BAB 13
Sudut Pandang Gianna
Setelah ngirim teks ke Xander buat janjian.
Dia ngirim teks bilang kita ketemu di pinggir kolam renang aja.
Aku dandan dan sampai di pinggir kolam renang sambil senyum-senyum.
'Dia emang selalu telat' kataku dalam hati, aku baru mau nelpon pas seseorang ngehantam kepalaku keras banget.
Aku hampir pingsan, aku pegang kepala lemah dan aku ngerasa ada darah keluar dari kepala.
Aku ngerasa ada yang dorong aku ke bagian paling dalam kolam renang.
Aku nggak bisa lihat orang itu jelas, aku pingsan.
Sudut Pandang Alexander
Itu Gianna, mukanya ke bawah di kolam renang dengan darahnya sendiri.
Aku langsung loncat ke kolam renang dan ngegendong dia.
Aku gendong dia keluar dari kolam, kemejaku udah kena noda darah.
'Gigi, jawab aku dong' kataku sambil berusaha bangunin dia, terus aku lihat darah ngucur dari kepalanya.
'Ya Tuhan' kataku dan ngegendong dia keluar.
*
*
*
*
*
'MANA ADEK GUE?' Jamal teriak sambil dia dan Ashley lari ke arah ambulans.
Gianna ditaruh di tandu, aku, Jamal dan Ashley buru-buru masuk ke ambulans.
'Ya ampun, apa yang terjadi sama adek gue, Xander?' Jamal nanya, aku bisa lihat dia khawatir.
'Gue nggak tahu, gue cuma lihat dia di kolam renang'
'Gimana bisa terjadi?' Ashley nanya hampir nangis.
'Kita harus bawa pasiennya ke rumah sakit cepet atau dia bakal keabisan darah' Kata salah satu paramedis ke supir.
Ya Tuhan, tolong, jangan biarin Gigi mati.
'Ya ampun, gue ngecewain Ayah, gue janji bakal jagain Gigi dan gue gagal, pertama masalah pelecehan dan narkoba, sekarang ini, gue emang kembaran yang buruk'
'Nggak, Jammy, jangan ngomong gitu, lo kembaran terbaik, lo jagain Gianna baik banget' Ashley bilang berusaha nenangin dia.
Akhirnya kita sampai di rumah sakit dan Gianna didorong masuk ke UGD.
Kita harus nunggu di luar, gue takut banget sekarang.
'Gue punya firasat ini bukan kecelakaan, seseorang berusaha bunuh Gigi' Ashley bilang setelah lama diem.
'Gue juga mikir gitu dan gue sumpah atas makam Ayah kalau gue dapat orang itu, gue pasti bakal ngulitin dia hidup-hidup' Jamal bilang dengan marah banget.
Hape gue bunyi, gue cek dan itu Skylar, gue abaikan teleponnya, cuma Gianna yang ada di pikiran gue.
Sudut Pandang Jamal
Setelah beberapa jam, dokternya akhirnya datang, Ibu gue juga ada di sana, dia langsung naik penerbangan ke Miami.
'Gimana putri saya?' Ibu gue nanya begitu dia lihat dokter.
'Ya, itu pukulan keras di kepalanya yang menyebabkan pendarahan serius, kalau dia nggak dibawa tepat waktu, dia akan meninggal'
'Tapi dia baik-baik aja sekarang kan?' Gue nanya.
'Iya, kita udah berhentiin pendarahannya, jadi dia udah nggak bahaya tapi ada satu masalah kecil'
'Masalah apa?' Xander nanya.
'Sekarang, dia masih belum sadar dan nggak ada yang tahu kapan dia akan bangun dan kalau dia bangun, ada kemungkinan besar dia nggak akan ingat apa-apa'
'Jadi anda bilang ada kemungkinan besar kalau putri saya nggak akan ingat apa-apa?' Ibu gue nanya.
'Iya, Nyonya, sekarang, kita cuma harus nunggu, saya akan di kantor saya kalau anda butuh saya'
'Tapi gimana ini bisa terjadi?' Ibu gue nanya.
'Gue nggak tahu, Xander bilang dia lihat dia di kolam'
'Tapi…'
'Nyonya Clarrissa' Kepala sekolah kita dan beberapa murid masuk.
'Saya kepala sekolah sekolah ini, saya benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi pada Gianna, dia salah satu murid terbaik kami dan kami sedang mencari tahu masalah ini, kami memeriksa kamera CCTV tapi udah dihapus yang artinya seseorang berusaha membunuhnya'
'Tapi siapa?'
'Seseorang yang nggak suka sama Gigi, dia baru-baru ini balik ke dirinya yang dulu'
'Dia begitu?' Ibu gue nanya kaget.
'Iya, Tante dan mungkin ada yang iri' Xander bilang.
'Kalau gitu orang itu harus segera ditangkap' Ibu gue bilang.
'Kami sedang mencari tahu masalahnya'
*
*
*
*
*
*
Seminggu kemudian.
Sudut Pandang Alexander
Udah seminggu dan Gigi belum bangun juga.
Polisi masih menyelidiki kasus ini dan banyak orang udah dibawa untuk diinterogasi.
Gue sama Jamal, Ashley dan Ibu Gianna di rumah sakit.
Gak ada satu hari pun yang lewat tanpa gue mikirin Gianna.
Gue lagi natap dia dan megangin tangannya, matanya tertutup tapi dia tetep kelihatan cantik.
'Xander, makasih udah selalu ada buat putriku'
'Nggak masalah, Gigi orang yang spesial buat gue'
Kita masih ngobrol pas gue ngerasa tangan Gianna gerak.
'Matanya kebuka' Ashley bilang dan kita langsung ke kasurnya.
'Gianna, ya ampun, syukur deh, akhirnya lo bangun' Jamal bilang.
'Gigi, gimana perasaan lo?'
Selama ini, dia terus natap kita aneh.
'Kalian siapa dan siapa Gianna?' Dia nanya dan kita jadi diem.
Dia nggak ingat apa-apa.
B.T.C