BAB 52
Enam tahun lalu.
Kilasan Balik.
Sudut Pandang Alexander.
Aku ada di kamar waktu Ibu masuk, kelihatan bahagia banget.
"Xander, Ibu punya kejutan besar buat kamu."
"Apaan tuh?"
"Ibu dapet kesepakatan buat kamu sama Interscope records."
"Hah? Ibu beneran? Ibu, itu label rekaman terbesar di Amerika, gimana caranya Ibu bisa begitu?"
"Ya, teman Ibu kenal sama pemilik labelnya."
"Steven Rogers?"
"Iya, Ibu kasih dia lagu kamu dan dia suka banget, jadi dia mau ketemu kamu."
"Ya ampun, Gianna harus denger ini, dia pasti seneng banget."
"Tunggu, ada sesuatu yang perlu kamu tahu."
"Apaan?"
"Semua yang Ibu kasih tahu kamu sekarang tergantung sama hubungan kamu sama Gianna."
"Gue gak ngerti, maksudnya apa?"
"Kalau kamu mau semua ini, kamu harus selesaiin hubungan kamu sama Gianna."
"Apa? Gak mungkin banget."
"Kenapa gak mungkin?"
"Karena gue cinta banget sama Gianna, dia yang selalu dukung gue selama ini, dia alasan kenapa Ibu sama Ayah akhirnya dengerin lagu-lagu gue."
"Kamu harus lakuin itu kalau mau beneran sukses."
"Ibu, kalau gue harus putus sama Gianna buat ini, gue minta maaf, gue gak bisa, gue gak bisa terima kesepakatan itu."
"Kalau gitu kamu mau cara yang susah."
Ayah masuk dengan tangan di kantong.
"Alexander, alasan Ayah nerima kamu mau jadi musisi itu biar kamu terkenal, gak cuma itu, tapi juga biar perusahaan Ayah berkembang."
"Perusahaan Ayah?" Gue nanya bingung.
"Iya, perusahaan Ayah itu perusahaan konstruksi yang kamu tahu banget, kalau kamu terkenal, perusahaan Ayah bakal bangun rumah buat kamu, waktu fans kamu liat, mereka juga bakal mau beli dari perusahaan kita."
"Ayah, gue gak masalah sama itu, tapi kalau gue harus lakuin semua ini tanpa Gianna, gue gak mau, gue bakal cari cara sendiri."
"Xander, kamu bakal putus sama Gianna, kita semua bakal pindah dari sini, terus kalau kamu udah siap, pacar kamu bakal Skylar Jones."
"APA?, Skylar, jalang itu, dia nyoba bunuh Gigi, gimana caranya dia bisa keluar dari penjara?"
"Orang tua dia super kaya dan mereka keluarin dia, Skylar pengen jadi aktris, jadi itu bakal jadi hubungan yang bagus."
"AYAH, GUE GAK BISA, GUE CINTA SAMA GIANNA DAN GUE GAK BAKAL NINGGALIN DIA" Gue teriak ke Ayah yang cuma ketawa.
"Teriak aja sepuasnya, tapi kamu bakal lakuin apa yang Ayah mau" dia bilang.
"Coba aja."
"Alexander, kalau kamu gak nurut, Gianna gak bakal dapet kerjaan bagus."
"Dia udah punya kerjaan."
"Kerjaan yang bisa Ayah ambil dari dia, Xander, kalau kamu gak nurut, Ayah bakal ngomong ke pemilik rumah sakit besar tempat Gianna kerja dan nyuruh mereka pecat dia."
"Ayah gak bisa…"
"Dan Ayah juga bakal yakinin pemegang saham mayoritas di perusahaan Ibu Gianna buat narik semua sahamnya, bikin Gianna dan keluarganya miskin."
"Ayah, gak mungkin serius kan?"
"Iya, Alexander, kamu tahu Ayah selalu lakuin apa yang Ayah bilang, jangan bikin Ayah emosi" Dia bilang dan pergi.
