BAB 50
Sudut Pandang Gianna
Sebelum gue sempat mikir apa yang lagi terjadi, Xander nyium gue.
Gue berontak, tapi dia malah nahan gue dengan megangin pinggang gue erat banget.
Gue gigit bibirnya, terus dia langsung ngejauh, dan gue tampar dia.
"ADUH!" Dia bilang sambil megangin pipinya.
"Berani-beraninya lo nyium gue, apa sih masalah lo?!"
"Gue cuma mau nunjukkin kalau lo belum bisa move on dari gue."
"Yah, gue rasa lo udah dapet jawabannya, jangan pernah sentuh atau cium gue lagi seumur hidup lo." Gue bilang sambil masuk ke kamar.
"Lo gak papa?" Jayden nanya pas kita lagi jalan-jalan di sekitar resort.
"Nggak… nggak apa-apa, gue baik-baik aja."
"Gigi, jangan bohongin gue, muka lo bilang semuanya. Xander ngapain lo?"
Gue liatin dia.
"Apa hubungannya Xander sama ini?"
"Jangan sok-sokan deh, Gigi, gue tahu lo sama Xander punya sesuatu di masa lalu."
"Kok lo…"
"Gue lihat cara dia natap lo, dan lo selalu ngehindar dari dia."
"Oke, iya, kita punya sesuatu di masa lalu."
"Emangnya kenapa?"
"Jayden, gue beneran nggak…"
"Nggak apa-apa kalau lo nggak percaya sama gue, gue ngerti." dia bilang dan mau pergi, tapi gue pegangin tangannya.
"Oke, gue bakal cerita. Gue sama Xander mulai pacaran pas kita masih kuliah, bahkan sebelum dia terkenal kayak sekarang. Kita saling cinta, atau setidaknya gue cinta sama dia." Gue ceritain semuanya tentang dia ke Jayden.
"Jadi dia gitu aja ninggalin lo?"
"Iya, dia nggak mikir gue pantas buat ada di sampingnya pas dia udah terkenal."
"Dia emang brengsek, lo cewek yang luar biasa, cantik." Dia bilang dan gue senyum.
"Lo selalu tahu gimana caranya bikin gue senyum."
Sudut Pandang Alexander
"Jadi dia nampar lo?" Bryan nanya lewat telepon.
"Iya, ini udah ketiga kalinya dia kayak gitu."
"Kenapa sih lo nyium dia?"
"Gue pikir dia bakal cium gue balik."
"Kenapa dia harus gitu?"
"Karena dia masih cinta sama gue."
"Xander, udah enam tahun, lo patahin hatinya. Apa lo pikir dia bakal nerima lo dengan tangan terbuka? Lagian, lo kan udah pacaran sama Skylar."
"Gue harus bilang yang sebenarnya ke Gianna, terus putusin cewek itu."
"Xander, bakal ada perang dan lo tahu itu, orang tua lo nggak bakal suka."
"Nanti gue pikirin caranya."
Kita ngobrol sebentar terus gue matiin teleponnya.
"Gianna, lo harus dengerin gue, mau nggak mau." Gue bilang ke diri sendiri.
"Emangnya kenapa lo mikir gitu?"
Ada suara yang nyaut, gue noleh dan ternyata Jayden.
"Ngapain lo di sini, Jayden Kennedy?"
"Xander, kita perlu ngobrol."
"Tentang apa?"
"Tentang Gianna, gue nggak tahu kalau lo sadar, tapi dia nggak mau lo deket-deket dia."
"Kenapa lo mikir gitu?"
"Dia cerita semuanya ke gue, apa yang terjadi antara lo sama dia, gimana lo ninggalin dia."
"Lo nggak tahu apa-apa tentang apa yang sebenarnya terjadi, ini urusan gue sama Gianna."
"Gianna cewek yang luar biasa dan gue berniat buat bikin dia jadi milik gue."
"Dia nggak cinta sama lo."
"Dia bakal cinta, pada akhirnya, Xander, lo udah kehilangan dia karena ambisi lo yang bodoh."
Gue lagi nahan emosi.
"Jayden, gue beneran nggak mau mulai berantem jadi tolong pergi." gue bilang dan dia ketawa kecil.
"Sampai jumpa lagi."
Sudut Pandang Gianna
Gue sama Jayden lagi di taman makan malam, piknik gitu.
Ada lilin dan kelopak mawar di lantai.
"Semua makanan kesukaan gue ada di sini." gue bilang sambil lihat-lihat.
"Gue minta koki buat nyiapin makanan kesukaan lo."
"Makasih."
Kita lagi makan, Jayden terus-terusan natap gue.
"Kenapa lo natap gue kayak gitu sih?"
"Lo cantik dan gue suka banget merhatiin hal-hal yang cantik." Dia bilang dan gue senyum.
Dia selipin rambut gue ke belakang telinga, terus ngusap pipi gue.
"Rambut lo bagus banget." gue bilang bikin dia senyum.
"Makasih, lo boleh pegang kalau mau."
Gue usap-usap rambutnya, dia ambil tangan gue dari kepalanya terus deketin ke bibirnya, terus nyiumnya.
"Gue lihat lo lagi seneng nih." Seseorang bilang.
Itu Xander sama cewek yang pake dress pendek banget.
"Iya, mau ikut gabung?" Jayden nanya dan gue kaget, melotot ke dia.
Kenapa dia ngajak Xander gabung padahal dia tahu gue nggak suka sama dia.
"Boleh, gue mau banget." Dia bilang dan bantuin cewek itu duduk di rumput.
Xander emang gampang ditebak, gue tahu dia mau bikin gue cemburu.
Kita lihat aja siapa yang cemburu.
Bersambung
Kita semakin dekat dengan kebenaran.