolam renang kita?" tanyanya tiba-tiba.
"Iya, boleh."
Dia tiba-tiba megang tangan gue dan nuntun gue ke belakang rumah.
Gue bisa ngerasain percikan api saat dia megang tangan gue.
Sudut Pandang Alexander
Rasanya kayak ada listrik yang lewat di tangan gue saat gue pegang tangannya.
Gue bawa dia ke pinggir kolam.
"Bagus," katanya sambil lepasin tangannya dari gue dan gue tiba-tiba berharap dia gak lakuin itu.
"Gimana kalau kita berenang?" tanyaku.
"Enggak ah, gue gak mau," katanya.
"Oke, oke, kalau lo gak mau, gue gak maksa kok, tapi gue bisa lakuin ini."
Gue gendong dia dan lompat ke kolam.
"Gue gak bisa renang, gue gak bisa renang," katanya sambil berjuang di air.
"F*ck," kataku sambil cepat-cepat berenang ke arahnya.
Gue pegang pinggangnya.
"Lo gak papa kan, maaf banget gue gak tau kalau…"
Gue dipotong sama tawanya.
"Lo penakut banget, lo beneran mikir gue gak bisa renang?"
"Lo ngerjain gue."
"Iya dan itu lucu banget, lo harusnya lihat muka lo," katanya tertawa.
"Gue penakut banget gitu?"
"Iya, lo emang penakut."
"Oke, apa penakut bisa lakuin ini?" tanyaku terus tiba-tiba gue cium dia di bibir.
Dia berjuang tapi gue pegang tangannya, dia tiba-tiba gigit bibir gue.
Gue harus menjauh, dia nangis.
"Berani-beraninya lo cium gue? Itu sebabnya lo ngundang gue ke rumah lo, lo mesum," katanya nangis lebih keras.
"Gigi, maaf banget, gue gak bermaksud…"
"Maksudnya apa? Kalian semua mesum yang manfaatin cewek," katanya dan keluar dari kolam.
Dia duduk di tanah dan memegangi dirinya sendiri dan nangis lebih kencang.
"Jangan lakuin itu, please, jangan lakuin ini ke gue," dia terus bilang berulang kali dan gemeteran banget.
Gue keluar dari kolam, gue coba pegang dia tapi dia teriak keras banget.
"JANGAN PEGANG GUE!!!" Dia teriak lebih keras, terus dia mulai lari.
"Gigi, tunggu," kataku dan lari ngejar dia tapi dia udah sampe rumah.
Sudut Pandang Gianna
Kenangan itu balik lagi dengan kekuatan penuh, gue harus teriak.
Gue lari secepat kaki gue bisa, gue denger dia lari ngejar gue tapi gue sampe rumah tepat waktu.
"Gigi, sayang, ada apa?" Ibu bertanya saat gue lari masuk.
"Lo basah kuyup, apa yang terjadi di rumah Xander?" tanya Jamal.
"Gue cuma pengen sendiri dan gak ada seorang pun, bener-bener gak ada seorang pun boleh nyebut nama Xander lagi ke gue," kataku sambil berlinang air mata.
Gue lari ke kamar dan ngunci pintu, gue meluncur di pintu dan menangis sejadi-jadinya.
"Jangan lakuin ini ke gue," kataku berulang kali sampai ketiduran.
Sudut Pandang Alexander
Gue bisa denger dia nangis di kamarnya, ciuman itu pasti mengingatkan dia akan sesuatu yang buruk.
Bodohnya gue nyium dia, itu cuma ciuman gak bahaya buat gue tapi buat dia, itu ngebawa balik kenangan buruk, kenangan yang gak gue tau.
Gue bisa denger dia teriak di kamarnya, gue ngintip dari jendela tapi jendela kamarnya ketutup.
Gue masih bisa denger dia nangis, gue gak tahan lagi, gue manjat keluar jendela terus berhasil masuk ke kamarnya.
Gue lihat dia di lantai udah tidur pules, gue gendong dia ke kasur dan ngeliatin dia tidur.
Gak lama, gue ketiduran di sampingnya.
Sudut Pandang Gianna
Gue bangun ngerasa santai banget, gue gak mimpi buruk itu, aneh banget.
Gue balik badan di kasur dan gue lihat Xander.
