BAB 34
Sudut Pandang Gianna
Aku lagi di dapur bikin popcorn, aku mulai denger suara-suara di luar.
"Xander ngomong sama siapa, sih?" tanyaku dalam hati, aku mutusin buat matiin mesin popcorn.
Aku keluar dari dapur.
"Sayang, kamu lagi…"
Aku berhenti ngomong pas ngeliat jalang itu sendiri, matanya jelalatan ke Xander.
"Gianna!!"
"Mabel? Ngapain kamu di sini? Kukira Ibu bilang kamu datang minggu depan"
"Yah, aku udah nggak sabar, makanya aku di sini, nggak mau bantu aku bawain koperku, kamu yang seksi?"
"Yang seksi ini pacarku dan aku mau matamu nggak jelalatan ke dia"
"Oke" Katanya dan masuk sambil bawa koper.
"Sayang, aku rasa aku harus pergi deh" kata Xander.
"Iya, dia udah ngerusak film kita"
"Tapi aku bakal kangen kamu" Dia bilang dan narik aku lebih deket, meluk pinggangku.
Aku meluk lehernya, narik dia deket banget, terus aku kasih ciuman ringan di bibirnya.
"Gimana kalo aku ke rumahmu malam ini terus kita bisa bawa satu sama lain ke bulan dan balik lagi?" Bisikku di telinganya.
Dia ketawa kecil terus remes pantatku bikin aku cekikikan.
"Kamu tahu aku nggak bisa nolak"
"Berarti udah deal, aku datang, tapi sekarang kamu harus pergi"
Aku mau jalan pergi tapi dia nahan aku.
"Apa?"
"Satu ciuman, cuma satu" Katanya sambil bibirnya manyun kayak anak kecil bikin aku cekikikan.
Kita berciuman yang bener-bener mesra.
"Sekarang, dadah" Aku berbalik mau pergi, terus dia nepuk pantatku, aku kasih dia tatapan sinis sementara dia cuma nyengir ke aku terus pergi.
"Lama banget sih" tanya Mabel dan aku memutar mata.
"Aku nggak perlu kasih penjelasan ke kamu"
"Santai, Gigi, kita kan teman, ingat?"
"Nggak, aku nggak ingat kita berdua teman"
"Aku…"
Dia keburu dipotong sama pintu depan yang dibuka, terus ditutup lagi.
"Sis, aku balik dari…"
Jamal langsung diem begitu ngeliat Mabel.
"Mabel? Ngapain kamu di sini, harusnya kan datang minggu depan"
"Dia bilang dia nggak sabar"
"Ya Tuhan, Gigi, cuma aku aja atau saudara kembarmu jadi lebih ganteng?"
Dia jalan ke sisi Jamal dan nyoba nyentuh dia tapi Jamal tepis tangannya.
"Aku punya pacar"
"Jamal punya pacar? Pemain Cap Nggak Pake Almamater punya pacar, nggak percaya banget"
"Yah, mending kamu percaya dan kamu nggak mau main-main sama pacarnya"
"Dan siapa itu?"
"Ashley" kata Jamal dan dia mulai ketawa.
"Ashley? Cewek yang ngehajar semua cowok waktu SMA, beneran? Kamu milih dia?"
"Jangan berani-berani ngomong yang nggak enak tentang pacarku"
"Ashley juga sahabat terbaikku, jadi jaga omonganmu tentang dia kalau kamu nggak mau aku bikin memar di wajahmu"
"Jamal, apa dia tahu kamu dan aku pernah ada apa-apa?"
"Kamu dan aku nggak ada apa-apa, kita cuma teman s*ks, itu aja"
"Oke, oke, baiklah.. aku pergi ke kamarku" Katanya dan pergi.
"Dia udah mau banget kepalanya kejedot tembok sama aku" kataku.
"Dia tuh jalang banget, aku bodoh banget dulu sampe terlibat sama dia"
"Kamu mungkin harus kasih tahu Ashley tentang itu sebelum psikopat ini cerita"
Sudut Pandang Jamal
"Jammy, kenapa kamu kelihatan gugup?" tanya Ashley.
Aku pergi ke rumahnya buat kasih tahu semuanya sebelum cewek itu cerita ke dia.
"Aku mau kasih tahu kamu sesuatu, pertama, Mabel ada di rumah kita"
"Beneran? Kukira dia harusnya datang minggu depan"
"Iya tapi dia bilang dia nggak sabar"
"Oke, itu aja yang mau kamu kasih tahu aku sampe kamu gugup?"
"Nggak cuma itu"
"Oke, kasih tahu aku"
"Waktu SMA, aku pernah s*ks sama Mabel"
"Kamu apa?"
"Waktu itu aku masih playboy, aku cuma mau kasih tahu kamu sebelum dia cerita sendiri"
"Jadi kamu bilang cewek yang pernah kamu ajak hubungan s*ks tinggal serumah sama kamu?"
"Iya tapi percaya deh, nggak ada yang bisa terjadi di antara kita, beneran nggak ada, aku cuma cinta sama kamu"
"Aku juga cinta sama kamu dan aku percaya kamu tapi aku nggak percaya sama cewek itu, kalau dia macem-macem, aku bakal cabut kepalanya dari badannya" Katanya dan aku ketawa kecil.
"Tentu, kamu bisa ngelakuin apa pun yang kamu mau"
Aku narik dia lebih deket, kening kita bersentuhan.
"Aku rasa kita harus ke kamarmu"
"Nggak bisa, kita nggak bisa, saudara-saudaraku ada"
Ashley punya 4 kakak laki-laki, mereka semua tinggi dan terlalu protektif sama adiknya.
"Mereka pasti bakal ngehajar aku kalau mereka tahu aku udah ngeseks sama adiknya" kataku bikin dia cekikikan.
Sudut Pandang Gianna
Aku lagi sama Xander di ranjang, selimut nutupin tubuh kita yang telanjang.
"Itu luar biasa lagi" kata Xander bikin aku cekikikan.
"Iya, itu luar biasa"
"Jadi gimana kamu ngadepin Mabel?"
"Aku usahain buat ngehindarinya sebisa mungkin, sayangnya kamarnya di depan kamarku.
Aku lihat caranya dia ngeliat kamu, kayak dia pengen ngejagain kamu"
"Iya, aku udah mutusin buat nggak sering-sering datang ke rumahmu"
"Aku cuma bisa datang buat ketemu sampe dia pergi"
"Nggak usah khawatir, Dia nggak bisa misahin kita" Katanya dan nyium keningku.
"Aku tahu itu"
"Gimana kalau kita main lagi?" Dia nanya dan naik ke atas aku bikin aku cekikikan.
Sudut Pandang Mabel
Aku pikir datang ke sini bakal bikin aku lebih deket sama Jamal tapi sekarang aku mau orang lain dan itu Xander, ya ampun, dia hot banget dan aku yakin dia jago di ranjang.
Aku cuma mau dia nge*ek aku sampe nggak sadar, Gianna selalu punya hal-hal terbaik tapi kali ini aku pasti bakal ngambilnya dari dia.
Alexander, Kamu akan jadi milikku.
B.T.C