BAB 7
Sebulan kemudian.
P.o.v-nya Gianna
"Berhenti masukin semua popcorn ke mulutmu, sisain buat aku," tanyaku yang udah kesel banget.
Xander dan aku lagi nonton film di rumahnya dan dia sibuk ngabisin semua popcorn.
"Bukan salahku kalau kamu makannya lambat banget," katanya dan aku melempar popcorn ke arahnya.
Setelah hari itu, aku cerita tentang masa laluku ke dia, kita jadi deket banget, meskipun dia masih nyebelin banget, dia sebenarnya orang yang baik dan teman yang baik.
"Oh, Zac Efron ganteng banget," kataku dengan semangat, tiba-tiba Xander ganti channel.
"Hei, apa masalahmu, balikin lagi dong"
Kita berantem rebutan remote.
"Aku gak mau denger kamu muji-muji cowok lain"
"Kamu cuma cemburu karena Zac ganteng," kataku dan dia memutar matanya.
"Kamu cuma cemburu karena Zac ganteng," katanya meniruku yang bikin aku ketawa.
"Siniin remotenya, dasar bodoh," kataku.
Dia berdiri dan mengangkat remote di udara, dia mengambil keuntungan karena dia lebih tinggi dariku jadi aku gak bisa ambil remotenya.
"Ambil remote dari tanganku kalau bisa," katanya dan tertawa kecil.
"Kita lihat apakah kamu bisa tahan dengan geli-ku," kataku dan mulai menggelitiknya.
Dia mulai tertawa, aku melompat ke arahnya membuatku ada di atasnya.
"Siniin remote sialan itu," kataku masih berjuang dengannya.
Dia langsung membalikkan badannya membuat dia di atasku.
"Kamu gak sekuat itu," katanya menyeringai padaku.
"Turun dari badanku, dasar idiot," kataku.
"Gak akan sampai kamu bilang Xander cowok terseksi yang pernah kamu lihat," katanya dan aku tertawa kecil.
"Tapi aku gak bohong," kataku dan dia memutar matanya.
"Kalau gitu aku akan gelitikin kamu sampai kamu bilang," katanya dan mulai menggelitikku.
Aku tertawa terbahak-bahak.
"Oke, oke, oke, Xander cowok terseksi yang pernah aku lihat," kataku masih tertawa.
"Gak susah juga kan," katanya dan mendekatiku membuat dahi kita bersentuhan.
"Aku bisa natap kamu seharian," katanya dengan napas panasnya di leherku, aku melihat ke mata hazelnya yang indah, aku pikir aku bisa tersesat di dalamnya.
"Kenapa kamu mau natap aku seharian?"
"Karena, Gianna Flores, kamu wanita paling cantik yang pernah aku lihat," katanya dan aku langsung salah tingkah.
Kita tetap di posisi itu, dia di atasku, kita saling menatap.
Mata ku beralih ke bibirnya tapi aku cepat-cepat mengabaikan ide itu.
"Sayang, kita pulang," Seseorang berkata dan pintu depan terbuka, aku dan Xander langsung berdiri.
Itu orang tuanya, dia sebenarnya mirip ayahnya tapi dia mengambil mata ibunya.
"Ibu, Ayah, kalian gak bilang kalau mau pulang hari ini," kata Xander.
"Yah, kami berubah pikiran," kata Ibunya, dia menatapku aneh, Ayahnya hanya pergi.
"Dan kamu siapa?" Dia bertanya
"Aku Gianna, temannya Xander, kita kuliah di kampus yang sama"
"Ibu, dia juga tetangga kita"
"Apakah kamu di jurusan teknik yang sama dengan Xander?"
"Jurusan teknik? Xander gak…"
"Ehm, gak, Bu, Dia di jurusan Kedokteran," kata Xander memotongku
"Oh, bagus sekali"
P.o.v-nya Alexander
"Oh, bagus sekali" Kata Ibuku tersenyum.
"Xander, Ibu punya kejutan spesial buatmu tapi nanti saja"
"Oke, Bu," kataku dan Ibuku naik ke atas.
"Xander, ada apa? Kamu gak di jurusan teknik, kamu di jurusan Musik," kata Gianna dan aku menghela napas.