"Ahhh," Gue teriak ngebangunin dia.
"Apaan sih lo ngapain di kamar gue?" tanyaku.
"Lo nangis terus tidur, jadi gue masuk kamar lo, bawa lo ke kasur buat tidur."
Jadi karena dia tidur di samping gue, gue gak mimpi buruk itu?.
"Gue gak mau lihat lo lagi," kataku.
"Gigi, maaf gue nyium lo, gue gak tau lo bakal bereaksi kayak gitu."
"Kenapa lo nyium gue sih?"
"Itu cuma ciuman gak bahaya."
"Ya, buat gue sih enggak, lo bikin gue inget semuanya," kataku dan ngusap air mata.
Sudut Pandang Alexander
Dia mulai nangis dan gue penasaran banget pengen tau apa yang bikin dia nangis gitu.
"Inget apa?" tanyaku penasaran.
"Gak ada apa-apa, lo harus pergi sekarang."
"Enggak, gue gak bakal pergi sebelum lo cerita apa yang bikin lo nangis."
"Alexander, pergi deh," katanya tenang tapi gue gak mau ninggalin dia.
"Mr McQueen, pergi dari kamar gue sekarang juga," katanya dan gue tertawa.
"Mr McQueen?, nama yang lucu."
"Kenapa lo keras kepala banget sih?"
"Gue mau bantuin lo."
"Gue gak butuh bantuan lo".
"Gianna, udah deh lo gak usah sok kuat dan gak ada yang bisa nyakitin lo karena itu bohong, lo manusia dan kita semua punya perasaan.
Ceritain aja apa yang salah,"
"Lo gak bakal ngerti," katanya dan duduk, gue duduk di sampingnya.
"Coba deh," kataku dan dia menghela napas.
"Gue gak pernah jadi tomboi dan gue suka banget pamerin rambut dan mata gue sampai dua tahun yang lalu."
"Apa yang terjadi dua tahun lalu?"
"Gue pergi ke pesta dan pas pulang, ada cowok nahan gue, mukulin gue sampai gue lemes, terus dia perkosa gue dan yang paling parah adalah gue masih perawan waktu itu," katanya saat dia mulai nangis, gue ngerasa air mata jatuh di telapak tangan gue, saat itulah gue sadar gue juga nangis.
"Gi.. Gianna, maaf banget."
"Gue dibawa ke rumah sakit dan diobatin tapi gue gak pernah sama lagi, gue gak bisa berhenti muter-muter malam itu di kepala gue.
Gimana dia terus menggerutu saat dia masuk dan keluar dari gue kasar banget, dia nikmatin itu tapi gue sekarat, gue mulai make obat-obatan."
Gue gak pernah denger cerita yang lebih menyakitkan dari ini.
"Gue mulai dari Ganja, gak susah buat dapetnya, itu bikin gue ketawa dan lupa semuanya tapi gak lama, begitu efeknya hilang, gue bakal inget dan jadi lebih sedih, jadi gue dikenalin sama cowok yang jual kokain, Kokain berhasil.
Gue bakal nyedot terus seharian, gue gak mau sadar, gue gak mau inget apa-apa, Jamal ngeliat gue dan lapor ke Ibu tapi gue kabur, gue beli kokain lebih banyak dan jadi setinggi bintang, terus suatu hari gue pingsan.
Hal selanjutnya yang gue tau adalah gue di rumah sakit, dirantai kayak binatang, gue pingsan karena overdosis, gue dipaksa buat rehabilitasi, itu cerita gue."
"Gianna, i.."
"Lo boleh jauhin gue kalau lo mau."
"Gue gak bakal ninggalin lo, gue mau ambil semua rasa sakit ini," kataku dan dia ngeliat gue dan senyum.
"Kenapa lo peduli banget sama gue?"
"Karena gue peduli banget sama lo, Gianna Flores."
"Lo gitu?"
"Iya, gue peduli, lo spesial buat gue."
"Boleh peluk gak?" tanyanya dan gue tertawa kecil.
"Tentu aja."
Kita berpelukan erat, kayak waktu berhenti dan cuma ada dia dan gue.
Gianna, gue siap ambil semua rasa sakit lo, apapun yang terjadi.
T.B.C