BAB 25
Sudut Pandang Alexander
Setelah makan malam di rumahku, aku jalan bareng Gianna ke rumahnya.
Kita berdiri di depan pintunya.
"Makasih udah belain gue di depan Jackson," kataku dan dia cekikikan.
"Santai aja, gue gak bisa diem aja denger dia ngomong sampah tentang bakat hebat lo, lo pantas didengar."
"Ah, gue sayang banget sama lo."
Aku memeluknya erat banget dan mencium keningnya.
"Xander, dingin nih, gue mau masuk."
"Oke, deh, tapi gue perlu cium dulu," kataku dan dia narik gue lebih deket dari kerah dan nyium gue.
Gue narik dia lebih deket lagi dari pinggangnya, tangannya ada di rambut gue.
Ciumannya makin panas, tangan gue masuk ke bawah dressnya, gue elus-elus pahanya, dia mengerang di sela-sela ciuman.
Dia menjauh, kita berusaha ngatur napas.
"Xander, gue harus pergi."
"Oke, oke, deh."
Aku ngasih dia pelukan terakhir sebelum dia masuk.
Gue balik ke rumah, Jackson lagi duduk di sofa dengan sebotol wiski di tangannya.
Gue coba gak peduli, tapi dia ngomong sesuatu yang bikin gue berhenti.
"Gianna itu cewek seksi banget."
"Gue udah bilang buat hormatin dia."
"Gue tau, maksud gue siapa yang gak hormat sama cewek yang bodinya kayak dewi."
Gue berusaha keras nahan emosi.
"Dia kayaknya sayang banget sama lo, seneng deh liatnya, akhirnya ada yang sayang sama pecundang kayak lo."
"Kalo rencana lo bikin gue marah, gak bakal berhasil," kataku dan pergi.
*
*
*
*
Pagi berikutnya, gue coba telepon Gigi tapi dia gak jawab.
Gue juga nyadar Jackson gak ada di sekitar, ya udah, bukan urusan gue.
Gue jalan ke rumah Gigi, gue bisa denger suara cekikikan.
Gue mendekat dan gue liat Jackson lagi ngelus-ngelus pipi Gianna.
Kemarahan mengalir di nadiku dan gue langsung nyamperin mereka dan nonjok Jackson sampe jatoh.
"Xander!!" Gianna teriak sambil berusaha nahan gue.
"Gak, biar gue kasih pelajaran ke orang idiot ini."
"Tapi dia gak ngapa-ngapain, kita cuma ngobrol."
"Dia ngelus-elus pipi lo dan lo biarin."
"Dia cuma baik doang."
"Gak, dia gak baik, dia berusaha dapetin lo dan itu udah berhasil."
"Lo ngomong apa sih, Xander?"
"Lo nikmatin cara dia nyentuh lo."
"Lo gila ya, Xander, gimana bisa lo mikir gitu tentang gue?"
"Jackson emang selalu berhasil dapetin cewek yang dia mau, jadi gue gak kaget."
"Lo udah bener-bener gila, Xander, bawa sepupu lo dan pergi dari rumah gue.
Gue gak bisa sama pacar yang selalu cemburu karena hal sepele."
Dia masuk ke rumahnya dengan marah dan membanting pintu.
Gue mengusap rambutku, merapikannya, gue liat Jackson yang lagi berusaha bangkit dari tonjokanku, lalu gue pergi.
Bersambung
Masalah udah pecah