BAB 26
Sudut pandang Gianna
Aku baru aja mau ketemu Xander, pas bel pintu bunyi.
"Mungkin, itu Xander," kataku dalam hati.
Aku lari buat buka pintu tapi ternyata Jackson, dia mau apa sih?
"Ada yang bisa kubantu?" tanyaku.
"Boleh aku masuk, gak?"
"Gak boleh. Kalau Xander dateng dan lihat kamu di sini, dia gak bakal santai sama kamu."
"Oke, aku cuma mau minta maaf."
"Minta maaf buat apa?" tanyaku sambil naikin alis.
"Aku ngomong kasar soal pacarmu."
"Pacarku juga sepupumu, jadi menurutku kamu harus minta maaf ke dia aja."
"Kita emang lagi gak akur."
"Gak kaget sih, kamu emang brengsek banget sama dia," kataku dan dia ketawa kecil.
"Gitu ya menurutmu?"
"Enggak, itu yang kupikirin, itu yang kutahu."
"Ya, aku lagi berusaha berubah, kurasa."
"Ya, usaha yang lebih keras lagi. Aku harus pergi sekarang."
"Enggak, tunggu," katanya dan aku berhenti.
Dia terus natap aku dengan muka bingung.
"Kita pernah ketemu sebelumnya?" tanyanya dan aku naikin alis.
"Maksudnya pernah ketemu sebelum kamu tahu aku sepupunya Xander?"
"Enggak, Jackson, aku harus pergi."
Tiba-tiba dia megang pipiku, tiba-tiba Xander dateng dan nonjok dia.
Sudut pandang Alexander
Setelah berantem sama Gigi, aku balik ke rumah.
"Alex, ada apa? Kamu kelihatan kayak baru berantem," kata Ibu pas aku masuk.
"Enggak apa-apa, aku…"
"Kamu pecundang idiot, berani-beraninya kamu nonjok aku?" Jackson marah.
"Panggil aku idiot sekali lagi dan aku sumpah bakal hancurin muka kamu."
"Kamu insecure banget, kamu takut aku bakal rebut Gigi dari kamu. Maksudku, jelas banget aku lebih baik dari kamu dalam segala hal. Kamu tahu, aku bisa dapetin cewek mana aja yang kumau."
"Ya, Gigi bukan cewek sembarang, dia beda."
"Iya, beda seksinya. Aku penasaran gimana desahannya kalau aku ajak dia ke surga," kata Jackson dan aku nonjok dia.
Dia nonjok balik, Ibu berusaha misahin kita.
"Kalian berdua harus berhenti berantem, tolong, kalian itu kayak saudara."
"Enggak, Ibu, Jackson gak akan pernah jadi saudara buat aku, dia benci aku."
"Xander, akui aja kalau aku lebih baik dari kamu dalam segala hal."
"Dasar anak…"
"CUKUP, KALIAN BERDUA!" Ayah teriak sambil turun dari tangga.
"Kalian berdua gila apa gimana?"
"Jackson ngincer pacar aku, dia harus jauhin dia."
"Kalian berdua masuk kamar sekarang!" kata Ayah.
"Aku rasa aku bisa putusin sendiri, Ayah, aku hampir 20 tahun."
"Kamu tinggal di bawah atapku jadi kamu harus nurut sama aku."
Aku pergi ke kamar, aku lihat ke luar jendela tapi jendela Gigi ketutup.
Mungkin aku terlalu cemburu.
*
*
*
*
*
Sekarang udah malam, aku gak bisa tidur jadi aku mulai nulis lagu.
Tiba-tiba aku denger suara gedebuk keras di samping jendela, kayak ada yang jatuh.
"Gigi!" panggilku.
"Aduh, kakiku, aku gak nyangka susah banget manjat lewat jendela," katanya dan duduk di kasurku.
"Kamu ngapain di sini?"
"Mau ngobrol sama kamu, entah kenapa, aku kayak gak bisa jauh dari kamu."
"Karena kamu cinta sama aku," kataku dan dia nyolot.
"Kalau kamu tahu itu, kenapa kamu selalu cemburu?"
"Jackson bukan orang baik."
"Aku gak cuma ngomongin Jackson, aku ngomongin cowok lain, kamu ngerasa insecure sama hal-hal kecil.
Kamu selalu mau aku yakinin kalau aku cinta sama kamu, kamu cemburuan gak jelas."
Aku menghela napas dan ngusap rambutku.
"Duduk di sampingku dan kita ngobrol," kata Gigi sambil narik aku buat duduk di kasur.
"Apa yang ada di pikiranmu, Xander?"
"Satu-satunya alasan aku kayak gini karena aku takut kehilangan kamu."
"Takut kehilangan aku?"
"Iya, kamu satu-satunya orang yang beneran peduli sama aku, bahkan waktu kita belum pacaran, kamu mau denger aku nyanyi, kamu selalu ada buat aku.
Jadi aku takut suatu hari, kamu bangun dan sadar kalau aku gak cukup baik buat kamu."
Setelah dia selesai ngomong, aku nonjok lengannya.
"Aduh, buat apa itu?"
"Karena ngomong yang bodoh-bodoh, kenapa aku harus ninggalin kamu? Kenapa kamu mikir kamu gak cukup baik?
Kamu tahu berapa banyak cewek yang mau mati buat bisa sama kamu?
Setiap kali kita keluar, aku lihat cewek-cewek natap kamu menggoda banget, mereka mau deket banget sama kamu.
Kamu tahu kalau pikiran kamu ninggalin aku pernah gak sih muncul di benakku, kalau kamu jadi terkenal sebagai penyanyi karena aku tahu kamu bakal terkenal.
Aku punya ketakutan konstan kamu ninggalin aku."
"Aku udah bilang kalau aku gak bakal ninggalin kamu, aku cinta banget sama kamu, banget, banget," kata Xander dan megang tanganku.
"Dan aku percaya sama kamu dan yakin sama kamu. Kamu juga harus percaya sama aku, aku milikmu sepenuhnya, Xander, gak ada seorang pun, bahkan Jackson, yang bisa misahin kita.
Aku bisa jauhin dia kalau kamu mau."
"Aku rasa dia gak bakal deket-deket kamu lagi."
"Aku tebak kamu masih nonjok dia waktu kamu pulang, Alexander, kamu gak bisa terus-terusan nonjok setiap cowok yang deket sama aku."
"Aku bakal nonjok dunia buat kamu," katanya dan aku cekikikan.
"Aku cinta banget sama kamu," kataku dan nyium bibirnya.
Dia nyium aku dan gendong aku dari pinggang dan naruh aku di pangkuannya.
Tanpa melepaskan ciuman, dia guling-guling ke kasur, bikin dia di atasku.
Dia menjauh dari ciuman, dia natap aku.
"Gak ada wanita lain yang pernah kucintai selain kamu," katanya dan aku senyum.
Dia berbaring di sampingku dan narik aku lebih deket, kita tidur di pelukan masing-masing.
T.B.C