BAB Tiga Puluh Enam
Sudut Pandang Gianna
'Maksudnya 'kita' itu apa? Kalian berdua pergi kemana,Xander?'
'Aku pergi ke toko bahan makanan,Mabel cuma nguntit aku.'
'Nggak kok, aku nggak nguntit, kita cuma kebetulan ketemu aja.'
'Terus kalau kamu nggak nguntit Xander, kamu beli apa dari toko bahan makanan?' tanya Jamal.
'Eh, aku… aku… mereka nggak punya yang aku mau.'
'Kamu bohongnya payah banget.'
'Nggak bohong, minggat sana deh.' kata Mabel terus pergi.
'Dia beneran gila.' kata Jamal terus pergi.
Hanya aku dan Xander di kamar, dia mulai mendekatiku, aku mau menjauh tapi dia pegang pergelangan tanganku dan narikku lebih dekat ke dadanya.
'Mau kemana sih?' Bisiknya di telingaku.
'Kenapa handphone kamu mati? Aku khawatir, sekarang malah lihat kamu jalan sama Mabel.'
'Handphone aku mati karena aku tinggal di rumah sebelum pergi ke toko bahan makanan, dan aku udah bilang kan ketemu Mabel di mall.
Sayang, nggak ada apa-apa kok antara aku dan Mabel.'
'Aku percaya, tapi tolong hati-hati ya kalau di dekat dia.'
'Iya, sekarang nggak usah bahas dia lagi, cium dong buat ayah.' Katanya bikin aku ketawa.
*
*
*
*
*
*
*
WAKTU MAKAN MALAM.
Kita lagi di meja makan, Mabel diem banget, nggak kayak biasanya.
'Oke, kenapa pada diem semua?' tanya Ibu sambil celingak-celinguk.
'Nggak ada apa-apa kok.' kata Jamal.
'Nggak mungkin, pasti ada apa-apa, kalian kan selalu ngomongin sesuatu pas makan malam, berantem ya?'
'Nggak kok, Ibu, nggak berantem, tapi aku harap ada orang yang bisa nggak usah ngeliatin sesuatu yang bukan punya dia.' kataku sambil melotot ke Mabel.
'Maksudnya apa, Gigi?' tanya Ibu.
'Terus kalau orang itu nggak berhenti ngeliatin gimana?' tanya Mabel, aku cuma nyengir.
'Ya udah, nanti aku colok aja matanya.'
'Oke, ada apa sih ini?'
'Ibu, bilangin deh sama 'tamu' yang Ibu bawa buat jauhin Xander.' kata Jamal.
'Iya, dia nggak mau biarin pacarku tenang.'
'Bener gitu, Mabel?'
'Tante, aku akui Xander emang ganteng banget, tapi nggak mungkin aku ngerebut dia.'
'Ih, sok polos banget deh, kalau kamu macem-macem, sumpah aku penggal kepala kamu.'
'Oke, cukup berantemnya.' kata Ibu bikin kita diem.
*
*
*
*
*
*
*
4 hari kemudian.
Sudut Pandang Mabel
Aku mau mikir cara misahin Xander dan Gianna, tapi kayaknya nggak perlu rencana apa-apa.
Xander dan Gianna udah berantem beberapa hari ini, cuma butuh sedikit dorongan aja mereka bakal putus selamanya.
Aku lagi nonton film pas pintu depan kebuka, Gianna dan Xander masuk sambil berantem.
'Selalu aja kamu cemburu duluan.' kata Xander dengan marah.
'Kamu yang nggak bisa diem matanya dari cewek lain, kamu menjijikkan.'
'Kamu tuh egois, nggak masuk akal lagi.'
'Kamu tahu apa lagi yang nggak masuk akal? Hubungan kita.'
'Oke, putusin aja kalau gitu.'
'Itu yang kamu mau kan biar bisa terus ketemu jalang-jalang itu, oke deh, kita putus.' kata Gianna terus naik ke atas dengan marah.
Xander keluar pintu.
Ini seru banget, dan aku nggak perlu ngapa-ngapain.
T.B.C
Siapa lagi yang mikir ada yang mencurigakan tentang putusnya Gianna dan Xander?