"Ibu, tolong bantu gue ngomong sama dia, dia gak bisa gituin gue, gue cinta sama Gianna, gue gak bisa ninggalin dia."
"Xander, maafin Ibu, tapi dia udah ngomong dan kamu tahu dia gimana."
"Kenapa Ibu selalu dukung dia padahal dia salah, gue kira Ibu beneran suka sama Gianna."
"Maafin Ibu, Xander, dia suami Ibu dan Ibu harus nurut sama dia" Ibu bilang dan pergi.
***KILASAN BALIK SELESAI*****
"Jadi orang tua kamu ngelakuin semua itu?" Kimberly nanya setelah gue cerita semuanya.
"Iya, gue jadi terkenal tapi gue kosong di dalem dan marah sama diri sendiri, itu kenapa gue selalu kasar sama semua orang."
"Kamu pasti beneran cinta banget sama dia?"
"Kim, iya, gue cinta banget sama Gianna tapi gue rasa udah selesai sekarang, dia benci gue."
*
*
*
*
*
*
*
SEMINGGU KEMUDIAN
Sudut Pandang Gianna
"Oke, cukup, Gigi, kamu harus cerita ke gue apa yang terjadi waktu liburan, Jayden bilang dia juga gak tahu apa yang terjadi sama kamu" Ashley bilang.
Gue balik ke rumah sehari setelah gue berantem sama Xander, sejak saat itu gue sedih banget.
"Kamu mau gue telepon Jamal?" Dia nanya.
"Jangan, please, jangan telepon, nanti dia gak fokus sama pertandingannya."
"Terus cerita ke gue apa yang terjadi."
"Oke, oke, Waktu liburan, Xander dateng."
"Dia ngikutin kamu sekarang?"
"Enggak, dia dateng buat syuting video tapi sayangnya sutradaranya sakit jadi dia harus tinggal, kita berantem kecil-kecilan bahkan nyoba bikin satu sama lain cemburu."
"Beneran?"
"Iya."
"Terus apa yang terjadi selanjutnya?" Ashley nanya dan gue menghela napas.
"Xander liat gue cium Jayden."
"Gak gitu buruk, kamu sama Jayden sama-sama jomblo."
"Ashley, kamu inget waktu gue bilang gue lumayan suka sama Jayden?"
"Iya."
"Gue sadar gue gak beneran ngerasa apa-apa sama Jayden."
"Gimana caranya kamu sadar?"
"Waktu gue cium dia, rasanya biasa aja, gak ada emosi tapi waktu Xander cium gue…"
"Tunggu, tunggu, kamu juga cium Xander?"
"Dia maksa cium gue tapi Ashley, gue ngerasa ada percikan, emosi, semuanya" Gue bilang tapi Ashley cuma diem aja.
"Gue tahu apa yang kamu pikirin, kalau gue beneran bego karena masih cinta sama Xander setelah semua yang dia lakuin."
"Enggak, bukan itu, gue tahu kamu sama Xander punya masa lalu yang luar biasa, kalian berdua cinta banget tapi pertanyaannya kenapa Xander ninggalin kamu?"
"Yah, gue nemuin alasannya."
"Cerita ke gue."
"Setelah gue berantem sama Xander, gue sadar dia ngejatuhin kalungnya jadi gue mutusin buat balikin.
Waktu gue ke kamarnya, gue bisa denger seseorang nangis, itu Xander, dia nangis dan dia mulai cerita ke manajernya seluruh kebenarannya.
Orang tuanya ngancem buat hancurin keluarga gue, itu kenapa dia ninggalin gue, Xander gak ninggalin gue karena dia mau, dia ninggalin gue karena dia harus."
"Woah, berarti orang tuanya nyoba buat hancurin kamu jadi Xander ninggalin kamu biar kamu aman."
"Iya, Ashley, dia ngelakuin semua ini buat gue, dia masih cinta sama gue, gue bego banget gak dengerin penjelasannya lebih awal.
Cinta gue ke dia malah makin kuat."
B.T.C