BAB 14
Sudut Pandang Penulis
Jamal, Ashley, Xander, dan Ibu Gianna disuruh keluar dari kamar Gianna biar dokternya bisa meriksanya.
"Dia gak inget kita, Sialan," kata Jamal, keliatan banget frustrasi.
"Siapapun yang lakuin ini ke anak gue, harus bayar mahal buat semua ini!"
Ashley nyoba nenangin Ibu Gianna sementara Xander diem aja, dia gak percaya Gianna gak inget dia atau semua kenangan mereka.
Dokter akhirnya keluar, mereka semua langsung nyamperin dia.
"Dia gak inget apa-apa kayak yang saya prediksi."
"Terus gimana nih? Kapan dia bakal sembuh?" tanya Jamal.
"Saya punya dokter spesialis hilang ingatan, dia bisa bantu dengan terapi dan itu bisa bantu balikin memorinya."
"Oke, telepon dia, suruh dia datang dan periksa anak saya."
"Dia tinggal di negara bagian lain, dia harus datang besok, tapi sebelum itu, kalian semua gak boleh bikin dia stres."
Sudut Pandang Alexander
Kita masuk ke kamar Gianna, dia lagi ngeliatin langit-langit tapi pas kita masuk, dia ngeliatin kita.
"Hei, Gigi," kata ibunya sambil senyum ke dia.
"Siapa Gigi dan siapa kalian semua?"
"Mama kamu, ini Jamal, kembaran kamu, Ashley dan Xander teman-teman kamu."
"Aku gak inget kalian semua, aku gak kenal kalian."
"Itu karena kamu kecelakaan," kataku dan dia ngeliatin aku, terus buang muka.
"Aduh, kepala aku agak sakit," katanya sambil megang perban di kepalanya.
"Nanti juga mendingan."
Kita deketin dia dan duduk.
"Sis, gue sumpah bakal urus orang yang lakuin ini ke lo," kata Jamal dan dia senyum tipis.
"Masih sakit kepala kamu?" kataku dan pegang tangannya, gue ngerasain percikan itu seperti biasa, gue kira dia juga ngerasain.
Dia ngeliatin tangan kita, terus balik ngeliatin gue.
"Cuma sedikit."
"Gak usah khawatir, Gigi, kamu bakal baik-baik aja," kata Ashley.
Beberapa menit kemudian, semua orang pergi ninggalin gue sama Gigi.
Dia terus ngeliatin gue.
"Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?" tanyaku ke dia, dia senyum ke gue.
"Boleh aku nanya sesuatu...um...Xander, kan?"
"Iya, nama aku Xander dan iya, kamu boleh nanya apa aja."
"Kamu...Kamu pacar aku?" tanyanya malu-malu bikin gue cekikikan.
"Kenapa kamu nanya gitu?"
"Soalnya pas kita pegangan, aku ngerasain sesuatu," katanya sambil ngeliatin tangannya.
"Sesuatu kayak apa?"
"Kayak percikan, indah banget, itu berarti kita lagi kasmaran," katanya sambil cekikikan.
Dia ngomong gitu karena dia gak inget apa-apa tapi ada bagian dari gue yang pengen itu nyata.
"Mungkin aja kamu bener tapi kita gak pacaran."
"Masa sih, itu nyebelin banget," katanya cemberut.
"Kita cuma temenan, temen deket banget."
"Apa karena aku jelek?"
"Gak, kamu gak jelek, kamu cewek paling cantik yang pernah aku liat."
"Terus apa dong?"
"Cuma...ya gitu deh."
"Boleh aku lakuin sesuatu?" tanyanya sambil senyum.
"Boleh, kamu bisa…"
Gue kepotong sama bibirnya di bibir gue.
Ya Tuhan, Gianna nyium gue.
Gue pengen banget narik dia lebih deket tapi Gianna bukan dirinya yang asli.
Gue narik diri cepet.
"Gigi, kita gak bisa gini, kita temen," kataku dan dia menghela napas.
"Iya, kamu pasti gak suka sama aku."
"Gianna, kamu…"
Gue kepotong pas pintunya kebuka, ibunya datang bawa nampan makanan.
Sepanjang hari, Gianna bener-bener gak peduli sama gue, dia lagi gak waras jadi gue gak boleh khawatir.
*
*
*
*
*
Hari Berikutnya.
Ini hari dokter spesialis datang buat hilang ingatan Gianna.
Gue nelpon orang tua gue beberapa kali tapi gak ada yang jawab.
Gue gak yakin mereka tau gue pergi ke Miami.
Ibu Gianna udah kayak ibu kandung gue, malah lebih dari ibu gue sendiri.
"Woy, Bro, ayo ke rumah sakit, dokternya bentar lagi dateng," kata Jamal.
"Oke, ayo berangkat."
Kita pergi ke rumah sakit dan Ashley sama ibu Gianna udah di sana.
"Dokternya udah sama Gianna, gue harap dia cepet sembuh," kata Ashley.
3 jam kemudian.
Dokter akhirnya keluar dari kamar.
"Dok, gimana dia?" tanya ibu Gianna.
"Kita harus cari tau sekarang, saya butuh kalian masuk satu per satu."
"Oke, ayo."
Kita masuk ke kamar rumah sakit pelan-pelan, Gianna ngeliatin kita.
"Sekarang, Gigi, saya mau kamu tutup mata dan coba inget orang-orang ini."
Dia ngeliatin Jamal, dia nutup mata dan ngusap kepalanya.
"Um...dia...dia kembaran aku, namanya Jamal...dia kembaran aku dan aku Gianna Flores."
Dia inget, dia inget semuanya.
Bersambung