"Aku tahu tapi orang tuaku gak tahu itu, lihat, aku benar-benar ingin jadi penyanyi tapi orang tuaku terutama Ayahku ingin aku jadi insinyur jadi aku menipu mereka dengan berpura-pura kuliah teknik"
"Wow, berat juga, gimana kalau mereka tahu karena mereka pasti akan tahu"
"Aku tahu, aku akan cari jalan keluarnya"
"Mereka pernah denger kamu nyanyi?" Tanyanya.
"Gak, mereka bahkan gak punya waktu buat aku"
"Yah, aku pikir mereka ketinggalan, kamu penyanyi yang luar biasa dan kamu harus didengar," Katanya dan memegang tanganku.
"Makasih, Gigi," kataku dan dia tersenyum.
P.o.v-nya Gianna
"Aww, kalian berdua so cute deh," kata Ashley sambil terus melihat-lihat foto Xander dan aku di ponselku.
"Ashley, kamu udah lihat foto ini sebelumnya, kenapa kamu suka banget liatinnya?"
"Kalian berdua cocok banget, anak-anakmu nanti pasti lucu"
"Anak-anak? Ashley, kamu udah gila"
"Gak, aku tahu kalian berdua akan menikah dan aku akan ada di sana"
"Mending kita ke kelas aja"
"Hei, Gigi," kata Xander saat dia menghampiri kita.
"Ashley, ada apa?" Xander bertanya sambil mengacak rambutnya.
"Xander, kamu selalu memperlakukan aku seperti anak kecil, sekarang aku harus benerin rambutku di kamar mandi," Katanya membuat kita tertawa, lalu, dia pergi.
Xander ingin mengatakan sesuatu sampai sebuah pengumuman muncul.
"Selamat pagi, Mahasiswa Hilton College, saya ingin memberitahu Anda semua bahwa akan ada perjalanan selama satu minggu, semua mahasiswa jurusan diperbolehkan untuk hadir, kita akan pergi ke Miami, Ini akan menjadi cara untuk menghilangkan stres dari kuliah, informasi lebih lanjut akan muncul setelah sekolah"
"Liburan ke Miami, kedengarannya seru," kata Xander
"Iya, pasti seru banget, aku gak sabar"
Seluruh sekolah terus berbicara tentang perjalanan itu.
P.o.v-nya Alexander
Aku pulang dari sekolah dan aku melihat Ibuku sedang melakukan sesuatu di laptopnya.
"Selamat siang, Bu," kataku dan mencoba menaiki tangga.
"Tunggu, kita harus bicara, duduk dulu," Katanya.
Aku duduk di depannya.
"Aku di sini, apa yang mau kamu katakan?"
"Pertama, tomboi yang aku lihat di rumah kita itu, apa dia pacarmu?"
"Bu, dia bukan tomboi, namanya Gianna dan dia orang yang luar biasa dan dia bukan pacar aku"
"Yah, Ibu bertanya karena Ibu melihat cara kamu memandangnya"
"Bu, itu saja, boleh aku pergi sekarang?" Tanyaku dengan jelas frustasi.
"Gak, Ibu tahu tentang perjalanan ke Miami itu"
"Oke, terus?"
"Seseorang yang sangat istimewa ada di sini untuk menemuimu"
"Siapa?"
"Aku" Aku berbalik dan itu Skylar.
"Skylar?"
Dia melompat ke arahku dan mencium pipiku.
"Oh, Xander, aku kangen banget sama kamu," Katanya dengan semangat.
"Alex, dia akan ikut denganmu dalam perjalananmu ke Miami"
"Apa? Tapi itu hanya untuk mahasiswa kampus"
"Yah, Ibu menelepon beberapa orang," Kata Ibuku dan aku menghela napas.
"Ada apa? Kamu gak mau aku datang?" Tanya Skylar.
"Gak, bukan itu, aku cuma kaget"
Skylar selalu menyukaiku tapi aku menghindarinya di kampusku yang terakhir, aku hanya menganggapnya sebagai temanku, sekarang dia di sini, dia akan merusak semua kesenangan yang aku rencanakan untuk aku dan Gianna.
T.B.C